BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Aku Pulang


__ADS_3

"Memangnya dia siapa? Pacarmu? Lalu Nessa mau kau kemanakan?"


"Dengar! Kau tidak usah ikut campur dengan urusanku! Lebih baik, kau urus saja dirimu sendiri!" kata Dimas yang masih mencekal kerah jas dokter Reyhan.


"Kau memang serakah! Sudah jelas jodohmu itu Nessa. Kau masih menggoda wanita lain? Aku akan mengatakan tentang perselingkuhanmu ini pada Nessa!" ancam dokter Reyhan.


Deg! Aku mencerna baik perkataan dokter Reyhan. Dia benar, Nessa adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuk Dimas. Mengapa hatiku menjadi dilema? Bukankah aku sudah berjanji pada Nessa, untuk tidak kembali lagi pada Dimas? Ya, Tuhan ... aku harus bagaimana?


"Rey!"


Saat Dimas hendak melayangkan pukulan ke wajah dokter Reyhan, tiba-tiba pintu terbuka. Dan itu adalah ibu mertuaku. Dimas dan dokter Reyhan menoleh bersamaan pada sosok yang berdiri di depan pintu.


Ibu menatap kedua Dokter itu bingung. Tangan Dimas masih mencekal kerah dokter Reyhan.


"Hei! Harusnya kau rapikan dulu jasmu ini! Apa jasmu tidak pernah disetrika? Kusut sekali seperti tampangmu! Ha-ha ...." Dimas tiba-tiba bertingkah aneh. Lalu merapikan kerah dokter Reyhan kembali.


"Ya! Seharusnya aku segera memiliki istri. Malang sekali, dokter setampan dan sekeren aku, belum memperoleh pendamping! Ha-ha ...." Dokter Reyhan pun ikut bertingkah aneh. Ia merangkul Dimas dan mengajaknya keluar.


"Mari kita berkencan!" ucap dokter Reyhan.


"Apa kita terlihat serasi?"


Ibu yang masih berdiri terpaku di depan pintu pun perlahan menggeser tubuhnya, memberikan jalan untuk kedua dokter itu keluar. Kemudian ibu menghampiriku.


"Ima? Apa kedua dokter itu gay?"


"Hah?" Aku yang masih bengong akibat tingkah merekapun ikut tertawa. Akting mereka sangat ... sangat payah.


"Aku senang kau masih bisa tertawa."


Sontak wajahku berubah menjadi murung kembali.


"Ima? Jangan tinggalkan Ibu, ya?" kata ibu seraya meraih telapak tanganku. "Aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri. Aku sangat menyayangimu. Jangan berpikir untuk meninggalkan kami, ya?"

__ADS_1


Aku menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Ibu ... sampai kapanpun, Ima selalu menganggapmu seperti ibuku sendiri. Ima sayang Ibu ...."


Kami pun berpelukan. Ibu mencium keningku berkali-kali. "Jangan pernah berpikir untuk berpisah dengan Iyan, ya? Ibu tahu perasaanmu. Tapi Ibu yakin, Iyan akan memperbaiki kesalahannya."


Aku melepaskan pelukannya. Lalu menatap dan membelai pipi ibu mertuaku yang sudah mengeriput. "Bu ... Ima belum membicarakan ini dengan mas Bastian. Tunggu setelah Ima memperoleh kejelasan darinya. Baru Ima bisa memutuskan."


Ibu mendekapku lagi seraya menangis. "Kau memang bukan anak kandungku. Kau tidak terlahir dari rahimku. Tetapi ... aku sungguh sangat menyayangimu, Imania!"


***


Malamnya, dokter Mega datang menemuiku. Sesuai keinginanku. Ia mengatakan bahwa aku sudah boleh pulang. Aku pun berterima kasih padanya. Akhirnya, aku dapat menanyakan segera pada mas Bastian, perihal pengkhianatannya terhadap kesetiaanku.


Setelah dokter Mega keluar, tiba-tiba Nessa masuk.


"Kau sudah diperbolehkan pulang, kan?" tanyanya.


"Sudah," jawabku.


"Tidak usah, Ness," tolakku.


"Aku juga mau pulang. Ayo kuantar."


"Tidak usah repot-repot, Ness."


"Please ...."


Karena Nessa terus memaksa, jadi aku menerima tawarannya untuk pulang bersama. Aku dan ibu pun naik ke mobil Nessa. Setelah berkendara selama 15 menit, kami pun sampai di rumah.


"Dokter Vanessa, mau mampir dulu?" tawar ibu dengan ramah.


"Lain kali saja, Bu. Aku pamit dulu. Jaga kesehatan, ya, Imania," serunya dari dalam mobil. Mobil kuning itu pun berlalu dari halaman rumahku.


Aku dan ibu masuk ke dalam rumah. Di sofa, aku mendapati mas Bastian dan Arka sedang menonton televisi. Arka meletakkan kepalanya di atas bantal. Dan kaki Arka berada di atas pangkuan mas Bastian. Sedangkan mas Bastian tampak sedang memijat kaki Arka.

__ADS_1


"Assalamualaikum?" Ibu mengucapkan salam. Sehingga keduanya menoleh ke arah kami bersamaan.


"Waalaikumsalam?" jawab mas Bastian dan Arka kompak.


"Mama?" Arka berseru dan langsung berlari kepadaku. Aku pun memeluk Arka erat. Kami saling merindukan.


Setelah itu, mataku langsung menatap wajah lelaki yang sudah menyakiti perasaanku itu. Dadaku terasa sesak setiap kali melihatnya. Aku masih tidak menyangka, dia setega itu. Sangat jauh dari ekspektasiku. Begini rasanya kecewa. Sakit ....


"Kau--" Mas Bastian memandangku yang masih terpaku menatapnya pilu. "Kau sudah sembuh?"


-- BERSAMBUNG --


___________________________________________


Hayo! Dag-dig-dug, nih, ye?


Wah, kira-kira apa yang akan terjadi?


Gemes, deh, Thor! Pingin timpuk Bastian!


Huf! Nanti Up lagi. Tungguin yah?


Ingat! Jempolmu, Vote-mu, Coment-mu, Rate Bintang Lima!


Author selalu pantau keaktifan kalian, loh? Jadi, Author tahu persis, siapa-siapa yang paling aktif. Dan berhak untuk GIVE AWAY menjelang Ending.


Buat, Kalian yang belum masuk grup Author Keceh, cuss! Buruan masuk grup ya? Caranya ada di episode sebelumnya.


Nanti akan ada info dari Author Keceh. Dan kalian juga bisa ngobrol alay, atau apalah-apalah bareng Author Keceh!


Salam Manis Dari Author Paling Manis Tanpa Pemanis!!! 😘


Thank You ....

__ADS_1


__ADS_2