BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Panggilan 'Sayang'


__ADS_3

Dimas mendekatkan wajahnya. Meraih leherku, seraya menatap kedua netraku lekat-lekat. Pandangannya berubah lembut ... lembut ... lembut. Ketika bibir itu semakin mendekat ... refleks kupejamkan mata perlahan. Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Menyusuri setiap sudut kelembutan. Rasa yang selalu sama, tak pernah berubah. Dalam terpejam, kami saling beradu kecupan.


Setelah beberapa menit, Dimas pun membawa bibitnya menjauh pelan-pelan. Dengan netra yang terbuka separuh. Dan aku mulai membuka netraku perlahan. Seuntai senyuman tertangkap jelas dari netraku. Senyum khas miliknya, yang selalu kurindukan. Jemarinya tiba-tiba naik, menuju bibirku. Ia menyusuri setiap jejak yang sempat ia torehkan.


Ia menatapku, seraya berkata, " Aku mencintaimu ...."


Kukulum seuntai senyum padanya. "Aku ... juga ... mencintaimu ...," balasku dengan lembut.


Dia pun menarik jemarinya. "Mau yang lebih dari ini?" katanya seraya mengedipkan mata.


Aku langsung terkejut mendengar pertanyaannya. "Hei, apa kau semesum itu?" kataku seraya bangkit dari duduk.


"Kenapa marah? Aku kan hanya bertanya?" katanya seraya tertawa.


Kulangkahkan kaki menuju balkon dengan kesal. Aku berdiri menatap langit yang mulai menggelap. Dimas pun menyusulku. Ia turut berdiri di sampingku.


"Apa kau suka rumah ini?" tanyanya seraya menoleh padaku.


Aku pun menoleh padanya. "Jika aku tidak suka, apa kau akan kecewa?"


"Jika kau tidak suka, aku akan membelikan rumah yang baru. Yang lebih luas dan besar dari ini," katanya.


"Ini sudah cukup luas dan besar. Untuk apa membeli yang lebih dari ini?"


"Ya, kau benar. Lagi pula, jika sudah menikah nanti, aku akan membawamu ke rumah pribadiku. Dan rumah ini ... terserah mau kau jual atau kau apakan. Itu hakmu, dan sudah menjadi milikmu," katanya seraya menatap langit lepas.


"Di, bagiku, rumah yang nyaman itu tidak harus besar. Tidak harus mewah. Rumah yang nyaman adalah rumah yang terisi dengan senyuman, kehangatan, keharmonisan. Untuk apa rumah yang megah, tetapi di dalamnya selalu ada masalah dan kesedihan. Rumah yang paling nyaman adalah rumah yang di dalamnya berisi ketenangan dan kedamaian."


Dimas meraih pundakku, menghadapkan tubuhku padanya. "Benar. Oleh sebab itu, aku akan membuatmu bahagia bersamaku. Agar rumah pun terasa nyaman, tentram, dan damai. Dan kau ... kau adalah rumahku. Kau adalah tempatku berpulang. Jadi tetaplah menjadi rumahku yang tersayang," katanya seraya menatapku.


Aku hanya tersenyum mendengarnya.


"Kau tersenyum manis sekali ...," katanya lagi seraya menatapku. Kemudian ia mendekat ... mendekat lagi ... matanya sudah membidik dan siap menuju sesuatu yang lembut. Akan tetapi, tiba-tiba ....


Suara adzan berkumandang. Ia segera menghentikan apa yang akan terjadi. Aku hanya tersenyum malu.


"Ayo, kita ambil wudhu," ajaknya.


Aku pun mengangguk. Dan kami pun melakukan shalat Maghrib bersama.


***


Usai shalat, kami beranjak menuju lantai bawah. Kami akan menunggu Fania sembari menonton televisi. Aku pun duduk di sofa berdua di sebelah Dimas. Dan benar saja, tidak begitu lama, suara mobil Fania terdengar masuk ke halaman.


Aku pun beranjak menuju pintu. Kubuka pintu tersebut, dan kulihat Fania keteteran dalam membawa makanan. Aku pun segera membantunya, dan membawa makanan yang dibeli Fania, untuk ditaruh di meja makan.


Setelah semuanya siap. Aku pun menghampiri Dimas yang masih duduk di sofa.


"Di, ayo makan!"

__ADS_1


"Nia, apa kau tidak bisa memanggilku dengan lebih baik?"


"Apa maksudmu?"


"Panggil aku dengan sebutan 'Sayang'," pintanya.


"Aku tidak bisa!" kataku menolak.


"Aku tidak mau makan kalau begitu!" katanya berpura-pura kesal. Atau kesal sungguhan. Entahlah!


"Di, jangan kekanak-kanakan. Ayolah?" ajakku lagi.


Dimas tidak menjawab. Dia malah membaringkan tubuhnya di sofa, kemudian memejamkan matanya, seraya berkata, "Apa susahnya, sih, memanggilku dengan sebutan 'Sayang'? Aku hanya ingin kau terbiasa memanggilku 'Sayang'. Jika tidak bisa, aku tidur saja!"


Aku menghela napas panjang. "Ya, sudah, kalau begitu. Aku mau makan bersama Fania. Kau tidurlah yang nyenyak!"


Aku pun beranjak menuju meja makan. Akan tetapi, kuhentikan langkahku. Aku berbalik, dan memandangnya yang masih berbaring. Rasanya ... tidak tega juga membiarkannya kelaparan. Aku pun kembali menghampirinya.


Aku menghela napas kembali. Sebenarnya, memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' masih sulit untuk lidahku. Padahal ini hal sepele. Namun, aku belum terbiasa. Baiklah, akan kucoba.


"Sayang ...," ucapku lirih yang berdiri di depannya. "Sayang ...."


"Aku tidak dengar," sahutnya seraya masih terpejam.


Aku pun kembali memanggilnya. "Sayang, ayo makan!" seruku dengan ketus.


"Itu tidak romantis!"


Dimas pun membuka matanya. Ia tersenyum melihatku. "Ya, Sayang ...."


Aku segera menegakkan tubuhku. Akan tetapi, Dimas dengan nakalnya langsung meraih pundakku. Ia memelukku, hingga posisiku berada tepat di atasnya.


"Oh my God!! Kalian ini?! Waktunya makan, woy!!"


Suara Fania mengagetkan kami. Aku langsung berdiri dan berjalan menuju Fania yang sedang memandang kami dengan wajah cemberut. Dimas pun beranjak mengikutiku.


"Ayo, makan!" ajakku pada Fania.


"Ayo, makan!" ulang Fania dengan nada mengejek.


Kami berjalan menuju meja makan. Dan duduk bersama untuk makan bersama pula. Begitu banyak menu makanan yang Fania pesan dari Giant Restauran. Kami pun segera menyantapnya.


"Dimas! Kenapa kau tidak delivery order saja?" tanya Fania sembari makan.


"Kenapa memangnya?" Dimas balik bertanya.


"Tadi Rudi mengejekku. Katanya aku sengaja menghampirinya, karena ingin PDKT. Aku sangat kesal padanya!" ucap Fania dengan kesal.


"Bukankah itu bagus? Kurasa kalian cocok!" ujar Dimas.

__ADS_1


"Cocok apanya! Rudi sama sekali bukan laki-laki yang ramah. Bukan tipeku juga! Dia memperlakukanku seperti pembantu di sana!" ungkap Fania dengan sangat kesal.


"Memperlakukanmu seperti pembantu?" ulangku.


"Iya! Pertama-tama dia menyuruhku mengantar makanan ke meja pengunjung restoran. Kemudian menyuruhku untuk membantunya memasak. Dan memintaku untuk membungkus makanan yang kupesan sendiri!"


"Dan kau mau?" tanyaku.


"Katanya, kalau aku tidak mau membantunya, dia tidak akan menyajikan pesananku! Itu menyebalkan!" gerutunya masih dengan nada kesal.


Dimas tertawa mendengarnya. Sedangkan aku pun ikut tersenyum mendengar penuturan Fania.


"Ada lagi!" kata Fania. "Rudi memintaku untuk mencuci piring-piring yang kotor!"


"Kok, bisa?" tanyaku.


"Iya. Gara-gara aku menumpahkan minuman di wajah salah seorang pengunjung restoran!"


Aku sangat terkejut mendengarnya. "Kau ... kau menumpahkannya, atau sengaja melakukannya?"


"Sengaja!"


"Fania, apa kau gila?" tanyaku heran.


"Kau ingin tahu siapa orang yang barusan kusiram?"


"Siapa?" tanyaku.


Fania meletakkan sendok dan garpu dari tangannya, lalu menjawab seraya menatapku tajam, " Bella."


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Readers Keceh Nan Badeh ...!


Apa kalian bingung, karena covernya diganti? Bagaimana menurut kalian tentang penggantian cover novel ini? Tidak apa, kan?


Oh, ya. Kalian jangan lupa untuk tetap FOLLOW, LIKE, COMENT, and VOTE ya? Kalau ada yang mau kasih TIP COIN juga boleh banget, tuh!


Tungguin GIVE AWAY SELANJUTNYA?


Bantu Author Keceh untuk menaikkan Ranking Novel Kesayangan Kalian ini, ya?


Yang belum masuk grup, cuss! Buruan masuk! Karena Author Keceh akan mengumpulkan Readers Keceh untuk masuk ke grup selanjutnya yaitu GRUP WHATSAPP!


Tapi nanti, setelah semua Readers Keceh masuk ke GRUP MANGATOON/NOVELTOON ini dulu, ya? Nanti akan diumumkan di sana.


Wah, asyik kan? Ya, udah. Sampai jumpa besok pagi?

__ADS_1


Thank you ...!


__ADS_2