
"Dimas, ada Arka dan Fania di kamarku!"
"Apa kamu pikir aku akan masuk?"
"Kau tidak akan masuk?" tanyaku.
"Jika kau mengizinkan aku masuk, maka aku akan masuk."
"Aku tidak mengizinkanmu masuk!"
"Kalau begitu, bukalah jendelanya!"
"Mau ngapain?"
"Cuma mau memegang tanganmu," katanya.
Aku pun membuka jendela itu hati-hati. Agar Fania dan Arka tidak terganggu. Kret! Terdengar bunyi gesekan jendela dengan kusennya. Itu membuat Fania mengucek kedua matanya.
"Uh ...! Suara apa itu ...." Fania tiba-tiba terbangun.
Aku menahan tanganku yang sedang membuka jendela. Dimas pun membungkukkan tubuhnya di bawah jendela.
"Apa ada maling?" Fania lagi-lagi bertanya sembari mendudukkan tubuhnya.
Aku menatapnya dengan was-was. Fania bicara tanpa membuka kedua matanya. Apa dia bertanya dalam keadaan sadar atau mengigau?
"Hei, Rudi! Jangan menggangguku lagi!" Fania pun kembali berbaring dan terlelap.
Aku menatapnya heran. Ternyata diam-diam Rudi sudah mewarnai tidurnya. Aku tertawa dalam hati.
"Matikan lampunya!" seru Dimas lirih.
"Apa?"
"Matikan lampunya!" ulangnya.
Aku pun beranjak menuju saklar lampu. Kumatikan lampu kamarku. Kemudian berjalan mengendap-endap agar tidak mengganggu Fania dan Arka. Sesaat langkahku terhenti. Pandangan mataku gelap. Aku tidak bisa melihat jelas. Bahkan, arah menuju jendela saja aku tak bisa melihatnya. Aku pun kembali berjalan seraya menjulurkan tangan ke depan, agar tidak menabrak sesuatu.
Akan tetapi, saat aku terus berjalan, tiba-tiba aku menabrak sesuatu. Bukan sesuatu yang keras seperti dinding. Namun, sesuatu yang hangat. Karena sesuatu itu langsung meraih tubuhku ke dalam dekapannya. Aku sangat terkejut. Sejak kapan dia masuk ke dalam kamar?
"Dimas, apa kau gila?”
"Aku sudah gila, semenjak kepergianmu dari hidupku. Lebih gila lagi saat mendengar kau menikah dengan Bastian," bisiknya lirih di telingaku.
"Lepaskan ini, Di!" Dalam gelap aku mencoba menarik tangan Dimas yang begitu erat memaku pinggangku agar berada dalam dekapannya.
"Tidak akan!"
"Di, nanti Fania terbangun!"
"Dia tidak akan terbangun, jika kau tidak berisik!"
Aku melenguh kesal. Bahkan aku tak mampu memandang jelas wajahnya. Ini gelap sekali, dan aku hanya bisa menangkap sinar yang memantul dari kedua mata elangnya.
"Ini hangat!" bisiknya
__ADS_1
"Kau mesum!" bisikku.
"Membuatku tak sabar untuk segera menikahimu."
"Janji imitasi!"
"Nia, aku akan membuktikan, bahwa aku serius! Kumohon ... jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Jangan membuatku tersiksa. Aku tidak bisa tenang saat kau meragukanku."
"Aku ingin kau tegas dengan keputusanmu!" kataku sembari menstabilkan detak jantungku. "Di, lepaskan!" Aku masih mencoba mendorong tubuhnya agar menjauh. Tetapi Dimas tak bergeming.
"Nia, apa kau ingin cara yang instan? Sebenarnya, itu bisa membuat kita lebih cepat menikah."
"Apa maksudmu?"
Dia kembali berbisik, "Kau harus hamil anakku!"
Aku sangat terkejut mendengar ide gilanya. "Kau gila! Sampai kapanpun aku tidak akan melakukan hal hina seperti itu!" bisikku.
Terdengar embusan tawa dari bibirnya. "Nia, aku ingin melakukannya!" bisiknya.
Bersikeras aku langsung mendorong tubuhnya. Tapi dia tetap memaku tubuhku.
"Di, jangan membuatku berzina, itu dosa besar!" ucapku dengan sangat takut.
"Kenapa kau ketakutan sekali? Aku juga tidak akan melakukan hal tersebut sebelum kau mengizinkan."
Oh, syukurlah. Aku mengembus napas lega.
Dimas tiba-tiba mendekatkan wajahnya. "Embusan napasmu sangat seksi!"
"Uh ... kenapa lampunya mati?"
Tiba-tiba terdengar suara Fania. Apa dia terbangun? Aku kembali mendorong tubuh Dimas. Tetapi lagi-lagi Dimas menahan tubuhku. Bahkan, ia sama sekali tak melepaskan bibirnya dari bibirku.
"Imania! Di mana kau?"
Terdengar langkah kaki Fania yang berjalan pelan.
Aku dan Dimas masih berdiri dan terdiam, terpaku tanpa gerakan. Dadaku bergemuruh menahan rasa cemas. Apa yang akan terjadi jika Fania memergoki kami? Oh, ini semua gara-gara Dimas.
"Di mana saklar lampunya?"
Suara Fania semakin membuat jantungku berdebar kencang. Refleks, tanganku merem*s dada bidang dokter elang. Sedangkan bibir kami masih menempel.
Buk!!
"Aduh! Sakit! Imania? Cepatlah bantu aku? Ini gelap sekali! Nyalakan saklarnya!"
Sepertinya Fania terjatuh. Aku hanya bisa mendengar suaranya dan suara langkah kakinya.
"Ah, sudahlah! Aku tidur saja!"
Sepertinya Fania kembali ke ranjang. Aku mulai merasa lega. Beberapa menit, kami terdiam tanpa gerakan. Hanya suara deru napas kami yang saling memburu. Hingga tak terdengar suara Fania lagi, Dimas kembali melanjutkannya. Aku pasrah menerima kelembutan darinya.
Setelah puas melayangkan ciuman. Ia pun melepaskan bibirnya dari bibirku. Tangannya membelai lembut bibir ini. Mengelap sisa-sisa basah yang disebabkan olehnya.
__ADS_1
"Seandainya kita sudah halal, kita bisa melakukan yang lebih dari ini," katanya lirih. "Aku pasti menikahimu. Tunggu saatnya tiba, Nia. Please ... jangan pernah meragukanku. Aku sudah menantimu kembali begitu lama. Tidak akan ada celah bagiku untuk melepasmu lagi."
"Ya, aku percaya."
"Bersabarlah menunggu waktu itu terkabul, Nia! Aku akan menikahimu!"
"Baiklah," jawabku lirih. "Sekarang pulanglah!"
"Aku tidak akan pulang bila kau belum memberiku ketenangan."
"Apa lagi?"
"Beri aku pernyataan, bahwa kau selalu mempercayaiku!"
Dimas meraih kedua tanganku, dan mengalungkannya di lehernya. Setelah itu, ia kembali meletakkan kedua tangannya ke pinggangku. Kemudian wajah kami hanya berjarak lima sentimeter.
"Katakan sekarang! Buat aku merasa lega!"
Aku menghela napas dalam, kemudian berkata, "Dimas ... aku mencintaimu. Aku akan berusaha untuk selalu menunggu, mempercayai janjimu untuk segera menikahiku. Aku tidak akan meragukanmu."
Aku tidak tahu jelas ekspresi wajahnya. Suasana terlalu gelap. Namun, aku bisa menangkap jelas binar keseriusan di mata elangnya. Dia menatapku dengan tajam tetapi lembut.
"Dimas, apakah sudah cukup? Cepat pulanglah! Besok aku harus masuk kerja. Kau akan membuatku terlambat jika seperti ini. Kau juga harus bekerja lagi besok!"
"Beri aku satu kecupan saja. Setelah itu aku akan pulang."
Kedua mataku terbelalak. Mana mungkin aku menciumnya duluan. Itu memalukan.
"Ayolah? Bukankah kau juga pernah melakukannya dulu?"
Aku memang pernah melakukan itu sekali. Saat perpisahan kami di taman bunga Pelangi. Sesaat sebelum Dimas pergi ke California.
"Kau ingat, kan?" tanya Dimas.
Aku tersipu malu. Akan tetapi, hanya itu yang dapat membuatnya segera pergi dari sini. Aku pun segera menjinjiit sedikit, menjangkau bibir miliknya. Dan satu kecupan lembut pun berhasil kulayangkan dengan malu-malu. Dan cepat-cepat aku menarik bibirku darinya.
"Dengan begini, aku tidak perlu lagi membeli vitamin C," katanya seraya melepaskan tangannya dari pinggangku.
Aku pun segera menarik lenganku dari lehernya. Kemudian Dimas beranjak menuju ke jendela. Aku mengikuti langkahnya ke jendela. Sebelum keluar dari jendela, Dimas berbalik kepadaku.
"Selamat tidur, Sayang ...."
"Sama-sama," balasku.
Dimas pun keluar dari jendela. Dengan sekejap, dia sudah berada di bawah jendela. Dan ketika di hendak berdiri tiba-tiba ....
Dug! Kepala Dimas terbentur sudut jendela. Dan itu lumayan keras. Aku melihat wajah Dimas yang meringis kesakitan. Tangannya memegangi kepalanya yang terbentur. Di luar lumayan terang, karena ada cahaya bulan yang menyinari kegelapan malam. Jadi, aku bisa melihat wajahnya dalam remang-remang.
"Apa itu sakit?" tanyaku dengan iba.
"Lebih sakit bila kau tinggalkan, Nia. Selamat tidur. Have a nice dream!" katanya kemudian beranjak seraya masih mengusap-usap puncak kepalanya.
Entah mengapa aku merasa ingin tertawa. Meski kasihan juga dia. Ha-ha ... have a nice dream too, Dimas.
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1