
Hari Minggu tiba. Yang berarti aku libur bekerja. Beberapa hari yang lalu, Dimas bilang akan mengajak kami jalan-jalan. Tadi pagi-pagi sekali, dia juga menghubungiku. Katanya akan menjemputku pukul sembilan pagi. Namun, sudah kutunggu sampai pukul sepuluh, Dimas tak kunjung datang. Apa lebih baik aku tanyakan padanya, jadi jalan-jalan atau tidak? Ah, siapa tahu sebentar lagi dia datang.
Fania sedang asyik menonton televisi bersama Arka. Aku pun menghampiri mereka dan duduk bersama mereka.
"Imania, kapan kita berbelanja? Di rumah ini tidak ada camilan. Junk food juga tidak ada. Kadangkala kalau malam, aku lapar sekali dan ingin makan sesuatu. Tapi, aku tidak tega membangunkanmu. Kau pasti sangat lelah. Seandainya ada junk food, camilan, atau apa gitu." Fania langsung bicara nyerocos saat melihatku duduk.
"Kita akan belanja hari ini."
"Kau serius?" Terpancar mimik bahagia dari wajah Fania.
Aku pun mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang saja."
"Ya, sudah, sana, ganti pakaian. Jangan pakai pakaian seksimu lagi. Pakai baju lamaku untuk sementara. Nanti kita berbelanja pakaian juga," ucapku.
"Siap, Bos!"
Dengan semangat, Fania beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Sedangkan Arka yang sudah rapi, duduk bersamaku.
"Mama? Apa kita mau jalan-jalan sama papa?"
"Bukan, Sayang. Kita mau jalan-jalan sama Om Dimas."
"Mama? Kenapa Om Dimas selalu mendekati Mama?" tanya Arka dengan polosnya.
Aku tersenyum lembut padanya. "Itu karena ... Om Dimas adalah teman Mama."
"Memangnya kenapa, Sayang," tanyaku pada Arka.
"Arka pikir, Mama mau mencari papa baru untuk Arka."
Aku terkekeh mendengarnya. Arka masih sangat polos. Tentang perceraianku dan mas Bastian saja, sampai saat ini, aku masih berusaha membuatnya mengerti. Perlahan-lahan, dia tahu bahwa mau seberat apapun hubungan, pasti akan ada perpisahan. Dan aku sudah memberikan pengertian itu kepadanya dengan cara yang halus.
"Arka mau enggak, kalau mama mencari Papa baru untuk Arka," tanyaku penasaran dengan jawabannya.
Arka terdiam sejenak. "Bagaimana dengan papa Bastian?" tanya Arka yang memang sudah tahu nama papa kandungnya tersebut.
"Dia tetap menjadi papamu, selamanya," tuturku seraya mengusap rambutnya.
"Berarti, kalau Mama mencari papa baru, Arka akan punya dua papa?"
Lagi-lagi pertanyaannya membuatku tertawa. Arka baru tiga tahun lebih, wajar jika masih sepolos itu.
"Bagaimana menjelaskannya, ya?" Aku berpikir sejenak. "Arka Sayang ... papa Bastian akan menjadi papa Arka selamanya, tapi tidak bisa tinggal bersama kita. Dia tetaplah papamu, tapi bukan menjadi suami mama lagi. Tetapi sekarang, papa dan mama adalah teman. Dan kami akan selalu membahagiakan Arka. Arka mengerti?"
Arka mengangguk.
"Nah, kalau nanti mama mendapatkan papa baru untuk Arka, itu pun jika Arka setuju dan menyukainya. Jika tidak, mama tidak akan memaksa Arka," jelasku.
"Ya, Ma."
"Anak pintar." Kuelus rambutnya yang lebat, lalu kucium pipinya.
"Tara?? Aku sudah siap!" ucap Fania mengagetkanku.
Aku memandang Fania dari atas sampai bawah. Dia tampak sangat cantik dengan dress warna putih lembut milikku dulu. Rambutnya diikat dengan begitu manis. Fania tampak menawan.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku memang cantik, kan?" ucapnya seraya memutar tubuhnya ala-ala catwalk.
"Ya, kau memang sangat cantik."
"Ayo berangkat!"
"Tunggu sebentar. Duduklah!"
Ting! Sebuah pesan masuk.
[Nia, maaf ... sepertinya kita tidak jadi pergi Minggu ini. Mungkin Minggu depan, ya?]
__ADS_1
Aku menatap layar handphone tersebut dengan kecewa.
[Tidak masalah. Tapi kenapa?]
[Aku ada urusan penting, Nia. Maafkan aku, ya? Love you.]
[Love you too.]
Kuletakkan handphone di tas. Semua sudah siap. Aku merasa tidak tega untuk membatalkannya.
"Imania, kenapa?" tanya Fania.
"Fania, apa tidak masalah, jika kita memesan taksi online saja? Kita, kan, belum ada kendaraan."
"Tidak masalah, Imania. Yang penting kita jadi berbelanja, yuhu?"
"Baiklah."
Saat aku hendak mengambil handphone, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Aku pun segera menuju pintu. Aku masih berharap bahwa itu adalah Dimas. Aku jadi berpikir, bahwa Dimas sebenarnya sedang mengerjaiku. Membuat PRANK.
Saat kubuka pintu, ternyata dugaanku salah. Itu bukan Dimas.
"Hai, Imania," sapanya.
"Hai, Rudi."
"Apa kau ada waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan," kata Rudi.
"Benarkah?" Aku terkejut mendengar ajakan Rudi, sekaligus senang.
Rudi mengangguk seraya tersenyum.
"Baiklah, aku panggil Fania dan Arka dulu, ya?"
Aku segera berbalik dan beranjak. Namun, Rudi memanggilku.
"Imania!"
"Kau mengajak Fania?"
"Apa tidak boleh?"
"Ah, ya, silakan," ucap Rudi sembari tersenyum.
Aku pun menuju lantai atas dan memanggil mereka berdua. Kami bertiga pun turun dan menghampiri Rudi yang sedang duduk di kursi teras.
"Imania, dia sopir taksi online-nya?" ucap Fania terkejut.
"Ah, ya, em ... kita tidak jadi memesan taksi. Kita akan pergi bersama Rudi," jelasku.
"Haish, menyebalkan!" ucap Fania seraya memandang Rudi.
"Kalau begitu, tidak usah ikut!" ucap Rudi.
"Sudah, jangan bertengkar. Ini sudah cukup siang. Ayo berangkat!" ucapku.
"Mama?"
"Ya, Sayang."
"Tadi Mama bilang, mau pergi sama Om Dimas?" tanya Arka.
"Ah, ya, kita tidak jadi pergi sama Om Dimas, tapi sama Om Rudi."
"Imania, kau ada janji dengan Dimas?" tanya Fania terkejut. "Lalu kenapa pergi dengan Mr. Arogan?"
"Dimas ada urusan penting katanya," jawabku seraya tersenyum tipis.
"Semoga Dimas tidak berbohong, Imania," timpal Rudi.
__ADS_1
"Aku mempercayainya, Rud."
"Semoga kau tidak kecewa karenanya," timpal Rudi lagi.
"Hei, kau jangan kompor!" semprot Fania kepada Rudi.
"Diam kau, dasar wanita aneh! Pengganggu!"
"Haish! Kau selalu menyebalkan!"
Kami pun segera naik ke dalam mobil Rudi. Aku duduk di depan bersama Rudi. Sedangkan Fania duduk di belakang bersama Arka. Tujuan pertama kami adalah ke supermarket. Rudi pun mengantar kami ke supermarket terlebih dahulu.
Sesampainya di supermarket, aku dan Fania asyik berbelanja. Sedangkan Arka diajak Rudi untuk membeli mainan.
Aku langsung melirik ke arah Fania yang tengah asyik mencari junk food, soft drink, dan Snack untuk stok di rumah. Dia begitu asyik mendorong trolly, sedangkan kepalanya menengok ke kiri-kanan, mencari apa pun yang disukainya.
Aku tersenyum senang melihatnya. Fania begitu menderita semasa kecilnya. Ingin sekali aku membantu mencari ayah kandungnya. Entah mengapa, aku juga yakin, bahwa ayah kandung Fania masih hidup. Semoga, kalian segera dipertemukan.
Aku tersadar dari lamunanku. Kembali aku mendorong trolly ke tempat kebutuhan yang paling pokok, seperti beras, minyak, gula, sabun, dll. Aku berbelanja untuk stok sebulan. Jadi, wajar jika trolly-ku sangat penuh.
Selesai berbelanja, aku langsung menuju kasir. Sambil menunggu Fania yang masih sibuk memilih-milih makanan ringan. Dia, kan, memang suka makan, tapi badannya tetap saja ideal.
Setelah puas mengisi trolly tersebut dengan penuh dan sesak, Fania menghampiriku sembari mendorong trolly tersebut. Senyum mengembang terus menghiasi wajahnya.
"Imania, tidak apa-apa, kan? Aku berbelanja banyak sekali." tanyanya seraya melirikku.
"Tidak apa," jawabku.
Saat aku hendak membayar total belanjaan kepada kasir, tiba-tiba Rudi menghampiriku.
"Biar aku yang bayar," ucap Rudi.
"Maaf, Rud. Bukannya menolak, tapi ... aku ingin membayar belanjaanku sendiri. Lagi pula, jika terus menerus dibayarkan, uang jerih payahku bekerja jadi tidak terpakai," tolakku lembut.
"Baiklah, Bu Manager. Saya mengerti," canda Rudi.
Aku pun membayar total belanjaanku. Sedangkan kulihat, Arka begitu senang memeluk mainan barunya yang dibelikan Rudi.
Usai berbelanja, kami masuk kembali ke dalam mobil. Tujuan kami selanjutnya adalah mall. Kami akan berbelanja pakaian. Rudi pun mengantarkan kami dengan senang hati.
Sesampainya di mall, kami langsung turun dan masuk ke dalam mall yang biasa kami singgahi untuk berbelanja.
Fania langsung berhambur senang memilih-milih pakaian yang disukainya. Kali ini, Fania tidak lagi memilih pakaian-pakaian hot. Dia jadi menyukai pakaian yang bernuansa modern tapi tetap sopan.
Sedangkan aku menuju pakaian anak terlebih dahulu. Kupikir beberapa pakaian untuk Arka. Setelah itu, aku menuju tempat pakaian hijab modern. Aku sudah terbiasa memakai pakaian modis, sejak Dimas memintaku untuk mengubah style-ku. Dan ternyata, tidak buruk. Aku menyukainya. Pakaian modis tetapi tetap longgar dan tidak menampakkan lekuk tubuhku.
"Imania, Arka sepertinya bosan di sini. Boleh aku membawanya menuju Playground?" tanya Rudi.
"Oh, iya, boleh," jawabku seraya tersenyum.
"Oke, ayo kita bermain Arka!" ajak Rudi sembari meraih tubuh Arka, menggendongnya.
"Turunkan Arka, Om! Arka sudah besar. Malu, Om?" ucap Arka.
Rudi pun menurunkan Arka, lalu beranjak sembari menuntun Arka. Aku tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Rudi memang sangat baik.
Saat aku sedang asyik berbelanja. Tiba-tiba aku merasa melihat seseorang yang kukenali. Aku pun mengarahkan pandangan ke dua orang yang tengah berjalan tidak jauh dariku. Seorang pria yang kukenal, apakah aku tidak salah lihat? Sedangkan seorang wanita tampak merangkul lengannya.
Saat aku sedang memperhatikan mereka dengan jelas. Ternyata benar. Pria itu pun menoleh ke arahku. Dia terbelalak kaget melihatku yang tengah menatapnya dengan kecewa.
"Nia!"
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh?
Give away VOTING masih berjalan ya?
__ADS_1
Tunggu sampai pengumuman!
Thank you ...!