BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Pindah Rumah


__ADS_3

Masih kutangkupkan kedua telapak tangan ke wajahku. Aku tidak mungkin melihat sekertaris Ve dalam keadaan seperti itu.


"Kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?" tanya pak Wibowo.


"Aku tidak bisa melihat sekertaris Ve dalam keadaan seperti itu, Pak."


Tiba-tiba saja, pak Wibowo menarik tanganku untuk turun. Dan kedua mataku masih terpejam.


"Ada apa denganmu?" tanya pak Wibowo lagi.


"Maaf ... apa sekertaris Ve sudah membenahi pakaiannya?" tanyaku to the point.


"What?!" Sekertaris Ve tiba-tiba berteriak.


Aku pun memberanikan diri untuk membuka mata. Langsung kudapati sekertaris Ve yang sedang duduk di kursinya. Dan seorang laki-laki berseragam security—Rangga— yang tengah memijat punggung sekertaris Ve.


"Apa yang kau duga, Imania?" tanya sekertaris Ve.


"Ah, ti-tidak ada apa-apa, Kak Ve. Aku tidak menduga apa-apa, he-he."


Pak Wibowo pun segera masuk dan berbicara tentang agenda rapat besok pada sekertaris Ve. Setelah itu, ia langsung keluar dari ruangan sekertaris Ve.


Pak Wibowo melewatiku yang masih berdiri terpaku menatap sekertaris Ve dengan bingung.


"Ada apa, Imania. Kemarilah."


Aku pun masuk, dan duduk berhadapan dengan sekertaris Ve. Rangga yang masih memijat punggung sekertaris Ve, tiba-tiba mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku tersenyum kecut dengan kelakuan Rangga.


"Oh ... yeah ... bagian situ enak," racau sekertaris Ve lagi.


"Turunkan sedikit tanganmu, Baby," perintah sekertaris Ve pada Rangga.


Rangga terus memijat sekertaris Ve sembari mencuri-curi pandang padaku. Sesekali, Rangga memainkan alisnya untuk menggodaku. Namun, aku tak mempedulikannya.


"Yeah ... terus Sayang ... lebih menekan lagi Baby."


Aku menghela napas kasar. Sekertaris Ve ada-ada saja. Apa dia tidak memikirkan dugaan para karyawan? Dia meracau cukup keras. Pantas saja, kami sempat menganggapnya berbuat macam-macam.


"Ada apa, Imania."


"Aku ingin bicara berdua saja denganmu, Kak Ve."


"Baiklah. Sayang ... lanjutkan pekerjaanmu. Dan ...." Sekertaris Ve mengambil sesuatu dari tasnya. Mengeluarkan sejumlah uang untuk diberikan kepada Rangga. "Ini upah pijatmu."


"Thank you, Honey," ucap Rangga sembari menerima uang tersebut.


"Kiss dulu, donk?" Sekertaris Ve menunjuk bibirnya sendiri.


Itu membuatku harus memalingkan wajah ke samping.


"Emmuach!" Terdengar kecupan dari bibir Rangga.


Kemudian Rangga berlalu dari Ruangan sekertaris Ve. Aku geleng-geleng kepala atas kelakuan mereka berdua.


Setelah Rangga menutup pintu tersebut. Aku langsung mengutarakan niat kepindahanku ke rumah baru.


"Kak Ve, aku mau pindah ke rumah pemberian Dimas."


"Wah, itu bagus. Aku senang mendengarnya. Itu berarti ... kau akan tinggal di sana?"


"Ya, Kak Ve."


"Kapan itu?"


"Nanti sore," jawabku.


"Sudah memberitahu Dimas?"


"Justru, aku ke sini untuk meminta bantuanmu. Antarkan aku ke rumah baru, nanti sore Kak Ve. Maksudku, bantu kepindahanku ke rumah baru. Karena aku juga belum memberitahukan kepada Dimas."


"Kenapa kau belum memberitahunya?"


Aku terdiam untuk sesaat. Lalu berkata, "Hanya ... ingin memberinya kejutan, Kak Ve."


"Hm ... bukan sedang bertengkar?"


"Kami baik-baik saja, Kak Ve."


"Baiklah, aku akan membantu kepindahanmu sampai beres."


"Terima kasih, Kak Ve."


Setelah dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku pun berdiri. "Kak Ve, aku akan kembali ke ruang kerjaku."


"Tunggu! Duduklah!" perintahnya.


Aku kembali duduk. "Ada apa, Kak Ve?"

__ADS_1


Untuk sesaat, sekertaris Ve terdiam, sembari memainkan bolpoin di tangan kanannya. Kemudian berkata, "Imania, jangan pernah meragukan kesetiaan Dimas terhadapmu. Dan jangan meragukan ketulusannya padamu. Itu melebihi apa pun yang ia miliki."


Aku menatap sekertaris Ve bingung. "Kenapa tiba-tiba bicara begitu?"


Sekertaris Ve meletakkan bolpoin di atas meja. Lalu mengambil bedak dari tasnya. Kemudian berkata sembari memoles ulang wajahnya. "Kadang-kadang ... seseorang memilih diam. Sebab ia tak sanggup untuk mengatakan. Itu bukan berarti bahwa ia tak bisa memutuskan. Hanya saja ... sesuatu yang paling berbahaya membuatnya tertekan."


Aku menangkap kalimat tersebut dengan jelas. Ini pasti tentang hubunganku dengan Dimas.


"Imania, jangan pernah meragukan kesetiaan Dimas padamu. Jangan pula meragukan ketulusan cintanya terhadapmu. Dimas berada pada posisi yang sulit, bukan pilihan yang sulit. Karena jika itu hanya soal pilihan, Dimas akan mudah memutuskan pilihannya, yaitu kau."


"Apa Dimas membicarakan sesuatu tentangku padamu?"


"Tidak banyak."


Jika kutanya, sekertaris Ve selalu mengatakan 'tidak banyak', tapi pada kenyataannya, dia selalu tahu semua tentang hubunganku dan Dimas.


Usai memoles ulang wajahnya, sekertaris Ve meletakkan kembali bedak tersebut ke dalam tas. Kemudian dia menatapku secara seksama.


"Imania, kau perlu berbesar hati dan bersabar."


"Selama ini aku sudah berbesar hati dan bersabar, Kak Ve."


"Ya, aku tahu. Berarti mau tak mau kau harus menjadi wanita yang super sabar. Ada saat yang tepat untuk kalian bersatu dan hidup damai di dalam cinta yang indah. Untuk sekarang, biar kau kecap getir terlebih dahulu. Daripada kau mengecap manis, setelahnya kau merasai empedu. Iya, kan?"


Aku menghela napas dalam. "Apa aku salah, jika sedikit saja bersikap tegas?"


"Tidak."


"Apa aku salah, jika meminta kepastian?"


"Tidak."


"Apa aku salah, jika ... menginginkan Dimas untuk mengakhiri pertunangannya dengan Nessa?"


"Iya."


Jawaban sekertaris Ve membuatku menatapnya terkejut. "Apa salahku?"


Sekertaris Ve menyandarkan kepalanya ke kursi. "Aku pusing memikirkan hubungan kalian. Apalagi kalian yang menjalani. Pasti sangat rumit dan berat. Tapi percayalah, selalu ada pelangi setelah hujan."


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kak Ve? Apa salahku jika meminta Dimas mengakhiri pertunangannya dengan Nessa? Lagi pula, Dimas tidak mencintai Nessa."


"Jika aku memberitahumu, maka kau akan pergi dari Dimas. Aku jamin itu."


"Apa maksudmu? Kumohon ... beritahu aku!"


Saat kami sedang berbicara serius. Tiba-tiba handphone sekertaris Ve berdering.


"Ya, baiklah. Aku ke situ sekarang," kata sekertaris Ve, lalu menutup teleponnya.


Karena ada urusan mendadak, pembicaraan kami terjeda. Akhirnya aku pun keluar dari ruangan sekertaris Ve. Aku kembali melangkah menuju ruanganku.


***


Jam kerja berakhir. Aku pulang diantar sekertaris Ve. Aku memandang sekertaris Ve yang tengah menyetir.


"Kak Ve, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi siang."


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang."


"Kenapa?"


Sekertaris Ve menghela napas kasar. Namun, tak menjawab pertanyaanku. Kurasa, aku tidak perlu menanyakan lagi. Sekertaris Ve sama saja dengan Dimas. Tidak akan memberiku jawaban.


Setelah beberapa lama berkendara, akhirnya kami sampai di rumah orang tuaku. Dari mobil, aku sudah mendapati Fania yang tengah mengeluarkan koper dan kardus dari dalam rumah. Ia pun menyadari bahwa aku sudah pulang. Senyum mengembang terpancar jelas di wajahnya.


Aku dan sekertaris Ve langsung turun. Ayah, dan ibu turut menyambut kepulanganku, yang sekaligus akan berpamit untuk tinggal di rumah baru. Arka juga tampak sangat gembira. Kami pun secara serentak memasukkan barang-barang ke dalam mobil.


Setelah semuanya siap, kami pun berpamitan kepada ayah dan ibu. Kedua orang tuaku tidak terlalu sedih saat kupamiti. Lagi pula, kami masih satu kota, bukan pindah ke lain pulau atau negara. Jadi, mereka bisa mengunjungiku sewaktu-waktu. Hanya sekitar 30 menit dari rumah orang tuaku. Mungkin, yang akan paling mereka rindukan adalah Arka.


***


Sesampainya di rumah baru, Fania dengan girangnya langsung melihat-lihat kamar mana yang akan dijadikan tempatnya beristirahat dan bermimpi dalam lelap. Dan Fania memilih kamar atas.


Kamar di atas ada tiga, satu untukku, satu lagi ditempati Fania, dan satunya lagi kosong. Sedangkan tiga kamar di lantai bawah kosong. Usai meletakkan barang-barang, kami pun duduk bersama di sofa lantai atas.


Sekertaris Ve juga masih di sini bersama kami. Dia tiba-tiba membuka pembicaraan. "Bagaimana jika kita memesan makanan?"


"Setuju!" sahut Fania langsung.


"Baik, biar aku yang memesan."


Sekertaris Ve menghubungi sebuah restoran. Ia pun memesan beberapa menu makanan.


"Imania, tadi pagi Dimas menjemputmu, loh?" kata Fania.


"Biarkan saja."

__ADS_1


"Cowok ganteng begitu dicuekin. Buat aku saja kalau begitu!"


"Tidak bisa!" ucap sekertaris Ve tiba-tiba. "Ma-maksudku Dimas hanya untuk Imania. Jadi, kau jangan mimpi, Fania."


"Haish! Dasar serigala betina!"


"Berhenti menyebutku seperti itu!"


Fania tidak menanggapi sekertaris Ve yang menatapnya dengan kesal. Ia justru memalingkan pandangan pada Arka.


"Ayo, Arka, kita bermain!"


Fania pun beranjak membawa Arka menuju kamar. Sedangkan aku masih duduk di sofa bersama sekertaris Ve.


"Kak Ve," panggilku yang duduk berseberangan dengannya.


"Ya, Imania," jawab sekertaris Ve seraya membaringkan tubuhnya di sofa.


"Apa kau menyukai Rangga?" tanyaku penasaran.


Sekertaris Ve tidak menunjukkan mimik terkejut atas pertanyaanku. "Ya, aku menyukainya."


"Apa kalian berpacaran?"


"Seperti yang kau kira saja."


"Orang-orang di kantor menganggap kalian berpacaran dan memiliki hubungan khusus," terangku.


Sekertaris Ve pun tertawa mendengar penuturanku. "Biar saja."


"Jadi, itu benar?"


"Ya, itu benar," jawabnya santai sembari bermain handphone.


"Kak Ve, Rangga sudah punya istri."


"Ya, aku tahu." Sekertaris Ve menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone.


"Istri Rangga adalah sahabatku."


Kali ini sekertaris Ve sedikit terkejut. Tetapi hanya menanggapi dengan gumaman. "Oh ...."


"Besok akan kuputuskan Rangga," lanjutnya sembari menolehku.


"Apa kau marah padaku?"


Sekertaris Ve tertawa mendengar pertanyaanku. "Aku hanya tertarik padanya. Body-nya seksi, wajahnya menawan. Tapi aku tidak serius dengannya. Hanya bermain-main saja."


"Itu berarti, kau tidak pernah melakukan hubungan intim dengannya?" Ya Tuhan! Aku menggigit bibirku sendiri. Menyesali pertanyaanku. "Kak Ve, maafkan aku ... aku tidak bermaksud—"


"Dia hanya tukang pijatku di kantor. Punggungku sering terasa pegal. Dia hanya tukang pijat pribadiku, tidak lebih, Imania. Aku sama sekali tidak tertarik dengan lelaki orang. Aku hanya menyukai lelaki single. Jikalau ingin melakukan ninu-ninu, aku punya banyak lelaki untuk memuaskan nafsuku."


Aku jadi teringat kata-kata Mbah Mar waktu itu, terkait sekertaris Ve. (Episode 128)


"Kau ... kau memiliki karir yang cukup bagus. Namun, itu bukan karena prestasi. Kau hanya beruntung karena menempel pada seseorang. Dan kau juga memanfaatkan situasi masa lalu untuk peluangmu sendiri."


"Bukan hanya itu. Kau sudah melakukan hubungan terlarang dengan banyak pria."


"Aku juga bisa menerawang lebih jauh. Tentang kehausanmu akan laki-laki!"


Sekarang aku semakin yakin, bahwa ucapan atau ramalan mbah Mar itu benar adanya. (Kok, bisa, ya? haha)


Ting-tung!


Suara bel membuyarkan lamunanku. Aku pun bergegas turun menuju pintu. Apa itu go food pesanan sekertaris Ve? Tetapi, kok, cepat sekali?


Kubuka pintu itu dan seseorang yang berdiri di depan pintu, langsung memeluk tubuhku dengan erat.


"Nia, aku merindukanmu ...."


Niatku untuk menghindarinya sementara waktu, gagal. Bagaimana dia tahu bahwa aku di sini? Apa sekertaris Ve yang dengan sengaja memberitahunya?


Aku mendorong tubuhnya. Dan segera beranjak menjauhinya. Tapi Dimas mengejarku. Dia meraih lenganku, dan aku pun kembali masuk ke dalam pelukannya.


"Lepaskan!" Aku berusaha melepaskan diri darinya.


Namun, Dimas membawa tubuhku terpojok ke dinding. Ia menatapku dengan tatapan elangnya.


"Kenapa tidak membalas pesanku?"


"Dimas, lepaskan!"


Dimas mendekatkan wajahnya padaku. "Aku merindukanmu, Nia. Kau membuatku tidak bisa tidur semalaman. Aku gelisah memikirkanmu."


"Dimas, di sini ada orang lain. Menjauhlah!"


Kembali kudorong dadanya. Saat aku hendak berlari, Dimas meraih lenganku. Menahan tubuhku ke dinding. Saat ini, aku sedang benar-benar ingin menunjukkan sikap tegasku padanya. Tanganku terus berusaha mendorongnya. Akan tetapi, Dimas malah mencekal pergelangan tanganku, memaku ke dinding, di samping kepalaku.

__ADS_1


"Dimas!"


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2