
Pernah merasakan kehilangan? Itu seperti ... melepaskan sesuatu yang hati tak ingin melepasnya. Seberat apapun rasa itu, aku harus melepaskannya. Sejauh apapun tanganku ingin menyentuhnya, itu tak akan terjadi lagi. Aku benci kehilangan, apalagi sesuatu yang sangat kusayangi, seperti jagoan kecilku, Arka.
***
Pagi menyambut gembira. Dengan kicau burung menari-nari di telinga. Menggugah semangat insan yang tengah terlelap, untuk melanjutkan hari-hari indahnya. Meninggalkan hari kemarin, tanpa harus melupakannya.
Bukankah, kertas yang sudah dipenuhi coretan tidak harus dihapus atau disobek? Kita hanya perlu membuka lembar baru. Mengisinya dengan tulisan-tulisan yang lebih baik. Dengan angka-angka yang tak pasti. Karena perhitungan kita tak selalu tepat sesuai perhitungan Tuhan. Itu adalah umur. Tetaplah mengisi hari-hari, walau betapapun beban kita diuji. Yang pasti, Tuhan tidak pernah menguji melewati batas kemampuan hamba-Nya. Tetaplah Istiqomah dan positif thinking.
Dering handphone-ku berbunyi. Sayup-sayup kelopak mata ini terbuka, mengarahkan dua bola mataku tertuju pada jam beker yang berdiri tegap di atas meja samping ranjang. Yang mana waktu menunjukkan pukul lima pagi.
Tanganku meraih handphone dari nakas. Sebuah panggilan terus berdering. Kutekan tombol hijau di layar.
"Halo."
"Selamat pagi, Sayang." Suara di seberang telepon.
"Selamat pagi juga."
"Apa kau baru bangun?"
"Iya."
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini."
"Apa ... kau tidak ke rumah sakit?"
"Hari ini aku cuti."
"Kita mau jalan-jalan kemana?"
"Rahasia."
"Ok. Kau jemput aku jam berapa?"
"Pukul tujuh."
"Hm ... baiklah."
"Bye, Sayangku ...."
"Bye juga."
Setelah selesai bicara, Dimas menutup teleponnya. Tumben Dimas mengajakku pergi pagi-pagi sekali. Biasanya juga pukul delapan. Ini pukul tujuh, ada apa, ya? Dia selalu saja membuat kejutan.
Aku beranjak dari tempat tidur, meninggalkan Fania yang masih terlelap. Kuambil handuk dan segera mandi.
***
Pukul tujuh, Dimas benar-benar menjemputku. Ibu dan ayahku menemani Dimas duduk dan berbincang di ruang tamu. Sedangkan aku yang baru selesai masak, segera mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi.
Setelah rapi, aku membangunkan Fania. Kukatakan padanya bahwa aku akan pergi bersama Dimas.
"Hm ... pergilah."
Fania pun tidur lagi. Dasar Fania. Dia masih saja menjadi pemalas. Kuambil tas, lalu keluar dari kamar. Lalu aku dan Dimas berpamit untuk pergi.
***
Di dalam mobil, aku masih bertanya-tanya pada Dimas, kemana dia akan membawaku pergi?
"Aku ingin mengajakmu untuk berlatih mengendarai mobil."
"Apa kau serius? Tapi aku takut."
"Aku yakin kau bisa," katanya meyakinkan.
"Tidak. Aku tidak mau."
"Oh, ayolah?"
__ADS_1
"Tidak."
Dimas membawaku ke sebuah tempat. Jalanan yang sepi dan jauh dari kendaraan umum. Kemudian ia menghentikan mobilnya.
"Duduklah di sini. Aku akan turun," katanya.
"Di, aku takut."
"Kalau begitu, naiklah di pangkuanku."
"Ish! Tidak mau."
Dimas turun dari mobil, lalu membukakan pintu sebelah kiri. Ia memintaku untuk bertukar posisi.
"Tidak. Aku takut. Tidak mau!" Aku tetap menolak.
Akan tetapi, Dimas menggendong tubuhku dengan paksa dan membawaku menuju jok kemudi.
"Turunkan aku! Hei!"
Dimas mendudukkanku di belakang setir. Kemudian menutup pintu dan ia sendiri masuk, lalu duduk di sebelahku.
"Dimas, aku tidak bisa."
"Aku akan mengajarimu. Tenang saja, jalanan di sini sepi. Kau bisa berlatih menyetir dengan aman. Bahkan, kita bisa melakukan hal selain menyetir," ujarnya sembari mengedipkan mata.
"Ish, jangan macam-macam."
Dimas memasangkan sabuk pengaman ke tubuhku. Kemudian mengarahkan kedua tanganku untuk memegang setir.
"Letakkan satu tanganmu di sini, yang satunya di sini." Dimas meletakkan tangan kiriku searah jarum jam sembilan dan tangan kananku searah jarum jam tiga.
Dimas menjelaskan, bahwa posisi tangan yang tepat itu sangatlah penting, untuk mengantisipasi apabila terjadi hal-hal darurat, seperti kecelakaan. Agar kepala dan dada tidak terbentur setir, katanya.
"Karena ini mobil matic, maka kau harus menginjak dulu remnya. Ayo, letakkan kaki kananmu di atas rem," perintahnya mengarahkan.
"Yang mana?" Aku tidak tahu sama sekali yang mana itu rem.
"Yang ini?" tanyaku sembari meletakkan kaki kananku di atas pedal rem dengan hati-hati.
"Nanti jika kau melepaskan rem, maka mobil akan secara otomatis berjalan. Ini berbeda dengan mobil manual. Jadi, kalau kau ingin menambah kecepatan, kau tinggal menginjak pedal gas dengan hati-hati."
Aku mendengarkan pengarahan Dimas dengan serius.
"Apa kau mengerti, Sayang."
Aku mengangguk. Pelan-pelan kulajukan mobil sesuai instruksi dari Dimas. Meski awalnya gemetaran, tapi lama-lama aku bisa.
"Kau hebat, Sayang. Aku semakin mengagumimu," katanya sembari mencium pipi kiriku.
Dan itu membuatku terkejut dan mengerem mobil mendadak dengan kaki kiri.
Sett!
Tubuh kami sedikit terguncang.
"Hm ... jangan gunakan kaki kirimu, Sayang. Biarkan kaki kirimu diam. Yang kau gunakan cukup kaki kanan saja. Karena jika kau mengerem dengan kaki kiri, maka hasilnya akan seperti tadi."
Aku mencoba melajukan mobilnya lagi, lalu mengerem dengan kaki kanan. Benar. Memang prosedurnya seperti itu. Lebih baik menggunakan kaki kanan untuk mengerem dengan halus.
"Nah, seperti itu, Sayang." Dimas mencoba mencium pipiku lagi, tapi langsung kutahan mulutnya dengan tanganku.
"Nanti aku tidak bisa konsentrasi," ucapku.
"Baiklah. Mari lanjutkan latihan. Setelah menikah, aku akan membelikanmu mobil baru."
Mendengar Dimas berkata begitu, aku jadi teringat akan mobilku yang masih bersemayam di garasi rumahku.
"Di."
__ADS_1
"Hm ...."
"Jawablah jujur."
"Ya."
"Apa kau yang mengirim mobil saat hari ulang tahunku yang ke-25?"
"Kenapa memangnya?"
"Jawab saja."
"Em ... iya."
Akhirnya Dimas mengakuinya.
"Apa kau suka?" tanyanya.
"Aku suka, tapi ... mobil itu mengingatkanku kepada Arka. Dia sangat senang saat pertama kali jalan-jalan dengan mobil itu," jawabku sedih.
"Kalau begitu jual saja. Aku akan membelikanmu mobil baru, tapi nanti, setelah kita menikah."
"Bagaimana dengan rumahku?"
"Kau juga bisa menjual rumah itu. Bukankah ... kita akan tinggal bersama di rumahku?"
"Rumah itu begitu banyak kenangan indah yang berisi tentang Arka. Sebenarnya ... sayang juga kalau rumah itu harus dijual. Kadangkala aku bisa mengunjunginya, sekadar mengenang masa-masa indah bersama Arka," ujarku.
"Bagaimana jika diberikan kepada orang tuamu saja?"
Sepertinya itu ide bagus. Mungkin, Dimas benar. Aku akan membicarakan ini nanti dengan ayah dan ibuku.
***
Setelah puas berjalan-jalan layaknya orang berpacaran, Dimas mengantarkanku pulang pukul tiga sore. Sesampainya di depan rumah, kami melihat mobil Rudi terparkir di depan rumah. Kami pun turun dari mobil.
Saat kami hendak masuk, tiba-tiba Fania dan Rudi keluar dari rumah. Aku tersenyum bahagia melihat wajah bahagia Fania.
"Ciyeee? Ada yang jadian, nih?" godaku pada mereka yang tampak serasi.
"Jadian apanya? Rudi masih belum memberiku jawaban," kata Fania cemberut.
"Jadi benar kau yang menembak duluan?" tanyaku sembari tersenyum geli pada Fania.
Fania mengerucutkan bibirnya, lalu mencubit lenganku.
"Itu benar. Fania yang menembakku," jawab Rudi sembari tertawa.
"Dasar, agresif sekali!" cibir Dimas.
"Biarin! Daripada dipendam terus, bikin nyesek," ujar Fania sembari tertunduk malu.
Fania dan Dimas bertatap sejenak. Mereka berdua tampak canggung. Aku mengerti perasaan mereka. Tidak ada yang menyangka bahwa mereka adalah kakak-adik dari ibu yang berbeda. Keduanya tiba-tiba bergeming untuk beberapa saat.
"Ya, sudah. Pergi sana, Kak Fania," ucap Dimas sembari melempar senyum.
Fania mengangkat wajahnya, menatap Dimas kaget dengan yang ia dengar. "Ba-barusan kau memanggilku apa?" tanya Fania tak percaya.
"Ah, sudahlah. Aku mau pulang." Dimas tiba-tiba mencium pipiku di depan Fania dan Rudi. "Dah, Sayang." Lalu beranjak menuju mobilnya.
"Hei! Kau membuatku iri saja. Dasar, adik rese!" seru Fania.
Dimas menghentikan langkahnya dan berbalik memandang kepada Fania. "Kakak pencopet!" katanya sembari tertawa, lalu masuk ke mobilnya.
"Hei! Adik durhaka! Apa tadi kau bilang? Kurang ajar!" seru Fania dengan kesal.
Betapa senangnya melihat Dimas dan Fania yang sudah sedikit menunjukkan aroma kekeluargaan. Walaupun dengan cara seperti itu, tetapi ini adalah sebuah pertanda, bahwa mereka sudah mulai saling menerima kenyataan.
"Fania, kenapa Dimas berkata seperti itu padamu? Apa ... kau pernah mencopet?" tanya Rudi sembari tertawa.
__ADS_1
"Rudi, kau sama saja. Menyebalkan!" gerutu Fania kesal.
-- BERSAMBUNG --