
"Terserah kamu, Mas ...," ucapku seraya menunduk.
"Jangan terserah aku. Ini berkaitan dengan masa depan kita," katanya sembari meremas tanganku.
"Aku tidak bisa memaksa siapapun. Aku tak bisa menyalahkan cinta. Cinta hanya bekerja atas dasar perasaan. Jadi ... malam ini ... aku--" Aku kembali terisak, bibirku terus bergetar.
Mas Bastian menyadari kepedihan hatiku. Ia pun menunduk di pangkuanku. "Aku yang salah. Aku yang salah. Seharusnya, aku tak membiarkanmu masuk ke dalam kehidupanku. Aku lelaki pecundang! Aku seperti membawamu ke dalam lubang neraka. Maafkan aku ... maafkan aku ...."
"Mas ...," ucapku lirih seraya mengangkat kepalanya dari pangkuanku. Ia pun menatap kembali kedua netra ini. "Tolong ... ceraikan aku malam ini juga!"
Mas Bastian terisak. Bibirnya bergetar. Tangannya gemetar. Mas Bastian menatapku dengan bola mata yang basah. "Malam ini ...."
Aku menggenggam tangannya erat. "Aku tidak apa-apa, Mas ... katakan saja!" ucapku meyakinkan.
Ia berusaha menarik napas itu dalam-dalam. Lalu perlahan ia keluarkan. Sebentar ia menunduk, seperti sedang mengambil keyakinan pada benaknya. Ia pun kembali mengangkat pandangannya yang basah. Bibir itu mulai terbuka. Napasku tertahan saat ia pun mulai mengatakan hal itu. Hal terakhir sebagai batas hubungan kami.
"Imania Saraswati!" Ia berusaha sedikit tegas, dengan mata berkaca-kaca. "Malam ini, aku, Muhammad Bastian, menjatuhkan talak tiga kepadamu!"
Isak tangis pun meluluh lantakkan suara malam. Kami saling berpelukan erat sekali, dengan air mata yang membanjir di sekujur tubuh. Tiada lagi penyesalan, tiada laki rasa terpaksa. Di dalam hubungan cinta yang sesungguhnya adalah ketulusan dan keikhlasan.
"Mas ...."
Kami pun saling melepaskan pelukan. Mas Bastian masih duduk bersimpuh di hadapanku.
"Aku, Imania Saraswati! Dengan sadar dan ikhlas hati. Telah mengikhlaskan Muhammad Bastian, suamiku. Untuk menggapai masa depannya kembali. Dan pergi dari kehidupanku." kataku berusaha terlihat tegar. Kulukiskan seuntai senyum dengan ikhlas kepadanya.
Mas Bastian pun membalas senyumanku. "Aku doakan, masa depanmu lebih baik dariku. Aku akan mengenangmu, sebagai sosok wanita paling tegar dan kuat!"
"Kau juga! Harus bahagia dengan wanita pilihanmu!" ucapku seraya menepuk pundaknya.
"Imania ... izinkan aku untuk mencium telapak kakimu, sekali saja!"
"Mas ... itu tidak perlu."
"Kumohon ... agar aku bisa tenang menjalani kehidupan tanpamu. Aku tidak bisa melanjutkan masa depan dengan terus berpakaian dosa seperti ini. Kumohon ... sekali saja ...."
"Itu hanya pantas kau lakukan pada ibumu, Mas ...."
"Katanya, surga berada di telapak kaki seorang ibu. Kau juga adalah wanita. Ibu dari anakku. Aku tidak akan bisa tenang, tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Oleh sebab itu ... izinkanlah diriku mencium telapak kakimu sekali saja!"
Akhirnya aku pun mengangguk. Mas Bastian tersenyum, lalu meraih kedua telapak kakiku. Ia menundukkan kepalanya, kemudian mencium telapak kakiku sembari terisak lagi. Sungguh ... malam ini terasa seperti mimpi. Kami mengakhiri hubungan dengan cara yang damai.
***
Pagi harinya, aku masih bangun lebih awal seperti biasanya. Aku menganggap ini adalah hari terakhirku menjadi seorang istri bagi mas Bastian. Meskipun kami telah bercerai secara agama. Namun, kami belum resmi bercerai secara hukum.
"Pagi, Sayang ...."
Suara mas Bastian mengagetkanku yang sedang memasak. Aku pun menoleh ke arahnya.
"Kenapa kaget? Kau melamun, ya?" tanya mas Bastian seraya mendekatiku.
"Kok, masih manggil 'sayang'?" ucapku lalu kembali memasak.
Mas Bastian tersenyum. Ia mengendus aroma SOP buntut yang sedang kubuat.
"Hm ... baunya enak sekali," katanya. "Di atas meja sudah ada banyak menu. Kau masak banyak sekali hari ini?"
__ADS_1
"Aku ingin menghabiskan masa-masa terakhirku sebagai istrimu."
Mas Bastian terhenyak menatapku. "Terima kasih ... Imania."
Aku tersenyum padanya. "Ayo, makan! Nanti telat, loh ke kantornya."
Kumatikan kompor. Mas Bastian duduk berhadapan denganku di meja makan. Aku mengambilkan nasi, tumis kangkung, ayam goreng, dan tempe.
"Selamat makan?" ucapku seraya tersenyum.
"Selamat makan ...." Dia pun membalas senyumku.
Suasana menjadi hening. Kami makan tanpa mengobrol sama sekali. Mas Bastian hanya memandangiku sesekali. Beban di hatiku sudah kubuang pelan-pelan semalam. Aku sudah memutuskan masa depanku selanjutnya. Dan mas Bastian sudah memilih masa depannya. Sudah tidak ada masalah lagi sekarang. Karena aku sudah ikhlas.
Usai makan, mas Bastian pamit untuk bekerja. Layaknya seorang istri, aku pun mencium punggung tangannya.
"Mas berangkat, dulu, ya?" katanya.
"Mas."
"Iya ...."
"Kapan kau memperkenalkan pacarmu padaku?"
Mas Bastian sepertinya kaget mendengar ucapannya. "Apa kau serius ingin bertemu dengan pacarku?"
Aku mengangguk. "Sebentar lagi, kita akan bercerai. Jadi, tidak ada salahnya aku mengenalnya, bukan?"
"Besok hari Minggu, aku libur. Jika kau bersungguh-sungguh ingin mengenalnya. Aku akan membawanya ke sini."
"Tidak masalah," jawabku seraya mengulum senyum.
***
Sorenya, aku akan pergi ke taman, sekadar me-refresh diri. Dan saat aku dan Arka sudah bersiap untuk pergi. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman rumahku. Seorang wanita berambut pirang dengan pakaian seksi itu turun dari mobil tersebut.
"Hai, Imania?" sapanya seraya tersenyum. Ia berjalan mendekat kepada kami yang berdiri memandangnya. "Hai, Arka?" sapanya seraya membungkukkan tubuhnya, dan mengulum senyum. Disentuhnya puncak kepala Arka lembut.
"Hai, Tante ...," balas Arka.
"Kalian mau ke mana?"
"Aku mau pergi, mencari udara segar," jawabku.
"Apa udara di rumahmu tidak segar?"
"Tidak, karena ada dirimu!"
"Ck! Padahal aku mau berkunjung," katanya seraya memanyunkan bibirnya.
"Aku sibuk. Tidak bisa. Pulanglah!"
"Ck! Kau selalu saja judes padaku!" Ia pun mengalihkan pandangannya pada Arka. "Arka, kita main di rumahmu, yuk? Tante punya puzzle dengan susunan baru, loh?"
Arka memandang Fania gembira. "Benarkah?"
Fania pun berlari ke mobilnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana. Lalu membawanya ke pada Arka. "Ini!" Fania menyodorkan satu set puzzle tersebut pada Arka.
__ADS_1
"Wow! Ini Bordrillscrew Creative Puzzle edisi terbaru tahun ini!" kata Arka seraya memegang set puzzle yang masih tersegel tersebut.
"Itu untukmu!" kata Fania.
"Terima kasih, Tante ...," ucap Arka gembira. "Ma, Arka mau main di rumah saja!"
Aku menghela napas. "Ya, baiklah."
Aku pun beranjak membuka pintu. Kami masuk ke dalam rumah. Fania dan Arka bermain di ruang keluarga. Aku pun duduk di sofa mengamati wanita berambut pirang tersebut. Ia tampak manis saat bermain bersama Arka. Anehnya, mengapa dia terus menerus menemuiku? Apa jangan-jangan ... dia adalah wanita yang akan mas Bastian bawa ke sini besok? Tapi ... masak iya Fania, sih ....
"Hei!" Fania tiba-tiba sudah berdiri di depanku seraya berkacak pinggang. "Kenapa kau terus memperhatikanku seperti itu?"
"Siapa yang memperhatikanmu, PD sekali!"
Fania menurunkan kedua tangan itu dari pinggangnya. Ia lalu membungkuk dan berbisik di telingaku. "Apa kau menyukaiku?"
Sontak aku berdiri. "Apa kau sudah tidak waras?"
Dia pun tertawa. "Ambilkan aku snack dan juice, please ...."
"Tidak ada!"
"Ya, sudah, akan kuambil sendiri!" Ia pun beranjak, tapi langsung kutahan lengannya.
"Biar aku saja!"
Aku pun pergi ke dapur untuk mengambil beberapa snack dan juice untuk Fania dan Arka. Lalu membawanya ke ruang keluarga. Usai bermain, Fania dan Arka memakan snack tersebut. Aku memperhatikan Fania yang begitu bebas di rumah ini. Sikapnya tampak seperti anak-anak. Padahal gayanya terlihat seperti wanita dewasa.
"Apa kau Alien?" tanyaku tiba-tiba.
"Adakah Alien secantik aku?"
"Sikapmu sama sekali tidak bertata krama."
"Aku tidak peduli dengan tata krama."
"Aku heran, bagaimana pacarmu bisa memacarimu?"
"Aku lapar!" katanya lalu berjalan menuju dapur.
"Hei!" panggilku tapi dia tetap berjalan. Jadi aku pun mengejarnya.
"Wow! Banyak makanan rupanya!" ucap Fania setelah membuka penutup saji di meja makan.
Aku hanya diam memperhatikannya. Wanita itu pun mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Lalu duduk di kursi makan.
"Apa kau ingin menemaniku makan?" tanyanya, lalu menyuapi mulutnya dengan semangat.
Aku pun duduk berhadapan dengannya. Aku hanya diam memperhatikan caranya makan. Piring tersebut sudah kosong, lalu ia mengisinya kembali dengan nasi dan lauk pauk. Aku mengamatinya, apa dia tidak makan selama seminggu? Nafsu makannya banyak sekali. Atau, jangan-jangan benar dugaanku bahwa dia adalah wanita simpanannya mas Bastian.
"Fania?"
"Hm ... apa? Ini enak! Semua masakanmu sangat enak!" katanya seraya mengunyah makanan di mulutnya.
"Apa kau sedang hamil?"
Uhuk! Fania tersedak, makanan yang memenuhi mulutnya pun tersembur keluar. Ia menatapku terbelalak.
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --