
"Kau ingin tahu yang sebenarnya? Biar aku katakan!" ucap Dimas di depan wajah mas Bastian. "Imania dan aku, dulunya adalah sepasang kekasih."
Mas Bastian tampak terkejut mendengarnya. "Jadi ... jadi ...."
"Ya. Imania adalah mantanku. Bahkan, sesungguhnya tidak ada kata mantan dalam hubungan kami. Karena memang tidak ada kata putus juga di antara kami. Aku masih sangat mencintainya. Tapi sayang ... dia malah menikah dengan laki-laki yang tidak tahu diuntung sepertimu!"
"Apa kau sempat menggodanya? Bahkan, saat Imania masih resmi menjadi istriku?" Mas Bastian meraih kerah Dimas.
"Mas Bastian!" sergahku.
"Jawab!!"
"Wow! Apa kau sangat ingin tahu? Lagi pula, kau sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Imania. Jadi ... sudahlah! Kita bahas yang lain saja! Mari kita ngopi!" kata Dimas dengan santainya.
"Jawab pertanyaanku, Di! Apa selama ini kau menggoda Imania, saat dia masih menjadi istriku?!" tanya mas Bastian lagi, tanpa melepaskan tangannya dari kerah Dimas.
"Kalau iya, kenapa? Aku sering menggodanya. Bahkan, saat kau berada di rumah. Kau tidak tahu, kan? Usahaku sangat keras untuk menggoda istrimu. Tetapi Imania adalah wanita yang sangat setia. Dia menolakku berkali-kali. Dia bilang hanya mencintaimu. Sayangnya ... suaminya sendiri selingkuh! Ha-ha ...!"
Mas Bastian pun melayangkan pukulan ke wajah Dimas. Tetapi dengan sigap, Dimas langsung mencekal pergelangan tangan mas Bastian. Aku pun panik.
"Jika saja kau adalah laki-laki yang pantas untuk Imania. Mungkin aku masih membiarkanmu bersamanya. Tapi kau! Kau sudah melukai perasaannya! Dan itu membuat celah tersendiri untukku masuk kembali ke dalam hati Imania. Kau ... sama sekali ... tidak pantas mendapatkan wanita sebaik Imania! Terima kasih karena telah mengkhianatinya, sehingga Imania pun membuka mata hatinya lebar-lebar untuk kembali lagi padaku!" Dimas pun mengempaskan tangan mas Bastian dengan kasar.
Mas Bastian tidak dapat berkata-kata lagi. Ia hanya menatap Dimas dengan penuh emosi.
"Bas! Kuharap kau tidak menyesali perbuatanmu, karena telah menyia-nyiakan wanita seperti Imania. Aku ingin tahu, seperti apa istrimu yang sekarang bila dibandingkan dengan Imania. Jadi ... jangan sampai menyesal, ya?!"
Mas Bastian menatap Dimas dengan tajam, menghela napas kasar. Tangannya mengepal erat sekali, seakan ingin segera melampiaskan pukulan tersebut.
"Dimas! Kau benar-benar pengkhianat!"
"Kau juga, pengkhianat!"
Mas Bastian pun pergi meninggalkan kami. Aku menatap kepergian mas Bastian dari depan pintu. Aku tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan tadi denganku.
"Nia, aku pulang dulu, ya?"
"Ya, hati-hati ...," ucapku datar.
"Kenapa wajahmu begitu?"
"Kau selalu saja bertengkar dengan mas Bastian. Bagaimana aku tidak kesal?"
Dimas meraih tanganku. "Aku sudah menemukan pekerjaan yang tepat untukmu," katanya seraya tersenyum.
"Benarkah?"
"Besok, aku akan meminta seseorang untuk mengurusnya. Jadi ... kau tinggal masuk untuk bekerja saja."
"Di mana aku akan bekerja?" tanyaku bersemangat disertai senyuman lebar.
"Apa kau sangat ingin bekerja? Kau terlihat semangat sekali."
__ADS_1
"Hm." Aku langsung mengangguk.
"Kau akan bekerja di perusahaan ayahku."
Mendadak mimik mukaku berubah. "Kenapa harus di perusahaan ayahmu?"
"Karena aku bisa selalu memantaumu di sana."
"Tapi ... aku takut bertemu ayahmu."
"Nia ... kau harus bisa mengambil hati ayahku terlebih dahulu. Ini tugas utamamu!"
"Jadi, kau memperkerjakanku di sana untuk mengambil hati ayahmu? Bukan untuk bekerja?"
Dimas tertawa mendengar pertanyaanku. "Dua-duanya. Ayolah ... kapan lagi kau bisa segera bertemu calon ayah mertua?"
"Tapi ...."
"Aku sudah mengatakan ini kepada sekretaris Ve. Kau tinggal datang saja," katanya seraya tersenyum lebar.
Sebenarnya aku ragu. Aku belum siap untuk bertemu dengan ayahnya Dimas itu. Orang yang pernah melarang keras hubungan kami. Orang yang memintaku untuk tidak menghubungi Dimas saat sedang belajar di California. Oh ... aku tidak tahu bagaimana jadinya bila orang yang paling kutakuti itu berjumpa lagi denganku.
Dimas pun pamit pulang. Dan aku kembali masuk ke dalam rumah. Kuambil handphone, aku masih menunggu balasan dari Fania. Tetapi setelah aku cek, tanda centang di chat-ku masih centang satu. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
***
Seminggu kemudian.
Dengan pertimbangan yang matang, aku sudah memutuskan untuk masuk ke dalam perusahaan milik ayahnya Dimas. Lagi pula, Dimas sangat menginginkan agar ayahnya dapat menyukaiku. Aku merasakan bahwa ini bukanlah suatu pekerjaan biasa. Dan ini tidaklah mudah Ini lebih seperti misi. Aku harus siap mental demi mempertahankan hubunganku dengan Dimas. Dan aku sudah siap untuk segala konsekuensinya.
Saat aku sedang asyik memilih baju yang akan kukenakan untuk menemaniku bekerja, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku segera mengenali suara mobil yang sudah familiar di telingaku. Dengan perasaan bahagia, aku segera keluar untuk menyambut seseorang yang datang tersebut.
Aku sedikit berlari menuju pintu. Dan saat tanganku menyentuh gagang pintu tersebut, tiba-tiba pintu itu terbuka dan sontak menabrak tubuhku. Aku pun jatuh terduduk ke lantai.
"Imania! Sorry ...!" ucap seseorang yang sudah berdiri di depan pintu.
Aku segera bangkit dan memeluk tubuhnya erat.
"Hei! Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya seraya membalas pelukanku.
"Itu pertanyaan untukmu. Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja."
"Aku senang kau kembali!" ucapku seraya membendung air di dalam pelupuk mataku yang sebentar lagi akan tumpah.
"Apa kau sangat merindukanku?"
"Sangat!"
"Kalau begitu, aku lapar! Aku ingin makan!" katanya.
__ADS_1
Aku pun melepaskan pelukan. "Aku akan memasak untukmu! Tunggulah sebentar!"
Dengan perasaan bahagia, aku pun berbalik dan segera melangkah menuju dapur.
"Imania!" serunya kembali.
Aku pun menghentikan langkah, kemudian berbalik menghadapnya. Dan dia berlari memeluk tubuhku dengan lebih erat daripada pelukanku sebelumnya.
"Imania! Aku merindukanmu!" ucapnya seraya terisak.
"Fania! Aku juga merindukanmu ...," balasku kemudian ikut terisak.
Aku tidak pernah memiliki sahabat sepertinya sebelumnya. Dia datang tiba-tiba. Aku pun tidak tahu persis dari mana asalnya. Namun, kedatangannya itu seakan memberi warna baru dalam kehidupanku. Dia teman yang sedikit aneh. Tetapi dia jujur. Dia selalu bersikap apa adanya.
"Fania! Mengapa kau lama sekali tidak mengunjungiku?"
"Maaf ... sudah membuatmu khawatir."
"Lain kali, beri kabar padaku, ya? Handphone-mu tidak bisa kuhubungi."
"Handphone-ku sudah almarhum!"
Kami pun saling melepaskan pelukan. Dan kami saling mengusap air mata dengan telapak tangan masing-masing.
"Ternyata kau masih bisa menangis," ucapku seraya masih terisak.
"Aku juga masih titisan anak manusia," balasnya yang juga masih mengusap air mata di wajahnya.
"Apa Reza mengasarimu lagi?"
"Tidak. Kau tenang saja."
"Pantatku sakit!" ucapku seraya memegang bagian yang terbanting tadi.
"Sini biar kulihat!" Fania mencoba menyentuhnya. Tapi langsung kutepis.
"Ini gara-gara kau!" ucapku berakting kesal.
"Tapi kau senang aku kembali, bukan?"
Kami kembali terisak dengan rasa haru bahagia. Aku pikir, tidak akan bisa menjumpai gadis Alien ini lagi. Aku khawatir jika Reza yang bengis itu membunuhnya. Apa aku terlalu berlebihan?
"Nenek ... Nenek! Tante Fania sama Mama berantem!" teriak Arka yang tiba-tiba muncul.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Tersayang ...!
Nanti malam, Author Keceh balik lagi. Tungguin, ya?
__ADS_1
Jangan lupa, LIKE, COMENT, VOTE!
Thank You ...!