BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Sosok Yang Kucari


__ADS_3

Setelah selesai makan beberapa suap, Dimas pun beranjak dari duduknya.


"Terima kasih," ucapnya.


"Tunggu!" Aku berdiri dan mengusap lembut sekitar bibirnya. "Kau harus tetap steril, kan?"


Dia tersenyum lebar. Kemudian mengamati sekeliling. Setelah itu ia kembali menatapku.


Cup! Mataku terbelalak melihat kenekatannya.


"Yang ini, tidak steril tidak apa-apa," katanya kemudian pergi meninggalkanku yang masih berdiri terpaku menatapnya.


Dia selalu saja membuat jantungku tiba-tiba berhenti. Kadang juga ia membuat jantungku berdetak tak beraturan. Apakah setiap dokter jantung memang pandai memacu jantung seperti ini? Dia selalu membuatku nervous.


Aku masuk ke dalam ruang ICU, tempat ayah dirawat. Aku pun duduk di kursi samping tempat ia terbaring. Sebuah tabung oksigen besar berdiri menemaninya. Mata yang selalu tampak bijak itu kini terkatup rapat. Seolah sedang mencari ketenangan di dalam jiwanya.


Kuraih tangan lelaki yang sangat kuhormati tersebut. Suhu tubuhnya dingin. Tangan yang pernah kumintai restu itu tiada bergerak sedikitpun. Perlahan kudekatkan bibir ini untuk mencium punggung tangan ayah. Rasa sedih di hatiku kembali muncul.


"Ayah ... aku ingin kau mendengarku sebentar saja. Aku harap, kau bisa mendengarku."


Aku memajukan kursi tempatku duduk, agar lebih dekat dengan ayah.


"Ayah ... aku ingin melihatmu sehat kembali. Bermain lagi dengan cucumu, Arka. Aku ingin engkau kembali membuka mata. Ayah ... ibu sangat tersiksa batinnya. Ia tidak mau makan, jika saja aku tak memaksanya. Wajah ibu pucat sekali. Nyaris tak ada senyuman lagi di wajahnya, sejak engkau tak sadarkan diri."


Kugeser kembali kursi dudukku, agar dekat dengan telinga ayah. Aku menggenggam erat jemari tangannya. Lalu aku berbisik lirih di telinganya.


"Ayah ... kami semua mendoakanmu agar kau mampu melewati ini semua. Kami semua merindukanmu. Kami semua menunggumu, sampai kau membuka kembali kelopak matamu ini. Aku yakin kau mendengarku!"


Aku tidak bisa menahan bulir-bulir bening yang menumpuk memenuhi kedua mataku. Akhirnya, bulir-bulir itu pun jatuh.


"Ayah ... asal kau tahu. Meski mas Bastian sudah menyakitiku. Tetapi aku telah memaafkannya, Ayah. Aku tidak bisa terus menerus bersama dengan hati yang terpisah. Kami sudah memutuskan perpisahan ini dengan damai. Jadi, kau tidak usah khawatir. Justru, sekarang kami sudah seperti sahabat. Aku tidak bisa membencinya. Dan ... aku tidak bisa menyalahkan cinta. Pada hakikatnya, cinta selalu mengalir pada muara hatinya."


Aku membelai rambut ayah. "Ayah ... aku sangat menyayangimu. Dan aku tahu kau sangat menyayangiku. Tetapi ayah ... cinta tidak dapat dipaksakan. Semakin dipaksa, itu akan semakin menyiksa. Ayah ... jika kau tidak merestui perpisahan kami. Aku akan mempertimbangkannya. Asal kau mau kembali membuka kedua matamu ini. Dan kembali sehat."


Aku mengucapkannya pelan, berharap ayah bisa memahamiku. Meski aku tak tahu, apa dia bisa mendengarku. Aku pun beranjak, melepas pelan-pelan genggaman tanganku padanya. Dan saat itu pula, aku merasakan ada gerakan pada jari jemari ayah. Aku pun terpaku mengamatinya. Berharap itu benar-benar gerakan tangan ayah. Tapi ... setelah kutunggu beberapa saat. Tak ada gerakan sedikitpun darinya. Aku pun menghela napas kecewa. Kukira dia benar-benar menggerakkan jemarinya tadi, aku merasakannya. Atau hanya perasaanku saja.


Aku pun beranjak keluar dari ruang ICU. Aku berniat mencari ibu. Aku takut dia semakin stress memikirkan kondisi ayah. Aku mencari dan menengok kanan-kiri. Tetapi tidak ketemu. Hingga aku pun mengingat sebuah tempat, yang selalu ibu singgahi selama berada di sini. Ibu lebih sering menghabiskan waktu di tempat itu. Aku pun langsung menuju ke sana.


Sesampainya di tempat tersebut. Aku masuk dan mendapati ibu sedang menengadahkan kedua tangannya. Matanya terus mengeluarkan bulir-bulir air, dan bibirnya terus menyebut nama Tuhan. Ya, ibu tiada henti berdoa. Di balik mukena dan tangan malaikat tak bersayap itu, aku yakin, Tuhan akan mengabulkan doa-doanya.


Aku sangat terenyuh melihat kesabaran ibu mertuaku. Aku pun langsung mengambil wudhu, kemudian menunaikan shalat Dhuha.


***


Malam pun tiba. Semenjak kejadian tadi pagi, aku tiada melihat mas Bastian di sini. Dia ke mana?


"Ibu ... Ima mau keluar sebentar, ya?" izinku pada ibu yang masih duduk berada di samping tempat ayah terbaring.


"Mau ke mana?" tanyanya dengan raut wajah lelah.


"Aku tidak melihat mas Bastian sejak tadi siang. Aku ingin mencarinya, Bu."

__ADS_1


"Tidak usah! Biarkan saja dia! Aku sudah tidak peduli dengannya. Mungkin, dia sedang bersenang-senang dengan wanita ****** itu!"


"Ibu ... aku tahu, Ibu belum bisa memaafkan mas Bastian. Tapi ... bagaimanapun dia pasti sangat menyesali perbuatannya. Aku takut, bila sampai mas Bastian ikut stress dan menyalahkan dirinya."


"Iyan sudah memilih keputusan yang sangat fatal karena menyakiti wanita setulus dirimu!"


Aku pun mengusap pundak ibu. Setelah itu, aku langsung pergi mencari mas Bastian. Aku mencari ke beberapa koridor, lalu aku keluar menuju halaman depan, tapi tak kutemui ada dirinya di sana. Aku pun kembali mencarinya di halaman belakang. Di sini adalah tempat paling sejuk menurutku. Tempat ini adalah taman belakang rumah sakit. Beberapa bangku panjang tersedia di sana. Mataku menyapu ke sekeliling sudut taman. Tapi tak kutemui ada sosoknya di sana.


Dan dalam lampu taman yang remang. Aku melihat seseorang duduk di salah satu bangku tersebut. Di dekat sebuah pohon rindang, aku menghampirinya. Aku berharap dia adalah mas Bastian.


"Mas!" panggilku.


Sosok itu pun menoleh.


"Kau!" ucapku sedikit terkejut.


"Sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan 'Mas'? katanya seraya berdiri.


Aku menelan salivaku sendiri. "Aku kira ... kau adalah mas Bastian."


"Apa aku sangat mirip dengannya?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa kau tidak bisa membedakan?"


"Aku sedang mengkhawatirkan mas Bastian. Jadi, pikiranku sedang tertuju padanya. Lagi pula, postur tubuh kalian sangat mirip," ujarku beralasan.


"Aku ... aku tidak ada waktu untuk ngobrol!" tolakku.


Tapi dia menggenggam lenganku, dan menyuruhku duduk di sampingnya. Aku pun duduk dengan terpaksa.


"Kenapa kau masih memikirkannya?"


"Aku hanya takut dia stress lalu menyakiti diri sendiri."


Dimas terkekeh mendengar jawabanku. "Dialah yang sudah menyakitimu. Jadi, kau tak usah memperdulikannya lagi."


"Sedang apa kau di sini?" tanyaku. "Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Kalau malam, aku suka duduk menyendiri di sini."


"Jika kau suka sendiri, mengapa memintaku duduk menemanimu?"


"Dirimu adalah pengecualian. Jika bersamamu, aku menjadi tidak suka kesendirian."


Kami pun terdiam untuk sesaat. Berada dalam pikiran masing-masing. Kemudian Dimas kembali menatapku. "Kenapa kau tidak bisa membedakan diriku dengan Bastian?"


Aku melenguh kesal. "Apa itu perlu di bahas?"


"Kalau begitu, kita bahas yang lain saja."

__ADS_1


Aku mengerutkan dahiku. "Tidak usah membahas apa-apa!"


"Aku tidak bisa untuk tidak membahas apa-apa jika ada dirimu. Tetapi ada pengecualian untuk itu. Kita bisa melakukan sesuatu yang lebih indah," katanya seraya mengulas senyum.


"Apa maksudmu?"


Ia meraih pundakku, menghadapkan tubuhku padanya. "Sepertinya kau kurang fit beberapa hari ini. Kau mau vitamin C?" ucapnya seraya mengedipkan mata.


"Hei! Apa di otakmu selalu ada pikiran mesum seperti itu?" Aku menatapnya kesal.


"Tidak. Tidak selalu. Hanya ... jika bersamamu."


"Aku tidak mau!"


"Aku mau!"


"Aku tidak!" kataku seraya melepaskan kedua tangannya yang memaku tubuhku.


"Baiklah, kalau begitu, mari kita membahas sesuatu."


Aku tak menghiraukannya. Tetapi dia meraih jemariku.


"Nia, bagaimana tentang hubunganmu dengan Bastian? Apa kau sudah memutuskan pilihan?"


Aku menghela napas dalam. Lalu menatapnya. "Sudah."


"Apa pilihanmu?"


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Tersayang ....


Masih stay on, ya, nungguin novel ini UP?


Kuharap, kalian tetap sabar menunggu kebahagiaan tokoh kesayangan kalian ini, ya?


Semua itu butuh proses, Ferguso! Tidak semudah itu! Yang penting, kan, ada proses untuk menuju perjalanan akhir yang indah. Ya, kan? (iyain, lah)


Tenang saja? Hidup itu selalu sejalur dengan perbuatan, kok! So, kita ikuti saja terus perjalanan mereka, ya?


Jangan bosen, ya? Entar Author Keceh jadi sedih. (emot nangis)


Pokoknya, tunggu sampai Ending, ya? Semoga aja, ada sutradara yang nyomot, nih, novel buat dijadiin film. (emot lope-lope)


Aamiin, deh! Semoga? Itu cita-cita Author Keceh banget! (emot bintang-bintang)


Ya, udah, jangan lupa LIKE, COMENT, VOTE, dan KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA!


Thank You .... (emot cium)

__ADS_1


__ADS_2