
"Aku masuk angin, Bas. Sejak tadi di luar. Tubuhku tiba-tiba menggigil."
"Bukankah ada Nessa? Kenapa aku?"
Dimas lagi-lagi masuk ke kamar kami tanpa persetujuan.
"Hei!" seru mas Bastian masih dengan wajah kesal.
"Nessa juga sedang tidak enak badan. Kau lihat kan, tadi sore dia pingsan. Jadi, dengan terpaksa aku harus meminta bantuanmu," tutur Dimas.
Dimas pun membaringkan tubuhnya, tengkurap di sofa. Dia membuka selimutnya. Lalu melepas baju yang ia kenakan. "Ayo, Bas! Kerokkan punggungku, ya?"
Mas Bastian dengan terpaksa menuruti kemauannya. Mungkin mas Bastian merasa tidak enak hati. Padahal sebenarnya, aku yakin Dimas hanya berpura-pura masuk angin. Sengaja mengacaukan malam romantis kami.
"Aku tidak punya koin untuk kerokan," kata mas Bastian.
"Ini, aku sudah menyiapkannya.'' Dimas mengeluarkan sebuah koin dan minyak pijat dari saku celana.
Aku yang melihatnya tak dapat menahan tawa. Jadi, aku memilih untuk pergi ke balkon. Aku mendengar tawa mas Bastian. Mereka pun saling berbincang, sambil mas Bastian mengeroki punggung Dimas.
Bagaimana lagi, tidak mungkin kan, aku tidur di kamar, sedangkan Dimas juga sedang ada di sana. Aku mengambil handphone dari nakas, lalu keluar lagi menuju balkon. Kududukkan tubuh di kursi. Dingin. Angin berembus lembut membelai wajahku. Kutatap layar handphone menunjukkan pukul 23.30 malam. Ngantuk sekali. Kuletakan kepala ke sandaran kursi.
Aku tertidur. Entah berapa lama. Dalam lelap terasa ada sesuatu yang menyentuh wajahku lembut. Samar-samar kubuka kedua mata yang masih diselimuti rasa kantuk. Sesosok wajah tertangkap samar. Perlahan ia mendekat. Dekat. Lebih dekat. Hingga mataku benar-benar jelas melihat sosok yang membungkuk, mengarahkan bibirnya pada bibirku.
Sebuah ciuman lembut mendarat di bibirku. Rasa terkejut menerima perlakuan seperti itu, tertahan oleh rasa takut. Mata yang masih terbelalak kaget, terpaku menatap wajah tampan pria yang sudah kurang ajar ini.
"Tenanglah. Bastian sudah tidur nyenyak. Kau aman melakukan apapun denganku," bisiknya dengan senyuman nakal, setelah menarik bibirnya dari bibirku.
Tertegun sekali mendengarnya. Mas Bastian tidur? Bukankah tadi dia sedang mengeroki Dimas? Apa yang terjadi padanya?
__ADS_1
"Kenapa? Kau bingung?"
"Apa yang kau lakukan padanya!" desisku lirih.
Ia menarik sudut bibirnya. "Dia yang minta gantian dipijat. Lalu aku berganti memijatnya, hingga dia tertidur pulas. Mungkin pijatanku enak sekali. Kau mau mencoba? Sini aku pijat. Mau bagian yang mana?"
"Cih! Apa diotakmu hanya ada pikiran kotor?" tanyaku heran dengan kelakuannya.
"Jangan berisik! Bastian akan menangkap basah kita. Jadi bermainlah lembut, Sayang," bujuknya seraya mengelus wajahku.
Saat aku hendak beranjak, Dimas menahan tubuhku agar tetap duduk. Lalu kudorong tubuhnya kasar, tapi dia tidak terdorong sama sekali. Wajar, dia laki-laki. Tenaganya lebih kuat dari tenaga seorang wanita sepertiku. Saat aku akan melayangkan tamparan, ia mencengkram lenganku. Ingin rasanya aku teriak. Namun aku takut. Apapun alasannya, mas Bastian dan Nessa tak mungkin memaafkanku. Meski ini bukanlah kemauanku.
Alih-alih berontak. Dimas malah menggendongku. Berkali-kali dada bidang itu kupukuli. Namun dia tetap membawaku ke ranjang. Tubuhku dilemparnya pelan ke ranjang. Melihat kenekadannya, membuatku semakin resah. Mataku tertuju pada seseorang yang sedang tertidur sangat pulas di sofa. Hatiku bimbang, antara memanggilnya atau tidak. Namun, kuberanikan diri memanggilnya. Apa boleh buat!
"Mas!" panggilku lirih.
Dimas masih berdiri menatapku tajam.
Dimas membuka kaosnya. Menampakkan bentuk dadanya yang bidang. Otot lengannya yang kekar. Dan perut sixpack-nya. Aku hampir saja terpesona akan wajah tampan dan tubuh atletis si dokter elang itu. Untungnya aku segera sadar, ini salah! Ini dosa! Ya, Tuhan ... tolong aku. Apa yang akan terjadi padaku. Jangan biarkan diri ini kotor.
"Mari bercinta, Sayang." Sambil mendekat.
Aku semakin ketakutan. Apa dia kesurupan? Atau dia memang sudah gila? Kuraih bantal di kasur. Kulempar satu per satu ke arahnya. Hingga tersisa satu bantal. Kuarahkan pada mas Bastian. Yes, kena!
Namun mas Bastian tetap terjaga. Sepulas itu. Aku menjadi curiga, jangan-jangan ... Dimas melakukan sesuatu padanya.
"Mas! Mas Bastian!"
Dimas mendekati tubuhku dan berkata seraya membungkukkan tubuh menaungi tubuhku di ranjang. "Diam dan tenanglah! Kita aman."
__ADS_1
"Apa kau membunuhnya?"
"Apa aku gila?"
"Ya, kau sudah gila! Kau--"
"Sst ...." Telunjuknya menghentikan bibirku bicara. "Aku hanya membuatnya tidur lebih lama. Agar kita bisa bermain lebih lama pula."
Dimas mendekatkan bibirnya lagi. Saat aku akan memberontak, ia mencekal pergelangan tanganku. Memaku tubuhku di ranjang.
"Emph ... emph ...."
"Aku sudah bilang. Jangan biarkan Bastian menyentuhmu! Ini akibatnya jika kau melanggar!" Kemudian menarik jilbabku dengan paksa.
Dimas membuka kancing piyamaku satu persatu. Aku melihat Dimas yang saat ini, bukanlah Dimas yang kukenal. Matanya merah penuh amarah, siap melahapku hidup-hidup.
"Lepaskan aku ... kumohon!" pintaku seraya menangis.
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Aww .... Makin seru ya? Yuk sebelum kita lanjut ke episode selanjutnya, yang belum FOLLOW Author Keceh, segera FOLLOW ya? Klik tombol 'ikuti'!
Ingat untuk selalu LIKE, KOMEN, VOTE, KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA ya?
Kalian tahu, kan caranya?
Yuk, dukung terus novel ini agar bisa menduduki peringkat atas! Semakin tinggi antusias kalian, semakin tinggi pula antusias Author untuk segera melanjutkan ke episode selanjutnya!
__ADS_1
Salam Sayang untuk Kalian Semua .... đź’–