
Hei, Readers Keceh Tersayang? Wah, selalu menantikan novel ini, ya? Makasih, loh, ya?
Oh, ya, Author Keceh punya tips asyik baca novel ini. Pas adegan sedih, Author Keceh ngetik sembari mendengarkan lantunan lagu 'RIVERS FLOW IN YOU'.
Ini lagu yang dipilih Author Keceh untuk novel ini. Ala-ala soundtrack film gitu, hehe.
Jadi, silakan download MP3 'RIVERS FLOW IN YOU', YIRUMA. Bisa menemanimu membaca novel ini pas adegan sedih. (khusus adegan sad saja, ya)
Serius, nih. Pas adegan sedihnya bakal kerasa lebih maknyooos! ðŸ˜
Ingat selalu pesan Author, untuk siapkan tissue sebelum membaca, ya? Karena novel ini sudah disusun ada happy, comedy, dan sad-nya. Lengkap!
Semoga hikmah dan pembelajaran dari kisah ini dapat diterima dengan baik. Aamiin.
Ini belum ending loh? Masih lama, sekitar sebulan. Wah, asyik, ya? Menemani Ramadhan kalian juga.
Oke, silakan membaca and siapkan tissue sebelum membaca, ya?
Thank you ...!
_____________________________________________
Kualihkan pandangan ke menu makanan di hadapanku. Ini menyakitkan. Meski aku telah memutuskannya, tapi ... aku ... aku masih mengharapkan agar dia menjadi jodohku. Sayangnya, sepertinya Dimas pun sudah merelakan diriku. Buktinya, dia tidak lagi mempedulikan keberadaanku di sini.
"Imania, apa kau benar-benar sudah putus dari Dimas?" tanya Fania.
"Kau dan Dimas putus?" Mas Bastian ikut bertanya dengan nada terkejut.
Aku mengangguk sembari tersenyum. "Dia bukan ditakdirkan untukku."
"Benarkah? Siapa yang mengetahui tentang jodoh dan takdir Imania," tukas Fania.
"Jangan dengarkan Fania. Dia wanita aneh. Aku khawatir, bila kau sampai mendengarkan aliran sesat darinya," ucap mas Bastian.
"Hei! Apa maksudmu aliran sesat?"
"Hidupmu saja tidak jelas. Aku hanya mengkhawatirkan Imania, jika sampai terbawa aliran kesesatan darimu."
__ADS_1
"Helo? Apa kabar dengan Bellamu, Bas? Jangan suka meremehkan orang lain. Meski aku tampak meragukan dari luar, tapi aku dapat dipercaya dari dalam."
"Sudah, jangan berdebat! Aku sudah move on dari Dimas. Jangan membahasnya lagi," cecarku.
Kulirik sesaat ke arah mereka yang tengah duduk berdua di meja, yang hanya berjarak sekitar lima meter dari meja kami. Dimas dan Nessa sedang memesan menu makanan. Setelah waitress itu pergi, tiba-tiba saja Nessa beranjak ke depan. Ia terus melangkah menuju panggung. Kemudian mengambil sebuah mic. Semua mata pengunjung yang berada di restoran pun terarah padanya.
"Selamat siang, semuanya?" Nessa mulai menyapa.
"Mau ngapain dia!" ketus Fania yang tengah menyantap makanan.
"Baik. Sembari menunggu menu makananku datang. Aku ingin mengucapkan sesuatu hal yang sangat membahagiakan di dalam hidupku."
Semua yang mendengar terpaku pada sosok Nessa. Kecuali Fania dan Arka, yang sibuk menyantap hidangan.
Kulihat kedua mata Nessa berpendar. Seuntai senyum ia lemparkan, kemudian berkata, "Aku memiliki sebuah kisah cinta yang ingin kuceritakan pada kalian."
"Sejak kecil aku menyukai seseorang. Kami bersahabat baik. Kami saling menyukai satu sama lain, tepatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar."
Kualihkan pandangan pada Dimas, yang tengah duduk terpaku. Ia menatap Nessa bergeming, sesekali ia menunduk. Aku tidak tahu pasti apa yang tengah Nessa rencanakan. Apa dia sengaja melakukan semua ini untuk memanasiku?
Nessa menghela napas dalam. Pendar mata itu berubah menjadi berembun. Tak lepas seuntai senyuman dari bibir tipisnya. Kemudian dia berkata lagi, "Dulu, pernah sebuah kejadian menimpaku. Ketika kami asyik berlomba lari. Waktu itu aku jatuh, hingga tak sadarkan diri. Aku dilarikan ke rumah sakit. Aku koma beberapa hari. Dan ... sejak saat itu ... dia pun tahu bahwa aku sudah menyimpan sebuah rahasia tentang diriku darinya. Dia sangat marah, ketika tahu ada sesuatu yang kusembunyikan. Padahal kami sudah berjanji untuk tidak menyimpan rahasia."
Kedua mata Nessa mulai menitikkan bulir bening yang sedari tadi membendung di pelupuk mata. "Sejak saat itu, ia tahu bahwa aku ... aku memiliki sesuatu yang berbeda di dalam dada. Ia sangat terpukul mendengar kenyataan tentang kesempatan waktu hidupku yang telah diprediksi. Dan ... pada hari ketika aku sadar dari koma, ia menangis sembari memelukku. Kemudian ia berjanji padaku, bahwa ia akan selalu menjagaku sampai maut memisahkan kami. Ia juga bercita-cita, untuk menjadi seorang dokter yang akan menyembuhkanku. Ia bilang, ia akan mencari cara terbaik demi menjaga hidupku."
Kualihkan pandangan ke arah Dimas yang tertunduk diam. Ia seperti tengah mengakui isi dari pernyataan Nessa. Aku tidak tahu apakah ia sedang bersedih, tetapi wajahnya tampak sayu.
Nessa mengusap kedua belah pipinya yang basah. "Tidak hanya itu, ia pun berjanji untuk menikahiku kelak ketika dewasa. Aku adalah cinta pertamanya, dan dia adalah cinta pertamaku. Kedua orang tua kami bersahabat. Melihat kedekatan kami, mereka pun sepakat, mereka merestui hubungan kami sejak kecil."
Jadi ... itulah sebabnya mengapa mereka dijodohkan? Dan itulah sebabnya, Dimas ingin menjadi dokter? Untuk menjaga Nessa.
Kulirik ke arah Dimas lagi. Dia masih menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tak melihatku lagi. Mungkinkah, ia sudah move on dariku?
"Sayangnya, setelah tamat SD, kami harus berpisah. Aku pindah ke Bandung mengikuti ayahku karena sebuah pekerjaan. Saat itu aku tidak hanya berpisah dengannya, tetapi juga dengan ibuku karena sebuah masalah. Jadi, aku hanya tinggal bersama ayahku sampai sekarang."
"Ck! Dasar cengeng! Bahkan aku tidak tinggal bersama kedua orang tuaku sejak dilahirkan. Mengapa cengeng sekali!" gumam Fania sembari memenuhi mulutnya dengan makanan.
"Semenjak itu, aku selalu kesepian. Aku harus berpisah dengan ibuku, sekaligus dengan lelaki yang kucintai." Nessa terdiam sejenak, membiarkan air matanya turun. "Hubunganku dengan lelaki itu menjadi tidak stabil ketika kami SMA. Maklum, kami long distance relationship, dan hanya berkomunikasi lewat surat atau telepon. Aku sering mengiriminya surat berisi kerinduanku padanya. Dia suka membalasku dengan puisi-puisi indah. Aku sangat menyukai puisi darinya. Sampai saat ini, aku masih menyimpannya."
__ADS_1
Semua mata memandang haru atas cerita Nessa. Hingga mereka rela berhenti menyantap makanan yang terhidang di atas meja.
"Sejak SMA dia berubah. Dia menjadi cuek. Dia jarang membuatkanku puisi lagi. Jarang meneleponku lagi, dan jarang mengangkat telepon dariku. Dia tak memperhatikanku lagi. Pada akhirnya, aku meminta pada ayah, agar disekolahkan di tempat yang sama dengannya."
Air mata terus membasahi wajah ayu Nessa. Sesekali ia mengatur napas. Dan melanjutkan ceritanya, "Alhasil, kami bersekolah di universitas yang sama di California. Dan sama-sama memperoleh gelar dokter. Sekarang, hubungan kami menjadi lebih baik. Dia selalu mengkhawatirkanku lagi. Dia selalu memberikan semangat hidup untukku. Dan orangnya ada di sini."
Nessa mengalihkan pandangannya kepada Dimas. Senyum mengembang di wajah cantiknya. "Aku ingin kau kemari!"
Semua orang termasuk aku pun mengalihkan pandangan ke arah Dimas. Dimas mengangkat wajahnya dan menatap Nessa.
"Kemarilah, lelaki yang sangat kucintai," ucap Nessa dengan tatapan penuh harap.
Suasana hening sesaat, Nessa masih menatap Dimas. Sorot matanya seakan meminta agar Dimas menghampirinya. Namun, Dimas masih bergeming. Tiba-tiba, Dimas menoleh ke arahku, untuk beberapa detik mata kami saling bertemu. Kemudian ia kembali memandang ke depan, pada Nessa yang menunggunya.
Dimas mengambil napas sejenak, lalu berdiri dan menghampiri Nessa. Seakan ada yang menghimpit dan menjerit, dadaku terasa sakit sekali.
Sesampainya di samping Nessa, Dimas langsung menggenggam erat jemari Nessa. Kulihat kedua tangan itu menyatu. Nessa menyambutnya dengan tatapan haru bahagia. Begitupun Dimas, yang turut menatap Nessa dengan senyuman tipis di wajah tampannya.
Nessa kembali mendekatkan mic itu ke bibirnya, memandang ke seluruh pengunjung restoran. "Cinta sejati. Apa arti cinta sejati menurut kalian?"
Ia mengukir senyum di wajah cantiknya, menatap Dimas, lalu kembali berkata, "Bagiku, cinta sejati adalah cinta yang tidak akan pernah mati. Meski sang pemilik hati itu mati. Cinta sejati akan selalu menemani, meski sang pemilik hati telah tiada. Cinta sejati itu selalu hangat meski ditinggal sendiri. Dan cinta sejati akan tetap terkenang indah, selamanya, sampai kapanpun."
Mengapa menyaksikan kebahagiaan seseorang terasa begitu menyiksa? Apakah ini sebuah kebodohan atau sebuah kebohongan. Berpura-pura tegar saat terluka adalah hal yang sama sekali tidak mudah. Terlebih berpura-pura ikhlas padahal hati sama sekali tidak rela. Ini menyakitkan sekali.
Nessa merapatkan tubuhnya ke samping Dimas. Ia kembali menatap Dimas dengan mata berembun, tapi wajahnya tetap mengukir senyum. "Kami akan segera menikah!"
Sontak terdengar riuh suara tepuk tangan yang menggema. Seakan meluluh lantakkan kembali hatiku yang terluka. Hatiku serasa meledak, panas sekali. Kugigit bibir bawahku, untuk menekan rasa sesak yang melanda jiwaku. Dan kutengadahkan wajahku ke atas, menahan bulir-bulir bening yang memaksa untuk tumpah.
"I love you," ucap Nessa.
Kulirik sesaat ke arah Dimas. Nessa mendekatkan mic itu ke bibir Dimas.
"I love you," ucap Nessa lagi.
"I love you, too," jawab Dimas.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1