BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Selamat Jalan Nessa


__ADS_3

Dimas langsung membawa Nessa ke ruang ICU. Aku hanya dapat mengintipnya dari luar celah kecil yang ada di pintu. Kini ... Nessa tengah berjuang melawan masa kritisnya lagi. Beberapa alat bantu telah terpasang di tubuhnya.


Entah mengapa ... rasanya aku sangat kasihan terhadap Nessa. Usia dua puluh lima? Bukankah usianya sama denganku? Itu berarti ... ini adalah detik-detik terakhir kesempatan hidupnya.


Melihat ketakutan Dimas tadi dan betapa gemetarnya tubuh Dimas saat menggendong Nessa yang tak sadarkan diri, itu cukup membuktikan, bahwa meskipun Dimas tak mencintai Nessa, tapi ... dia sangat peduli dan sayang terhadapnya.


Sebenarnya ... aku paham betapa sulit posisi Dimas terhadap Nessa. Dia dokter spesialis yang menangani Nessa. Dimas tahu seperti apa harapan hidup Nessa yang semakin mengecil. Mungkin, itu sebabnya Dimas tidak tega meninggalkannya. Karena pada akhirnya ... Nessalah yang akan pergi dengan sendirinya.


***


Tidak lama, setelah Dimas mengabarkan keadaan Nessa, Papa dan Mama Nessa datang ke rumah sakit. Mereka kembali terpukul atas kondisi putrinya tersebut. Mereka pun saling menemani Nessa yang tengah melawan arus kehidupan.


Papa dan Mama Nessa terus mencucurkan air mata, sembari duduk mendampingi putrinya. Di ruang ICU, kini terdapat dua nyawa yang tengah berjuang. Yaitu Nessa dan Fania.


Rasa sedih di dadaku semakin kuat. Putraku telah pergi. Fania masih berada dalam koma. Sedangkan Nessa tengah melawan ombak kehidupannya. Aku hanya berdiri di luar. Aku tidak tahu harus bagaimana selain melangitkan doa.


"Imania," panggil seseorang.


Aku menoleh, "Rudi."


"Siapa lagi yang dirawat di ruang ICU?"


"Nessa."


"Nessa?" Rudi tampak terkejut. "Apa yang terjadi?"


Aku menggeleng pelan.


Tiba-tiba Dimas membuka pintu ruang ICU. Ia langsung memandangku dan berkata, "Masuklah. Nessa mencarimu."


Aku menatap sinyal aneh di wajah Dimas. Matanya merah, diselimuti bulir bening yang sudah mengumpul di pelupuk mata.


"Apa ... Nessa baik-baik saja?" tanyaku.


"Masuklah, Nessa ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Dimas lirih.


Aku memandang Rudi sesaat, lalu masuk. Rudi pun ikut masuk. Di ruang ICU, pak Wibowo yang tengah menjaga Fania ikut berkumpul di sisi Nessa.


"Imania, kemarilah," ucap Nessa lirih.


Aku menatap wajah Nessa yang memucat. Selang oksigen terpasang lekat di depan lubang hidungnya. Matanya sayup-sayup memandangku. Aku pun mendekat padanya. Berdiri di samping ayah dan ibunya Nessa.

__ADS_1


"Nessa." Aku menatap tidak tega padanya.


"Kemarikan tanganmu," ucap Nessa seraya mengangkat sedikit tangannya yang terpasang selang infus, dari atas kasur.


Aku pun mendekatkan tanganku pada tangannya. Nessa segera menyambut jari jemariku lembut. Ia berusaha meremas jemariku, tapi itu cukup lembut, karena energinya tidak cukup kuat untuk menggenggam tanganku erat-erat.


"Nessa." Bulir-bulir bening mulai turun dari mataku. Aku takut sesuatu akan terjadi padanya.


"Imania," ucapnya lirih.


"Ya."


Nessa menyunggingkan senyuman manis padaku. Senyuman itu memang tampak sangat ikhlas dan hangat, tetapi terasa mencurigakan di benakku. Entah mengapa, seperti ada seberkas cahaya aneh misterius yang menyelimuti wajahnya.


"Aku terlalu egois, ya?" katanya sembari tersenyum. "Jelas-jelas Dimas hanya mencintaimu. Tapi aku memaksanya untuk tetap bersamaku. Bukankah aku bodoh?"


"Ness."


Nessa terus menggenggam tanganku. "Dimas menikahiku hanya karena janji di masa lalu. Janji seorang anak kecil yang kuanggap serius. Aku benar-benar lucu, ya?"


Semua orang yang menyaksikan turut menitikkan air mata, menyaksikan kami. Termasuk Dimas dan pak Wibowo.


"Imania, kupikir dengan Dimas menikahiku dan terus bersamaku, ia akan bisa melupakanmu. Nyatanya tidak. Dimas tetap saja memikirkanmu. Aku tidak berdaya," ucapnya tetap dengan intonasi lirih. Bulir bening mulai meluncur dari sudut matanya.


"Tidak. Tidak lagi. Aku sudah tidak mengharapkan itu lagi, Imania."


"Ness ...."


Nessa melirik ke arah Dimas. "Dimas, kemarilah."


Dimas pun segera mendekat dan berdiri di sebelahku.


"Kalian berdua cocok. Aku sudah terlalu egois membuat jurang pemisah di antara cinta kalian. Sudah saatnya ... aku harus menghapus jurang tersebut."


"Nessa, kau harus kuat," ucapku terus menguatkan. "Bukankah ... sebentar lagi kalian akan menikah? Aku akan mengikhlaskan Dimas untukmu," ucapku sembari terisak.


"Imania, jika kau mencintai seseorang, maka jangan pernah merelakan dirinya untuk dimiliki orang lain. Jika kau cukup bodoh karena jatuh cinta padanya, maka kau akan lebih bodoh jika melepaskannya. Tetaplah bersamanya," ucap Nessa dengan senyum tipis.


Nessa melepaskan genggaman tangannya padaku, lalu meraih tangan Dimas dan menyatukannya dengan tanganku.


"Hari ini ... aku telah melepaskan cintaku. Kuikhlaskan lelaki yang paling kucintai untuk bersatu dengan wanita yang paling dicintainya."

__ADS_1


"Nessa, maafkan aku ...," ucap Dimas sembari terisak.


"Jangan ... jangan meminta maaf padaku. Akulah yang seharusnya minta maaf padamu. Pada kalian. Maafkan aku ...." Suara Nessa semakin terdengar lirih. Matanya semakin sayu. Wajah putihnya semakin memucat. Bahkan tangannya mulai terasa dingin.


Nessa tertawa kecil, tapi matanya terus mengeluarkan air mata. "Kini ... sepertinya aku harus segera pergi. Aku sudah tenang melihat kalian dapat bersatu kembali."


"Apa yang kau katakan ...." Dimas mengusap kedua belah pipinya yang basah. "Kau masih bisa bertahan."


Suasana semakin memilukan. Terlebih, mamanya Nessa terisak kuat di sebelahku, sembari merangkul dan menangkupkan wajahnya ke pundakku.


"Mama ... Papa ... maafin Nessa, ya. Nessa harus pergi. Kalian jangan bertengkar lagi. Kalian harus akur. Nessa ingin, kalian tinggal bersama lagi. Nessa yakin, Papa masih mencintai Mama, kan?"


Papa Nessa yang hanya terpaku dan terisak pun kemudian mengangguk. "Ya, papa masih mencintai Mamamu. Kami akan bersatu lagi. Nessa jangan khawatir, ya?"


Pak Wibowo merangkul papanya Nessa. Berusaha menguatkannya.


"Mama ... Papa ... maafkan Nessa, ya? Nessa sudah lelah. Dada Nessa sudah terlalu sering dibelah-belah. Nessa ingin tidur nyenyak saja. Nessa capek menahan sakit. Izinkan Nessa pergi, ya ...."


"Nessa ...," ucapku lirih.


"Imania, aku sudah memesan gaun pengantin untukmu. Seseorang akan mengantarkan gaun tersebut untukmu. Pakailah itu dipernikahan kalian, ya?"


"Nessa, kumohon ... bertahanlah. Jangan bicara seperti itu."


Nessa mengembangkan senyum di wajahnya. "Semoga kalian berbahagia. Selamat tinggal. Aku lelah sekali. A-aku i-ingin ti-tidur nye-nyak ...," ucap Nessa terbata-bata lalu napasnya mulai tersengal-sengal dan matanya mulai terpejam.


Tubuh Nessa tak bergerak lagi. Tangan yang menyatukan kami itu perlahan jatuh. Hanya tersisa isakan-isakan yang menggema di ruangan ICU.


Mamanya Nessa langsung memeluk tubuh putri semata wayangnya itu. Sedangkan ayah Nessa terisak dipelukkan pak Wibowo.


***


Di hadapan pusara, Papa dan Mamanya Nessa terus terisak. Aku dan Dimas pun bersimpuh di depan pusara.


Dimas meletakkan buket bunga lily di atas pusara Nessa. "Ness ... kau adalah wanita yang kuat. Aku tahu persis perjuanganmu melawan penyakitmu itu. Sekarang ... kau tidak akan merasa sakit lagi, bukan? Aku juga tak perlu lagi menangis setiap kali membelah dadamu. Kau bisa tidur nyenyak sekarang. Damailah bersama Tuhan. Kau ... adalah cinta pertamaku. Cinta masa kecilku," tutur Dimas sembari mengusap air yang terus berderai.


Dimas meraih jemari tanganku. Menggenggamnya erat di depan pusara Nessa. "Dan ini adalah Imania Saraswati. Cinta terakhirku. Yang akan menemaniku hingga menua. Kami akan menikah. Terima kasih ... telah mengizinkanku bersamanya. Dan telah mempersatukan cinta kami lagi."


Nessa ... meskipun Dimas mencintaiku. Tetapi ... cintamu padanya adalah cinta sejati. Aku akan ikhlas bilapun Dimas mengenangmu sebagai cinta sejatinya. Terima kasih banyak ... telah mempersatukan kami lagi. Kuharap ... kau bisa tidur dengan damai di surga. Selamat jalan, Vanessa Liliana. Kami semua sayang padamu.


"Imania, jika kau mencintai seseorang, maka jangan pernah merelakan dirinya untuk dimiliki orang lain. Jika kau cukup bodoh karena jatuh cinta padanya, maka kau akan lebih bodoh jika melepaskannya. Tetaplah bersamanya."

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2