BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Makna Tersembunyi


__ADS_3

Pukul empat, aku berpamitan kepada ibu Widya—ibunya Rudi. Aku harus pulang, dan aku berjanji bahwa besok aku akan datang lagi. Tadinya, aku menolak diantarkan pulang oleh Rudi. Kupikir, lebih baik Rudi tetap menemani Bu Widya. Akan tetapi, bu Widya meminta agar Rudi mengantarkanku pulang. Jadi ... aku pulang diantarkan oleh Rudi.


Di dalam mobil, Rudi menanyakan padaku perihal pendapatku tentang ibunya.


"Imania."


"Ya, Rud."


"Bagaimana menurutmu, tentang ibuku."


"Dia sangat baik padaku. Dia juga menerimaku dengan baik. Kau beruntung memilikinya," tuturku sembari tersenyum.


""Dia tidak membicarakan aku, kan?"


"Dia mengatakan padaku, bahwa dia sangat bangga memiliki putra sepertimu."


"Ah, ibu pasti bicara berlebihan."


"Kau memang memiliki banyak kelebihan, Rud. Wajar bila ibumu sangat bangga padamu."


Rudi menolehku sesaat, lalu kembali menatap lurus ke depan, dan berkata, "Akulah yang bangga memiliki ibuku."


Aku merasa terkesan dengan diri seorang Rudi. Dia adalah lelaki yang sangat berbakti terhadap orang tua.


"Nak Imania, jangan sampai menyakiti hati putraku. Dia selalu tulus ketika menyayangi seseorang. Jangan sampai perasaannya terluka. Dia sudah pernah terluka karena seorang wanita. Aku tidak tega jika Rudi menerima kisah cinta seperti dulu lagi."


Oh, aku menjadi semakin tidak tega bila harus mengatakan yang sejujurnya, bahwa aku ... aku tidak mencintainya. Aku tidak tega melukai perasaannya. Apa lebih baik aku diam saja dan menyimpan kejujuran ini? Atau lebih baik aku belajar untuk mencintai Rudi. Namun, apakah itu mungkin?


Akhirnya, aku pun sampai. Rudi langsung berpamit untuk kembali ke rumah sakit menjaga ibunya. Sedangkan aku masuk ke dalam rumah.


***


Dua hari kemudian, sepulang dari kantor, aku langsung menuju rumah sakit. Kabarnya, hari ini Bu Widya diperbolehkan untuk pulang. Aku langsung memesan taksi online yang akan mengantarkanku ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung melangkah menuju ruang rawat Bu Widya. Akan tetapi, tiba-tiba ada yang memanggilku.


"Imania."


Aku berhenti dan menoleh sumber suara. Ternyata Nessa. Ada apa dia menghampiriku?


"Ternyata benar, itu kau. Sedang apa kau di sini?" tanya Nessa.


"Aku ... akan menjenguk seseorang."


"Apa ibunya Rudi?"


"Bagaimana kau tahu?"


"Rudi adalah sahabatku. Apa kau lupa?"


Aku bergeming. Benar, Nessa adalah sahabat Rudi. Tentu dia tahu yang tengah menimpa Rudi. Termasuk, bu Widya yang tengah sakit.


"Imania, aku ingin bicara sebentar denganmu," katanya.


Aku masih terpaku menatap wanita cantik ber-jas dokter yang berdiri di hadapanku.


"Kau tidak buru-buru, kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Kau ingin bicara apa? Bisa katakan sekarang saja?"


"Ikut aku!"


Nessa melangkah menuju tangga dan aku mengekornya. Dia terus naik menuju lantai tiga, namun kali ini kami lewat lift. Nessa menekan tombol lantai no. 6. Itu berarti adalah lantai teratas dari rumah sakit ini.


Sesampainya di lantai paling atas. Nessa mengajakku menuju atap rumah sakit. Di sini udaranya sejuk. Suasananya sepi dan sangat luas, karena memang lantai atas masih baru dan belum digunakan untuk perawatan.


Nessa berdiri di tepi balkon. "Kemarilah."


Aku pun melangkah menghampirinya dan berdiri di sampingnya.


Nessa menghela napas panjang dan mengembuskannya. "Ah, di sini segar," katanya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku langsung.


Nessa menoleh dan menatapku serius. "Aku senang karena kau paham bahwa Dimas adalah jodohku."


"Jodoh hanya Tuhan yang tahu," jawabku.


"Apa kau masih mengharapkan Dimas?"


"Tidak. Aku tidak semurahan itu mengharapkan laki-laki yang tidak memiliki pendirian tetap."


Nessa tersenyum sinis menatapku. "Justru dia sudah memiliki pendirian tetap, dengan kembali padaku."


Aku menghela napas. "Terserah apa katamu, Ness. Aku sudah tidak peduli lagi terhadapnya."


"Syukurlah. Akhirnya kau mengerti."


"Imania, meskipun aku membencimu. Namun, aku berterima kasih padamu. Karena kau telah memutuskan hubungan dengan Dimas dan menerima cinta Rudi. Aku akan bahagia dengan Dimas dan kau berbahagialah dengan Rudi. Kalian sangat serasi," tutur Nessa sembari tersenyum.


"Apa kau hanya ingin mengatakan ini padaku?"


"Kau sudah tahu kisah masa laluku bersama Dimas, kan? Sebelum kehadiranmu, hubungan kami baik-baik saja."


"Apa kau merasa terancam dengan keberadaanku?" tanyaku sembari menatap ke arahnya.


Nessa menatap langit yang mulai meredup. Bagaskara yang mulai tampak menenggelamkan dirinya.


"Benar. Aku merasa terancam dengan keberadaanmu," katanya lirih.


Aku tersenyum sinis mendengarnya. "Itu berarti bahwa kau tidak mempercayai dirimu sendiri, Ness."


Kedua netra Nessa tampak sendu. Cahayanya meredup seiring tenggelamnya bisa.


"Pada akhirnya, yang menang adalah yang masih bertahan. Dan yang kalah adalah yang harus pergi," ucap Nessa dengan mata sendu.


Nessa mengalihkan pandangannya padaku. Menatap kedua mataku dalam-dalam? "Biarkan aku menikah dengan Dimas. Biarkan dia memenuhi janjinya padaku. Biarkan kami memiliki waktu berdua saja. Jangan pernah berubah pikiran untuk kembali pada Dimas. Kumohon ...."


"Imania, pergilah menjauh dari Dimas. Agar Dimas tetap pada pendiriannya untuk menikahiku. Aku tidak ingin semua berakhir dengan sangat memilukan. Aku ingin berada bersamanya—" Nessa menghentikan perkataannya. Ia tiba-tiba terisak. Bulir-bulir bening itu meluruh jua ke wajahnya.


"Imania, bagaimanapun kau memiliki kehidupan yang lebih beruntung dariku. Kita sama-sama cantik. Kita mencintai laki-laki yang sama. Kita sama-sama disayangi olehnya. Bedanya, kau memiliki kesempatan yang luas, sedangkan aku tidak," lanjutnya.


Aku hanya bergeming menatapnya. Entah mengapa, meski aku merasa kesal terhadapnya, tapi sejujurnya ... aku merasa iba setiap kali melihat mata sendunya.


"Imania, biarkan aku bahagia."

__ADS_1


"Apa aku menghalangi kebahagiaanmu?"


Nessa tampak memegangi dadanya. Sembari terisak, wajahnya tampak meringis seperti tengah menahan perih.


"Ness, kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir.


Ia sunggingan senyum padaku. "Jangan mengasihaniku. Itu membuatku semakin muak. Aku baik-baik saja, selama ada Dimas bersamaku."


Entah mengapa, meski Nessa mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi kedua mata itu seolah mengatakan bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.


"Imania, biarkan aku menikah dengan Dimas. Aku ingin bersamanya. Aku ingin dia menjagaku, sampai akhirnya aku merasa lelah sendiri karena telah menahan hatinya."


Setelah selesai bicara, Nessa pun pergi, meninggalkanku sendiri yang masih berdiri di atap gedung rumah sakit.


"Pada akhirnya, yang menang adalah yang masih bertahan. Dan yang kalah adalah yang harus pergi."


"Imania, biarkan aku menikah dengan Dimas. Aku ingin bersamanya. Aku ingin dia menjagaku, sampai akhirnya aku merasa lelah sendiri karena telah menahan hatinya."


Apa maksud perkataan Nessa? Apa makna di balik perkataan Nessa? Saat sedang memikirkan kalimat itu, tiba-tiba handphone-ku berdering.


"Halo."


"Halo, Imania, apa kau masih di kantor?"


"Aku sudah di rumah sakit, Rud."


"Ibu akan pulang. Kami sedang berkemas."


"Baiklah. Aku akan menuju ke situ."


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Hai, Readers Keceh Tersayang?


Masih setia menunggu novel ini UP ya?


Makasih, loh?


Oh, ya, mana, nih, yang mau ngasih kecupan RATE BINTANG LIMA buat novel kesayangan ini?


Kalian pasti bertanya-tanya, ya? Kok Author Keceh cerewet banget minta kecupan BINTANG LIMA?


He-he, iya. Mau tahu kenapa? Karena RATING itu penting buat Author Keceh dan Novel ini, loh?


Kadangkala ada tangan yang jahil menurunkan RATING Novel Author lain. Lalu novel tersebut jadi memiliki Rating Bintang yang buruk. Dan sulit berkembang lagi di Noveltoon, deh. Jahat banget, ya? Mereka tidak berani bersaing secara sehat. Itu hanya Author yang tidak PD dengan hasil karyanya sendiri, sih? Sehingga menggunakan cara-cara buruk untuk menjatuhkan Author lain. Menyedihkan.


Author Keceh, tuh, enggak mau hal itu terjadi. Jadi, dengan RATING BINTANG LIMA yang kalian kasih, itu akan membantu untuk menahan novel ini menjadi tumbuh dan berkembang, disukai dan dibaca banyak kalangan Readers Keceh.


So, mohon untuk meninggalkan RATING BINTANG LIMA, ya? Jika ada yang masih bingung dan tidak tahu caranya, mari masuk grup bareng teman-teman Keceh lainnya.


Ok, tetap LIKE, COMENT, VOTE!


Salam manis dari Author paling manieees!


Thank you ...!

__ADS_1


__ADS_2