BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Double Date!


__ADS_3

"Maaf," ucapku menahan malu. Kurasa mukaku persis kepiting rebus.


"Kau juga sangat menyebalkan!" ucap wanita cantik itu padaku.


"Apa?"


"Hanya bercanda, kok?"


Dia tersenyum, manis sekali. Senyuman itu menambah kesan ayu pada parasnya yang bak bidadari. Pantas Dimas menyukainya.


"Aku Vanessa Lilliana. Panggil saja, Nessa." Dia ulurkan jemari lentiknya.


"Aku Ima. Imania Saraswati."


Kujabat tangannya yang lembut bak kapas.


"Ini putramu?"


"Iya."


"Dia sangat tampan. Menggemaskan. Aku sangat suka bulu matamu yang lentik itu, Nak? Siapa namamu?"


Arka melirikku.


"Ayo, kenalan sama Tante Nessa." Aku meminta Arka untuk menjabat tangan wanita itu.


"Sayang ... siapa namamu?"


"Arka, Tante," jawab Arka malu-malu.


"Lengkapnya ... Tante ingin tahu. Coba, nama lengkapmu, Sayang."


"Kenan Arka Sebastian." Arka memang sudah fasih melafalkan huruf 'R', bicaranya pun sudah mulai lancar.


"Nama yang bagus," pujinya.


Suasana riang berubah canggung. Ingin rasanya segera angkat kaki dari sini. Suamiku tampak akrab berbicara dengan dokter itu. Sedangkan aku berusaha menyibukkan diri dengan anakku. Untuk mengalihkan diri dari tatapan Nessa.


Aku canggung untuk mengobrol dengannya. Dia begitu sempurna. Aku jadi membandingkan diri dengannya. Sejujurnya, aku merasa jauh dari kata 'sempurna' dibandingkan dengan Nessa.


Tubuhku yang sekarang sudah lebih berisi. Dulu, aku pernah selangsing Nessa. Rambut panjangku tergerai indah. Itu, sebelum berhijab, sebelum menikah.


Kini, aku hanya fokus pada keluarga kecilku. Merawat anak dan suamiku. Rasa lelah usai mengerjakan seabreg pekerjaan rumah, membuatku harus ekstra energi. Aku mulai mengabaikan pola makan. Bagiku, yang penting, kami sehat.


"Ima, kamu bekerja di mana?"


"Aku ... tidak bekerja," jawabku singkat.


"Oh ...."


Adakah yang salah denganku? Ekspresinya membuatku ngilu. Bukankah, tugas seorang ibu rumah tangga, adalah merawat anak dan suami?


"Kamu lulusan sarjana, bukan?" Mata sipit itu menatapku penasaran.


Bukan. Seandainya saja kujawab 'bukan', tentu ekspresinya akan semakin mengilukan.

__ADS_1


"Ya, aku lulusan sarjana S1 Pendidikan Seni." Dengan bangga kujawab semestinya.


Dia menahan tawanya. "Oh ...."


Kesan cantik pada parasnya meleleh seketika. Seiring mimik muka judesnya itu. Menyebalkan! Sabar Imania!


"Aku lulusan Ilmu Kedokteran, di Stanford University," terangnya.


Aku tertegun, kaget. Pantas! Itu artinya ... jadi ... dia adalah wanita yang menyebabkan kandasnya hubungan kami.


"Oh ...." Kusedot jus lemon dengan cepat.


Mengapa aku masih marah? Bukannya aku sudah move on? Hei, Imania! Kau sudah menikah! Jalani saja masing-masing!


"Sayang, nanti aku mampir ke rumahmu, ya?"


Kulihat dokter itu sudah selesai makan.


"Jangan sekarang, Ness!"


"Loh, kenapa? Aku belum pernah kamu ajak melihat rumah barumu, kan?"


Apa? Nessa belum pernah menginjakkan kakinya di rumah dokter itu. Berarti ... aku adalah wanita pertama yang ia ajak menapaki rumahnya.


"Nanti aku ada urusan penting."


Nessa tersenyum. "Baiklah, lain waktu saja."


Aku melirik dokter elang itu. Entah mengapa ... ada sesuatu hal aneh dalam tangkapan mataku. Membuat otakku bertanya-tanya. Mengapa dokter itu seperti menyembunyikan sesuatu? Atau perasaanku saja.


Di parkiran.


"Mana mobil kalian?"


"Kami belum memiliki mobil." Mas Bastian menjawab Nessa dengan ramah. Kemudian mengambil motornya.


"Kasihan Arka, ya. Dia masih kecil. Tidak nyaman loh, naik motor."


Aku tersenyum mendengarnya. "Bagi kami, yang penting cinta. Cinta adalah sesuatu yang lebih penting dari materi. Apa gunanya sebuah hubungan terjalin tanpa adanya cinta. Itu ibarat bingkai tanpa foto. Kosong," ucapku spontan.


Nessa terkekeh. "Ya, itu bagus."


***


Terdengar suara pintu diketuk. Aku yang sedang sibuk memasak di dapur pun beranjak.


Kubuka pintu. Pagi-pagi seperti ini, siapa yang bertamu?


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam? Dewi!" Aku terkejut melihat Dewi datang. Dia juga membawa sesuatu di tangannya.


"Ini untukmu!" Ia menyodorkan sebuah kotak.


"Kue?" Aku menerimanya dengan senang. "Terima kasih."

__ADS_1


Aku tahu betul sahabatku. Sudah lama, Dewi tidak mengunjungi rumahku. Terakhir kali, saat kejadian salah paham itu. Dewi hampir setiap Minggu berkunjung ke rumahku. Dia suka sekali membuat kue. Dari kue yang gosong, bantat, kemanisan, sampai menjadi sebuah rasa kue yang sempurna, aku pernah mencicipinya. Semua dari buatan tangan Dewi.


"Tumben, pagi sekali ke sini. Biasanya sore. Ayo masuk!"


"Eh ... enggak usah. Lain kali saja, ya? Minggu besok aku ke sini, deh! Kita jalan-jalan, ya?"


"Oke. Makasih kuenya?"


"Sama-sama. Aku pamit, Ima."


"Hati-hati!"


Aku kembali masuk ke dalam rumah. Mas Bastian sudah duduk di kursi makan.


"Siapa?"


"Sahabatku."


"Sahabatmu?" Mas Bastian menautkan kedua alisnya.


"Iya."


"Dewi?"


Siapa lagi.


Kujawab dengan anggukan.


"Kalian sudah baikan?"


"Sudah."


Dia tampak bingung. "Baguslah."


"Dia membawakan kue ini." Kupotong kue bulat rasa pandan itu, lalu menyajikannya di meja makan.


"Mas."


"Ya." Seraya meraih sepotong kue dari piring.


"Beberapa hari yang lalu, aku dan Dewi berbincang di taman. Dia bicara tentang persoalan waktu itu."


"Persoalan apa?"


"Itu, loh, tentang kesalahpahaman dulu," jawabku. "Dia sudah mengakui, bahwa dia sudah salah menilaiku," lanjutku.


"Syukurlah." Mas Bastian sembari menikmati kue buatan Dewi.


"Tapi, Mas! Ada yang aneh! Masak, Dewi sempat mengatakan ... em ... waktu itu dia sempat mengatakan ... katanya ... Mas sama suaminya Dewi, ada perjanjian --"


"Uhuk!"


Tiba-tiba Mas Bastian tersedak. Segera kusodorkan segelas air untuknya.


"Mas, enggak apa-apa?"

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2