
Beberapa karyawan mulai datang memenuhi meja kerja staf back office. Mereka pun mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Pagi, Imania," sapa mas Bastian yang baru saja datang.
"Pagi, Mas," balasku.
"Aku masih tidak menyangka, bahwa kita bisa bekerja satu kantor," katanya.
"Aku juga ... tidak menyangka," balasku kemudian melanjutkan pekerjaan.
"Apa kau masih sering bertemu Dimas?"
Pertanyaan mas Bastian sontak mengejutkanku. "Iya, masih."
"Dimas itu tunangannya Nessa, kan? Aku harap kau tidak terlalu dekat dengannya. Aku khawatir kau akan tersakiti," kata mas Bastian padaku.
Aku tersenyum padanya. "Saranmu akan kupertimbangkan."
Aku pun kembali menatap layar komputer. Mengapa mas Bastian jadi suka ikut campur?
"Pagi, semua?" sapa Didin yang baru saja masuk ke kantor.
"Pagi ...." Beberapa orang serentak menjawab.
"Pagi ...," jawabku.
Didin adalah salah satu staf karyawan di back office ini. Didin adalah salah satu staf karyawan paling berisik di sini. Saat semuanya sibuk bekerja, dia malah sibuk ngobrol atau menggosip. Aku tidak tahu persis dia berasal dari daerah mana. Didin memiliki kulit yang berbeda dari kami. Dia berkulit hitam legam, dan berambut ikal. Jika ditanya soal asal, dia bilang anak ibu dan kawan-kawan, jadi tidak jelas ayahnya yang mana. Entah dia serius atau hanya bercanda. Tapi itulah jawabannya.
Didin pun duduk di belakangku, karena meja kerjanya memang berada persis di belakangku. Jadi, bisa bayangkan betapa berisiknya Didin itu.
Di tambah Wawan, nama lengkapnya Gunawan. Dia bertubuh besar, tetapi bukan Ivan Gunawan. Namanya cukup Gunawan saja. Tidak ada Ivannya. Saat berjalan, dia berlenggak-lenggok seperti perawan. Tapi dia laki-laki. Sosok Gunawan ini bahkan lebih berisik saat sedang menggosip. Dan juga jahil, tapi tidak suka ngupil. Dia suka kerapian, suka juga hidup higienis. Pokoknya, Gunawan itu paling enggak suka berantakan, deh!
"Wan! Boleh pinjem berkas yang kemarin?" tanya Didin pada Gunawan.
"Sudah diambil Miss Ve!"
"Yah, terus gimana?"
"Ya, ambil sendiri, donk?" ucap Gunawan alias Wawan.
Didin pun akhirnya beranjak menuju ruangan sekertaris Ve. Aku kembali teringat, bahwa Rangga dan sekertaris Ve ada di dalam.
"Din!" seru Wawan seraya menaruh telunjuknya di bibirnya. "Sst?"
__ADS_1
"Ada apa?" ucap Didin lirih.
Wawan pun beranjak dengan gaya berjalannya yang berlenggak-lenggok. Ia menghampiri Didin. Wawan pun memberikan isyarat kepada Didin agar jangan berisik. Kemudian mereka berdua menempelkan telinganya pada daun pintu tersebut.
Wawan melebarkan matanya, seraya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Didin pun ikut melakukan gerakan yang sama dengan Wawan. Sebenarnya apa yang mereka dengarkan?
Saat mereka sedang asyik menguping, tiba-tiba Pak Wibowo datang memergoki mereka berdua.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya pak Wibowo dengan tatapan mata yang tajam. Mata yang sama seperti yang dimiliki oleh putranya.
Wawan dan Didin pun segera meminta maaf, kemudian duduk kembali di meja kerjanya.
Sedangkan pak Wibowo tampak memperhatikan sejenak pintu ruangan sekertaris Ve. Pak Wibowo pun turut meletakkan telinganya ke daun pintu tersebut. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan berlalu menuju ruangannya sendiri.
Aku melihat pemandangan mengejutkan lagi. Mengapa pak Wibowo tidak marah, jika sekertaris Ve melakukan hal yang tidak senonoh di kantornya.
Mas Bastian sepertinya memperhatikanku yang terus memandang bingung kejadian ini.
"Imania," panggilnya.
Aku pun menoleh padanya.
"Sekertaris Ve itu sudah seperti anak buah kesayangan pak Wibowo. Jadi, jangan heran, jika sekertaris Ve bisa bebas melakukan apapun di kantor ini," jelas mas Bastian.
Aku pun mengangguk mengerti.
Setelah sekitar satu jam, akhirnya sekertaris Ve keluar dari ruangannya. Disusul Rangga yang mengekor di belakangnya. Aku memandang ke arah mereka, memeriksa pakaian mereka dari atas sampai ke bawah. Apakah ada yang aneh? Tapi kurasa tidak. Mereka tetap berpenampilan segar seperti saat sebelum masuk. Oh, apa yang sedang kau pikirkan, Imania!
Rangga keluar menuju tempat tugas yang seharusnya, yaitu menjaga keamanan di kantor bagian depan. Sedangkan sekertaris Ve menghampiriku.
"Imania, mengapa kau memperhatikanku seperti itu?"
"Ah, tidak Kak. Tidak ada apa-apa!" jawabku seraya tertawa. Aku bingung harus memasang ekspresi seperti apa. Jelas-jelas aku sedang mencurigai perbuatan mereka berdua. Tapi ... itu bukan urusanku.
"Apa kau tidak pernah berduaan di dalam satu ruangan?" tanya sekertaris Ve seraya mendekatkan wajahnya padaku.
"Apa maksudmu, Kak?"
"Kau pasti sedang berpikiran yang tidak-tidak. Ya, kan?" kata sekertaris Ve seraya menyentuh daguku.
Aku menggeleng pelan. Karena memang tak mengerti maksud dari ucapan sekertaris Ve.
"Kebanyakan orang, hanya melihat dari sisi yang bisa dilihat. Jarang ada yang mau melihat dari sisi yang tidak bisa dilihat."
__ADS_1
Aku mencerna perkataan sekertaris Ve. Apa maksudnya?
"Imania, jangan suka menyimpulkan sesuatu dari mata telanjang saja. Kadangkala, kesimpulan perlu di dapat dari kacamata hati. Minus atau plus, itu tergantung dari takaran masing-masing. Jika persepsimu baik, maka akan muncul gambaran-gambaran positif. Begitu sebaliknya, bila persepsimu sudah buruk, maka yang akan muncul hanyalah gambaran-gambaran negatif. Ini adalah rumus penilaian berdasarkan kacamata hati." Sekertaris Ve mengatakan petuah-petuah yang cukup masuk di akal.
Sekarang aku mengerti, maksud dari perkataan sekertaris Ve.
"Ya, aku mengerti."
"Anak manis!" ucap sekertaris Ve seraya mencubit pipiku.
"Kakak? Tugasku yang ini sudah selesai. Apa ada pekerjaan yang lain lagi?" tanyaku seraya menunjuk ke layar komputer.
Sekertaris Ve tertawa mendengar pertanyaanku. Kemudian berbisik, "Imania, kau tidak usah terlalu rajin di sini. Kau juga tidak boleh bekerja begitu keras di sini!"
Aku terkejut mendengarnya. "Kenapa?"
Sekertaris Ve kembali berbisik, "Jika kau sampai kelelahan. Dimas bisa-bisa membunuhku!"
"Kakak? Aku di sini untuk bekerja. Bukan untuk makan gaji buta!"
Sekertaris Ve tersenyum mendengar pernyataanku. "Bahkan, tanpa kau bekerja pun, aku harus memberimu gaji. Dimas begitu menganggapmu spesial, Ima!"
"Tidak, Kakak. Aku ingin bekerja dari jerih payahku sendiri. Aku ingin hasil keringatku sendiri!"
"Imania, kau polos sekali!"
Sekertaris Ve beranjak menuju ruangannya. Aku pun menatap punggung wanita itu dengan kesal. Jadi, apa gunanya aku di sini. Ini sama saja bohong. Padahal aku sangat ingin mandiri. Dimas ... aku tahu kau sangat menyayangiku. Tapi jangan seperti ini? Aku merasa kau tidak cukup mengerti diriku.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
"Kebanyakan orang, hanya melihat dari sisi yang bisa dilihat. Jarang ada yang mau melihat dari sisi yang tidak bisa dilihat."
– Kak Thamie –
"jangan suka menyimpulkan sesuatu dari mata telanjang saja. Kadangkala, kesimpulan perlu di dapat dari kacamata hati. Minus atau plus, itu tergantung dari takaran masing-masing. Jika persepsimu baik, maka akan muncul gambaran-gambaran positif. Begitu sebaliknya, bila persepsimu sudah buruk, maka yang akan muncul hanyalah gambaran-gambaran negatif. Ini adalah rumus penilaian berdasarkan kacamata hati."
__ADS_1
– Kak Thamie–