
Aku mengikuti pak Wibowo masuk ke ruangannya. Pak Wibowo pun duduk di kursi kerjanya.
"Silakan duduk," ucapnya mempersilakanku yang masih berdiri.
Aku duduk di hadapan pak Wibowo. Lelaki dengan wajah dingin itu menatapku.
"Ada apa Anda mengajakku kemari, Pak?"
"Ada tugas penting untukmu Kamis depan."
Tugas penting? Kamis depan?
"Kau akan pergi bersamaku ke Bali."
"Bali?" Aku terkejut mendengarnya.
"Kita akan mengadakan kerjasama baru."
Kenapa aku? Kenapa bukan sekertaris Ve saja? Bukankah dia lebih pantas menemani pak Wibowo ke Bali? Sekertaris Ve juga tentu lebih paham tentang tugas semacam ini.
"Kenapa? Apa kau keberatan?" tanya pak Wibowo dengan tatapan dingin nan tajamnya itu.
"Kira-kira berapa lama kita di Bali, Pak?"
"Tiga hari."
Aku kembali termenung, mengingat Arka yang tidak mungkin kutinggalkan. Dia pasti akan sangat sedih dan merindukanku. Apa lebih baik aku menolaknya? Tapi bagaimana cara untuk menolaknya?
"Kenapa? Apa kau tidak siap menjalankan tugasmu sebagai seorang manager?"
"Bu-bukan begitu, Pak. Masalahnya ... aku punya anak. Apa aku harus meninggalkannya?"
"Bukankah ada—"
Pak Wibowo tiba-tiba menghentikan perkataannya.
"Kemarin aku melihat seorang gadis di rumahmu. Apa dia tinggal bersamamu?" tanya pak Wibowo.
"Ah, itu Fania. Dia sahabatku. Iya, dia tinggal serumah denganku," jawabku.
Pak Wibowo mengerutkan dahinya, menatapku lebih serius. "Dia tinggal bersamamu?"
Aku mengangguk. "Ada apa, Pak?"
"Kenapa dia tinggal di rumahmu?"
Pertanyaan pak Wibowo membuatku merasa heran. Untuk apa dia menanyakan temanku. Apa itu penting?
"Dia ... tidak punya tempat tinggal, selain di rumahku."
Pak Wibowo lebih mendekatkan wajahnya padaku, menatapku semakin serius. "Dia ... siapa?"
Aku bergeming sesaat. Mengapa pak Wibowo seperti sekertaris Ve yang begitu penasaran setelah melihat Fania? Itu aneh.
"Dia ... dia sudah tidak punya orang tua," jawabku.
"Dia yatim piatu?" tanya pak Wibowo sembari mengangkat alisnya. Baru kali ini ia menatapku sedikit perhatian.
__ADS_1
"Bukan. Bukan yatim piatu, tapi piatu. Ibunya meninggal usai melahirkannya. Sedangkan ayahnya, entahlah. Aku dan Fania juga tidak tahu menahu tentang ayahnya," jelasku.
"Ayahnya ... kemana?" tanya pak Wibowo dengan wajah semakin penasaran.
"Kabarnya, ayahnya adalah seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Ia menghamili ibu Fania, lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Kabarnya, lelaki itu kaya."
Kedua mata pak Wibowo melebar. Ia menunjukkan ekspresi yang membingungkan bagiku.
"Ada apa, Pak?"
"Oh, tidak apa-apa." Pak Wibowo menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menghela napas panjang. Untuk sejenak ia terdiam sembari mengelus dagunya sendiri.
Aku tidak dapat menahan rasa penasaranku. Jadi, aku bertanya, "Maaf, Pak, sebenarnya ada apa? Mengapa Anda dan sekertaris Ve tampak begitu penasaran dengan Fania?"
Pak Wibowo tampak terkejut mendengar pertanyaanku. "Sekertaris Ve ... juga pernah menanyakan, siapa tadi namanya?"
"Fania, Pak."
"Ah, iya. Sekertaris Ve juga pernah bertanya tentang Fania?"
Aku mengangguk.
"Apa kata sekertaris Ve?"
"Kak Ve bilang, bahwa dia adalah teman dari almarhumah ibunya Fania."
Pak Wibowo menunjukkan ekspresi sangat terkejut setelah mendengar penuturanku. Dan itu membuatku semakin merasa bingung.
"Ada apa, Pak? Apa Anda baik-baik saja?" tanyaku memperhatikan pak Wibowo yang tiba-tiba memegangi kepalanya dengan wajah sendu.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit sakit kepala."
Aku mengeluarkan satu bungkus tablet sakit kepala yang pernah diberikan Dimas untukku waktu itu. Saat Dimas berkunjung ke rumahku dan ada Rudi yang tengah berbincang dengan kedua orang tuaku. (Readers Keceh masih ingat, kan?)
Keberikan obat itu kepada pak Wibowo. "Minumlah ini, Pak. Ini untuk sakit kepala," ucapku sembari menyodorkanya.
Pak Wibowo hanya bergeming menatapku. Lalu, aku pun meletakkan obat tersebut di atas meja pak Wibowo. Ia hanya melirik sesaat ke arah tablet tersebut, kemudian menatapku dingin lagi.
"Ada apa? Apa Anda khawatir tidak sesuai dosis?"
"Tulisan di bungkusnya lebay sekali," ucap pak Wibowo sembari mengangkat satu sudut bibirnya dan memasang mimik muka masam.
Tulisan? Aku pun mengambil kembali sebungkus obat yang kuletakkan tadi. Kemudian membaca tulisan yang tertera di situ. Tertulis di bungkus obat tersebut, 'From Dokter Tamvan to Imania Sayang'.
Kedua mataku langsung terbelalak melihatnya. Bagaimana bisa aku tidak sadar ada tulisan seperti itu di bungkus obatnya? Selama ini, aku hanya membuka bungkus obat tersebut, tanpa membacanya. Kukira itu hanya bungkus obat biasa, tanpa tulisan seperti itu.
Aku merasa sangat malu. Sepertinya ... wajahku saat ini seperti kepiting rebus. Dia pasti tahu bahwa obat itu adalah pemberian Dimas, putranya.
Segera kulepaskan bungkus tersebut, kumasukkan ke dalam tas, lalu meletakkan tablet obatnya di atas meja.
"Dengar-dengar kalian sudah putus?" tanya pak Wibowo tiba-tiba.
Dia tahu bahwa aku telah putus dengan putranya? Apa Dimas yang memberitahunya?
Pak Wibowo menghela napas kasar. "Baguslah, kalau kalian sudah putus. Lagi pula ... mereka juga akan segera menikah."
Aku berusaha untuk tidak menanggapi pernyataan pak Wibowo.
__ADS_1
"Jika sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, aku akan pergi," tukasku.
Pak Wibowo berkata dengan dingin. "Cinta tidak harus memiliki. Apalagi cinta yang salah."
Awalnya, aku tidak ingin menanggapi segala pernyataan pak Wibowo. Akan tetapi, aku tertarik untuk menangkis pernyataan itu. "Tidak ada cinta yang salah. Yang salah adalah ... bila saling mencintai, tapi tidak direstui."
Pak Wibowo mengangkat satu sudut bibirnya. "Cinta tanpa restu itu percuma. Pada akhirnya akan sia-sia."
"Tidak. Tidak ada cinta yang sia-sia. Yang sia-sia hanyalah ... bila saling mencintai tapi tidak diperjuangkan."
"Untuk apa berjuang, bila pada kenyataannya, dia bukan jodohmu," ujar pak Wibowo.
Aku menatap pak Wibowo sembari tersenyum masam. "Saat kita percaya, bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, maka kita akan lebih banyak berpasrah dan mengikhlaskan. Namun, saat kita percaya ... bahwa jodoh ada di tangan kita sendiri, maka kita akan lebih banyak memperjuangkan dan berusaha menjaganya dengan sebaik mungkin."
Pak Wibowo bergeming menatapku. Sepertinya ia sudah kalah telak dengan pernyataanku.
"Hal yang paling bodoh dilakukan manusia adalah ... ketika mereka tahu, bahwa mereka saling mencintai dan saling menginginkan. Namun, ia tidak mampu berjuang. Tak dapat berbuat apa-apa. Bukankah itu bodoh? Sehingga yang tersisa hanyalah sebuah kisah. Antara penyesalan dan kepedihan," lanjutku dengan sedikit emosional.
Pak Wibowo menatapku remeh.
"Apa kau tidak tahu rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga. Atau setidaknya ... orang yang sangat kau cintai? Jika pernah, maka kau akan memahamiku." Tak terasa embun mata mulai memenuhi pelupuk mataku.
"Aku memang mencintai putramu. Namun, aku bukan wanita yang egois. Kubiarkan dia bahagia dengan rencananya, bahkan rencana kedua orang tuanya."
Sebelum air mataku tumpah. Aku berdiri dan permisi. Aku pun melangkah menuju pintu.
"Terima kasih."
Tiba-tiba pak Wibowo berseru.
Aku berhenti dan mengusap wajahku yang mulai basah. Berdiri membelakanginya.
"Terima kasih ... obatnya."
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh Tersayang?
Untuk tanggal 28–30 April, Author Keceh Up-nya pagi, ya?
Akan tetapi, mulai tanggal 1 Mei akan UP normal seperti biasa. Yaitu Pagi jam 6 dan Malam jam 7.
Author Keceh akan berusaha rajin UP setiap hari.
Oh, ya? Ada yang mau bantu Author naikkan RATING? Rate Author Keceh kecil sekali.
Jika berkenan, mohon dukung Author Keceh dengan cara, KASIH RATE BINTANG LIMA untuk novel ini, ya?
Itu sudah sangat membantu Author Keceh untuk tetap semangat berkarya.
Sebelum, novel ini naik ke beranda, Bintangnya masih sangat bagus. Setelah novel ini Naik ke beranda, ada saja tangan lain yang dengan tega dan usilnya menurunkan RATING.
Namun, Author Keceh masih punya kalian semua Readers Keceh yang paling Author harapkan dukungannya. Dengan bantuan Rating Bintang Lima dari kalian, maka novel ini akan dapat tetap EKSIS dan NONGOL DI BERANDA. Sehingga, tidak hanya kalian yang baca, tapi dapat dibaca oleh semua penggemar ROMANCE.
Silakan beri Author Keceh KECUPAN BINTANG LIMA, YA? Agar Author Keceh dapat bertahan di beranda. Karena itu gratis dan sangat memotivasi diri Author untuk berkarya.
__ADS_1
Terima kasih untuk beberapa yang sudah menyokong BINTANG LIMA untuk Author Keceh. Semoga kalian senantiasa sehat. Salam sayang Author untuk kalian semua.
THANK YOU!