BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Luka Yang Kusembunyikan


__ADS_3

"Wow! Ada apakah ini?" tanya Fania masih dengan raut muka terkejut.


Kami pun saling memandang satu sama lain. Dan Fania menghampiri kami. Mengamati Bella secara seksama. Seperti sedang memastikan, bahwa orang yang dilihatnya ini benar-benar Bella.


"Bella? Kau?" Fania masih terbelalak melihat ada Bella di sini.


"Fania!" Bella pun memasang ekspresi wajah terkejut.


"Ada apa ini?" tanya Fania lagi.


Bagaimana mengatakannya. Ini membingungkan. Apa aku harus mengatakan bahwa mas Bastian dan Bella akan segera menikah? Itu lucu sekali. Atau aku perlu memberitahukannya bahwa aku dan mas Bastian akan segera bercerai? Itu juga konyol sekali.


Fania pun memilih duduk di sebelah mas Bastian. Ia menepuk pundak mas Bastian, seraya berkata, "Apa yang kau lakukan pada mereka? Apa mereka habis menangis? Kau sangat serakah, Bas!" cecar Fania langsung.


Kami masih diam. Tidak tahu bagaimana menjelaskan padanya. Meski sebenarnya, tidak penting untuk Fania ketahui, tentang masalah kami.


"Hei! Aku sedang bertanya? Mengapa tidak ada yang menjawab?"


Mas Bastian menjambak rambutnya sendiri. "Kenapa kau mesti datang, sih? Kau membuatku semakin pusing!"


"Aku datang untuk bermain dengan Arka. Bukan untuk menemuimu!"


"Arka tidak sedang di rumah. Jadi, pergilah!" usir mas Bastian.


"Ya, Tuhan ... mengapa penghuni rumah ini kejam semua? Bahkan aku baru saja duduk. Dan kau memintaku pergi?"


Aku pun beranjak menghampiri Fania. Lalu menyeretnya menuju kamar. Aku menutup pintu kamar tersebut, setelah berhasil membawanya masuk.


"Hei! Apa kau ingin melakukan hal tidak senonoh padaku?"


"Jangan nyeleneh! Aku hanya ingin bicara denganmu."


"Berdua? Di dalam kamar? Ini romantis sekali!" katanya seraya mencubit pipiku.


"Fania! Aku ingin mengatakan padamu. Bahwa ... Mas Bastian dan Bella akan segera menikah."


Bella terperangah mendengar penuturanku. "Kau bercanda, ya?"


Aku menggeleng pelan. "Ini serius!"


"Apa kau sudah tidak normal? Otakmu di mana?" ucap Fania seraya menempelkan telapak tangannya ke dahiku.


"Mas Bastian akan segera menceraikanku."


Fania kembali menatapku dengan mata terbelalak. "Kau gila! Permainan apa ini?"


"Kuminta padamu, jagalah sikapmu!"

__ADS_1


"Bagaimana ceritanya? Mengapa bisa seperti ini? Hei!"


Aku pun kembali keluar menemui mereka. Dan Fania masih mengejarku seraya mencecarku dengan berbagai pertanyaan.


"Diamlah! Atau kau pulanglah!" kataku.


Aku pun kembali duduk di sebelah Bella. Dan Fania duduk di sebelah mas Bastian.


"Bella!" Fania tiba-tiba memanggil Bella.


Bella seperti ketakutan melihat Fania. Dan Fania terus menatapnya tajam. Aku bingung bagaimana mengatasi wanita berambut pirang ini. Sudah dibilang untuk tidak ikut campur, tapi dia malah seenaknya.


"Bella, kau dengar aku?"


"Ya, aku dengar." Bella menjawab tanpa memandang wajah Fania sedikitpun.


"Aku tidak tahu mengapa Imania bisa menerimamu di rumah ini. Jika aku jadi Ima, aku mungkin sudah mencabik-cabik wajahmu. Menjambak rambutmu, dan mencincang sedikit kulitmu! Seperti yang pernah kulakukan dulu padamu. Saat kau berhasil jadian dengan Bastian," tukas Fania sembari tertawa.


"Fania!" sergahku.


"Izinkan aku mengatakan hal ini. Sebentar saja, Ima!"


Bella masih tetap menunduk. Dan Bastian pun tetap diam.


"Bella! Apa kau tidak pernah memposisikan dirimu di posisi Imania? Kau egois. Dan kau ...." Fania menudingkan telunjuknya ke wajah mas Bastian. "Kau juga sangat egois!"


"Kata maaf itu mudah, Bell! Tetapi apa kau bisa sedikit saja merasakan perasaan wanita yang telah kau sakiti? Imania mungkin bisa merelakan Bastian untukmu. Tapi apa kau tahu nasib Arka? Bocah kecil itu butuh kedua orang tua yang lengkap! Jika kau punya perasaan, tentu kau memahami dan mencerna setiap kata-kataku ini!"


"Fania!" sergahku lagi. Tapi dia tetap bicara. Fania berbicara dengan amarah yang aku pun tidak mengerti.


Fania berdiri, melangkah menghampiri Bella yang terus tertunduk. "Bella! Kau wanita tidak berhati! Kau murahan! Kau wanita hina! Kau pelakor!"


Kali ini Bella mengangkat kepalanya. Wajah yang basah itu pun mulai menatap Fania lekat-lekat. Bella berdiri tepat di hadapan Fania. "Fania! Aku tahu, aku salah! Dan semua yang kau ucapkan itu benar! Aku pelakor! Hina! Murahan!"


"Apa kau pernah memiliki perasaan cinta? Jika kau pernah mencintai seseorang dengan segenap raga dan jiwa, kau tidak akan bicara selantang itu padaku!" lanjut Bella.


"Ya, aku juga punya cinta! Kau pikir, cuma kau yang membutuhkan cinta? Setiap orang memiliki perasaan, Bell! Bukan hanya dirimu! Semua orang butuh dicintai dan mencintai. Tetapi beberapa orang memilih untuk tidak egois! Tidak mementingkan kebahagiannya sendiri di atas penderitaan orang lain!"


"Cukup! Kau bilang memiliki cinta? Bahkan, kau sendiri tidak mengerti cinta!" Bella bicara dengan nada bergetar, dan mata yang basah.


Aku pun berdiri untuk melerai perdebatan mereka. Aku menarik lengan Bella. Tapi Bella menepis. "Biarkan saja wanita ini menghinaku sepuasnya, Ima. Sejak SMA, kami memang tak pernah akur!"


"Fania!" Bella mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Fania. "Kau hanyalah wanita yang hidup dengan caramu sendiri. Dan kau tidak tahu apa itu cinta."


"Aku tahu apa itu cinta. Buktinya, aku punya pacar!" jawab Fania yakin.


"Kau menjalin hubungan dengan pacarmu itu, bukan atas dasar cinta, kan? Tapi kau hanya ingin hidup bergantung kepadanya. Kau hanya membutuhkan materi darinya. Dan kau hanyalah wanita, yang rela menjual tubuhmu atas itu semua. Kau gadaikan ragamu demi membalas kebaikan pacarmu itu, kan? Bahkan, tidak ada cinta di antara kalian. Kalian bertindak atas dasar nafsu belaka. Justru, kau lebih hina dariku, Fania!"

__ADS_1


Plak! Tangan Fania melayang ke pipi Bella.


"Fania! Cukup!" Mas Bastian yang sedari tadi diam pun berdiri. Matanya menyala seperti ingin menelan orang. Dia menghampiri Fania, dan menatapnya dengan tajam.


Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Niat hati, aku hanya ingin mengenal Bella, tidak lebih. Tetapi Fania mengacaukan keadaan.


"Apa, Bas?" Fania membalas tatapan Bastian dengan berani. "Kau ingin membalas tamparanku terhadap Bella? Ayo, tamparlah! Tapi asal kau tahu! Justru kau sudah menampar hati Ima keras-keras! Ima mungkin terlihat kuat, tegar! Tapi dalam hatinya, dia sangat tersiksa dengan semua ini!"


Sungguh ... meskipun Fania tampak tidak memiliki etika yang baik. Namun yang dikatakan Fania memang benar. Aku tersiksa dengan semua ini.


"Apapun perkataanmu, kami akan tetap menikah!"


"Terserah, Bas! Itu pilihanmu! Aku hanya kasihan pada Imania. Kau sudah menyia-nyiakan wanita sempurna seperti Ima. Tuhan melihat, Dia mendengarkan doa-doa Imania. Dan kelak, kau akan menyesal atas perbuatanmu ini!"


Fania tiba-tiba melangkah dan mendorong Bella. Buk! Untung saja aku langsung menangkap tubuh Bella.


"Fania! Apa yang kau lakukan! Dia sedang hamil!" pekikku.


Fania semakin terkejut. Ia tertawa seraya berkata pada Bella. "Wah, kau sedang hamil rupanya. Hebat! Kau sangat berani mengambil keputusan untuk hamil. Namun, ingat! Selalu ada hukum karma dalam hidup ini! Ya, sudahlah! Aku pergi! Tadinya, aku hanya ingin numpang makan di sini. Tapi ... melihat wanita ini, mendadak aku kenyang sekali. Ha-ha?"


Fania pun pergi dari rumahku. Beberapa saat kemudian, Bella juga beranjak pergi. Disusul juga mas Bastian yang mengejar Bella. Kini, tinggal diriku di rumah ini. Aku duduk kembali. Sekarang, aku bebas menangis. Tidak ada orang lagi yang mendengar. Tidak ada yang melihat kerapuhan jiwaku. Aku bisa meluapkannya sekarang.


Semua perkataan yang terucap dari bibir Fania tentangku itu benar. Sesungguhnya aku tersiksa. Aku hanya berusaha menutupinya. Agar mas Bastian tidak terus menerus merasa bersalah kepadaku. Aku bilang aku sudah ikhlas. Ya, aku sudah merelakan hubungan mereka. Tapi tidak dipungkiri, masih ada nyeri setiap kali mengatakan, 'aku sudah ikhlas'.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuatku harus cepat-cepat menghapus air mata ini. Kubenahi lagi penampilanku, agar tiada terlihat bahwa aku sedang rapuh.


Aku pun membuka pintu itu. Seorang wanita yang sangat kuhormati sudah berdiri di depan pintu, bersama ayah dan Arka.


"Ima? Apa kau habis menangis?" tanya ibu mertua.


-- BERSAMBUNG --


____________________________________________


Readers Tersayang ....


Jangan lupa masuk grup chat bersama Author Keceh! Kalian bebas berkomunikasi dengan Author Keceh, ya?


Apa sih, keuntungan masuk grup?


Selain ngobrol, kita bisa sharing apapun di sana. Dan pastinya, kalian tidak akan ketinggalan info tentang karya-karya Author Keceh.


Author sudah tunjukkan caranya bergabung, ya? Ada di episode sebelumnya. Kuota terbatas, loh? Buruan masuk, Say!


Thank You ....

__ADS_1


__ADS_2