BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Ingin Masuk Kantor


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa, aku bangun lebih awal. Aku langsung mandi dan memakai pakaian. Lalu mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat subuh. Usai melaksanakan shalat, aku pergi ke dapur. Jika biasanya ibu memasak sendiri. Kali ini aku ikut membantunya.


"Tumben, membantu ibu?"


"Ini masih terlalu pagi, Bu. Ima tidak perlu terlalu buru-buru berangkat menuju kantor," jawabku seraya membantu membalik ikan gurami yang sedang berenang di minyak panas.


"Awas, nanti terkena minyak! Bisa melepuh kulitmu!"


Aku tersenyum pada ibu. "Kau selalu menganggapku anak kecil, Bu. Padahal aku sudah dewasa. Sudah pernah menikah pula."


Ibu meletakkan sayur sawi yang telah dicucinya di wastafel. Kemudian mendekat, seraya menyentuh pundakku. "Ima? Mau menikah atau belum, bagi seorang ibu, anaknya tetaplah seorang anak-anak, yang perlu kasih sayang dan perlu kekhawatiran dari orang tuanya."


"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku," ucapku seraya tersenyum lembut.


Ibu pun menarik tangannya dari pundakku. "Imania, putriku. Dulu, saat kau masih kecil, ibu selalu berdoa, agar kau mendapatkan laki-laki yang baik, setia, dan dapat membahagiakanmu lebih daripada ibu."


Ibu menghela napas dalam. "Setelah kau menikah dengan Bastian, kupikir ... kami sebagai orang tua sudah memutuskan pilihan paling tepat. Melepaskanmu untuk membangun rumah tangga bersamanya. Ibu selalu berpikir, Bastian adalah laki-laki yang penuh dengan tanggung jawab. Ibu pikir dia adalah menantu terbaik."


"Ibu ... jangan bersedih ...." Kuletakkan ikan gurami yang baru terangkat dari minyak penggorengan. Kemudian kumatikan kompor.


"Ima? Setelah kau bercerai dengan Bastian. Ini sudah cukup membelenggu hati ibu. Ibu takut, jika sampai kau dikhianati lagi oleh laki-laki lagi."


Kutatap wajah ibu yang sudah mulai basah oleh bulir-bulir bening yang turun dari kedua matanya. Lalu kuusap menggunakan kedua tanganku.


"Ibu ... jangan cemaskan aku. Aku pasti bisa memilih laki-laki yang tepat. Anggaplah yang lalu itu sebagai pembelajaran. Agar aku bisa melangkah lebih baik lagi," ucapku seraya tersenyum lembut.


Ibu menyentuh pipiku lembut. "Kuharap ... Dokter Dimas adalah jodohmu yang telah tertulis oleh takdir. Dan kuharap ... Dimas tidak sampai melukai perasaanmu."


Aku pun memeluk ibu dengan erat. "Doamu adalah zimat terbaik dalam hidupku, Ibu ...."


Usai memasak, kami pun menyajikan masakan di atas meja makan. Dan seperti biasa, aku harus membangunkan Fania terlebih dahulu. Ah, wanita itu. Kapankah kebiasaan buruknya itu hilang?


Aku, Fania, Ibu, dan Ayah pun berkumpul di meja makan. Kami asyik menyantap hidangan sarapan pagi dengan menu utama yaitu ikan gurami.


"Bu, kenapa Arka belum diantarkan pulang sampai sekarang?" tanyaku.


"Mungkin Arka masih betah di rumah Bastian. Biarkan saja. Jangan ikut campurkan masalah orang tua dengan anak-anak. Kasihan dia. Arka masih kecil. Masih membutuhkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua." Ayah menasihati.


"Ya, Ayah," jawabku mengerti.


Sebenarnya, aku memang tidak pernah mencampur adukkan masalah kami dengan anak-anak. Aku dan mas Bastian sudah sepakat, untuk saling mengaliri kasih sayang yang utuh. Meski di dalam hubungan yang tak utuh lagi.


"Imania, jadi kapan kau akan mengajakku mengunjungi rumah barumu?"


Tiba-tiba pertanyaan Fania mengejutkanku. Tidak hanya aku, bahkan ayah dan ibu pun ikut terkejut.


"Rumah baru?" Ibu mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ima, kau membeli rumah?" tanya ayah yang juga terkejut.


"Iya, itu Imania diberikan—"


Sontak aku menginjak kaki Fania yang duduk di sebelahku.


"Aw!" pekik Fania.


"Maksudnya, Ima itu ... diberikan rumah sementara untuk tinggal, Bu, Yah. Hanya seperti kontrakan, begitu." Aku mencoba menjelaskan.


"Sakit, Ima!" Fania mengomel padaku.


"Siapa yang memberikanmu rumah itu?" tanya ibu.


"Oh, itu ... hadiah dari kantorku, Bu? Katanya setiap karyawan baru di back office, memang dikasih kontrakkan untuk tinggal. Hanya mengontrak, kok, Bu. Bukan dibelikan." Maafkan aku. Terpaksa aku harus berbohong. Sebab, jika tidak, nanti malah membuat ayah dan ibuku kepikiran.


"Oh ... begitu," gumam ibu.


"Terus, kau akan tinggal di kontrakanmu?" tanya ayah.


"Belum tahu, Yah. Aku masih belum memikirkannya. Lagi pula, tidak mungkin, kan, Arka kutinggal di sini."


"Apa kontrakanmu lebih dekat dengan tempat kerjamu?" tanya ibu lagi.


"Iya, Bu. Lebih dekat."


"Kalau begitu, tempati saja. Sayang, kan, kalau tidak ditempati," kata ibu.


"Biar kupertimbangkan lagi."


Usai sarapan, aku langsung mengganti pakaian, dengan seragam kerja yang baru diberikan sekertaris Ve kemarin. Kupoles wajahku dengan make up tipis-tipis. Kusapukan lipcream warna peach ke bibirku. Setelah siap, aku pun berangkat.


Fania yang mengantarkanku ke kantor. Dia sudah seperti supir pribadiku. Karena Fania menang menghabiskan kesehariannya hanya di rumah, sembari nonton televisi, atau sekadar bermain handphone. Jadi, kapanpun aku memintanya untuk menjemput, Fania selalu siap.


Sesampainya di depan kantor, aku langsung turun dari mobil.


"Ima, aku ingin melihat ke dalam kantormu sebentar, boleh?" tanyanya dari dalam mobil.


Aku memperhatikan penampilan Fania yang belum mandi. Rambut pirangnya yang belum tersisir rapi, muka kucel yang hanya terbasuh air, dan pakaiannya yang super mini. Fania hanya memakai blouse ketat berwarna pink—yang menampilkan cetakan dadanya. Dan celana super pendek—hotpants— berwarna putih.


"Tidak boleh!"


"Pelit! Sebentar, please ...."


Fania pun keluar dari mobilnya, dan langsung nyelonong masuk ke dalam gerbang mendahuluiku.


"Fania!" Aku pun mempercepat langkah, mengejarnya.

__ADS_1


Di depan kantor utama, tampak Rangga sedang berjaga di depan pintu. Fania yang akan masuk pun langsung dihadang olehnya.


"Tunggu, Nona manis! Pelayanan bank belum siap. Kau bisa menunggu dulu di luar sampai pukul delapan. Tetapi kalau kau butuh pelayananku. Aku siap kapan saja!" kata Rangga seraya memandangi tubuh seksi Fania dari atas sampai bawah.


Plak!


Wow! Aku sangat terkejut dengan apa yang Fania lakukan. Fania menampar Rangga. Rangga pun langsung menatap Fania dengan emosi.


"Kau menamparku?" tanya Rangga seraya memegangi pipinya.


"Mau lagi?" tantang Fania.


Aku pun langsung menghampiri Fania, dan menyeretnya menuju mobilnya.


"Ima, lepas!"


Aku pun melepaskan pergelangan tangan Fania.


"Ima, aku hanya ingin tahu seperti apa tempatmu bekerja," kata Fania padaku.


"Ya, aku tahu. Tapi besok, ya? Kalau kau sudah rapi dan memperbaiki pakaianmu itu," ucapku seraya menatapnya.


"Apa ada larangan di sini? Untuk tidak mengizinkan wanita berpakaian seksi masuk?"


"Bukan begitu, Fania. Tapi kau lihat, kan, tatapan security tadi. Aku tidak mau mereka memandangi tubuhmu seperti itu."


"Aku kesal padamu, Ima!"


Fania pun masuk ke dalam mobilnya. Bersamaan dengan itu, sekertaris Ve datang dengan mobilnya. Ia menghentikan sesaat laju mobilnya di depan pintu gerbang. Kemudian ia melempar senyum padaku. Aku pun membalasnya. Dan tiba-tiba mimik muka sekertaris Ve berubah, saat melihat Fania yang tengah menyalakan mobilnya. Kemudian pergi bersama mobilnya.


Aku pun masuk ke dalam kantor. Disusul sekertaris Ve yang berjalan cepat menghampiriku.


"Imania! Itu tadi siapa?"


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Hai, Readers Keceh ...!


Apa kabar kalian? Baik semoga, ya?


Ini Author Keceh datang lagi. Mau kasih tahu. Untuk up bulan ini, sepertinya Author Keceh akan kasih 2–3 episode per hari, ya?


Soalnya, Author Keceh mau ngerjain beberapa buku antologi bersama.


Tapi, tenang ... Author Keceh insyaAlloh rajin UP setiap hari. Semoga tidak ada halangan, ya?

__ADS_1


Seperti biasa, Author akan mengambil waktu terbit/up, setiap pukul 06.00 WIB. Dan pukul 19.00 WIB.


Thank you ...! Readers Keceh Badeh!


__ADS_2