BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Suamiku Sahabatku


__ADS_3

"Apa kau gila?" umpatnya seraya terbatuk-batuk.


"Kau tidak sedang hamil?"


"Apa aku terlihat murahan?" Dia menatapku penuh kekesalan.


"Kau serius tidak sedang hamil?"


"Ya, Tuhan! Wanita ini!" katanya seraya menengadahkan tangan ke atas.


Aku tersenyum lega. "Syukurlah, kau tidak sedang hamil." Aku pun beranjak mengambilkan air minum untuknya. Lalu memberikan padanya. "Ini, minumlah! Makanlah sepuasmu! Jika perlu, aku akan memasak lagi untukmu!"


Fania menatapku bingung. "Apa kau sedang tidak sehat hari ini?" Dia menempelkan telapak tangannya ke dahiku.


Aku pun tersenyum manis padanya. "Aku hanya senang kau tidak sedang hamil."


Syukurlah. Ternyata wanita itu bukan Fania. Meskipun tingkahnya menyebalkan, tetapi sejujurnya, kehadiran Fania dapat menghibur hatiku. Sikapnya yang apa adanya, dan caranya yang manis pada Arka, membuatku terkesan. Setidaknya, aku tak perlu membencinya. Karena dia bukanlah wanita simpanan mas Bastian. Aku pun tak tahu, apakah besok aku bisa menyukai wanita simpanan itu. Atau justru, aku akan membencinya.


***


Pukul lima sore Fania pamit untuk pulang. Aku pun mengantarkannya ke teras. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil hitam milik mas Bastian masuk ke halaman. Mas Bastian turun dari mobilnya, dan cukup terkejut melihat ada Fania di sini.


"Kau! Sedang apa kau di sini?" tanya mas Bastian pada Fania, yang masih berdiri di teras.


"Aku habis bermain sama Arka. Juga habis makan. Ha-ha?" kata Fania seraya tertawa.


Mas Bastian melirikku. "Apa dia membuat kerusuhan?"


"Ya, dia sangat rusuh dan merepotkan!" kataku.


"Ya, sudah. Aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi. Siapin makanan yang banyak ya, Imania?"


Fania pun pergi bersama mobilnya, meninggalkan rumah kami. Kami pun masuk ke dalam rumah.


"Tumben sudah pulang, Mas. Biasanya sampai larut malam pulangnya," tanyaku sembari menghampiri mas Bastian yang baru duduk di sofa ruang tamu.


"Aku ingin pulang cepat," katanya.


"Tidak mampir ke rumah pacarmu?" sindirku seraya tersenyum.


Mas Bastian mengamatiku dengan seksama. "Apa rasa sakit dan nyeri di hatimu sudah hilang?"


"Aku sudah melupakannya," jawabku lalu duduk di sampingnya.

__ADS_1


Dia mengamatiku sembari tersenyum. "Terima kasih ...."


"Untuk?"


"Pengorbananmu."


"Ya, sudah. Cepat mandi!"


Aku pun beranjak menuju ruang keluarga. Arka sedang bermain mobil remote control di sana. Aku pun duduk di sofa sembari menemani Arka yang sedang bermain.


Bicara soal hati, tentang perasaan. Aku tidak pandai mengatakannya. Namun, aku sadar. Bahwa ada yang lebih membahagiakan dari cinta. Yaitu persahabatan. Aku menerima segala kenyataan pahit ini. Pada dasarnya, hidup ini teka-teki. Kadang-kadang ... Tuhan menawari kenyataan pahit dulu, baru setelah itu yang manis-manis.


Aku berharap ... perpisahanku dengan mas Bastian, bukanlah menjadi suatu jurang yang curam. Aku akan tetap menganggapnya sahabat. Bahkan, tentang wanita itu--pacar mas Bastian-- aku akan berusaha menghargainya. Karena cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta hanya akan berjalan pada hati yang telah ditautkan.


***


Waktu menunjukkan pukul 23.00 petang. Arka pun sudah terlelap. Aku pun beranjak dari tempat tidur. Aku keluar dari kamarku. Kulihat mas Bastian sedang duduk di atas sofa sembari menonton televisi. Aku pun menghampirinya, dan duduk di sebelahnya.


"Belum tidur?" tanya mas Bastian yang menoleh padaku.


Aku menggeleng. "Ada yang ingin kubicarakan, Mas ...."


Mas Bastian pun menatapku secara seksama. "Katakanlah."


"Belum. Kenapa memangnya? Apa kita harus buru-buru?"


"Bukan begitu. Aku hanya ... tidak tahu bagaimana cara mengatakan tentang perceraian kita nantinya. Ibu sangat menginginkan hubungan kita tetap utuh. Berkali-kali ia memintaku untuk bertahan. Aku takut menyakiti perasaan ibu."


Mas Bastian meraih tanganku. "Aku akan mengatakannya segera. Kau tenang saja."


"Mas, apa kau jadi membawa pacarmu ke sini?"


"Bukankah, kau yang memintanya?"


"Boleh, kutahu siapa namanya?"


"Kau sudah pernah melihatnya."


"Benarkah?"


Mas Bastian melepaskan tangannya dari tanganku. Ekspresi wajahnya berubah.


"Mas, ada apa?"

__ADS_1


Mas Bastian meletakkan kepalanya pada sandaran sofa. Ia menangkupkan kedua tangan itu diwajahnya. Kemudian membuka seraya mengembuskan napas panjang.


Ia kembali menatapku. "Imania. Aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa. Aku sudah menggores dadamu dengan luka yang bertubi-tubi. Namun, kau tetap bisa memahaminya. Seandainya saja aku mengenalmu terlebih dahulu, sebelum dirinya. Mungkin aku akan lebih mencintaimu."


Kulukiskan seuntai senyum di wajahku. "Mas, aku juga ingin jujur padamu." Sesaat kuhentikan perkataanku. "Dulu, sebelum mengenalmu, aku masih mencintai seseorang. Aku tidak bisa melupakannya. Kulakukan segala cara agar bisa move on darinya. Termasuk membaca buku di perpustakaan, kau ingat? Itu tempat pertama kali kita bertemu."


"Ya, aku ingat."


"Aku tidak bisa move on darinya. Sampai akhirnya kau menembakku. Di situlah aku berharap, agar dapat melupakannya, melalui kamu."


"Jadi, kita sama-sama melakukan pelarian cinta?" Mas Bastian mengangkat kedua alisnya.


Aku mengangguk, kemudian berkata lagi, "Bedanya, aku serius berlari darinya. Sedangkan kau, hanya sekedar sembunyi darinya. Dan pada akhirnya, kau tak dapat sembunyi, kan? Kau pun tetap kembali padanya."


Dia menunduk. "Ya, kau benar," jawabnya lirih.


"Berbeda denganku." Aku pun mengalihkan pandangan ke langit-langit. Berusaha menangkap suatu bayangan di sana. Sosok orang yang selalu kurindukan. "Aku benar-benar serius berlari darinya. Memang, awalnya aku hanya menerimamu tanpa adanya cinta. Aku hanya nyaman bersamamu. Tapi ... lama-lama aku sadar. Apa gunanya hidup bersama tapi tanpa cinta. Aku pun memaksa hatiku untuk terbuka untukmu. Dan ... lambat laun aku mulai menyayangimu."


"Apa kau juga mencintaiku?" tanyanya seraya mengamatiku.


"Aku tidak tahu. Aku menyayangimu, aku mengkhawatirkanmu. Tapi aku sendiri tidak tahu, apakah diriku benar-benar mencintaimu."


Sejenak suasana menjadi hening. Mas Bastian menyandarkan kepalanya kembali di sofa, menatap langit-langit. Kami berkelana dalam pikiran masing-masing.


"Bukankah ini lucu?" gumam mas Bastian seraya terkekeh. "Kita berjalan dengan kisah yang hampir mirip. Aku sudah mentalakmu. Namun, aku gelisah."


Kugerakkan kepala untuk menolehnya. Bersamaan dengan itu, ia juga menoleh. Mata kami pun bertemu.


"Bagaimana dengan Arka?" tanyaku.


"Dia anak kita berdua. Selamanya, dan sampai kapanpun."


"Jika kita sudah bercerai nanti. Siapa yang akan merawatnya? Aku tidak bisa hidup tanpanya."


"Aku juga ingin selalu bersama dengannya."


"Berikan dia padaku, ya?"


Mas Bastian terdiam lagi. Ia embuskan napas dalam. "Jangan bahas ini dulu," katanya.


Kami pun kembali menatap langit-langit dengan pikiran masing-masing. Berada di sisi mas Bastian yang sekarang, justru terasa lebih nyaman. Kami masih berstatus suami-istri. Dan dia sudah menjatuhkan talak tiga padaku. Namun, kita malah terlihat seperti sahabat. Berbeda dengan hari yang lalu, saat semua tampak baik-baik saja. Kami bersama seperti orang asing. Saling menyapa tapi jarang berbicara banyak seperti sekarang. Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan kisahku.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2