
Pagi kembali menyapa, dengan sinar mentari yang memaksa masuk menerobos gorden jendela kamar. Samar-samar kelopak mataku terbuka untuk melirik beker yang berdetik di atas meja.
Waktu menunjukkan pukul setengah delapan. Hm ... aku bangun terlalu siang. Itu karena semalaman habis berjuang dan bersikeras tertidur pulas dengan suara musik yang memekakkan telinga. Untung di rumah ini, kedua orang tuaku tidak terlalu mempermasalahkan kebisingan dari kamar kami.
Kutolehkan kepala ke samping. Mataku terkejut tak mendapati ada Fania. Di mana dia? Bukankah dia bilang, sekertaris Ve akan menjemputnya untuk tinggal bersamanya? Apa ... sekertaris Ve sudah menjemputnya pagi-pagi sekali? Tapi kenapa tidak pamit padaku?
Sontak kubangunkan tubuh, mataku menerawang seisi kamar. Akan tetapi ... barang-barang Fania masih ada. Di manakah dia? Biasanya juga, jam segini dia masih tidur. Aku pun beranjak dari tempat tidur, melangkah keluar dari kamar.
"Ima, sudah bangun?" Ibu yang sedang menyapu lantai bertanya padaku.
Tiba-tiba hidungku mencium bau masakan gosong dari arah dapur. "Bu, apa Ibu melupakan sesuatu?"
"Melupakan apa maksudmu, Nak?"
"Bau gosong."
Ibu pun mengendus bau tersebut. "Wah, iya. Ha-ha."
"Loh, kenapa tertawa?" tanyaku heran. Seharusnya ibu bergegas menuju dapur untuk mengecek sesuatu yang gosong.
Ibu masih tertawa dan berkata, "Coba kau saja yang cek, sana! Ibu mau melanjutkan menyapu dulu."
Buru-buru aku melangkah ke dapur. Dan betapa terkejutnya melihat Fania yang tengah berdiri di depan kompor, dengan celemek melekat di tubuhnya.
"Fania!" seruku melihat Fania yang tengah sibuk mengangkat sesuatu dari penggorengan.
Fania meletakkannya di piring, kemudian mematikan kompor. Ia pun menoleh padaku yang tengah menghampirinya. "He-he. Pagi, sahabatku tersayang," sapanya sembari meringis.
Sampai di samping Fania berdiri, aku meraih piring berisi sesuatu yang gosong itu. Aku memperhatikan makanan yang gosong itu seksama. "Ini ... daging ayam?" tanyaku.
Fania melipat bibirnya, lalu kembali meringis. "Hanya satu, kok, yang gosong. Yang lainnya aman, sempurna," katanya sembari mengangkat tangan kanannya dan menyatukan telunjuk dengan ibu jarinya ke hadapanku.
"Di mana yang lainnya?" tanyaku.
Fania melirik ke arah meja makan. Aku pun beranjak menuju meja. Aku tidak tahu harus bagaimana berekspresi, antara geli atau sedih.
__ADS_1
"Yang ini biar dibuang saja, ya? Mari kita makan. Semuanya sudah siap," ucap Fania sembari melangkah menuju tong sampah untuk membuang daging yang gosong tadi.
Aku masih geleng-geleng kepala melihat hasil kreasi masakan Fania. Aku menatap daging ayam yang teronggok malang di atas piring. Ayam kecap buatan Fania yang begitu spesial. Karena ini adalah pertama kalinya aku mendapati Fania memasak. Dia pernah bilang, bahwa dirinya sering memasak dulunya. Akan tetapi, melihat hasil masakannya hari ini, jujur ... aku meragukannya.
Lebih geleng-geleng kepala lagi saat aku membalik ayam kecap buatan Fania. Bagian bawahnya gosong semua. Pasti Fania sengaja menatanya seperti ini agar tidak kelihatan.
"Wah, sudah siap makanannya, Fan?" tanya ibu yang berjalan menuju meja makan. Ayah mengekor di belakangnya.
"Sudah, Bibi," jawab Fania yang tengah mencuci tangan, lalu melepaskan celemek dari tubuhnya.
Aku melangkah menuju wastafel. Membasuh wajah karena sejak bangun tidur, aku belum sempat mencuci muka. Lalu aku mencuci tangan dan bergabung bersama mereka di meja makan. Ibu dan ayah saling memandang, mendapati sajian pagi hari ini. Aku tertawa geli saat kembali melihat ayam kecap tersebut. Disusul tawa ibu dan ayahku.
"Fania-Fania. Usiamu sudah cukup dewasa, tetapi memasak tahu ini pun gosong," ucap ibu geleng-geleng sembari mengangkat sepotong tahu dari piring.
Aku mengalihkan pandangan ke arah piring berisi tahu. Benar saja, tahunya pun sedikit gosong.
"Tidak apa-apa. Fania sudah berusaha menyenangkan hati kita. Jadi, mari kita santap bersama hasil masakan Fania yang sangat spesial ini dengan senang hati. Lagipula ini juga hari terakhir Fania tinggal di sini, bukan?" tutur ayah sembari mengambil nasi dan lauknya.
"Wah, Paman, aku jadi terharu," ucap Fania senang.
"Ayah sudah tahu kalau Fania akan pergi dari sini?" tanyaku.
Sebenarnya ada rasa sedih. Kami sudah biasa tinggal bersama dan hari ini salah satu dari kami akan berpindah. Meskipun Fania berawal dari orang asing yang tiba-tiba tinggal di sini, tetapi lambat laun, dia sudah seperti bagian dari keluarga kami. Kami sudah sangat menyayanginya. Padahal Fania hanya berpindah tempat tinggal, bukan untuk berpisah, tapi rasanya sama saja, sedih.
"Baiklah, mari kita kenang hari ini sebagai hari termanis dengan ayam kecap manis ini!" ucapku semangat sembari menaruh sepotong ayam kecap ke piring.
"Aku bahagia dan sangat nyaman tinggal di sini. Terima kasih banyak telah menerimaku dengan sangat baik, Paman, Bibi." Fania tersenyum dengan kedua bola mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Nak. Kami akan sangat merindukanmu. Kami juga akan sangat bahagia bila kau sudi mengunjungi kami sewaktu-waktu," ucap ibu lembut.
"Itu pasti, Bibi."
Kami pun memulai sarapan dengan berdoa. Saat pertama kali menggigit ayam kecap tersebut, lidahku bergetar. Bahkan rasanya tidak sesuai dengan namanya 'ayam kecap manis'. Ini justru terasa sedikit pahit. Namun, ada tumis kangkung yang terasa lezat.
"Fania, tumis kangkungnya enak. Sepertinya ... kau masih ada bakat memasak," pujiku.
__ADS_1
"Yang itu masakanku," sahut ibu.
"Oh, pantas," gumamku.
Kami pun makan bersama dengan canda dan tawa. Meski rasanya tidak enak, tapi kami tetap berusaha menyantapnya dengan senang hati. Suasana makan menjadi begitu hangat.
Sebuah hikmah yang sangat berharga, bahwa seenak-enaknya hidangan adalah makanan yang disantap dengan rasa keharmonisan. Seburuk apapun hidangan tersebut, bila disertai ketulusan dan cinta, maka cita rasa pun akan tertutupi oleh cita kasih sayang. (Thamie AK)
***
Pukul satu siang, sekertaris Ve menjemput Fania. Kami semua sudah berkumpul di teras. Fania sudah siap dengan kopernya untuk pindah. Fania pun berpamitan kepada kami. Kupeluk Fania erat-erat, mengiaskan perasaan sedih harus berpisah tempat tinggal darinya.
"Aku menyayangimu," ucapku.
"Aku juga."
"Aku akan merindukanmu."
"Aku juga."
"Aih, terlalu lebay kalian. Fania hanya berpindah tempat tinggal, bukan untuk pergi ke luar negeri," cetus sekertaris Ve.
Kami pun melepaskan pelukan. Kemudian Fania berganti memeluk ayahku.
"Paman, jaga kesehatanmu, ya?"
"Kau juga." Ayah membalas pelukan Fania. "Fania, kau boleh menganggap paman dan bibi sebagai orang tuamu sendiri. Kau boleh melupakan kami saat bahagia, tapi kau jangan melupakan kami saat bersedih. Kami selalu siap memberikan kasih sayang, sebagaimana cinta orang tua kepada anaknya," tutur ayah.
"Bagaimana mungkin aku akan melupakan kalian. Aku akan berusaha mengingat kalian dalam suka maupun duka," tukas Fania kemudian melepaskan pelukannya.
Kini giliran ibuku. Fania memeluk ibuku sangat erat. "Bibi, aku menyayangimu."
"Bibi juga sangat sayang padamu. Bibi pasti akan sangat merindukanmu beserta masakanmu," celoteh ibuku yang membuat kami tertawa geli.
Akhirnya, Fania pun pergi bersama sekertaris Ve. Semoga gadis alien itu betah dan nyaman tinggal bersama sekertaris Ve. Semoga mereka berdua bisa akur dan harmonis.
__ADS_1
Keluarga itu tidak harus berhubungan darah. Cukup tinggal dan menetap bersama. Jika saat kepergiannya ada rasa rindu untuk melepas. Itu berarti, ada kenangan yang cukup berarti bersamanya. Dan itu artinya dia telah menjadi bagian. (Thamie AK)
-- BERSAMBUNG --