BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Anakku Sakit


__ADS_3

"Bella adalah satu-satunya gadis yang paling dicintai Bastian. Sudah kubilang, bukan? Bahwa Bastian itu playboy. Pandai mengambil hati wanita. Hampir setiap wanita yang dekat dengannya, dipacarinya pula. Tetapi setelah bersama Bella, Bastian berubah."


Aku masih mendengarkan Fania, sembari mengingat-ingat tentang nama itu. Nama yang pernah terdengar jelas di telingaku. Tapi kapan dan di mana?


"Aku tidak tahu persis kenapa Bastian begitu mencintainya. Yang kutahu hanyalah, Bastian sangat mencintai Bella. Semenjak berpacaran dengan Bella, Bastian tidak pernah menggoda wanita lain lagi. Dia hanya mencintai Bella!"


Apa wanita bernama Bella itu adalah selingkuhan mas Bastian? Namun, tidak ada kontak bernama Bella di handphone mas Bastian. Aku sudah mengeceknya.


"Jujur, aku masih tidak menyangka Bastian bisa move on dari Bella. Aku tahu persis kisah cinta mereka. Oleh sebab itu, aku mengatakan ini. Kau tidak apa-apa, kan?"


"Tidak masalah. Itu hanya masa lalu. Akulah masa depannya!" jawabku percaya diri.


Fania tersenyum mendengar pernyataanku. "Syukurlah jika kau sangat mempercayai suamimu."


"Sedekat apa kau dengan mas Bastian, dulu?"


"Aku?"


"Ya, kau."


"Kupikir kau ingin bertanya tentang Bella."


"Aku tidak tahu tentang wanita bernama Bella itu. Tetapi kenapa kau tahu begitu banyak tentang mas Bastian?"


Lagi-lagi Fania tertawa. "Bukankah sudah kubilang? Aku dan Bastian sudah seperti adik-kakak. Dia selalu bercerita tentang hubungannya dengan Bella padaku. Jadi, aku tahu semuanya. Dulu, kami begitu dekat. Sampai-sampai aku jatuh hati padanya. Sayang, dia tak membalas cintaku. Bastian hanya menganggapku sebagai adik."


"Untuk apa kau menceritakan semua ini padaku?"


Fania sepertinya terkejut dengan pertanyaanku. "Ya ... ya ... a-aku hanya ingin memberitahumu." Fania beranjak, lalu berbisik di telingaku. "Hati-hati, ya, terhadap Bella!" Kemudian berlalu meninggalkanku yang masih duduk.


Tidak lama kemudian, mas Bastian dan Arka menghampiriku. Kami pun segera berganti pakaian. Lalu pulang.


***


Di dalam mobil, aku masih terngiang-ngiang perkataan Fania. Mengapa perasaanku jadi tak keruan. Aku begitu mengingat satu per satu ucapan Fania tentang Bella. Gadis masa lalu suamiku.


"Hati-hati, ya, terhadap Bella!"


"Hati-hati, ya, terhadap Bella!"


"Hati-hati, ya, terhadap Bella!"


Kalimat itu terus mengusikku. Entah mengapa, terasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam benak.


"Mas?"

__ADS_1


"Hm ...."


"Fania itu siapa?" Seharusnya pertanyaanku adalah tentang Bella. Namun, lucu rasanya jika tiba-tiba menanyakannya.


"Oh, dia temanku. Adik kelasku dulu sewaktu SMA."


"Oh ...."


"Kenapa?"


"Aku tidak menyukai sikapnya terhadapmu," jawabku langsung terus terang.


"Dia memang sedikit manja. Dari dulu dia memang seperti itu."


"Itu bukan manja, tapi berusaha menggoda!"


"Ya, ampun ... kau cemburu?" tanya mas Bastian seraya menyetir mobil.


"Siapa yang tidak cemburu? Kau terus memperhatikannya."


"Jika aku menyukainya, tentu sudah kujadikan pacar sejak dulu," kata mas Bastian.


"Sungguh kau tidak menyukainya?"


Mas Bastian menghela napas, lalu mengembuskannya kasar. "Aku hanya mencintaimu, Sayang."


Kami pun sampai di rumah. Jalan-jalan hari ini cukup menyenangkan hati Arka. Tapi tidak untukku. Aku sudah mencoba melepaskan rasa kecewa yang mas Bastian torehkan. Sudah mencoba melupakan kejadian itu. Namun, mengapa hati ini merasa dilema. Hati ini bimbang, tak tahu kenapa. Seperti ada sejanggal keraguan dalam benak. Padahal, bersikeras kuempas jauh-jauh terka dalam hatiku.


***


Keesokan harinya, seperti biasa, aku menyiapkan sarapan pagi. Mas Bastian pun segera menyantap menu yang telah tersaji. Ia pun duduk di kursi makan.


"Sayang."


"Ya, Mas."


"Duduklah di sampingku," pintanya seraya menyeret satu kursi ke sampingnya.


Aku pun duduk di sebelahnya. Setelah itu, mas Bastian mengambil sendok, mengisinya dengan nasi dan lauk, lalu mengantarkannya ke depan mulutku.


"Buka mulutmu!"


Aku hanya tersenyum. Mas Bastian bersikap seperti ini, mungkin untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah berubah dan ingin memperbaiki segala kesalahannya.


"Ayo, buka," ucapnya lembut.

__ADS_1


Aku pun membuka mulut, menyantap satu sendok berisi nasi dan lauk. Mas Bastian menatapku seraya tersenyum.


"Maafkan aku ya, Sayang," ucapnya tiba-tiba.


"Untuk?" tanyaku setelah usai mengunyah dan menelan makanan yang ada di dalam mulutku.


"Untuk kesalahanku kemarin."


Aku menatapnya terharu. "Jangan ulangi lagi, ya?"


Mas Bastian pun mengangguk. Ia memang sudah beberapa kali berjanji untuk tidak mengecewakanku lagi. Melihat sikapnya seperti ini, aku rasa tidak perlu khawatir lagi.


Usai kami sarapan, mas Bastian pun berangkat ke kantornya.


"Ma?"


Terdengar suara Arka di kamar memanggilku. Aku pun segera menuju kamar.


"Sayang, kau sudah bangun?" Aku langsung duduk di samping tubuh Arka yang masih berbaring. Aku mengamati wajah Arka. Ia terlihat pucat. Aku pun menarik selimut yang masih menutupi tubuhnya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanyaku khawatir.


"Dingin, Ma?" katanya seraya menarik selimut tersebut kembali ke tubuhnya.


Aku pun menempelkan telapak tanganku ke dahinya. "Kau demam!" gumamku.


Ya, Tuhan, Arka sakit. Aku harus segera membawanya ke dokter. Rasa panik pun mulai merundungku. Kukirim sebuah pesan pada mas Bastian.


[Pa, Arka demam.]


Akan tetapi tidak terbaca. Lagi pula dia pasti masih di jalan menuju kantornya. Aku sedang berpikir, apa aku perlu meneleponnya.


"Ma ...."


"Iya, Sayang. Sebentar, ya? Kita akan ke rumah sakit."


Tanpa menunggu balasan dari mas Bastian, aku pun segera bersiap-siap untuk membawa Arka ke rumah sakit. Kugendong Arka menuju jalan raya. Berharap lekas ada angkot yang lewat.


"Ma ...." Arka terus merintih dan menggigil kedinginan. Padahal sudah kupakaikan jaket.


"Sabar, Sayang ...."


Matahari sudah mulai menghangat. Namun, tak satupun angkot yang lewat. Aku pun meraih handphone dari dalam tas. Kuhubungi mas Bastian lagi. Namun, tetap tak diangkat. Mungkin handphone-nya di silent.


Dan saat aku sudah sangat lelah berdiri di tepi jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti menghampiriku. Mobil hitam yang tentunya bukan milik suamiku.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --



__ADS_2