
Dua bulan kemudian.
"Eak? Eak? Eak? Eak?"
Suara tangis bayi menggema di ruang operasi, usai sang dokter mengeluarkannya dari rahimku. Dua orang dokter lainnya dengan sigap menggendong bayi kembarku dan memberikannya kepada Dimas untuk diazani.
Rasa haru tak lekang dari wajahku dan wajah suamiku. Ia pun segera mengumandangkan azan ke telinga bayi kembar tersebut. Setelah itu, ia kembali menyerahkan bayi kembar kami untuk dibersihkan terlebih dahulu.
Dimas selalu menemaniku sepanjang operasi. Selagi seorang dokter menjahit kulit perutku, Dimas terus mengelus rambutku. Sesekali ia mencium keningku, seakan tengah mentransfer doa terbaik untukku, bahwa segalanya akan berjalan lancar.
Alhamdulillah ... operasi pun selesai dengan baik dan lancar.
***
Usai operasi caesar, aku dipindahkan ke ruang perawatan. Semua orang yang menyayangiku pun hadir untuk menyambut kehadiran bayi kembarku yang cantik dan tampan. Semua sangat penasaran dengan bayiku. Bu Hera dan pak Wibowo tampak begitu terharu, karena memang ini adalah cucu pertama mereka.
"Akhirnya, Mah, kita sudah resmi menjadi grandfa and grandma," ucap pak Wibowo sembari tertawa bangga menimang bayi kembarku yang perempuan.
"Iya, Yah, alhamdulilah, mana cucu kita kembar lagi. Lucu banget," ujar bu Hera sembari menimang bayi kembarku yang laki-laki.
"Wah, kami mau, dong, gantian menimang?" ucap ibuku tak sabar.
"Ah, Jeng, kau nanti, ya? Lagi bahagia banget, ini," ujar bu Hera dengan senyum mengembang menghias wajahnya.
"Gantengnya cucu nenek," ucap ibuku yang berdiri di sisi bu Hera.
"Yang perempuan juga secantik paras mamanya," ujar pak Wibowo.
Akhirnya Ibuku hanya bisa memandangi putra dan putri kembarku, karena pak Wibowo dan bu Hera belum mau bergantian menyerahkan bayi kembarku. Kedua orang tuaku memahami betapa bahagianya kedua mertuaku itu. Jadi, mereka maklum sekali. Dan justru kedua orang tuaku merasa turut bahagia sekali melihat pemandangan indah ini.
"Wah, lucunya ... kita kapan?" Mbak Nonita membelai lembut pipi bayi kembarku yang perempuan.
"Iya, nih, kamu kapan hamil, Nonita?" tanya bu Hera.
"Mungkin belum dikasih aja, Ma," jawab mas Surya.
"Semoga kalian segera menyusul punya bayi," ucap ibuku mendoakan.
"Aamiin ...." Kami serentak mengamini.
"Assalamualaikum," ucap Fania yang baru datang bersama Rudi.
"Waalaikumsalam ...."
"Wah, si kembar, lutuna ...." Fania tampak sangat gemas melihat bayi kembarku.
"Iya, lah, lucu, papanya saja lucu, tentu anaknya juga lucu." Dimas yang baru saja masuk pun menyahut.
Suasana bahagia dirasakan oleh semuanya. Semua menyambut kedatangan dua anggota keluarga yang baru. Dan semua sangat menyayangi bayi kembarku. Sekali lagi, puji syukur kehadirat Allah SWT atas kemurahan-Nya menganugerahkan kepada kami dua bayi yang sangat lucu ini.
***
Dua tahun kemudian.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
"Lailahaillallahu Allahu Akbar!"
"Allahu Akbar walillahillham!"
Suara takbir berkumandang mengagungkan nama Tuhan. Menggema indah di dunia yang penuh suka cita kemenangan umat Islam, yang tengah merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Suara takbir selalu menyentuh kalbuku. Bergetar. Mengharukan. Menyejukkan. Seluruh dunia turut melantunkan asma Allah Yang Maha Besar, Maha Suci, Allahu Akbar! Sungguh Maha Mulia Tuhanku.
Kami berkumpul di rumah pak Wibowo usai salat Ied. Kami saling bermaaf-maafan, menyucikan diri atas segala kesalahan dan dosa yang pernah kita perbuat, baik secara sengaja, maupun tidak sengaja. Semua kembali lagi atas niat hati kita, bersungguh-sungguh dan tulus dalam penyempurnaan amal yang selama sebulan ramadhan ini kami jalankan. Berpuasa, beribadah, dan memohon maaf lahir batin kepada insan di hari yang fitri, agar jiwa kita pun ikut terfitrikan.
"Ghina Sayang, sini duduk sama grandma?"
Ghina menggeleng. Dia memilih bermain bersama Ghani. Ghina dan Ghani adalah kedua anak kembarku. Keduanya baru berusia dua tahun dan memang sedang aktif bergerak, berlari, bicara, bermain. Wajar saja kalau aku sering kerepotan dengan tingkah lucu kedua anak kembarku. Akan tetapi, tetap saja, mereka adalah pengisi senyuman dihari-hariku.
"Ghina, kamu cantik banget, sih." Fania mencubit pipi Ghina gemas.
"Jangan ganggu Ghina, Bu Dhe," ucap Ghina yang tengah bermain boneka.
__ADS_1
"Bu Dhe ikut main, boleh?"
"Enggak."
"Kalau Alesha ikut main, boleh?" tanya Fania yang tengah mendudukkan Alesha di dekat Ghina.
"Boleh," jawab Ghina.
Alesha adalah putri Fania dengan Rudi. Jadi, sebulan setelah aku melahirkan anak kembar, Rudi dan Fania menikah. Dan mereka dikaruniai anak perempuan yang sangat lucu. Selisih usia Alesha dengan anak kembarku hanya satu tahun. Wajar mereka bisa akrab dan bermain bersama.
"Ini punyaku?"
"Itu punyaku?"
Tiba-tiba saja Alesha dan Ghina berebut boneka.
"Ayo, sama-sama, dong." Bu Hera berusaha mengakurkan keduanya.
Akhirnya, keduanya bertengkar. Padahal banyak sekali bonekanya, bu Hera yang membelikannya. Akan tetapi, ya, begitulah anak-anak, tetap saja rebutan. Wajarlah.
"Alesha, kamu nakal!" tuding Ghina yang tengah dipangkuan bu Hera.
"Kamu, tuh, yang nakal!" Alesha yang dipangkuan Rudi tidak mau kalah.
"Kalian berisik!" Ghani yang tengah bermain mobil remote control dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke kaki kami satu per satu. Mobil remite-nya cukup besar, jadi sedikit sakit bila mobil itu menabrak.
"Aduh, Ghani, jangan jahil, ah!" Mbak Nonita mencoba mengejar mobilnya untuk menghentikan aksi Ghani.
Kami semua turut tertawa melihat kelucuan tingkah anak-anak. Ghani—putra kembarku adalah yang paling terlihat so cool. Dia tampan sekali seperti ayahnya. Namun, dia sedikit jahil. Dia paling tidak suka diganggu kalau sedang bermain.
Saat mbak Nonita masih mengejar mobil mainan tersebut, tiba-tiba ....
"Hoek!"
Kami semua terkejut melihat mbak Nonita yang tiba-tiba saja mual dan berlari menuju kamar mandi.
"Jangan-jangan ... Mbak Nonita hamil?" terkaku.
"Bagaimana hasilnya?" tanya bu Hera.
"Alhamdulillah, positif!" jawab mas Surya mantap.
"Alhamdulillah ...."
Semua berucap syukur atas kehamilan mbak Nonita. Setelah menanti bertahun-tahun, akhirnya mbak Nonita dan mas Surya akan segera memiliki momongan. Inilah makna dari buah kesabaran yang indah. Mbak Nonita sempat dicap mandul oleh orang-orang. Namun, atas kegigihannya berdoa, memohon kepada Tuhan agar dianugerahi momongan, akhirnya terkabulkan.
Dan tentu saja dibarengi dengan ikhtiar. Mbak Nonita rajin melakukan apapun untuk memupuk kesuburan. Termasuk rajin berninu-ninu, ha-ha. Iya, kan, masak cuma berdoa tanpa ninu-ninu, ya, enggak bakalan jadi. He-he-he.
Di hari yang fitri, kabar gembira datang dari keluarga mas Surya dan mbak Nonita. Sungguh ... nikmat dan berkah yang luar biasa.
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam ...."
Sekertaris Ve yang baru datang pun langsung bersalaman dengan kami. Betapa terkejutnya, melihat sekertaris Ve tidak datang sendirian. Ia bersama seorang laki-laki. Siapa lagi? Ya, Rangga.
Dia memperkenalkan Rangga sebagai calon suaminya. Oh, jadi, usai bercerai dengan Dewi, Rangga melanjutkan hubungan dengan sekertaris Ve? Meski terkesan seperti seorang tante-tante yang mencintai berondong, tapi ... bagaimanapun mereka saling suka. Ya sudahlah. Sekertaris Ve juga mengutarakan niatnya untuk segera menikah. Jadi, dengan ikhlas kami mendoakan agar hubungan mereka harmonis.
***
Setelah dari rumah pak Wibowo, aku, Dimas, dan kedua anak kembar, langsung menuju ke rumah pak Ahmad Suandi. Aku yang minta kepada Dimas untuk bersilaturahmi ke sana. Kebetulan aku juga sangat merindukan mereka.
Sesampainya di rumah pak Ahmad—orang tua mas Bastian— kami langsung disambut senang oleh mereka. Kebetulan sekali ada mas Bastian di sana. Jadi, sekalian kami bermaaf-maafan.
"Mohon maaf lahir dan batin ...," ucapku kepada mas Bastian.
"Aku juga, banyak salah padamu, Imania. Mohon maafkan atas segala kesalahanku." Mas Bastian tersenyum menatapku. Dia juga menggenggam tanganku erat. Membuat Dimas tiba-tiba berdehem.
"Eghem!"
Segera mas Bastian melepaskan tanganku. "Maaf," katanya.
"Eh, ini putrimu?" Segera kualihkan pandangan kepada seorang gadis kecil yang duduk di sebelah mas Bastian. Kuulurkan tangan pada bocah itu. "Siapa namamu, Sayang?"
__ADS_1
Gadis kecil itu dengan judes menepis tanganku. "Jangan sentuh aku!"
Aku sangat terkejut dengan tingkah gadis itu. Wajahnya persis ibunya.
"Namanya Angel. Maafkan putriku, Imania. Dia memang begitu," ucap mas Bastian merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Mas. Wajar, namanya juga anak-anak." Aku tersenyum. "Di mana Bella, Mas?" tanyaku.
Tiba-tiba semua hening. Tak ada yang menjawab. Ekspresi wajah mereka pun berubah. Suasana menjadi sedikit canggung. Ada apa ini?
"Bella sudah pergi. Kami akan bercerai," jawab mas Bastian.
Aku sangat terkejut mendengarnya.
"Itulah akibat memilih pasangan asal-asalan. Asal suka, asal jatuh cinta. Akhirnya, ya, begini. Menyesal di kemudian," sahut bu Ahmad dengan nada menyindir.
"Imania, mantan suamimu itu baru saja mendapatkan karma besar. Bella kepergok selingkuh dengan laki-laki lain di rumahnya sendiri." Pak Ahmad menambahi.
Ya Tuhan ... kasihan sekali mas Bastian. Pantas dia terlihat semakin kurus. Pasti mas Bastian mengalami banyak beban usai menikah dengan Bella. Aku tertegun mendengar kabar buruk ini. Mas Bastian juga terlihat malu sekali.
"Wah, ini si kembar, ya? Sudah besar rupanya. Ganteng dan cantik sekali kalian." Bu Ahmad menciumi pipi kedua anak kembarku bergantian dengan gemas.
"Ayo salim dulu, Ghani, Ghina," perintahku kepada mereka.
Dengan patuh Ghani dan Ghina menyalami mereka bergantian.
"Anak pintar," puji pak Ahmad.
"Ayo, kenalan juga sama Angel," perintahku kepada kedua anak kembarku.
Ghani dan Ghina dengan patuh pun mendekati Angel sembari mengulurkan tangan. Lagi-lagi dengan wajah judesnya, Angel tidak mau berkenalan. Dia hanya diam dengan wajah dingin.
"Ayo, Angel, jangan begitu!" tegur mas Bastian.
"Ya, begitulah. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya," ucap bu Ahmad.
***
Malam harinya, kami salat Isya bersama-sama. Dimas yang mengimami kami. Bersyukur, kedua anakku sangat patuh dan rajin untuk diajak beribadah. Dengan khusuk kupanjatkan doa.
Ya Rabb ... Engkau telah memberikan nikmat-Mu yang begitu agung kepada kami. Engkau telah menunjukkan buah dari kesabaran dan iman setiap hamba-Mu yang bertakwa. Engkau telah menganugerahi kami rahmat dan berkah-Mu yang luar biasa indah di dalam kehidupan kami. Sungguh, sujud syukur atas kemurahan hati-Mu ya Allah SWT. Semoga kisah indah kami tidak berhenti sampai di sini. Tetap limpahkanlah kepada kami nikmat iman, nikmat sehat, nikmat syukur, dan nikmat orang-orang mukmin yang selalu bersabar. Terima kasih ya Rabb telah menyempurnakan cinta kami. Semoga senantiasa bahagia, dunia dan akhirat. Aamiin.
-- THE END --
_____________________________________________
ASSALAMUALAIKUM ...!
Readers Keceh Tersayang ... Alhamdulillah, akhirnya novel ini selesai juga. Bagaimana perasaan kalian? Suka? Semoga suka, ya?
Dan Author Keceh berharap, para Readers Tersayang dapat memetik sedikit pelajaran dari kisah ini. Semoga kita senantiasa berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan. Karena pada dasarnya, akibat adalah wujud kelanjutan dari sebab. Maka, sebagai umat yang beriman, ingatlah! Bahwa apa yang kita kerjakan di dunia ini pasti ada pertanggungjawaban. Cepat atau lambat, hukum alam itu selalu ada. Semoga kita senantiasa terlindungi dari sikap dan sifat dzalim. Aamiin ....
Masih ada waktu untuk memperbaiki kehidupan. Maka dari itu, segeralah perbaiki diri, sebelum waktu yang akan menelan kehidupan kita.
Oh, ya? Boleh lah Author Keceh minta KESAN & PESAN para Readers Tersayang selama mengikuti novel BUKAN PELAKOR ini? Soalnya, Author mau SS (screenshot) KESAN PESAN KALIAN dari hati yang terdalam terhadap novel ini. Selain sebagai apresiasi dan kenang-kenangan, Author mau gunakan juga itu sebagai promosi nantinya. Jadi, silakan tulis sepanjang-panjangnya KESAN-PESAN kalian terhadap novel ini di KOLOM KOMENTAR DI BAWAH INI, YA?
Tetap tunggu novel Author Keceh selanjutnya, ya?
BANTU VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. KALAU BERKENAN HATI, TOLONG BANTU SHARE DAN PROMOSIKAN NOVEL INI DI FB, WA, ATAU MEDIA ONLINE LAINNYA. MOHON JUGA KESEDIAANNYA UNTUK MEMBERIKAN 'RATING BINTANG LIMA' DEMI MENJAGA KELANGSUNGAN NOVEL INI, YA? MAU KAN?
Untuk gambar tokoh piguranya, silakan kalian imajinasikan sendiri saja, ya? Soalnya kemarin banyak yang protes, katanya gambar tokohnya kurang cantik, kurang ini dan itu. Jadi, Author persilakan kalian berimajinasi sehalu mungkin, ya, WKWK.
Tentang permintaan SEASON 2, Author Keceh belum bisa memenuhi permintaan kalian. Akan tetapi, akan Author pertimbangkan bila respons viewers naik drastis. Hanya pertimbangan, loh, ya? Tidak janji. Coba lihat dulu nanti seperti apa viewers novel ini. Jika pun ada SEASON 2, maka kisahnya akan terfokus pada kisah cinta Si Kembar.
Satu lagi, untuk pemenang GIVE AWAY, pengiriman hadiah setelah ini, ya? Tunggu dan tetap stay di grup. Dua orang yang belum memberikan nomor HP-nya, silakan Yendra dan Nonita masuk grup, Author Keceh menunggu, ya?
Terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan segenap Readers Keceh Tersayang. Author Keceh mohon maaf lahir dan batin ....
BUAT KALIAN YANG INGIN TAHU UPDATE KARYA-KARYA AUTHOR DAN INGIN LEBIH DEKAT SERTA MENGENAL AUTHOR, SILAKAN ADD AKUN INSTAGRAM AUTHOR KECEH @nonashitha (INSTAGRAM TERBARU DAN NAMA PENA BARU).
WAH, BAKALAN KANGEN, NIH. SALAM SAYANG DARI THAMIE SI AUTHOR KECEH ....
THANK YOU ...! SEE YOU NEXT TIME! LOVE YOU SO MUCH ...! 💖
__ADS_1