BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Lagu Favorit Gadis Alien


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumahku, Fania terus saja menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan.


"Apa kau benar-benar akan berpisah dengan Bastian?"


"Ya," jawabku.


"Lalu kenapa kau yang pergi dari rumah itu? Harusnya kau tetap di sana, dan Bastian yang pergi!"


"Aku tidak mau berkubang dalam masa lalu. Rumah itu menyimpan banyak sekali kenangan. Aku ingin melupakannya."


"Itu berarti, kau akan tinggal di rumah orang tuamu?"


Aku mengangguk pelan.


"Yah, aku tidak bisa bebas lagi, donk!"


"Sejak kapan kau berpikir untuk bersikap tidak bebas?"


"Apa orang tuamu baik?" Fania balik bertanya.


"Mereka sangat galak!"


"Benarkah?" Fania sepertinya terkejut. Aku tidak menyangka dia memiliki rasa rikuh terhadap orang lain. Kupikir, dia gadis alien yang sangat cuek terhadap sopan santun.


"Kapan kalian akan bercerai?"


"Setelah proses sidang selesai!"


"Sudah sidang?"


"Belum," jawabku.


Fania tertawa mendengar jawabanku.


"Apa ada yang lucu?"


"Tidak! Bahkan, kalian belum mendaftarkan perceraian kalian. Dan kau sudah keluar dari rumah itu?"


"Memangnya kenapa?"


"Kau terlihat sangat buru-buru!"


"Aku hanya ... tidak ingin mas Bastian menahanku."


"Dia menahanmu?"


"Hm ...."


"Imania! Ceritakan segalanya padaku. Sekarang!"


"Nanti saja, di rumah."


"Oh, baiklah. Apa di rumahmu ada makanan?"

__ADS_1


"Apa di otakmu hanya ada makanan?"


"Aku punya sebuah lagu yang pas sekali untukmu saat ini! Biar kuputarkan untukmu!" katanya dengan girang. "Ini juga salah satu lagu favoritku, Imania!"


Aku tidak menyangka, gadis alien sepertinya memiliki sebuah lagu favorit. Ternyata ... dia benar-benar masih memiliki sisi yang lembut. Selagi Fania menyetel tape di mobilnya dan memilih lagu yang akan diputar. Sesaat aku mengamatinya sembari tersenyum. Aku ingin tahu, lagu apa yang akan diputarnya untukku.


Aku menunggunya dengan penasaran. Kemudian Ia langsung menyetel sebuah lagu yang sangat memekakkan telinga. Lagu itu berisik sekali. Tidak ada yang bisa kunikmati dari lagu tersebut. Bahkan, aku sangat tidak tertarik untuk mendengarkannya.


Fania pun ikut menyanyikan lagu tersebut dengan gaya metal. Sambil terus menyetir, ia bernyanyi, membuat gendang telingaku serasa mau pecah. Aku pun menutup telinga dengan kedua tanganku.


"Push your care! Push your burdens aside!" Fania bernyanyi mengikuti lagu tersebut sembari berteriak-teriak.


"Erase everything inside!" Dia bernyanyi sambil memutar-mutar kepalanya. Membuat rambut jagung itu terkibas-kibas.


"Hei! Kau mau membunuhku, ya! Hentikan! Hentikan musik itu!" teriakku. Tapi Fania tak menggubris perkataanku.


"And leave just one thing on your mind!" teriaknya lagi.


"Oh, my God! Fania, please! Hentikan!"


"You only live once! So, just go fucking nuts!" Fania masih terus bernyanyi dengan gayanya yang konyol sekali. Tiga jarinya, membentuk gaya metal.


"Live life hard! Live life hard! You only get one shot!"


Oh, kurasa gadis alien ini benar-benar tidak waras. Aku pun segera mematikan tape tersebut. Fania pun mengerem mobilnya mendadak.


"Hey, kenapa dimatikan?"


"Padahal lagu ini sangat bagus!" katanya lagi.


"Bagus dari mananya? Gendang telingaku serasa mau pecah!"


"Padahal aku ingin menghibur hatimu."


"Kalau begitu, lebih baik tidak usah menghiburku!"


"Lagu ini paling pas didengarkan saat sedang galau atau putus asa. Aku juga sering memutarnya kalau sedang bad mood," paparnya.


Tiba-tiba Fania meraih tape tersebut lagi. Sontak langsung kutepis tangannya. Aku menatapnya tajam.


"Jangan putar lagu itu lagi!" larangku.


Fania pun menjalankan mobilnya kembali. Dan ia kembali bernyanyi. "Live life hard! Live life hard! You only get one shot!"


Oh, ya ampun? Dia benar-benar seperti alien. Fania pun tertawa melihat ekspresi wajahku.


Kami pun sampai di rumah orang tuaku. Aku mengambil kunci dari tasku. Kemudian membuka pintu tersebut. Fania pun mengikutiku masuk.


"Ini rumah orang tuamu?" tanyanya. Matanya menyelidiki setiap sudut ruangan. "Ini terlihat nyaman."


Ia pun mengambil duduk di sofa, kemudian membaringkan tubuhnya. Dan ia naikkan kakinya ke atas sofa. Aku tertawa sendiri melihat kelakuannya. Dia ini titisan alien atau anak Tarzan, sih?


Aku pun menuju kamar untuk meletakkan koper. Tiba-tiba Fania masuk dan melempar tubuhnya ke kasur. Aku membiarkan saja.

__ADS_1


"Imania! Rumah ini sederhana, tapi nyaman!" katanya.


"Kupikir, kau akan bersikap sedikit baik di sini!"


"Memangnya kenapa?"


"Tidak apa. Anggap saja rumah sendiri," kataku.


"Kalau begitu, aku ingin makan. Aku lapar sekali!"


Aku tersenyum mendengarnya. Aku pun keluar dari kamar.


"Hei! Kau mau ke mana?"


"Bukankah kau bilang bahwa kau lapar?"


Dia pun tersenyum senang. "Aku akan menunggu di sini! Setelah matang cepat panggil aku, ya?" katanya seraya bermain handphone. Ia menyetel musik yang tadi melalui handphone-nya. Ia pun ikut menyanyikan lagu tersebut.


Aku kembali tertawa melihat kelakuannya. Dia seolah menjalani hidupnya tanpa beban. Ia selalu ceria dan tidak suka ambil pusing. Dia melakukan segala sesuatunya dengan sangat santai. Sangat berbeda denganku.


Aku menuju dapur. Kuambil beberapa bahan makanan dari kulkas. Dan aku pun mulai memasak. Setelah setengah jam. Semua masakanpun matang. Aku segera memanggil Fania yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur.


"Fania? Cepatlah! Semua sudah matang!"


"Siap, Bos!" jawabnya cepat.


Fania pun berlari menuju meja makan. Ia sangat senang melihat apa yang kumasak. Ayam goreng, lengkap dengan lalapan sudah tersaji di atas meja. Fania pun segera menyantapnya. Aku menemaninya makan.


"Imania! Kau berhutang cerita padaku!"


"Apa?"


"Tadi kau bilang, Bastian menahanmu!"


"Oh, itu ...."


Aku pun menceritakan segala yang terjadi pada Fania. Meskipun kadang-kadang menyebalkan. Tapi ... menurutku dia pendengar yang sangat baik. Sedari tadi ia mendengarkanku bercerita, sembari menyantap makanannya.


"Aku sudah bercerita. Sekarang apa pendapatmu?" Aku bertanya kepada Fania yang masih menyantap makanan bak orang kelaparan.


"Ayamnya enak!"


Aku mendengkus kesal. Kupikir dia punya sisi yang akan membuatku terkesan. Ternyata tidak. Aku juga tidak tahu, apakah ceritaku yang panjang kali lebar tadi, tertangkap di pendengarannya. Ah, sudahlah! Lagi pula aku hanya iseng memintainya pendapat.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Note : Lagu Favorit Fania berjudul YOU ONLY LIVE ONCE. Lagu yang dibawakan oleh SUICIDE SILENT. Band Deathcore Amerika dari Riverside, California.


Coba, deh! Kalian search sebentar di YouTube. Cari lagu yang Fania nyanyikan tersebut. Terus stel dan bayangkan Fania yang menyanyikannya tadi. Agar kalian lebih dapat feel lucunya Fania.


Oke, Thank You ...!

__ADS_1


__ADS_2