
Kami pun naik pesawat. Menakjubkan. Aku bisa menikmati pemandangan luar biasa dari atas awan. Meski awalnya gemetaran karena nervous, tapi berada di sisi Dimas membuatku tenang. Dia menggenggam jemariku erat sepanjang terbang.
"Apa kau suka?"
"Aku sangat suka," jawabku.
Sedangkan tidak jauh di belakang kami, terlihat mas Surya dan mbak Nonita duduk di belakang. Kukira mas Surya hanya bercanda saat dinner waktu itu. Ternyata ia benar-benar melakukannya.
***
Kami pun sampai di sebuah resort mewah dengan pemandangan pantai nan indah. Saat akan turun, Dimas dengan sangat hati-hati membantuku, karena gaun pengantin yang kukenakan cukup merepotkan. Dia terus menggenggam jemariku membawaku masuk ke resort tersebut.
Aku berhenti melangkah, sehingga membuat Dimas bertanya, "Ada apa?"
"Gaunnya membuatku kesulitan untuk melangkah," kataku sembari mengangkat gaunku yang menjuntai.
"Biarkan saja itu menjuntai."
"Tapi nanti gaunnya kotor."
"Tidak apa-apa, nanti biar aku meminta seseorang untuk mencucinya."
Akhirnya, kubiarkan gaun pengantinku menjuntai, mengiringi langkahku.
"Selamat datang, Mas Dimas, Mba Imania." Seorang wanita yang bertugas sebagai resepsionis menyapa kami sembari menundukkan kepalanya. "Kami ucapkan selamat atas pernikahan Mas dan Mba."
Para karyawan yang bekerja di resort tersebut segera mendekat, berkumpul menyambut kedatangan kami. Dan itu membuatku terkejut sekaligus mengerti, bahwa ternyata resort ini adalah milik Dimas.
"Putraku juga sedang membangun sebuah resort di Bali." (Episode 169)
Oh, jadi yang dimaksud pak Wibowo waktu itu adalah Dimas.
"Terima kasih atas sambutannya," ucapku merasa sangat tersanjung.
"Kami sudah mempersiapkan kamar untuk mas Dimas dan Mba Imania. Mari saya antarkan," ucap salah seorang dari mereka.
"Tidak perlu. Aku sudah tahu," tolak Dimas.
"Baik," ucap wanita tersebut sembari menunduk.
Dimas membawaku ke sebuah kamar yang sangat luas dan dingin. Kamar yang dihias dengan sangat romantis. Bunga mawar putih—lambang cinta kami—hampir memenuhi ranjang. Kami pun segera beristirahat. Hari ini cukup melelahkan. Duduk disaksikan oleh orang banyak, itu bukanlah suatu hal yang mudah. Bahkan, punggungku terasa pegal harus duduk diam dalam waktu yang lumayan lama.
Klek!
__ADS_1
Dimas menutup dan mengunci pintu kamar. Di kamar yang sangat luas ini, hanya ada kami berdua. Kedudukkan tubuh di ranjang. Ini empuk sekali. Pasti sangat nyaman untuk ditiduri. Dimas mendekat dan duduk di sampingku. Untuk sesaat kami saling hening.
Dimas tampak meremas tangannya sendiri. Sesekali ia melirik ke arahku. "Nia," panggilnya.
"Hm ...," sahutku tanpa menoleh. Aku hanya menunduk. Ada perasaan aneh yang kurasakan. Seperti ... malu dan gugup.
"Kau tampak gugup."
"Benarkah? Kurasa biasa saja," ujarku.
"Kalau begitu lihatlah aku. Tatap aku, Nia."
Perlahan-lahan aku menoleh padanya. Tetap saja, aku gugup sekali. Tanganku saja tidak bisa diam. Aku meremas gaun pengantin ini berkali-kali. Rasanya ... aku ingin segera berlari untuk menghindari perasaan gugup ini.
"Nia." Dimas meraih jemari tanganku. Tatapannya lembut sekali. Aku merasakan kode di dalam mata elangnya. Akan tetapi, itu justru membuatku semakin nervous.
Dimas merapatkan tubuhnya padaku. Sembari terus menatapku dan berkata, "Kau sangat cantik."
"Kau juga ... tampan sekali," balasku gugup.
"Aku sangat bahagia hari ini."
"Aku juga."
Aku menatapnya tersenyum. "Seharusnya aku yang berterima kasih. Kau sudah menerimaku apa adanya."
"Nia, kita sudah halal."
"Ya."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Pertanyaannya membuatku semakin gugup dan malu.
"Pipimu semakin merona. Apa kau malu?" tanyanya.
Aku mengangguk, tertunduk. Membuat Dimas segera meraih wajahku, menghadapkanku padanya. Tatapannya begitu membakar jiwaku. Dimas mendekatkan wajahnya perlahan-lahan ke wajahku. Mata elang itu menatapku lembut sekali. Bibir itu terus mendekat, membuat jantungku berdebar-debar sangat kencang.
Napasku semakin tak beraturan. Apa yang akan terjadi sore ini? Apakah ... kami akan ....
Ting-tung!
Suara bel pintu menghentikannya, tepat sebelum bibir kami bersentuhan. Dimas segera menjauh dari wajahku. Ia menghela napas kesal.
__ADS_1
"Siapa, sih," gerutunya.
"Siapa tahu penting."
Dimas pun segera beranjak membukakan pintu.
"Hai?" sapa mbak Nonita yang berdiri bersama suaminya di depan pintu.
"Apa kalian sudah mulai beraksi?" goda mas Surya.
"Ada kepentingan apa kalian mengganggu kami?" tanya Dimas dengan mimik kesal.
"Ah, kami hanya mengecek kalian saja," jawab mbak Nonita.
"Mengecek apa?" tanya Dimas.
"Ya, mengecek." Mbak Nonita melirik ke arahku. "Memastikan kamar kalian benar-benar di sini. Karena kamar kita bersebelahan, he-he," ujar mbak Nonita.
"Ya, sudah pergilah!" usir Dimas.
"Okay, ayo, Sayang. Kita masuk ke kamar," ajak mbak Nonita sembari mengalungkan tangannya di lengan suaminya itu. Mereka pun pergi.
"Kita akan memulainya berapa putaran, Sayang?" Pertanyaan mbak Nonita masih terdengar di telingaku.
"Sampai kau puas," jawab mas Surya.
Dimas pun menutup pintu dengan kesal. Kemudian kembali menghampiriku yang masih duduk di tepi ranjang.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh Tersayang?
Nanti masih ada satu episode lagi, pukul 24.00 WIB.
Special malam ini, ya?
Kok, jam 12, sih? Iya, soalnya ... em ... gimana, ya? Penasaran? Wait, ya? He-he.
Jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, AND RATING LIMA, YA?
Thank you ...!
__ADS_1