
Aku pun turun dari lantai enam melalui lift dan menuju ruang rawat bu Widya. Sesampainya di sana, aku sudah mendapati Rudi yang tengah mengawasi barang-barang milik ibunya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
Aku menghampiri bu Widya yang tengah duduk di ranjang pasien. "Bibi jadi pulang?"
"Bibi sudah enggak betah di sini. Bibi juga sudah enakkan. Kadar gula darah bibi sudah turun pula. Untuk apalagi di sini? Lebih enak di rumah sendiri," katanya.
"Oh, syukurlah."
"Yang penting Ibu harus menjaga pola makan dan hindari beberapa makanan yang mengandung kadar gula tinggi. Dengarkan kata dokter," tutur Rudi menasihati.
Rudi yang sudah siap dengan tas berisi pakaian pun mengajak kami untuk keluar dan pulang. Kutuntun lengan bu Widya, sedangkan Rudi membawa barang-barang.
Kami keluar dari rumah sakit dan menunggu Rudi yang tengah memasukkan barang-barang ke bagasi mobilnya. Tiba-tiba Nessa dan Dimas menghampiri kami.
"Sudah boleh pulang, Bibi?" Nessa menyalami bu Widya.
"Alhamdulillah, sudah, Van," jawab bu Widya.
"Wah, Rudi sudah punya pacar, nih? Sebentar lagi mantu, dong?" goda Nessa.
"Alhamdulillah, Rudi mendapatkan calon istri yang tepat," jawab Bu Widya sembari memeluk punggungku. "Kalian belum berkenalan. Ayo, kenalan dulu."
"Kami sudah saling kenal, Bibi," jawab Nessa.
Aku dan Dimas seperti orang kikuk. Bersikeras kami tidak saling menatap. Kuatur perasaan ini agar tidak goyah lagi. Meski pada kenyataannya sulit.
"Wah, kalian sudah saling kenal?"
"Ya, Bibi," jawabku.
"Nak Vanessa kapan menikah?" tanya bu Widya.
"Segera, Bibi," jawab Nessa tersenyum sembari mengalungkan tangannya ke lengan Dimas.
"Kalian cukup serasi. Semoga Rudi cepat menyusul kalian ke pelaminan," kata bu Widya.
"Terima kasih, Bibi. Memang banyak yang bilang begitu."
Dan tiba-tiba saja Rudi muncul dan langsung menggenggam jemariku.
"Kami juga cukup serasi, bukan?" tanya Rudi sembari mengulum senyum.
"Ya, kalian sangat serasi," puji Nessa.
Berbeda dengan mimik wajah Rudi dan Nessa, aku dan Dimas hanya bergeming, mencoba tak saling memandang.
"Ya, sudah, kami pulang dulu, ya? Kami masih ada acara," ucap Nessa.
Dimas dan Nessa pun masuk ke dalam mobil dan beranjak dari parkiran. Begitupun kami, yang juga masuk ke dalam mobil dan langsung menuju rumah Rudi.
***
Kami sampai di sebuah rumah yang berukuran cukup besar dan luas. Lumayan menarik, tetapi tidak begitu megah. Rumah ini mungkin sengaja didesain dengan gaya sederhana. Namun, ini terlihat sangat indah dan nyaman, dengan kebun yang cukup luas di sisinya. Rumah ini tampak segar dan asri.
__ADS_1
Seorang satpam membuka pintu gerbang tersebut. Rudi pun membawa mobilnya masuk. Kemudian kami turun dari mobil. Rudi memencet bel, hingga seseorang membuka pintu rumah tersebut.
"Wah, Ibu sudah pulang? Alhamdulillah," kata seorang wanita yang kuperkirakan usianya 30-an.
"Siapkan makan malam untuk kami," perintah Rudi kepada wanita yang membuka pintu tersebut.
"Siap, Mas!" ucapnya sembari mengangkat tangannya, menghormat kepada Rudi.
Kami pun masuk dan duduk bersama di sofa.
"Ratmi, minta pak Yusuf untuk mengeluarkan barang-barang di bagasi mobil," perintah Rudi lagi.
"Siap, Komandan!" Lagi-lagi Ratmi mengangkat telapak tangannya ke pelipis.
Aku tersenyum geli melihat tingkah Ratmi. Dia sangat patuh dengan perintah Rudi.
"Namanya, Ratmi. Dia adalah salah satu asisten rumah tangga di sini." Bu Widya memberitahuku.
Aku mengangguk mengerti.
"Ini rumah kami. Tidak mewah, tapi nyaman, bukan?"
"Iya, Bibi. Udara di sini juga cukup sejuk dan asri. Seperti tinggal di pedesaan."
"Semoga Nak Imania betah di sini nantinya," tukas Bu Widya.
Itu membuatku semakin merasa canggung. Rudi yang duduk berhadapan denganku pun melirikku sembari tersenyum.
Adzan maghrib berkumandang. Kami melaksanakan shalat berjamaah di rumah Rudi. Sejujurnya, aku merasa tenang dan nyaman berada di sini. Bu Widya memperlakukanku seperti putrinya sendiri, sedangkan Rudi begitu menghargaiku.
Usai shalat berjamaah, kami makan bersama. Menu yang disajikan cukup sederhana. Sangat jauh berbeda dari yang tadinya terpikir olehku. Secara Rudi adalah pemilik restoran terkenal, tetapi di rumah sendiri, ia makan dengan menu seperti orang-orang pada umumnya. Sangat jauh dari ekspektasiku.
"Terima kasih, Ratmi," ucap bu Widya.
"Ratmi, sayur sop untuk Ibu dibuat khusus, kan?"
"Nggih, Mas. Semua atas resep dokter," jawab Ratmi sembari tersenyum.
"Ibu, maafkan Rudi, ya? Saat ini, Ibu perlu menjaga asupan makanan. Nanti, kalau kadar gula Ibu sudah normal kembali, Ibu bebas makan apapun," tutur Rudi.
"Tidak apa-apa, Nak. Yang penting, ibu bisa melihatmu bahagia bersama Nak Imania. Itu cukup memacu semangat ibu untuk sembuh."
"Benar. Ibu harus sembuh!" ucap Rudi sembari menggenggam telapak tangan ibunya.
Aku tersenyum haru setiap melihat kedekatan mereka berdua. Membuat kekaguman tersendiri terhadap Rudi. Lelaki yang penuh tanggung jawab dan berbakti kepada orang tua. Rudi adalah lelaki yang pastinya sangat diidamkan wanita. Namun, aku belum mengidamkan dirinya. Entah kapan aku bisa mencintainya.
***
Pukul delapan malam, Rudi mengantarkanku pulang. Di dalam mobil, aku tak henti-hentinya mengagumi sosok Rudi.
"Jangan memperhatikanku seperti itu. Nanti aku jadi GR," ucap Rudi.
Sontak perkataannya membuatku malu. "Kau adalah sosok lelaki yang hebat," pujiku.
"Benarkah? Jangan terlalu memujiku. Nanti mobil ini terbang, Imania."
Aku tertawa kecil mendengar candaannya. "Serius, Rud."
__ADS_1
"Aku juga serius. Mobil ini bisa terbang bila kau terus memujiku."
"Aku kagum padamu, Rud."
"Aku juga kagum padamu, Imania."
"Serius, Rud."
"Iya, ini aku serius."
Kukerucutkan bibir, menanggapi gombalan Rudi.
"Imania, kau menjalani hidupmu dengan tabah. Bukankah itu hebat?"
"Tetapi kau lebih hebat. Kau hidup bekerja keras sejak kecil. Kau juga sangat berbakti pada ibumu. Hingga ibumu pun tiada henti berucap bangga memilikimu. Begitupun aku," tuturku.
"Kau bangga padaku?" tanyanya.
"Hm ...." Aku mengangguk.
"Tapi kau belum mencintaiku, kan?"
Pertanyaan Rudi membuatku terhenyak. Aku menatapnya heran.
"Aku tahu, kau menerimaku hanya setengah hati. Tapi aku akan membuatmu jatuh cinta padaku secara keseluruhan."
"Rudi."
Rudi menoleh padaku sembari mengulum senyum. "Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, walau kau tak cinta kepadaku." Kemudian Rudi kembali menatap lurus ke depan.
"Rudi."
"Hm ...."
"Kata-katamu itu mirip lirik lagu."
Rudi tertawa, lalu berkata, "Benar. Itu lirik lagu, ha-ha."
-- BERSAMBUNG --
_____________________________________________
Readers Keceh?
Demi kalian, Author Keceh tetap berusaha mengetik dengan semangat.
Tidak ada alasan bagi Author Keceh untuk berhenti berkarya.
Izinkan Author Keceh mengatakan sesuatu malam ini. Semoga ini bisa membuka hati setiap Readers di manapun berada dan siapapun itu.
Bagi seorang Author, menulis adalah sebuah hobi. Jika itu bukan hobinya, maka dia tidak akan menjadi penulis.
Ada banyak alasan, mengapa ia memilih untuk menulis. Menulis yang dilakukan sebagai hobi dan pekerjaan, tentu menyita banyak waktu. Karena, seorang penulis akan menuangkan setiap ide dan kreativitas tersebut dengan seni dan keindahan masing-masing.
Ada sebagian waktu yang ia senggangkan demi menulis. Jadi, untuk siapapun itu. Author Keceh berharap, agar kita semua dapat menghargai setiap karya-karya mereka.
Jadi, Author harap, kita semua bisa selalu menghargai karya-karya para Author dengan jiwa yang tulus. Ada banyak cerita dan usaha bagi para Author untuk menghibur para Readers Tersayang.
__ADS_1
Author Sayang kalian.
Thank you, sudah mendukung Author sejauh ini.