
Romantisme malam.
Malamnya, kami tengah asyik bermain piano. Sebuah lagu kenangan kami mainkan. Aku duduk di sebelahnya. Ia memainkan setiap tuts piano dengan sentuhan-sentuhan jemarinya.
Melodi piano mengalun indah memenuhi ruangan. Aku yang ikut menyanyikan lagu tersebut pun tak dapat membendung air mata. Ini adalah lagu yang sudah menemani kisah kami bertahun-tahun. Tidak disangka kami bisa memainkannya kembali.
Dimas menatapku sesekali, kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada tuts piano. Satu tangan kulingkarkan ke pinggangnya sembari bersandar di pundaknya. Menikmati alunan lembut nada-nada cinta yang bersentuhan seirama denyut nadiku yang terus bergetar merasai alunan.
Kisah cinta kami tidaklah mudah. Aku sudah pernah memberitahukan kepada kalian berkali-kali, bukan? Untuk sampai di titik ini, kami harus mendaki tebing yang curam. Pada jantung kehidupan yang terjal. Langkah kami tak terhentikan, hingga meniti menuju hati yang selalu kami rindukan. Bersama iman dan takwa. Bahwa pada dasarnya, jodoh berada pada genggaman tangan Tuhan. Aku sendiri masih tidak begitu menyangka kami bisa bersatu kembali. Dalam balutan ikatan ikrar islami. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Sang Penguasa atas segala sesuatu.
***
Pagi selanjutnya, suamiku libur bekerja. Ia tengah membantuku memasak di dapur. Dia sendiri yang meminta untuk membantuku. Sehingga bi Surti kusuruh untuk membersihkan rumah saja.
"Mbak, Mas, ada tamu." Bi Murti tiba-tiba datang menghampiri kami yang tengah asyik memasak.
"Siapa, Bi?" tanyaku.
"Bapak sama ibunya, Mas Dimas."
Tidak lama kemudian mereka menyusul ke dapur.
"Wah, lagi masak apa?" Bu Hera menghampiriku.
Segera kucuci tangan dan menyalami mereka.
"Ah, ini, Ma. Imania lagi kepingin soto. Jadi bikin sendiri saja, dibantuin Dimas," jawabku.
"Sini, biar Mama yang masakin. Gini-gini Mama pernah ikut kursus memasak, loh?" katanya dengan senyum mengembang.
Kok, tumben. Bu Hera terlihat sangat manis padaku. Biasanya saja jutek dan dingin.
"Kamu masih hamil trimester pertama, tidak boleh terlalu kecapekan," ucap bu Hera sembari mengaduk kuah soto.
"Mama sudah tahu kalau Imania hamil?" tanyaku terkejut.
"Dimas yang memberitahu kami kemarin," sahut pak Wibowo.
"Eh, ini sudah dibumbui belum?" tanya bu Hera.
"Belum, Ma."
"Kalian duduk saja. Biar mama yang masak."
"Kalau kepingin apa-apa kamu tinggal bilang saja sama Mamamu itu. Dia pasti siap bantu bikinin," kata pak Wibowo padaku.
"Iya, Imania. Jangan sungkan-sungkan. Yang penting kamu harus jaga kandunganmu itu dengan baik, ya?" kata bu Hera.
"Iya, Ma."
Dimas mengajakku duduk di meja makan sembari menunggu sotonya matang. Lagi-lagi aku tidak menyangka, kehamilanku membuat bu Hera sangat perhatian padaku. Ya Allah SWT ... tiada henti puji syukur atas semua rahmat-Mu padaku. Limpahkanlah keharmonisan dan kebahagiaan di dalam rumah tanggaku.
(Readers Keceh bantu aamiin .... 🤲)
***
Usai makan soto bersama, kami duduk di sofa. Bu Hera dengan sangat perhatian memberikan nasehat-nasehat padaku. Tentang makanan yang baik untuk ibu hamil, buah yang bagus untuk ibu hamil, olahraga yang paling sesuai untuk ibu hamil. Pokoknya semuanya.
"Tadi, tuh, kami sudah janjian sama orang tuamu untuk ke sini. Tidak tahu ini kenapa lama sekali," kata bu Hera.
Ting-tung!
"Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Itu pasti mereka," lanjut bu Hera.
Saat aku hendak beranjak, bu Hera menahanku. "Kau duduklah. Biar Mama yang membuka pintu."
Aku hanya tersenyum melihat tingkah bu Hera yang begitu posesif memperhatikanku. Itu membuatku sangat terharu. Dan benar saja, ayah dan ibuku juga datang. Mereka membawa bermacam-macam buah-buahan. Mereka begitu bahagia mendengar kabar kehamilan dariku.
***
Malam hari.
Aku tengah berbaring bersama Dimas di ranjang, sembari bermanja-manja. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Sebuah panggilan masuk dari Fania.
"Halo."
"Imania, aku turut berbahagia mendengar kabar kehamilanmu."
__ADS_1
"Iya, Fan. Alhamdulillah."
"Aku sudah tidak sabar ingin segera menimang bayimu."
"Baru juga delapan Minggu, Fan. Masih lama."
"Bagaimana perasaanmu setelah hamil?"
"Sangat ... sangat bahagia. Semua orang semakin menyayangiku. Bahkan ibu mertuaku, sekarang menjadi sangat perhatian padaku."
"Singa betina itu?"
"Fania, jangan begitu, ah."
"Nia, berikan ponselmu padaku," pinta Dimas.
Aku pun menyerahkan ponselku padanya. Kemudian Dimas me-loudspeaker-nya.
"Hai, kakak pencopet."
"Hai, adik durhaka? Ciyeee, bentar lagi menjadi seorang Young Daddy, nih, ye?"
"Bukan. Tapi Hot Daddy, ha-ha."
"Ck, dasar otak mesum!"
Akhirnya kami pun berbincang sembari bercanda, karena panggilan di ubah menjadi video call. Sesekali Dimas meledek Fania dengan memamerkan kemesraan denganku. Akhirnya, dengan iseng Dimas menyambungkan panggilan video call dengan Rudi. Dan kami terus menggoda mereka agar segera kembali berpacaran dan menyusul kami untuk ke jenjang pernikahan.
Satu lagi fakta mengejutkan tentang Fania. Dia mantap untuk berhijab. Rudi berkali-kali memuji kecantikan Fania tatkala melihatnya mengenakan hijab. Fania berkali-kali pula tersipu malu mendengar Rudi memujinya.
"Ciyeee? Ada yang lagi berbunga-bunga, nih?" godaku.
"Ada juga yang mulai jatuh cinta," sahut Dimas menyindir Rudi.
"Apaan, sih, kalian." Fania tersenyum malu.
Akhirnya dua jam kami ngobrol bersama. Setelah itu tidur, deh.
***
Dua bulan kemudian.
Plak!
Wanita itu menampar pipi Parmin. Ratna. Wanita itu adalah Ratna.
"Dasar berengs*k! Kamu mengerjaiku!"
"Loh, kan, saya tidak pernah bilang bahwa saya adalah Mas Dimas."
"Seharusnya kamu, tuh, bilang dari awal kalau namamu adalah Parmin. Dasar jelek!" omel Ratna dengan emosi. "Kemarikan handphone-mu!"
"Untuk apa, Mbak?"
"Kemarikan!" Ratna mengulurkan tangannya.
"Jangan, Mbak. Ini handphone saya mau buat apa?" Parmin menahan sakunya yang berisi handphone miliknya.
"Cepat! Atau mau kutampar lagi?!"
Akhirnya Ratna mengambil paksa handphone Parmin dan membantingnya. Parmin hanya bisa bergeming menatap handphone miliknya yang sudah hancur. Bersamaan dengan itu, Fania dan Rudi datang. Mereka turun dari mobil. Dan Rudi sangat terkejut ketika melihat wanita yang tengah berdiri di depan pintu gerbang.
"Ratna!" sebut Rudi dengan mata terbelalak seakan tidak percaya atas apa yang ia lihat di depan matanya.
Ratna tampak mengamati Rudi sejenak, lalu berkata pelan, "Kakak."
"Benar ini kau? Ratna?" Rudi seakan tengah memastikan atas apa yang ia lihat.
"Kakak."
Setelah saling menatap untuk beberapa saat, akhirnya mereka pun berpelukan.
"Ratna, ini aku Rudi, kakakmu."
"Iya, Kak, aku tahu. Aku masih mengenalimu."
"Bagaimana kau bisa di sini?"
__ADS_1
"Setahun yang lalu, ayah meninggal karena kecelakaan bersama ibu tiriku, Kak?"
"Innalilahi wainnailaihi rojiun ...."
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Jadi, aku mencarimu ke kota ini. Tak disangka, kita bertemu kembali. Berbulan-bulan aku mencarimu."
"Kalau begitu pulanglah. Ibu pasti sangat senang melihatmu kembali."
Ratna memandang penampilan Rudi dari atas ke bawah. Kemudian melirik mobil Rudi. "Kakak sekarang menjadi orang sukses, ya?"
"Alhamdulillah, Dek."
Ratna melirik Fania yang berdiri di belakang Rudi. "Itu siapa?"
"insyaAllah, dia adalah calon istri kakak," jawab Rudi.
Fania tampak terkejut mendengar pernyataan dari Rudi. Sedangkan Parmin tengah meratapi nasibnya, ia meraih handphone-nya yang telah hancur tersebut.
"Pak Parmin kenapa?" tanya Rudi.
"Ini, Mas. Mbak Ratna membanting handphone saya," kata Parmin sedih.
"Lah, kenapa memangnya, Dek? Kamu ada masalah apa sama Parmin?"
"Anu, Kak."
Akhirnya aku dan Dimas menghampiri mereka. Dimas pun menceritakan yang sebenarnya terjadi. Rudi geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya tersebut. Akan tetapi, bagaimanapun Ratna adalah adik Rudi. Dia juga sudah tidak punya siapa-siapa selain Rudi dan ibunya. Jadi, Rudi pun berniat membawa Ratna pulang.
"Tidak, Kak. Minggu depan, Ratna mau menikah dengan seseorang. Ratna ke sini cuma mau minta restu dari Kakak sama ibu," jawab Ratna. "Ratna pikir, lelah juga bermain-main, sudah saatnya Ratna harus menjalani kehidupan yang serius dan lebih baik. Ratna ini sudah banyak berdosa, Kak."
Rudi memeluk adiknya kembali. "Aku akan membawamu pulang terlebih dahulu. Perkenalkan calon suamimu itu kepada kami."
"Setelah menikah, kami akan tinggal bersama di Bali. Dia tidak kaya, tetapi dia sangat perhatian padaku dan menerimaku apa adanya."
"Baguslah. Memang, kekayaan itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah, dia yang menerimamu apa adanya," ucap Rudi sembari melirik Fania.
Sekarang, aku ingat. Jadi ternyata, Ratna adalah gadis yang pernah diceritakan bu Widya padaku. (Episode 160)
"Apa ... Rudi adalah putra Bibi satu-satunya?"
"Tidak. Bibi punya seorang anak perempuan. Namanya Ratna. Dia adik Rudi. Usianya dua tahun lebih muda dari Rudi. Ratna memilih tinggal bersama ayah dan ibu tirinya."
Ratna pun meminta maaf padaku karena telah menggoda Dimas. Ia juga berjanji akan menjadi wanita yang lebih baik dalam menjaga kehormatan dan harga dirinya. Dia bersungguh-sungguh ingin bertaubat.
Setelah itu, Rudi dan Fania pergi dan membawa Ratna untuk ikut bersamanya.
"Pak Parmin, kenapa menangis? Sedih, ya, karena handphone itu?" tanyaku melihat Parmin menangis tersedu-sedu.
Parmin tetap menangis dan tidak menjawab pertanyaanku. Dimas segera mengambil handphone-nya dan menghubungi seseorang.
"Halo, tolong kirimkan sebuah smartphone terbaru dan kirim ke alamat rumah saya!"
Setelah itu, Dimas menutup teleponnya. Anehnya lagi, Parmin malah semakin terisak.
"Loh, kenapa lagi, Pak? Tidak senang dibelikan handphone baru?" tanyaku heran.
"Bukan, Mbak. Saya, tuh, menangis karena melihat kakak beradik tadi yang baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Sekaligus terharu mendengar pernyataan Ratna yang ingin bertaubat." Parmin mengusap wajahnya yang basah.
"Oh, kirain karena handphone. Berarti tidak usah kubelikan handphone, nih?" ledek Dimas.
"Aduh, jadi, dong, Mas. Nanti Parmin kesepian, kalau enggak ada cewek yang Parmin godain."
"Ya, sudah. Kami mau pergi dulu, ya? Ditunggu saja handphone-nya, sebentar lagi datang."
Tiba-tiba Parmin menangis lagi.
"Loh, kenapa lagi, Pak?" tanyaku semakin heran.
"Terharu, Mbak. Terima kasih banyak atas kebaikan Mas Dimas dan Mbak Imania. Parmin doakan, semoga kandungan Mbak Imania selalu sehat dan terjaga. Mas Dimas semoga semakin sukses."
"Aamiin ...."
Saat kami hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Parmin kentut keras sekali.
"Aduh, Mas, Mbak, perut saya mau lahiran. Eh, maksudnya mules sekali." Kemudian lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
Dimas langsung mengelus lembut perutku yang mulai membuncit, sambil berucap, "Amit-amit jabang bayi. Amit-amit jabang bayi."
__ADS_1
(Oalah, dasar, Parmin ... Parmin .... Wkwk)
-- BERSAMBUNG --