
"Fania! Keluar!!"
"Fania? Dia menakutkan sekali!"
"Imania, kau tetap di dalam mobil, ya?"
"Tapi–"
Fania pun keluar dari mobil tersebut. Dan ia menutup pintu mobilnya kembali.
"Kau dari mana saja? Mengapa tidak pulang menemuiku!"
"Za! Aku capek! Aku sudah capek dengan sikapmu. Aku ... aku ingin putus!" ucap Fania pada pacarnya itu.
"Kenapa? Kenapa harus putus? Aku tidak mau kita putus!"
"Za! Kumohon ... biarkan aku hidup dengan jalanku sendiri!"
"Tidak bisa! Kau harus ikut aku pulang!" Laki-laki itu meraih tangan Fania dan memaksanya untuk ikut.
"Za! Lepaskan!" Fania mengempaskan tangan pacarnya itu.
"Kenapa kau berubah, sih? Kau tidak seperti Kucing Liarku lagi! Apa yang membuatmu seperti ini? Apa hanya karena aku tak memberimu uang, lantas kau meninggalkanku?"
"Bukan! Aku sudah tidak menginginkan uangmu! Aku hanya ingin menikmati hidupku dengan cara yang benar! Aku mau kita putus!!"
"Oh ... jadi kau sudah berani melawanku!"
Plak! Ya, Tuhan ... laki-laki itu menampar pipi Fania. Aku tidak tahan melihatnya diperlakukan seperti itu. Aku ingin keluar, tapi ... aku takut.
"Reza! Kau adalah pria yang kasar! Kau memperlakukanku tidak seperti manusia! Kau tidak menghargai wanita sama sekali! Kau tidak lebih hanyalah laki-laki pecundang!"
Plak! Satu lagi tamparan di wajah Fania. Aku sudah tidak tahan melihatnya. Aku pun keluar dari mobil tersebut, dan langsung menghampiri Fania.
"Fania!" Aku langsung meraih tubuh Fania.
"Aku tidak apa-apa. Kau tenang saja!" ucap Fania yang masih memegangi pipinya.
Aku langsung mengalihkan pandangan pada pacar Fania tersebut. "Kau! Apa kau tidak punya perasaan? Kau sudah menyakiti wanita. Apa kau tidak punya ibu? Jika kau memiliki ibu, seharusnya kau bisa menghargai seorang wanita. Kau sangat kasar! Aku tidak menyangka bahwa kekasih sahabatku ini adalah seorang yang temperamental dan bengis!"
"Oh, jadi ini penyebabnya. Ada seorang ustadzah cantik rupanya!" Reza mencoba menyentuhku, tapi Fania langsung menampik tangan Reza.
"Jangan sentuh dia! Atau kau akan mati di tanganku!" ancam Fania.
"Wow! Kalian terlihat manis sekali! Tapi ... aku sedikit tertarik untuk mencobanya. Hai, Manis? Siapa namamu?" tanya Reza seraya mendekat padaku.
Aku pun mundur beberapa langkah. Dan saat Reza akan menyentuhku, tiba-tiba Fania menarik lengan Reza, lalu menendang ************ Reza dengan keras. Reza pun kesakitan. Ia menatap Fania dengan sangat marah. Aku sangat takut. Dan saat Reza akan memukulnya, tiba-tiba seseorang menahan tangannya.
"Jangan beraninya sama perempuan! Dasar banci!"
"Rudi!" seruku.
"Kau tidak apa-apa, Imania?"
"Aku baik-baik saja," jawabku.
__ADS_1
Rudi pun melepaskan cengkraman tangannya pada Reza. Kini dua orang lelaki itu saling bertatapan tajam.
"Siapa kau? Jangan ikut campur!"
"Aku tidak bisa untuk tidak ikut campur melihat wanita dikasari seperti itu! Kau banci!" kata Rudi pada Reza.
"Memangnya kau siapa?" Reza menatap Rudi dengan garang. Matanya yang besar itu seakan mau melompat keluar.
"Rudi, sudah! Jangan ladeni dia! Dia hanya orang yang tidak waras!" ucap Fania seraya menarik lengan Rudi.
Tetapi Reza langsung menarik lengan Fania dengan kasar. Hingga Fania nyaris jatuh. "Hei! Dengar! Kau tidak bisa lari dariku! Cepat ikut bersamaku!"
"Lepaskan dia!" perintah Rudi pada Reza.
Reza menjambak rambut pirang Fania yang terikat. "Apa kau pacar baru si gembel ini?"
Rudi sepertinya tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Ya. Dia pacarku!"
Fania sangat terkejut mendengarnya. Begitupun aku. Dengan geram, Reza melepaskan Fania, lalu menatap Rudi sambil mengepalkan kedua tangannya. Aku gemetaran melihat wajah sangar Reza. Aku takut terjadi apa-apa dengan Rudi.
Benar saja. Perkelahian pun terjadi. Rudi dipukuli habis-habisan oleh Reza. Aku dan Fania semakin panik. Rudi pun jatuh tersungkur. Aku tidak tega melihatnya. Rudi bukan lawan yang sebanding dengan Reza.
"Cukup, Za!" Fania menahan Reza saat akan melayangkan pukulan kembali kepada Rudi.
"Kalau begitu, ikutlah denganku!"
"Oke! Aku akan ikut denganmu! Tapi lepaskan dia!"
"Fania!" Aku menahan lengannya. Dan Reza memelototiku dengan geram.
"Aku tidak apa-apa, Imania." Fania pun mengikuti Reza untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Fania! Jangan ikut dia!" seru Rudi yang masih terkapar.
Tapi Fania tak bergeming. Ia masuk ke dalam mobil merah tersebut. Sungguh ... aku tidak tahu Fania memiliki kekasih sekasar itu. Kasihan sekali dia. Apakah Fania sering dipukulinya seperti itu? Sungguh, aku tidak bisa membayangkan, betapa menderitanya Fania.
Aku pun membantu Rudi untuk berdiri. Rudi mendapatkan banyak memar di wajahnya. Belum lagi, kakinya pasti sakit, karena Reza menginjaknya tadi.
"Aku tidak apa-apa, Imania ...."
"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau babak belur."
"Asal kau tidak terluka," kata Rudi seraya menatapku.
Aku segera mengalihkan pandangan dari Rudi. "Lukamu harus diobati. Ayo kita ke rumah sakit."
"Tidak perlu. Ini cukup dibersihkan dan dikompres," tolak Rudi.
Akhirnya, aku pun pulang diantar oleh Rudi. Di sepanjang perjalanan, yang ada dalam pikiranku hanyalah Fania. Bagaimana nasib wanita malang itu? Aku sangat mengkhawatirkannya.
"Imania. Apa tadi itu pacarnya Fania?" tanya Rudi sembari menyetir mobilnya.
"Iya. Namanya Reza. Fania baru memutuskannya tadi. Tapi Reza tidak mau diputuskan!"
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa dia memacari laki-laki seperti itu?"
__ADS_1
"Rud, terima kasih ... sudah membantu," ucapku padanya.
"Aku sangat menyesal, karena tidak bisa menyelamatkan Fania dari lelaki bengis itu," sesal Rudi.
"Rudi, ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu ada kami tadi?"
"Kebetulan aku lewat. Kulihat ada mobil Fania. Terus aku penasaran. Eh, ternyata ada kau juga."
"Aku khawatir, Reza akan menyakiti Fania terus menerus," ucapku sedih.
"Kita berdoa saja, semoga Fania dilindungi dari laki-laki kejam itu!"
Rudi pun mengantarku sampai di rumah orang tuaku. Sesaat sebelum aku turun, tiba-tiba Rudi menanyakan padaku, perihal pekerjaan yang ia tawarkan.
"Imania, apa kau jadi bekerja?"
"Em ... Rudi, aku belum memikirkannya lagi," jawabku.
"Oh, baiklah. Tapi kau lupa untuk menghubungi nomorku. Apa nomorku belum kau simpan di handphone?"
"Oh, aku belum sempat menyimpannya," jawabku berbohong. Aku memang sengaja tidak menyimpan nomornya. Jika Dimas tahu, dia akan sangat marah.
"Boleh kupinjam handphone-mu sebentar?"
"Handphone-ku mati, Rud. Baterainya habis." Lagi-lagi aku berbohong.
"Oh, baiklah."
"Ya, sudah. Terima kasih, ya? Sudah mengantarku pulang."
"Sama-sama ...," balasnya seraya tersenyum.
Aku pun membuka pintu mobil tersebut. Kemudian turun, dan menutupnya kembali.
"Dah, Imania?" Rudi melambaikan tangannya padaku.
Tiba-tiba handphone di dalam tasku berdering. Sontak mimik mukaku berubah. Aku malu sekali karena telah ketahuan berbohong oleh Rudi. Rudi pun mengulum senyum padaku.
"Handphone-mu nyala kembali, Imania?"
"Ah, ya? Sepertinya begitu ...."
Wajahku sedikit memanas karena menahan malu. Aku pun segera beranjak masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Rudi yang masih terpaku menatap kepergianku.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Hai, Readers Tersayang ...!
Sesuai janji, Author Keceh balik lagi.
Untuk malam ini, sekian dulu, ya? Besok pagi, Author Keceh bakalan balik lagi.
Sampai jumpa besok? Thank You ...!
__ADS_1