
"Kau sudah mengkhianati putriku!" geram ayah.
"Ayah? Tenanglah! Ada apa ini?" Aku pun beranjak untuk menahan ayah.
"Putriku!" Ayah memandangku. "Kenapa kau tutup-tutupi semua ini dari kami? Kenapa kau tidak bilang kalau suamimu itu sudah berselingkuh? Bahkan, sampai menghamili wanita lain!"
"Ayah ... tenanglah!" Aku masih mencoba menahan ayah.
Tetapi ayah menyingkirkan tanganku. Ia pun maju menghampiri mas Bastian. Kemudian diseretnya kerah baju mas Bastian. Mas Bastian pun berdiri dengan pasrah.
"Jika saja aku tak menghormati ayahmu! Aku pasti sudah membunuhmu! Bahkan, jika saja ayahmu tidak memberitahuku, mungkin aku tidak akan tahu secepat ini! Ayahmu sampai meminta maaf padaku. Ia sangat menyesal telah gagal mendidikmu!" semprot ayah di depan wajah mas Bastian.
"Ayah ...."
"Kau diamlah, Ima! Tidak ada orang tua yang tega melihat putrinya dikhianati!"
Mas Bastian tidak berkata apa-apa. Dia hanya pasrah.
"Aku tidak menyangka! Ahmad bisa memiliki anak yang tidak beretika sepertimu! Lelaki kurang ajar!"
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah mas Bastian. Aku dan ibu pun mulai cemas.
"Ayah? Sudahlah! Sabarkan dirimu!" Ibu mencoba menasehati.
"Kau! Bisa-bisanya berselingkuh dari putriku!"
Plak! Satu tamparan kembali mendarat di wajahnya. Aku hanya bisa menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sebenarnya, aku tidak tega melihat mas Bastian seperti itu.
"Ahmad adalah sahabat baikku. Itulah sebabnya, tanpa berpikir panjang, aku menerima lamaranmu saat itu. Kupikir, kau adalah pribadi yang baik. Tidak pernah menyangka, kalau kau tidak lebih dari seorang bajing*n!"
Mas Bastian masih tetap diam. Dan tangan ayah masih menyeret kerah di lehernya.
"Putriku adalah gadis yang baik. Dia penurut, dan juga lembut. Aku sangat menyesal menikahkannya denganmu! Laki-laki yang tak punya adab!" Sekali lagi ayah melayangkan tangannya.
Tetapi mas Bastian segera menangkap tangan tersebut. Dan mas Bastian mengempaskan tangan ayah.
"Cukup, Ayah! Aku tahu aku salah. Dan aku sudah mengakuinya. Aku juga tengah menyesali keputusanku untuk bercerai dengan Imania. Kami sudah saling memaafkan!" papar mas Bastian.
"Apa kau bilang? Memaafkan!" Ayah menatap mas Bastian semakin geram. "Kau pikir semudah itu kesalahanmu termaafkan? Tidak! Bahkan jika Ima mau memaafkanmu. Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu!"
__ADS_1
"Ayah ... maafkan aku!" Mas Bastian bersimpuh memegang kaki ayah. "Kau boleh memarahiku. Tetapi kumohon ... maafkan aku ... maafkan aku ...."
Kulihat ada yang menggenang di mata ayah. Namun, ayah masih menahannya.
"Ayah ... aku sangat menyesal atas perbuatanku! Aku ... aku telah berbuat dosa. Tapi tolong ... maafkan aku, Ayah ...."
Ayah menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, aku maafkan!"
Mas Bastian pun mendongakkan kepalanya. Menatap ayah. "Terima kasih ... terima kasih ...."
"Asal dengan satu syarat!"
"Apapun, Ayah!"
"Ceraikan putriku!"
Mas Bastian menatap terkejut pada ayah. Ia pun segera berdiri. Kulihat kedua bola mata mas Bastian mulai berkaca-kaca.
"Ceraikan putriku!"
Seketika suasana hening. Tak ada suara. Tak ada yang bicara. Semua terpaku. Aku sendiri menatap mas Bastian dengan rasa iba. Mas Bastian seperti sungguh-sungguh menyesali perbuatannya. Namun, aku sudah tidak bisa menerimanya kembali. Aku sudah yakin dengan keputusanku. Lagi pula, aku sudah kembali dengan Dimas.
Aku pun menghampiri ayah, lalu memeluknya. Dan kami saling terisak. Begitupun ibu.
***
Pagi kembali menyapa. Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit. Mengunjungi ayah mertua. Aku pun membawakan beberapa masakan untuknya. Dan beberapa pakaian ganti untuk ibu mertua. Seperti biasa, aku berangkat naik ojek online.
Aku menenteng satu rantang susun berisi nasi, dan beberapa macam lauk. Setelah naik ojek selama seperempat jam, aku pun sampai. Aku segera masuk dan mencari ruang rawat inap Melati 002. Dengan mengikuti papan denah lokasi, tidak lama aku pun menemukannya.
Aku langsung mengetuk pintu, dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Di sana ada ayah dan ibu mertua, mas Bastian, dan juga Dimas yang sedang memeriksa.
"Ayah, bagaimana keadaanmu?" tanyaku sambil menghampirinya.
"Sudah cukup baik."
"Oh, syukurlah. Apa kau sudah makan?"
"Apa kau membawa makanan?" tanya ayah seraya melirik rantang yang kubawa.
__ADS_1
Aku tersenyum padanya. "Ini kubuatkan khusus untukmu, Ayah?" Kuletakkan rantang tersebut di atas meja.
"Tapi ... kau hanya boleh memakan makanan dengan takaran diet khusus, bukan?" tutur ibu pada ayah.
"Aku bosan makan masakan di sini! Semuanya gambar, tidak enak!"
"Tenang saja, Ibu. Aku sudah memberikan bahan dan bumbu-bumbu sesuai aturan diet ayah, kok?"
"Benarkah?" Ibu sedikit terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Bukankah ada aku?" jawab Dimas cepat.
Semua mata pun teralihkan pada dokter elang itu dan padaku.
"Wah, itu benar! Untung ada Dokter Dimas dan dirimu, Nak?" kata ayah seraya tersenyum.
Itu membuatku tersipu malu. Ya, untung saja tadi malam, Dimas memberitahuku lewat telepon. Jadi aku tahu yang mana boleh di makan ayah.
"Kalau begitu, aku ingin makan sekarang!" kata ayah dengan semangat.
Aku pun menyuapi ayah dengan senang. Sedangkan kulihat, mas Bastian sedang duduk di sofa, sembari memainkan handphone-nya.
"Aku juga mau disuapi!" kata Dimas tiba-tiba.
"Nanti, Dok! Kalau masih ada sisa, ya?" canda ayah kemudian tertawa. "Dok! Ima sangat pandai memasak. Kupikir, setelah kau menikahinya nanti, perutmu akan lebih dulu membuncit sebelum Ima. Haha?"
Semua yang ada di dalam ruangan pun tertawa. Kecuali mas Bastian. Mas Bastian langsung beranjak pergi. Dan menutup pintu itu dengan agak keras.
-- BERSAMBUNG --
____________________________________________
Hai, Readers Tersayang ...?
Ingat, untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE, KASIH PENILAIAN BINTANG LIMA!
Salam Manis Dari Author Paling Manis?
Thank You ...!
__ADS_1