
Sejujurnya, hatiku berat untuk memenuhi keinginan Nessa. Tetapi, aku sudah terlanjur berjanji. Seandainya aku mengingkarinya, Nessa pasti akan sangat membenciku. Dengan terpaksa, aku pun mengangguk.
"Terima kasih, Imania. Kau memang sahabat terbaikku." Nessa kembali memelukku.
"Nessa, jangan menganggapku sahabat terbaik. Kau juga belum lama mengenalku."
"Tidak masalah. Mulai saat ini, aku akan menganggapmu sebagai sahabat terbaikku!"
Nessa sangat menginginkan Dimas. Sedangkan Dimas mencintaiku. Ini seperti cinta segitiga.
"Imania, apa kau mau makan? Biar aku suapi, ya?" Nessa beranjak mengambil makanan yang telah tersaji untukku.
"Tidak usah, Ness. Aku bisa sendiri."
"Oh, ayolah ... buka mulutmu!" Nessa menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi dan lauk itu padaku.
Saat aku sedang membuka mulut, tiba-tiba pintu itu terbuka. Ibu dan ayah mertuaku yang masuk. Aku pun makan dengan disuapi oleh Nessa.
"Eh, Bu Dokter?" sapa ibu pada Nessa.
"Bu, ini Dokter Vanessa, teman Imania, Bu," kataku memperkenalkan.
Nessa pun menjabat tangan ibu dan ayah mertuaku. "Panggil Nessa saja, Bu."
"Aku ibu mertuanya Ima." Ibu pun. Memperkenalkan diri. "Wah, kamu masih sangat muda. Cantik sekali," puji ibu.
"Terima kasih, Bu."
***
Siangnya aku pun tidur di kamar rawat inap. Kepalaku masih terasa sakit. Padahal, aku ingin sekali cepat-cepat pulang. Aku ingin segera berbicara dengan mas Bastian. Aku ingin penjelasannya. Tentang wanita yang dihamilinya, apakah itu benar?
Tak terasa aku pun tidur. Ibu menemaniku. Ia duduk di sebelahku. Sedangkan ayah pamit untuk pulang.
Tangan ibu terasa lembut membelai wajahku. Kepalaku masih berdenyut-denyut. Sakit sekali. Aku bosan berada di sini. Tapi, jika dibawa berjalan pasti akan sangat pusing. Lagi pula tanganku masih diinfus.
Tangan ibu kembali membelai wajahku. Aku semakin memejamkan kedua mataku. Kepalaku tiba-tiba terasa semakin nyeri. Dalam terpejam aku merasa, ada sesuatu yang lembut tengah menyentuh bibirku. Kubuka sedikit kelopak mataku.
Tangan yang sedari tadi membelai wajahku, ternyata bukanlah tangan milik ibu. Tangan itu adalah milik seseorang berwajah tampan yang tengah menempelkan bibirnya pada bibirku. Sontak kelopak mataku terbuka seluruhnya.
Dalam rasa terkejut, aku menatap wajahnya yang tampan. Pelan-pelan ia menelusuri bibir tipisku. Bibir itu membelai lembut tiap sudut bibirku. Detak jantungku selalu tak beraturan apabila berada dekat dengannya. Dan kali ini aku membiarkannya.
Tangannya meremas jemariku lembut. Aku menatap matanya yang fokus menatap bibir ini. Rambutnya, hidungnya, alisnya, dia begitu sempurna. Sangat tampan. Kurasa aku jatuh cinta lagi. Rasa yang sama persis seperti dulu. Getaran yang masih sama. Aku tidak bisa menolaknya. Kupejamkan kedua mataku, menikmati setiap sentuhan lembut bibirnya.
Ternyata, rasa kecewa yang terlalu dalam pada mas Bastian, telah membuka jelas kesadaranku. Tentang sosok yang masih tertinggal di dalam hatiku. Yang tidak pernah terenyahkan dari benakku. Dia, sosok lelaki yang selalu kurindukan. Aku menyukaimu, Dimas Adi Wibowo, Pangeran Elangku.
Perlahan ia menarik lembut bibirnya. Aku pun membuka kembali kedua netra ini pelan. Wajah tampan itu masih berada lima sentimeter dari wajahku. Terlukis semburat senyum bahagia di bibirnya. Begitupun aku, aku benar-benar jatuh cinta lagi.
Ia mengusap bibirku yang basah dengan jemarinya. Mata kami saling bertemu.
"Aku mencintaimu, Nia."
__ADS_1
"Terima kasih."
Dimas mengerutkan dahinya. "Untuk?"
"Untuk ketulusanmu, yang sudah mencintaiku sejauh ini."
"Sama-sama."
Aku menatap sekeliling ruangan. "Di mana ibu? Bukankah, tadi dia menemaniku di sini?"
"Aku melihatnya pergi keluar. Tidak tahu ke mana."
Oh, mungkin ibu sedang menunaikan ibadah shalat dzuhur.
"Dimas ...."
"Ya."
"Bisa kau ceritakan kejadian waktu itu? Saat kau memukuli mas Bastian di cafe?"
Dimas menghela napas panjang. "Aku akan menceritakan semuanya, tapi nanti. Saat ini, kau harus pulihkan kondisimu terlebih dahulu," ucap Dimas seraya membelai wajahku.
Aku terdiam sejenak. Kusentuh kepalaku. Ini aneh. Tadi, kepalaku sakit sekali. Mengapa, tiba-tiba rasa nyeri itu hilang. Apa yang terjadi? Aku pun bangun untuk mendudukkan tubuh.
Dimas memperhatikanku, lalu bertanya, "Kenapa?"
"Tadi, kepalaku sakit sekali. Tetapi ini sudah tidak sakit," kataku dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Mungkin itu karena vitamin C yang sudah kutransfer tadi," katanya seraya tertawa.
Dimas menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk. "Ini!" Lalu memainkan kedua alisnya yang lebat.
"Ish!" Aku tersenyum malu.
"Lihat wajahmu!"
"Kenapa? Ada apa dengan wajahku?" tanyaku seraya mengusap-usap wajahku.
Dia tertawa, lalu berkata, "Kau cantik. Wajah pucatmu sudah merona lagi. Mungkin, kau perlu banyak tersenyum agar kecantikan di wajahmu tidak pudar."
Aku tersipu mendengar perkataannya. "Kau memang pandai menggoda."
"Kau mau cepat pulih?"
Aku mengangguk cepat.
"Sini, aku bisikki!"
Aku pun mendekatkan kepala ke arahnya.
Cup! Pipiku diciumnya. Aku segera menjauhkan kepala darinya. Kupasang wajah kesal.
__ADS_1
"Kau perlu banyak vitamin C. Tenanglah stok vitamin C-ku masih banyak. Hanya kusediakan untukmu. Jadi, jangan khawatir akan kehabisan, ya?"
Aku melenguh kesal. "Hm ...."
Pintu kamar rawat inapku terbuka. Seorang dokter yang masih muda, datang menghampiri kami. Dia tidak kalah tampan dengan Dimas. Posturnya tinggi, berkulit putih bersih, berkumis tipis, dan memiliki senyum yang khas. Ia pun menyapa kami sembari melempar senyum khas yang menampakkan giginya yang putih.
"Selamat siang!"
"Siang, Dok," balasku.
"Nona Imania Saraswati." Ia pun membuka catatannya. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah terasa lebih baik?"
"Sudah, Dok," jawabku.
Dimas sepertinya tidak senang melihat dokter ini. Tampak jelas di raut wajahnya. Dimas pun berdiri.
"Siang, Dokter Dimas!"
"Siang, Dokter Reyhan," balasnya dengan ekspresi datar
"Aku akan memeriksanya. Jadi, bisa kau minggir dulu?"
"Dia sudah kuperiksa. Jadi, tidak usah diperiksa lagi. Kondisinya sudah membaik. Kau bisa tinggalkan pasien ini."
Aku memandang Dimas tak mengerti. Mengapa kedua orang ini terlihat tidak akur? Apa hanya perasaanku saja?
"Sejak kapan kau beralih profesi menjadi Dokter Umum?"
"Apa masalahmu?"
"Masalahnya adalah ini tugasku. Tugasmu bukan di sini. Jadi, silakan kau yang keluar!" ucap dokter Reyhan. Lalu mengambil stetoskop yang menggantung di lehernya. Ia pun mulai mendekat padaku. "Mohon maaf, Nona. Aku cek sebentar, ya?"
Tatapan mata dokter Reyhan sungguh berbeda. Dia tampak mengamati bagian tertentu di tubuhku. Dan saat stetoskop di tangannya hampir menyentuh dadaku, Dimas langsung menepisnya. Stetoskop itu pun terpental jatuh ke lantai.
Dokter Reyhan menatap Dimas geram. Kedua mata lelaki itu tampak menyala. Aku yang berada dalam situasi ini pun bingung. Dimas menyeret kerah dokter Reyhan kasar.
"Jangan menatap pasien seperti itu, Rey! Tidak baik untuk kesehatan mata dan jiwamu!"
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Hei, Kalian! Sudah Update aplikasi Mangatoon ke tampilan terbarunya? Yuk, Update dulu aplikasi Mangatoon Kalian ke versi terbaru. Ada fitur yang lebih lagi.
Oh, ya? Jika sudah di Update, nanti akan ada tampilan seperti di bawah ini. Nah, Kalian klik tombol chat yang sudah Author Keceh tandai dengan lingkaran biru, ya?
Nanti kalian akan masuk GRUP CHAT bersama Author Keceh. So, Kalian boleh berbincang langsung dengan Author Keceh tentunya?
Yuk! Buruan masuk grup chat-ku?
__ADS_1
Thank You ....