BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Gerimis Melanda Hati


__ADS_3

Aku masih menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut mas Bastian. Entah alasan apalagi yang akan ia keluarkan untuk membuatku percaya. Sudah sedari tadi sore aku ingin mendengar jawabannya perihal benda yang satu ini. Saat aku membuka satu per satu barang belanjaan yang ada di kantong plastik mas Bastian, aku semakin curiga.


"Itu?" Mas Bastian memalingkan wajahnya dari pandanganku.


"Mas!" Aku masih menahan emosi di dada yang hampir meledak. Meski harap-harap cemas ada jawaban lain yang tidak akan membuatku sakit hati.


"Itu ... aku hanya ingin mencoba saja."


Aku menatapnya heran. "Bukankah kamu tahu kalau kita melakukan program Keluarga Berencana? Jadi, untuk apa benda ini?"


"Apa salahnya mencoba?" Mas Bastian berkata seraya menatapku. Ada sorot kebohongan di matanya. Aku merasakan itu.


Aku pun menarik napas dalam. Sesuatu yang terasa sesak di dada semakin membuatku berat untuk berkata-kata. "Alasanmu tidak masuk akal, Mas!"


Mas Bastian berdiri kemudian menudingkan telunjuknya di depan wajahku. "Dengar! Aku sedang lelah! Suamimu ini baru saja pulang! Kau malah menuduh macam-macam! Istri macam apa kamu!"


Aku pun turut berdiri menghadapnya. Kutatap mata itu tajam. Mata yang selama ini menyiratkan kilau kehangatan. Mata yang selama ini menyoroti keluarga kecil kami dengan kasih sayang. Mata yang menaungi hati ini dengan ketulusan dan kelembutan. Ke mana mata itu? Sedangkan yang terlihat kini, adalah mata dengan pancaran amarah merah menyala, seakan di balik mata itu tersimpan kemarahan yang sebentar lagi akan tumpah. Mata yang terselimuti kilatan dusta.


"Mas, apa yang selama ini kau lakukan di belakangku? Jawab!" Dengan segenap emosi, menahan air yang akan tumpah membasahi wajah. Yang kuinginkan adalah penjelasan dari dalam hatinya yang terdalam. "Katakan, Mas!" ucapku seraya menepuk dadanya. Berharap ia akan berkata jujur.


"Aku tidak pernah melakukan apa-apa! Jangan menuduhku macam-macam!" Suara mas Bastian semakin keras memekakkan telinga. Baru pernah ia bersikap seperti ini. Inikah suamiku yang penuh kelembutan itu?


"Lalu ini apa?" Aku masih berusaha mengontrol emosi. Sambil memegang satu bukti di tangan.

__ADS_1


"Aku lelah bicara denganmu! Aku mau tidur. Capek!"


Mas Bastian pun pergi menuju kamar. Membiarkanku yang masih berdiri dan berderai air mata. Kujatuhkan tubuh ke lantai. Hatiku terasa runtuh, bersamaan dengan kepercayaanku.


Sebenarnya apa kesalahanku? Apa yang menyebabkan ia berpaling dariku? Apa kurangnya aku? Sehingga ia tega mengkhianati kesetiaan yang selama ini telah terjaga. Bahkan, aku masih bisa menolak seseorang yang pernah sangat spesial. Demi menjaga keutuhan rumah tanggaku.


Belum kering air mata ini, disusul rintik-rintik air hujan yang berjatuhan, membasahi bumi malam yang begitu dingin. Aku beranjak ke kamar. Membaringkan tubuh di samping Arka--yang berada di antara kami. Sekilas kutatap tubuh laki-laki yang telah tega mengkhianatiku. Ia berbaring membelakangi kami. Sejenak kuelus rambut Arka pelan, lalu mencium keningnya. Dalam hati aku berdoa, agar dikuatkan. Ya, Tuhan ... tegarkan dan tabahkan jiwaku.


Kupeluk jagoan kecil yang tengah terjaga. Dengan air mata yang terus menerus membasahi pipi, kulantunkan sebuah doa. Memohon kesabaran dan keselamatan untuk kami. Meminta pada-Nya agar senantiasa menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga kami. Walau ku tak tahu. Mampukah diri ini memaafkannya.


***


Kicau burung terdengar bersahut-sahutan. Menggugah insan yang masih terjaga dalam lelap. Kelopak mata ini terbuka setengah. Ada beban berat saat memaksanya terbuka. Kurasa mataku sudah cukup bengkak akibat gerimis yang melanda hati semalam.


Kubasuh wajahku dengan air yang mengalir dari dalam kran. Mata ini sudah sangat perih akibat mengeluarkan beban perasaan semalaman. Cukup! Aku harus membicarakan hal ini lagi dengannya! Lagi pula, aku tidak tahu, apakah mas Bastian sudah melakukan hal itu atau baru akan melakukan. Aku menghela napas dalam-dalam. Menahan amarah yang masih menyeruak di dalam benak.


Selesai mencuci muka, aku beranjak menuju dapur. Mengambil air putih untuk menyegarkan tenggorokan. Saat diriku mulai meneguk, terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat..


"Istriku."


Aku berhenti meneguk. Meletakkan gelas di wastafel. Menoleh ke belakang. Tampak seorang laki-laki yang sudah berdiri tepat di belakang tubuhku.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


______________________________________________


Hai, Readers Tersayang ....


Serius amat, nih, bacanya? Harus donk!


Eh, gimana, nih! Si Bastian udah ketahuan. Kira-kira Imania mau memaafkannya atau enggak ya?


Hm ... sakit banget, deh kayaknya. Kalian ikut merasakan perasaan Imania kah? Atau jangan-jangan ... Kalian juga pernah mengalami hal yang sama dengan Imania? Ah, jangan, donk? Semoga enggak, ya?


Kudoakan baik-baik Kalian ya sama pasangan? Jangan ada dusta di antara kita!


Ceileh? Wkwk ....


Yuk, mana jempolmu, hei! Mana coment-mu! Voting donk? Biar Author Keceh semakin semangat untuk menulis kisah Imania.


**Eh, inget! Ada GIVE AWAY, ya? Untuk VOTING terbanyak. Yuk! VOTE sebanyak-banyaknya dari sekarang! Jangan sampai ketinggalan, ya? Ingat! Pengumuman pemenang GIVE AWAY dengan VOTING TERBANYAK, tanggal ;


--*25 Maret 2020***--


Jangan lupa nantikan GIVE AWAY MENJELANG ENDING juga, ya?


Thanks .... 😘

__ADS_1


__ADS_2