BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Crazy Shopping


__ADS_3

Kami pun sampai di depan mall. Setelah Dimas memarkir mobilnya, kami turun, dan masuk ke dalam mall.


"Arka, kamu sama Om Ganteng, ya? Mama biar beli baju dulu sama Tante Alien Pencopet!" celetuk Dimas seraya menggendong Arka.


"Hei! Bisakah kau memanggilku dengan sebutan yang lebih layak?" protes Fania kesal seraya menoleh Dimas yang berjalan di belakangnya.


"Turunkan Arka, Om? Arka malu digendong. Arka, kan, sudah besar?" tolak Arka dengan polosnya.


"Oh, baiklah." Dimas pun menurunkan Arka. "Anak pintar!" gumamnya seraya mengacak-acak rambut Arka.


Saat kami sedang berjalan menuju bagian yang menjual pakaian muslim. Fania dengan semangat langsung memilih-milih pakaian seksi yang ditemuinya sebelum berada di tempat yang dituju.


"Hei!" Dimas menyeret lengan Fania. "Tugasmu adalah memilihkan pakaian yang modis untuk kekasihku. Bukan untuk dirimu sendiri!" tegur Dimas pada Fania yang sedang mengamati pakaian-pakaian seksi yang tergantung berjajar.


Fania menghela napas kasar. "Siap Komandan ...," ucap Fania lemas.


"Kenapa tak bersemangat begitu?" tanya Dimas yang juga memperhatikan mimik muka Fania yang cemberut.


"Kau bilang, aku boleh memilih pakaian sepuasku?"


"Ya, tapi setelah kau melaksanakan tugasmu. Carikan sebanyak mungkin pakaian yang cocok dan modis untuk Imania, ya?!"


"Oke! Siap, Komandan! Empat lima!" ucap Fania sembari mengangkat tangan kanannya, berhormat pada Dimas bak seorang pasukan kepada komandannya.


Kami pun berjalan lagi. Aku sama sekali tidak paham bagaimana cara memilih pakaian yang modis dan juga cocok untuk kukenakan. Aku hanya menuruti saja. Setelah berkeliling, kami pun sampai di tempat yang menjual berbagai pakaian wanita khusus yang berhijab.


"Wah, ini bagus!" ucapku seraya menyentuh salah satu gamis yang terpajang indah di sana.


"Tidak, Imania! Jangan sentuh itu! Kau sudah memiliki banyak sekali pakaian yang seperti itu!" larang Fania padaku.


Fania pun beranjak dari tempat tersebut. "Dimas, mari kita ke lantai dua saja. Di sini kuno!" katanya.


"Baiklah," jawab Dimas, kemudian mengekor di belakang Fania. "Ayo, Arka!" ajak Dimas seraya menuntunnya.


Aku pun mengikuti mereka berdua. Kami naik tangga eskalator bersama. Dan sesampainya di lantai dua. Fania langsung membawa kami menuju bagian yang menjual pakaian untuk wanita berhijab.


Aku pun lebih merasa tertarik di sini. Model-modelnya, corak dan warnanya, semua lebih bervariatif di sini. Mata Fania pun dengan lihai langsung mengamatinya satu per satu. Ia tampak serius dalam memilih pakaian yang akan kukenakan.


"Di sini sangat lengkap. Lebih bagus!" gumamku.


"Kurasa tidak! Ini model-model lama, Imania!" tukas Fania. "Mari kita ke lantai tiga!" ajaknya lagi.


Aku pun segera menahan Fania. "Kenapa? Di sini juga cukup bagus, kok?"


"Bagus dari mananya ya, ampun! Imania? Apa kau benar-benar tidak mengerti fashion sedikitpun?" kata Fania seraya memutar bola matanya. "Dimas! Kita naik lagi!"


"Baiklah, ayo!" jawab Dimas dengan sabar.


Kami sudah berkeliling selama lebih dari satu jam, dan belum mendapatkan sehelai pakaian pun untukku. Ini sangat melelahkan! Entah pakaian seperti apa yang Fania cari untukku. Padahal menurutku, yang kutemui tadi juga sangat bagus.

__ADS_1


Kami menaiki lift bersama. Sesampainya di lantai tiga, Fania langsung membimbing kami untuk berjalan menuju bagian penjual pakaian hijab lengkap. Aku mengekornya dengan malas. Aku khawatir, setelah ini, Fania juga akan meminta kami untuk naik lagi. Sungguh melelahkan!


Saat sudah berada di tempat yang diinginkan, mata Fania langsung menerawang pakaian satu per satu. Tangannya pun mulai menyentuhnya satu per satu, untuk mengamati jenis-jenis kainnya.


"Imania, coba kau pakai ini!" seru Fania seraya menyodorkan satu set pakaian yang terdiri oleh atasan dan bawahan.


Aku pun menerimanya dan segera mencobanya di ruang ganti. Pakaian yang dipilihkan oleh Fania sangat bagus. Modelnya unik, tidak terlalu sempit dan tidak terlalu longgar. Jadi, celananya pun cocok untuk kukenakan dengan dipadukan hijab.


Setelah memakainya, aku melepaskannya, lalu keluar dari ruang ganti. Kuhampiri Fania yang masih memilih-milih pakaian.


"Bagaimana? Apakah pas?" tanyanya setelah mendapatiku keluar dari ruang ganti.


"Ya, itu pas sekali di tubuhku," jawabku seraya tersenyum.


"Kalau begitu, coba lagi ini!" katanya seraya menyerahkan beberapa potong pakaian lagi padaku.


"Ini banyak sekali, Fania!" kataku yang kewalahan memegang setumpuk pakaian yang diberikannya padaku.


"Mumpung ada yang siap membayar, Ima?" katanya seraya melirik ke arah Dimas.


"Benar! Pilihlah sesukamu. Lebih banyak lebih baik. Bahkan jika kau mau, akan kubelikan mall ini untukmu, Nia," kata Dimas padaku.


"Ciye? Eghem! Beruntungnya dirimu, Imania?" goda Fania.


Dan akhirnya, aku membeli lebih dari dua puluh potong pakaian. Belum lagi, Fania memilihkan puluhan pashmina untukku, dan berbagai model sepatu untuk menemaniku bekerja. Tiga jam kita habiskan, hanya untuk membeli pakaian untukku. Aku sampai tidak bisa memegang seluruh barang belanjaanku sendiri. Ini banyak sekali.


"Di, ini kebanyakan!" kataku.


"Mengapa harus membahas dia?"


Dimas tertawa. "Kamu ini sangat lucu. Menurutku, ini tidak seberapa. Kau boleh berbelanja sepuasmu selama bersamaku. Aku akan sangat bahagia melihatmu tampil lebih cantik dan modis."


"Apa aku kurang cantik?" kataku sedikit tersinggung.


Dimas menghela napas kasar. "Aku ingin kau lebih terawat setelah bersamaku. Aku ingin menunjukkan kepada Bastian, begini cara memperlakukan wanita dengan baik."


Aku menatap Dimas dengan kesal. "Aku tidak terlalu peduli tentang penampilan, Di. Mas Bastian dulu selalu menerimaku apa adanya."


"Jika dia menerimamu apa adanya, dia tidak mungkin berselingkuh, bukan?"


"Jadi, maksudmu, mas Bastian berselingkuh itu karena aku yang kurang menjaga penampilan?"


Dimas mendekatkan wajahnya padaku. "Apa ... wanita selalu sensitif seperti ini, bila disinggung soal penampilan?"


Aku tidak menyahutinya. Aku langsung menyodorkan seluruh barang belanjaanku pada Dimas. Kemudian menuntun Arka untuk beranjak dari tempat ini.


"Hei! Apa kau marah?" tanyanya sembari memegang seluruh belanjaanku.


Aku berhenti sejenak, lalu berkata, "Aku ingin berbelanja lebih banyak lagi!" ucapku tanpa menoleh dirinya yang masih terpaku memandangku.

__ADS_1


"Wah, itu bagus!" katanya seraya menghampiriku. "Berbelanjalah sepuasmu, Nona!" ucapnya seraya tersenyum lebar.


Aku menatap sekeliling. "Di mana Fania?"


Dimas pun baru menyadari bahwa Fania tidak ada di sini.


"Coba hubungi dia!" perintah Dimas.


"Baik," jawabku.


Aku langsung menghubungi Fania. Tapi tak diangkat. Kutebak, pasti dia sedang asyik memilih baju-baju seksi.


"Ya, sudah. Kita berbelanja dulu untuk Arka," kataku kemudian berjalan menuju bagian pakaian anak-anak.


Dimas dengan sabar terus mengikutiku, dan membawakan barang belanjaan yang memenuhi kedua tangannya. Aku pun memilih beberapa helai pakaian untuk Arka. Lengkap dengan sepatu dan sandal.


Setelah dirasa cukup, aku langsung menghubungi Fania kembali. Aku masih menunggu Fania mengangkat panggilan dariku. Tapi lagi-lagi ia tak menjawab teleponku.


"Di mana dia?" gumamku cemas.


"Aku tahu!" Dimas tiba-tiba mengajakku turun ke lantai dua.


"Kita mau ke mana?" tanyaku pada Dimas yang berjalan di depanku.


"Fania pasti di sana!"


"Di sana di mana?" tanyaku.


"Aku melihatnya begitu tertarik pada satu tempat penjual pakaian hot! Ha-ha ...!"


Aku pun mengikutinya. Kami turun melalui tangga eskalator lagi. Karena Arka pun sangat senang naik tangga eskalator. Mungkin Arka berpikir bahwa tangga ini seperti mainan untuk anak-anak.


Sesampainya di lantai dua, Dimas langsung berjalan cepat menuju tempat yang dipikirkannya. Dan benar saja, Fania ada di sana. Lebih mengejutkan lagi, Fania sedang bersama dengan Reza di depan kasir. Reza tampak sedang memarahi Fania. Dan ada seorang wanita lagi di sana, yang sedang menggandeng lengan Reza. Apa yang terjadi?


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Hai, Readers Tersayang ...!


Seperti biasa, pukul enam pagi, Author Keceh balik lagi? Semangat pagi semua?


Semoga selalu sehat-sehat, ya?


Author Keceh mau ingetin, bahwa nanti pukul 10.00 WIB. Author Keceh bakalan balik lagi.


Ya, udah. Jangan lupa FOLLOW, LIKE, COMMENT, and VOTE, ya?


Hai, kamu-kamu yang belum masuk grup Author Keceh. Buruan masuk, deh! Nanti kalau ada pengumuman atau pemberitahuan apa-apa tentang novel ini, give away, dan lain-lain, pasti Author Keceh akan beritahukan di GC (grup chat) Author Keceh.

__ADS_1


Jadi, silakan yang belum gabung, bergabunglah. Kalian boleh tanya-tanya langsung seputar novel, ngobrol alay bareng anggota grup, baper bareng, bar-bar gile, di GC bersama Author paling Keceh se-Indonesia wkwk ...!


Thank You ...!


__ADS_2