
Fania mengajak Arka untuk masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan aku, mas Bastian, Dimas, dan Rudi, masih berdiri di depan Giant Restauran.
Aku sedang berpikir, mengapa Rudi membuat status seperti ini? Apa maksudnya? Dimas mengambil kembali handphone itu dari tanganku. Kemudian kembali menatap Rudi dengan tajam.
"Rud, apa maksudmu!"
"Oh, Dimas. Apa kau belum mengerti juga?" Rudi mengangkat satu sudut bibirnya.
"Jangan berani macam-macam, Rud! Imania itu kekasihku. Kau janganlah berharap lebih!"
"Bas! Bisa tolong pegang ini sebentar?" Rudi melirik mas Bastian.
Mas Bastian pun menggantikan Rudi untuk memegang kue ulang tahun tersebut.
"Dimas ... Dimas. Kau sangat serakah!" Rudi memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celananya. "Kau sudah punya tunangan, terus memacari Imania juga? Apa kau ini tidak waras?"
"Rud! Aku akan membatalkan pertunangan itu. Jadi, kau tidak usah ikut campur!"
Rudi mengangkat satu sudut bibirnya, "Kau selalu mengatakan akan. Tetapi kau sendiri tidak pernah melakukannya, bukan? Aku tahu, kau tidak akan tega membatalkan pertunangan dengan Nessa. Kau harus mempertimbangkan baik-baik. Jika tidak, maka kau akan kehilangan sosok Nessa di dunia ini."
Aku memperhatikan mimik muka Dimas. Dia langsung terdiam saat Rudi berkata seperti itu. Menurutku, Rudi ada benarnya juga. Dimas hanya mengatakan akan membatalkan pertunangannya dengan Nessa. Akan tetapi, sampai sekarang, dia tidak pernah melakukannya. Lalu mengapa Rudi mengatakan, bahwa Dimas akan kehilangan Nessa dari dunia ini?
"Dimas, aku peringatkan padamu. Wanita itu memiliki perasaan. Mereka bukan boneka, yang kau permainkan semaumu. Mereka butuh kepastian. Jangan seenaknya mengambil dua hati dalam satu ruang. Selain serakah, itu egois namanya. Jangan kau gantung perasaan Imania dan Nessa. Pada akhirnya, kau juga hanya boleh memilih salah satu di antara mereka."
Aku mendengar setiap kalimat yang Rudi ucapkan pada Dimas. Ada benarnya juga. Mengapa selama ini aku tidak berpikir ke situ? Aku hanya menjalani hubungan dengan Dimas atas dasar rasa cinta. Padahal itu saja tidak cukup. Seharusnya aku juga tidak boleh egois. Bagaimanapun, Dimas dan Nessa masih berstatus sebagai tunangan. Jangan sampai status pelakor kembali tersandang padaku.
"Rudi! Kau tidak perlu terlalu ikut campur tentang urusanku. Tidak usah repot-repot untuk mengurusiku. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
"Jika kau tahu apa yang harus kau lakukan, mengapa kau diam saja? Kau harus cepat memutuskan pilihan."
"Aku sudah memutuskan pilihan. Dan aku hanya memilih Imania!"
"Lalu kenapa tidak bisa memutuskan Nessa? Apa kau takut kehilangannya?"
Pertanyaan Rudi membuat Dimas bungkam. Dimas tampak bingung untuk menjawabnya. Ini membuat batinku meronta. Apakah ... Dimas sebenarnya takut kehilangan Nessa? Aku tidak bisa terus bersabar menunggu keputusan Dimas yang menggantung.
"Dimas, jika kau tidak bergerak cepat. Aku akan mengambil Imania darimu, ha-ha ...!"
Rudi pun masuk kembali ke restorannya. Sedangkan aku, Dimas, dan mas Bastian masih berdiri di depan Giant Restauran.
"Nia, jangan terpengaruh oleh Rudi, ya?" ucap Dimas padaku.
"Aku mau pulang," kataku seraya beranjak, mencoba untuk tidak menanggapi perkataan Dimas.
Dimas menahan lenganku. "Nia, kumohon ... dengarkan aku. Jangan terpengaruh ucapan Rudi!"
Aku berbalik menatapnya seraya tersenyum tipis. "Di, kau tidak perlu khawatir. Aku bukanlah orang yang mudah terpengaruh."
"Syukurlah," ucap Dimas kemudian melepaskan tangannya dari lenganku.
"Namun, aku selalu mempertimbangkan saran dari orang lain," ucapku lagi.
Aku pun beranjak menuju ke mobil bersama mas Bastian.
"Nia!" seru Dimas tanpa beranjak dari tempatnya.
Aku pun masuk ke dalam mobil.
"Bastian!" panggil Dimas pada mas Bastian yang baru saja meletakkan kue ulang tahun Arka ke dalam mobil.
Mas Bastian pun menoleh ke arah Dimas. "Apa lagi!" tanya mas Bastian dingin.
"Mengapa kau pergi dengan Imania?"
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu!"
Dimas pun mendekat kepada mas Bastian. "Kau tidak berusaha untuk rujuk, bukan?"
"Itu juga bukan urusanmu!"
Mimik muka Dimas berubah emosi. Ia langsung mencekal kerah di leher mas Bastian. "Jangan macam-macam, Bas! Aku bisa menghabisimu!"
Aku memperhatikan mereka berdua dari dalam mobil. Mas Bastian tampak mencekal pergelangan tangan Dimas, lalu melepas tangan Dimas dari kerahnya.
"Kau ini lamban! Jika tidak bisa bergerak cepat, bukan hanya Rudi yang akan mengambil Imania darimu. Bahkan, aku juga bisa mengambilnya kembali darimu!"
Mas Bastian pun segera masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Dimas yang terpaku di tempatnya berdiri. Aku melihat wajah Dimas yang tampak dilema. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Mas Bastian pun segera menyalakan mobil, kemudian melajukan mobil tersebut.
"Imania, ada apa dengan Dimas? Dia kenapa marah-marah tadi?" tanya Fania yang duduk di sebelah mas Bastian.
Aku pun menceritakan kejadian tadi kepada Fania.
"Oh ... jadi, Dimas langsung menemui Rudi setelah melihat status Rudi? Oh, so sweet?" kata Fania.
"So sweet apanya?" tanyaku heran.
"Ya, so sweet. Itu berarti Dimas cemburu pada Rudi."
"Akan tetapi, kata-kata Rudi ada benarnya juga. Dimas masih menjadi tunangan resmi Nessa. Dan dia menggantung hubungannya denganku," pikirku.
"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu? Dimas hanya ingin mempermainkanmu saja." Mas Bastian tiba-tiba bicara.
"Hei, Bastian! Kau juga sudah mempermainkan Imania, loh? Catat itu!!" ucap Fania pada mas Bastian.
Di tengah perjalanan, Fania dan Bastian saling berdebat. Entah mereka sedang membahas apa. Pikiranku tiba-tiba terus terfokus pada ucapan Rudi. Walau bagaimanapun, perkataan Rudi ada benarnya. Mengapa aku menjadi dilema juga?
Kami pun segera beristirahat.
***
Malam harinya, di saat Fania dan Arka sudah terlelap, Dimas mengirimiku pesan.
[Nia, kau sedang apa?]
Aku hanya membacanya, tapi tidak membalasnya. Setelah lima menit, satu pesan kembali masuk.
[Aku tahu, kau pasti masih memikirkan perkataan Rudi tadi siang.]
Ya, aku masih memikirkan perihal itu.
[Aku tahu, seharusnya aku langsung membatalkan pertunangan dengan Nessa. Akan tetapi ... ada satu hal yang membuatku harus menahannya. Andai kau mengetahui itu, apa kau masih tetap sedia bersamaku?]
Deg! Ada sesuatu yang masuk ke dadaku. Ada sebuah rasa penasaran yang menggerogoti benak. Apa yang Dimas sembunyikan dariku?
Tiba-tiba handphone-ku berdering. Namun, aku tidak mengangkatnya. Kubiarkan panggilan itu berbunyi berkali-kali. Hingga dering tersebut pun berhenti.
Jika kalian tahu rasanya menjadi aku. Memiliki hubungan yang masih digantung keseriusannya. Itu menyesakkan. Namun, aku tahu. Bukan berarti Dimas tidak serius menjalin hubungan denganku. Aku tahu dia sangat mencintaiku. Aku tahu dia ingin menikah denganku. Namun, Dimas masih memberi harapan indah yang tak jelas kapan dipenuhinya.
[Nia, jika kau tidak mengangkat teleponku, maka aku akan nekad ke situ!] ancamnya.
Usai membaca pesan tersebut, handphone-ku kembali berdering. Dan aku harus mengangkatnya.
"Halo." Suara di seberang telepon.
"Halo," jawabku.
__ADS_1
"Apa kau marah?"
"Kenapa aku marah?" Aku balik bertanya.
"Syukurlah, kalau tidak."
"Iya."
"Nia, aku akan segera memutuskan pertunangan dengan Nessa. Namun, tidak sekarang. Aku harus melakukannya pelan-pelan."
"Tidak apa-apa. Santai saja," balasku seraya menahan rasa sesak di dada.
"Nia, aku tidak bisa membiarkanmu dilema. Aku serius ingin menikahimu."
Aku menghela napas panjang. "Bukannya kau yang dilema?"
"Aku tidak dilema. Aku hanya sedang menunggu waktu yang paling tepat. Kumohon ... mengertilah."
"Baiklah. Aku selalu memahamimu." Aku berusaha untuk menahan rasa perih di dada.
"Nia, nada bicaramu terdengar sedih. Sungguh ... aku tidak akan mengecewakanmu."
"Aku percaya."
Terdengar embusan napas kasar. "Jika percaya, maka kau harus membuang jauh-jauh hasutan Rudi."
Mendengar Dimas berkata seperti itu, membuatku tertawa kecil. Tawa datar tanpa makna bahagia. "Siapa yang terkena hasut?"
"Nia, aku ingin menemuimu sekarang!"
"Ini sudah hampir pukul sebelas. Sudah terlalu larut!"
"Aku tidak bisa tidur nyenyak bila kau terus begini!"
"Aku baik-baik saja. Dan aku sama sekali tidak terhasut. Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal itu."
"Aku tetap ingin menemuimu!"
"Tidak bisa! Aku ngantuk. Aku mau tidur!"
Tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk jendela kamarku.
"Dimas, halo!"
"Cepat buka jendela!"
Ya, Tuhan! Apa ... apa Dimas ....
"Dimas! Apa kau meneleponku sembari menuju ke sini?"
"Iya," jawabnya.
Jendela itu kembali diketuknya. Aku pun segera beranjak dan menyingkap gorden jendela. Benar saja! Dimas sudah berdiri di luar jendela tersebut.
"Apa kau gila?" kataku yang masih berbicara lirih di telepon.
"Aku ingin tidur bersamamu."
"Dimas, jangan sembarangan!"
"Cepat buka jendelanya!"
-- BERSAMBUNG --
__ADS_1
_____________________________________________