
Hola, Readers terKeceh!
WARNING!!
Di episode kali ini, Author Keceh mau mengingatkan. Siapkan tissue sebelum membaca, ya? Buat jaga-jaga, he-he.
Selamat Membaca!
***
Pak Wibowo menoleh padaku. Ia menatapku sangat terkejut. "Apa kau bilang?"
"Ya, kisah yang Anda ceritakan itu sama dengan kisah sahabatku."
Pak Wibowo masih menatapku terpaku.
"Pak, sebenarnya ... foto di balik bingkai di ruanganmu itu, sangat mirip dengan foto ibunya Fania."
Dan ... pak Wibowo masih menatapku bergeming.
"Apa ... itu adalah foto yang sama?" gumamku.
***
Setelah mendengar pernyataan tentang foto yang sama itu. Pak Wibowo langsung mengajakku pulang. Target untuk pulang besok meleset. Ia mempercepat untuk segera pulang.
Pak Wibowo langsung memesan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan pukul 18.25 WITA. Dan kami benar-benar terbang dari Bandar Udara Ngurah Rai.
Pak Wibowo sudah sangat tidak sabar untuk memastikan bahwa foto itu sama. Sedangkan aku ... sangat bahagia jika benar Fania akan segera menemukan ayah kandungnya. Ya, pak Wibowo adalah ayah kandung Fania. Semoga itu benar.
Setelah mendarat, kami langsung dijemput menggunakan mobil pribadi. Di dalam mobil, pak Wibowo tidak hentinya menghela dan mengembuskan napas. Tampak jelas sekali, pak Wibowo sangat gugup. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Fania dan mencocokkan foto miliknya dengan milik Fania.
"Tolong lebih cepat lagi, ya?" perintah pak Wibowo kepada sopir pribadinya dengan gelisah.
"Baik, Pak."
Sedangkan aku ... masih terngiang-ngiang kata-kata Fania pagi itu, sebelum berangkat ke Bali.
"Aku merasa Tuhan tidak berlaku adil padaku. Dia menurunkan aku ke bumi, tetapi mengangkat ibuku ke langit. Bahkan, aku belum sempat merasakan kasih sayangnya. Terlebih lagi, aku dilahirkan tanpa seorang ayah. Orang-orang menyebutku anak haram. Sejak lahir, aku sudah terhina."
"Bagaimana jika ayahku ternyata sudah meninggal?"
"Aku ingin memukulinya seratus kali. Aku ingin menanyakan alasannya meninggalkan ibuku. Aku ingin tahu kenapa dia tega melakukan ini padaku dan pada ibuku. Aku ... aku ingin meminta penjelasan darinya tentang segalanya yang telah terjadi. Aku sangat membencinya! Aku ... aku benar-benar ingin memukulinya!"
"Wajar aku marah padanya. Dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia ... dia adalah penjahat. Dia ayah yang kejam! Bahkan ... sejujurnya ... aku berharap agar dia sudah mati saja."
"Jika memang dia masih hidup, bawa dia padaku. Aku benar-benar ingin memukulinya seratus kali!"
Ya ... Tuhan. Jika benar pak Wibowo adalah ayah kandung Fania, apakah Fania akan memaafkan segala kesalahan pak Wibowo?
Sseeeett!!
Tiba-tiba mobil kami hampir saja menabrak sepeda motor yang tengah berbelok dan berlawanan arah dengan kami. Ya, Tuhan, untung tidak sampai menabraknya. Bersamaan dengan kejadian ini, perasaanku mendadak menjadi gelisah. Entah mengapa, tiba-tiba aku terbayang wajah Arka dan Fania.
Mobil kami pun berhenti tepat beberapa sentimeter sebelum menabrak sepeda motor tersebut. Laki-laki yang membawa sepeda motor itu langsung menghampiri dan mengetuk kaca mobil kami. Dia tampak sangat marah.
"Hei! Keluar!"
"Buka pintunya!!"
"Cepat buka pintunya!!"
Lelaki itu terus berteriak dan memukuli kaca mobil kami. Saat sopir pribadi pak Wibowo akan keluar, pak Wibowo justru melarangnya.
"Biar aku saja." Pak Wibowo pun keluar dan lelaki yang membawa sepeda motor itu langsung menghampirinya.
"Kalian hampir saja mencelakaiku!"
"Maaf ... maafkan kami," ucap pak Wibowo.
"Tidak cukup kata maaf itu, Pak. Sopirmu itu hampir saja membunuhku. Bagaimana jika aku tertabrak tadi? Aku bisa mati! Dasar sopir gobl*k!!" hardik lelaki itu sembari mengutuk ke arah sopir pribadi pak Wibowo.
"Maafkan saya, Pak," ucap sopir pribadi pak Wibowo yang melongok dari kaca mobil.
"Pokoknya saya mau minta pertanggungjawaban!"
Aku kesal sekali dengan tingkah lelaki pembawa motor itu. Sudah jelas-jelas tidak terjadi kecelakaan apa pun, tetapi dia tetap meminta ganti rugi.
Pak Wibowo meraih tasnya dari mobil, kemudian mengambil setumpuk uang untuk diberikan kepada lelaki itu. Aku yakin, itu lebih dari lima juta.
"Nah, begini, donk."
Lelaki itu segera pergi dengan motornya, sedangkan pak Wibowo kembali masuk ke dalam mobil. Aku melirik arlojiku menunjukkan pukul 20.15 WIB.
"Maafkan saya, Pak," ucap sopir pribadi pak Wibowo merasa bersalah.
"Fokus dan lanjutkan berkendara dengan cepat!"
__ADS_1
Rupanya pak Wibowo sudah sangat ingin bertemu dengan Fania. Kasihan sekali pak Wibowo, jika sampai Fania tidak memaafkannya.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang dari dua jam menggunakan mobil, kami pun sampai. Pak Wibowo turun bersamaku, tepat di depan pintu gerbang rumahku.
Kupencet bel, tapi tidak ada yang keluar dari rumah. Kupencet lagi dan lagi-lagi tidak ada yang keluar. Suasana rumah tampak sepi. Tidak ada mobil Rudi di depan rumahku. Mungkin, malam ini dia tidak menginap.
Kulirik arloji di tanganku menunjukkan pukul sembilan malam. Apakah ... mereka sudah tidur? Biasanya Fania tidur pukul sepuluh atau sebelas.
"Bagaimana? Apa Fania sudah tidur?" tanya pak Wibowo dengan wajah harap-harap cemas.
"Biar kutelepon saja."
Kuambil handphone dari tas, kemudian memanggil nomor Fania. Akan tetapi, saat jariku akan memencet tombol panggil, tiba-tiba saja handphone-ku berdering.
"Halo."
"Ima, apa kau masih berada di Bali?" tanya Ibuku dengan suara agak serak seperti habis menangis.
"Aku baru saja sampai, Bu. Ini aku sedang di depan pintu gerbang, menunggu Fania membuka pintu."
Seketika ibu bergeming. Hening.
"Halo, Ibu."
"Halo, Bu."
"Ibu?"
Terdengar suara isakan tangis ibu.
"Ibu, ada apa?"
"Ima—" Suara ibu terhenti, berganti dengan isakan tangis.
Perasaanku menjadi tak keruan. "Ibu ... kau tidak apa-apa?"
"Yang sabar, ya, Nak." Suara ibu terdengar bergetar.
Napasku tertahan seketika, menanti ibu melanjutkan perkataannya.
"Arka, Fania, dan Rudi .... "
"Ada apa dengan mereka?" Perasaanku semakin was-was. Hatiku semakin resah. Ada apa ini?
"Mereka kecelakaan."
"Imania!" Suara pak Wibowo yang terakhir kudengar.
***
Kubuka perlahan kedua mataku. Samar-samar kulihat ibuku sudah berada di sampingku. Aku sudah berada di rumah sakit. Sontak aku teringat perkataan ibu.
"Arka, Fania, dan Rudi .... "
"Mereka kecelakaan."
"Ibu, dimana Arka dan Fania?"
Kulihat kedua netra ibu sembab dan bengkak.
"Aku ingin bertemu Arka!"
Aku segera bangkit dan turun dari ranjang pasien. Saat aku hendak melangkah, tiba-tiba ibu menahan lenganku.
"Nak, sabarkan hatimu."
Aku menatap kedua netra ibu. "Arka baik-baik saja, kan, Bu."
"Putramu ... putramu ...."
"Bagaimana keadaan Arka? Dia baik-baik saja, kan?"
Ibu memeluk tubuhku sembari terisak. Tangannya menepuk-nepuk punggungku. "Putramu ... dia ... dia tidak terselamatkan."
"Ya, Tuhan." Tak dapat lagi kubendung air mata. Aku menangis sejadi-jadinya. Ujian apalagi ini? Putraku ... tidak! Ibu pasti salah! Ibu pasti salah!
"Tenangkan dirimu, Nak?"
Ibu terus menenangkanku. Setelah air mataku sudah hampir terkuras untuk menggambarkan kepedihanku. Aku dituntun ibu menuju ruang ICU.
Sesampainya di sana, aku masuk untuk melihat putraku. Di ruangan tersebut ada juga Fania yang terbaring tak berdaya, dengan tabung oksigen besar di sisinya. Pak Wibowo pun tengah berada di sampingnya sembari menggenggam tangan Fania.
"Dokter, dimana putraku?" tanyaku pada seorang dokter yang tengah berdiri di samping ranjang berisi pasien yang sudah tertutup oleh kain berwarna putih.
Dokter tersebut menunjuk tubuh yang tertutup kain putih tersebut.
__ADS_1
Sedangkan aku langsung menghampiri tubuh tertutup itu. Kubuka perlahan dari atas hingga bawah. Hingga tubuh bocah tiga tahun lebih itu tampak jelas. Terlihat luka dan darah setengah basah di bagian kepala Arka.
"Arka!" Aku pun memeluk tubuh putraku erat-erat.
"Sayang, bangunlah!"
"Sayang ... mama pulang. Ayo, buka kedua matamu!"
Kuremas jemari tangannya lembut, kemudian menciumi pipinyanya berkali-kali. "Arka ... mama disini. Arka jangan pergi kemana-mana, ya? Mama di sini. Ayo, Sayang, bukalah matamu. Lihat mama!"
Kutatap wajah putraku yang malang. Kuusap rambutnya yang lebat dengan hati-hati, karena ada luka di kepalanya. "Sayang ... kau bilang mau pesawat terbang. Aku sudah membelikannya untukmu. Bukalah matamu!"
Ayahku yang sedari tadi berdiri di samping Arka pun turut menenangkanku. "Nak, tenangkan dirimu!" Ayah mengusap lembut punggungku.
"Sayang ... mama sudah belikan pesawat terbang untukmu. Bangunlah, Nak. Ayo, kita bermain bersama!"
"Ima, lebih baik kita doakan Arka agar tenang dan pergi dengan damai, ya?" Ibu menarik tubuhku menjauh dari Arka.
"Lepaskan aku, Ibu. Biarkan aku membangunkan Arka."
"Nak ... putramu ...."
"Tidak, Ibu. Arka hanya tidur. Aku bisa membangunkannya." Aku tetap kekeuh menganggap putraku hanya tertidur.
Kualihkan pandangan ke arah dokter yang masih berdiri di dekatku. "Dok, putraku hanya tidur, kan?"
"Maaf ... putramu tidak bisa kami selamatkan."
Aku langsung beranjak menghampiri dokter tersebut. "Dok, kau, kan, seorang dokter. Bagaimana bisa membiarkan putraku begitu saja!"
Ayah menahanku, tapi aku tetap menarik kerah dokter berkacamata tersebut. "Ayo, selamatkan putraku! Selamatkan putraku!"
Ayah dan ibu menarik tubuhku menjauh dari dokter tersebut. Aku menatap dokter tersebut dengan emosi. Kemudian berbalik menuju putraku yang tak bergerak sedikitpun.
Kusentuh kelopak mata putraku lembut. "Sayang ... buka matamu. Mama sudah pulang."
Aku segera teringat pesawat terbang mainan yang kubeli dari Bali itu lagi. "Ibu, dimana koperku?"
"Untuk apa, Nak?"
"Aku sudah membelikan Arka pesawat terbang. Aku harus mengambilnya. Arka pasti ingin melihatnya."
Ibu memelukku. "Nak, Arka sudah pergi dengan damai. Biarkan dia tenang, ya?" ucap ibu sembari terisak.
"Tidak Ibu. Arka tidak akan pergi kemana-mana. Dia bersamaku. Dia akan selalu bersamaku."
"Tidak, Nak. Putramu ... kini sudah bersama bidadari di surga," kata ibu lagi.
"Tidak, Ibu. Kami akan ke surga bersama-sama. Mana mungkin dia pergi tanpaku?"
"Ya, Allah, Nak. Sadarkan dirimu. Arka ... Arka sudah pergi."
"Tidak, Ibu. Percaya padaku. Aku bisa membangunkan Arka. Lihat ini!" Aku berbisik lembut di telinga Arka, "Sayang ... mama kangen sama Arka. Ayo, buka matamu. Bangunlah. Besok ... kita jalan-jalan lagi, ya? Kita akan pergi beli es krim yang banyak."
Ayah dan ibu memelukku, tetapi aku segera melepaskan diri dari pelukan mereka, kemudian berlari keluar dari ruang ICU, tapi ayah mengejarku.
"Nak, kau mau kemana?"
"Aku mau pulang, Ayah. Aku ingin mengambil koperku. Ada pesawat terbang Arka di dalamnya. Aku ingin menunjukkan itu kepada Arka."
Aku kembali berjalan cepat, tapi ayah segera menarik lenganku, menghadapkan tubuhku padanya.
"Harus berapa kali kubilang! Putramu sudah tiada! Dia sudah pergi! Sadarlah!" kata ayah keras sembari menggoyang-goyangkan pundakku. Menyadarkanku. Agar aku bisa menerima kenyataan yang telah terjadi. Kenyataan yang masih tidak bisa kupercaya.
Aku menatap kedua netra lelaki paruh baya yang tengah berdiri di hadapanku. Perlahan bulir bening di mataku kembali turun. Hingga alirannya menjadi deras. Sangat deras. Dadaku sesak terguncang isak. Aku tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku tidak bisa! Arka, kembalilah!
"Mama, kalau pulang belikan Arka pesawat, ya, Ma. Arka ingin terbang, naik pesawat ke langit."
Suara itu terngiang-ngiang di pikiranku.
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh?
Yang lagi mewek ataupun yang lagi kesel dan ngedumel marahin Author di dalam hati. Ampun, deh! Sabar ... Istiqomah.
Harap tetap tenang. Jangan suudzon dulu dengan penderitaan Imania, ya?
Author Keceh, mah, gitu, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Tahu, kan, maksud peribahasa ini? Yang enggak tahu, tanya Babang Google, ya?
Supaya kalian enggak cerewet bingits, nih, Author Keceh kasih tahu. Novel ini HAPPY ENDING. Sudah jelas, ya? Saksikan saja, deh, betapa tak terduganya kejutan-kejutan yang Author Keceh akan datangkan.
So, tunggu sampai novel berakhir, ya?
Salam Sayang dari Author Keceh?
__ADS_1
Thank You ...!