
Hai, Readers Keceh?
Bagaimana episode kemarin? Cukup menyesakkan, ya?
Aku baca seluruh komentar kalian, loh? Aku selalu baca komentar kalian semua.
Wah, semalam Author diomelin sama Readers Keceh. Author dibilang tega, jahat, kejam. Hadeh! Kalian, mah, galak amat sama Author Keceh. Serasa dikeroyok masal tau? Hadeh!
Ada lagi yang bilang, bikin batal puasa, kata si Nonita Keceh, tuh. Gara-gara bikin mewek terus. Wkwk. (salah satu Readers Keceh Tersayang)
Ada juga Yendra Keceh yang suka kesel sendiri sama Dimas. Wkwk (salah satu Readers Keceh Tersayang pula)
Tenang? Stay Kalem, donk? Kalem ... woles, Babe.
Hari ini, ada ungkapan hati dari Rudi untuk Imania. Oh, ya? Author sayang kalian semua. Baca komentar kalian juga sambil ketawa-ketiwi, hehe. Habisnya, kalian, tuh, gemezzziiin banget, gitu!
Thanks, ya, masih setia ngikutin jejak Imania Saraswati.
Salam Sayang dari Author Keceh!
______________________________________________
Setelah selesai mengutarakan maksud dan tujuannya berdiri di depan pengunjung, yaitu untuk memberitahukan, bahwa mereka akan menikah. Mereka berdua pun turun, dan kembali ke mejanya. Disusul seorang waitress yang mengantarkan menu pesanan ke meja mereka.
"Imania, tidak usah dipikirkan. Dimas memang playboy," ucap mas Bastian.
"Kau lebih playboy, Bas! Dasar!" celetuk Fania.
"Imania, biarlah Dimas pergi. Dia tidak pantas untukmu," ucap mas Bastian lagi.
"Kau juga tidak pantas untuk Imania, Bas. Pergi kau ke ujung dunia. Dehidrasi di gurun Sahara. Hilang di Segitiga Bermuda. Dasar kau parasit!" Tiba-tiba Fania menghujat mas Bastian menggunakan lirik lagu Gita Gutawa.
"Kau yang parasit! Wanita aneh!" celoteh mas Bastian kesal.
Aku melirik ke arah Dimas dan Nessa. Mereka akan segera menikah. Beginikah nasibku. Aku merasakan patah hati lagi. Bagaimana caranya agar tetap tegar menghadapi kenyataan pahit ini? Aku masih dalam tahap pembelajaran kehidupan. Bahwa ternyata, cinta tidak semudah yang kita mau. Namun, semuanya adalah atas kehendak dan kuasa Tuhan.
__ADS_1
"Permisi, semuanya? Mohon waktunya sebentar."
Tiba-tiba saja, kami dikejutkan lagi dengan seseorang yang sudah berdiri di depan panggung dengan memegang mic di tangannya.
"Wah, ada drama apa lagi, nih! Ganggu orang makan saja!" gerutu Fania.
Mau apa Rudi berdiri di sana?
"Maaf, mengganggu moment makan siang kalian," ucap Rudi sembari tersenyum.
Para pengunjung restoran pun segera mengalihkan perhatian ke arah Rudi. Lagi-lagi, kami berhenti makan.
"Tadi, ada yang mengatakan isi hatinya dan sebuah pernyataan kebahagiaan di sini. Kuucapkan selamat atas cinta sejati di antara kalian berdua." Rudi mengalihkan pandangannya kepada Dimas dan Nessa yang tengah memandangnya.
"Semoga cinta sejati kalian semakin indah. Dan semoga ... kalian segera menikah," ucap Rudi lagi sembari tersenyum. "Mereka berdua adalah sahabatku. Kuucapkan selamat sekali lagi kepada Dokter Vanessa dan Dokter Dimas. Kalian sangat serasi."
Rudi kembali menatap ke seluruh pengunjung. Sesungging senyum melintas di wajahnya. Ia melanjutkan perkataannya, "Aku juga ingin mengungkapkan perasaanku di sini."
Rudi ingin mengungkapkan perasaan? Pada siapa? Apa padaku? Ah, itu mana mungkin. Atau pada Fania? Ah, itu lebih tidak mungkin lagi. Mereka, kan, Tom and Jerry. Mana bisa akur.
"Jangan mau, Imania. Rudi itu diam-diam menghanyutkan," ujar mas Bastian.
"Helo, Bas? Bukankah yang diam-diam menghanyutkan itu kau? Buktinya, perut Bella menggelembung, tuh!" celetuk Fania lagi.
Mas Bastian menghela napas kasar. Kemudian menatap Fania dengan kesal. "Aku malas bicara denganmu!"
Fania pun tertawa melihat mas Bastian kesal.
"Hei, wanita aneh! Mohon perhatian!" ucap Rudi tiba-tiba sembari menatap ke arah Fania.
"Ish! Kalau mau ngomong, ya, ngomong saja. Tidak usah minta diperhatikan. Memangnya penting buatku?"
Rudi menatap Fania dengan sedikit kesal. Namun, ia segera mengganti mimik wajahnya dengan senyuman hangat. Senyuman yang biasa ia tampilkan ke setiap pengunjung restoran. Akan tetapi, kali ini senyuman itu terasa agak berbeda. Karena Rudi menatapku sesekali dengan mata yang berbinar-binar.
"Aku ingin menyatakan perasaan dari hatiku yang terdalam. Untuk seorang wanita yang sangat spesial. Wanita yang kuat, wanita yang tegar. Wanita yang hebat!' Rudi mengalihkan pandangannya padaku.
__ADS_1
Dan itu membuatku tertunduk malu. Akankah Rudi mengatakan sesuatu padaku?
"Aku menyukai seseorang. Kami bertemu setahun silam, tepat di restoran ini. Seseorang mengenalkannya padaku." Rudi mengalihkan pandangan kepada Nessa sembari tersenyum. Begitupun Nessa membalasnya dengan senyuman.
Rudi kembali menatap ke arahku. "Dia cantik, dia menarik. Namun, bukan itu alasan mengapa aku jatuh cinta kepadanya."
Kulirik ke arah Dimas. Dia tengah memperhatikanku. Sontak ia alihkan pandangannys dariku, ketika mata kami saling bertemu. Ada apa dengannya? Apa dia hanya berpura-pura cuek terhadapku?
"Aku jatuh cinta padanya, karena ... sejak menyentuh tangannya dan memandangnya pertama kali, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada getaran aneh di dadaku, berdesir ketika menatapnya. Berdebar ketika berdekatan dengannya. Dia wanita yang anggun, sejuk dipandang, lembut di setiap pancaran sinar matanya. Aku ... aku sungguh jatuh cinta kepadamu, Imania," tutur Rudi lalu mengarahkan tangannya ke arahku.
Dan itu membuatku sedikit terkejut. Kutolehkan kepala menyapu pandang ke seisi ruangan. Semua mata tertuju padaku. Hingga saat mataku menyapu pada sesosok lelaki yang sekali lagi tertangkap basah tengah memperhatikanku. Lagi-lagi ia alihkan pandangannya ketika kuketahui.
Fania sepertinya turut terkejut. Ia menghentikan makan. Kemudian menatapku bergeming, begitupun mas Bastian.
"Imania Saraswati! Imania Saraswati! Imania Saraswati! Aku menyukaimu! Aku mencintaimu!" seru Rudi.
"Berdiri! Berdiri! Berdiri!" seruan para pengunjung padaku.
Rudi beranjak dari panggung, kemudian menghampiriku. Ia ulurkan tangan kanannya, seolah ingin mengajakku berdansa.
"Imania Saraswati, maukah kau berkencan denganku?"
Aku masih menatapnya bergeming. Tidak menyangka, Rudi se-gentle itu. Aku harus menjawab apa?
"Terima! Terima! Terima!" Kembali riuh terdengar suara para pengunjung restoran.
Aku merasa ragu untuk memutuskan. Namun, melihat binar keseriusan di mata Rudi, membuatku tidak tega untuk menolaknya. Aku pun berdiri. Seketika suasana menjadi hening.
Rudi masih mengulurkan tangan kanannya sembari tersenyum padaku. Mata itu berpendar penuh harap. Entah mengapa aku merasa ingin menoleh ke arah Dimas. Dia tengah memperhatikanku lagi. Namun, kali ini ia tetap menatapku. Ada kilatan cahaya aneh yang memantul dari kedua bola matanya. Ia menatapku sembari menggeleng pelan.
Melihatnya, kembali membuatku semakin sesak. Ia ingin aku menolak Rudi, tapi dia sendiri tidak bisa menolak Nessa. Sebelum air mataku pecah, segera kualihkan pandangan ke pada Rudi.
Kedua mata Rudi melebar, seakan meminta jawaban sesegera mungkin dariku.
Kutarik napasku dalam-dalam, kuembuskan perlahan. Lalu kukatakan pada Rudi, "Aku mau!"
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --