BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Pelampiasan Cemburu


__ADS_3

"Dimas, lebih baik kau urusi saja Nessamu itu!"


"Nia, apa yang kau lakukan?"


"Dan apa yang kau lakukan?" Aku membalik pertanyaannya.


Segera kumatikan telepon. Aku tidak marah pada Rudi karena sudah membuat Dimas tahu bahwa aku sedang bersamanya. Lagi pula, Dimas juga sudah mengecewakanku. Kita impas, bukan?


Ting! Sebuah pesan masuk.


[Aku akan menghabisi Rudi!] ancamnya.


"Ada apa, Imania?" tanya Rudi padaku.


"Ah, tidak apa-apa."


"Maaf, aku tidak tahu kalau kau sedang menelepon tadi. Aku hanya fokus melihat jalanan. Maaf, ya?"


"Tidak apa-apa, Rud. Oh, iya, aku langsung pulang saja, ya?"


"Tidak mau mampir dulu?"


"Tidak, Rud. Terima kasih," tolakku seraya tersenyum.


Aku kembali menatap layar handphone.


[Aku akan menghabisi Rudi!]


Oh, bagaimana kalau Dimas nekat?


[Jangan macam-macam. Rudi hanya kebetulan bertemu. Dia hanya kasihan padaku dan mengantarku pulang.]


[Aku tidak menerima alasan apapun!]


[Aku akan memutuskanmu, kalau kau nekat!] Aku berbalik mengancamnya.


Dengan perasaan cemas, kuletakkan handphone di sampingku duduk. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Rudi. Dia sudah cukup baik terhadapku. Tidak akan kubiarkan Dimas bersikap semena-mena terhadapnya.


Sesekali kutatap layar handphone yang tergeletak di samping kiriku duduk. Dimas tak kunjung membalas pesan ancamanku itu.


"Imania, kau kenapa?" tanya Rudi yang melihatku gelisah.


"Tidak ada apa-apa, kok, Rud."


"Tanganmu kenapa?" Rudi tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.


"Oh, ini. Ini ...."


Rudi meraih tangan kiriku yang masih ada bekas menempelnya selang infus. "Apa kau habis dari rumah sakit?"


Aku segera menarik tanganku.


"Maaf ...," ucap Rudi.


"Aku hanya pusing. Sekertaris Ve yang membawaku ke rumah sakit. Dan itu tidaklah mengkhawatirkan. Hanya pusing biasa."


"Pantas, kau tampak pucat. Kau harus banyak istirahat, Imania," ucap Rudi lembut.


"Terima kasih, Rud, atas sarannya."


Rudi kembali menyalakan mobilnya. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumahku. Dan usai mengantarku, Rudi langsung pamit pulang. Aku pun segera masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucapku pada ayah dan ibu yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Waalaikumsalam."


"Imania, kok tumben sudah pulang?" tanya ibu.


"Iya, Bu."


Oh, iya, ibu, kan, tahunya aku pergi ke kantor.


"Arka dimana Bu? Belum pulang?" tanyaku yang langsung teringat Arka.

__ADS_1


"Belum. Eh, coba telepon mantan suamimu. Suruh mengantar Arka pulang," perintah ibu.


"Baik, Bu."


Aku pun duduk di sofa bersama ibu dan ayah. Kuambil handphone dari tas, tetapi ... tidak ada.


"Kenapa, Nak?" tanya ibu yang memperhatikan mimik wajahku yang panik.


"Handphone-ku tidak ada, Bu."


"Loh, kok, bisa?" tanya ibu lagi.


Aku kembali mengingat-ingat. Terakhir kali, bukankah Rudi memberikan handphone itu padaku? Lalu ... oh iya! Aku meletakkannya di samping tempatku duduk. Itu berarti ... handphone-ku tertinggal di dalam mobil Rudi.


"Di mana? Kamu ingat?" tanya ayah.


"Iya, Ayah. Handphone-ku tertinggal di—"


Belum sempat menjawab, sebuah mobil yang barusan mengantarkanku pulang, kembali masuk ke halaman rumah ini. Seorang laki-laki pun turun dan menuju rumah.


"Assalamualaikum," ucapnya.


"Waalaikumsalam." Kami serentak menjawab.


Kubukakan pintu. "Rudi."


"Imania, aku ... ingin memberikan ini. Handphone-mu tertinggal," kata Rudi seraya menyerahkan handphone itu padaku.


"Terima kasih, Rud. Baru saja aku mencarinya."


"Imania, persilakan temanmu masuk!" perintah ayah.


"Rudi, mau masuk dulu?" Aku hanya berbasa-basi. Aku berharap Rudi menolak. Aku lelah sekali, ingin istirahat.


"Boleh," jawabnya.


Aku merasa sedikit terkejut. Dengan sedikit kikuk pula, kupersilakan ia masuk dan duduk bersama.


"Silakan duduk, Rud," ucapku ramah.


"Rudi, kau mau minum apa? Di sini hanya ada kopi dan teh? Biar kuambilkan," kataku kepada Rudi.


"Kopi saja. Aku ingin mencicipi kopi buatan tanganmu," jawab Rudi seraya tersenyum.


"Baiklah," balasku seraya tersenyum.


Aku pun segera pergi ke dapur dan membuatkannya kopi. Setelah itu, aku kembali ke depan dan meletakkan kopi tersebut di atas meja, di hadapan Rudi.


"Silakan," ucapku ramah.


"Terima kasih, Imania."


"Sudah lama berteman dengan Imania?" tanya ayah.


"Sekitar setahun lebih, Om."


"Panggil 'paman' saja," kata ayah.


"Baik, Paman."


Aku pun ikut duduk dan bergabung bersama mereka. Aku duduk di sofa sebelah Rudi.


"Belum lama, ya? Kenal di mana? Apakah teman kantor?" tanya ayah lagi.


"Bukan, Paman. Kebetulan, Imania pernah mengunjungi restoranku. Di situlah kami berkenalan," papar Rudi dengan sikapnya yang sopan.


"Wah, kau punya restoran?" tanya ibu dengan nada kagum.


"Iya, Bibi. Lain waktu, kalian boleh mampir. Gratis untuk kalian, he-he."


Tentu saja, ibu semakin senang mendengarnya. Ibuku selalu saja bersikap berlebihan.


"Apa nama restoranmu, Nak Rudi?" tanya ibu dengan semangat.

__ADS_1


"Giant Restauran, Bibi."


"Giant Restauran?" Ibu semakin terkejut dan takjub dengan Rudi. "Wah, itu bukankah restoran paling besar di kota ini? Dan ... kata orang-orang makanan di restomu sangat enak dan mahal?"


"Ah, tidak juga, Bibi," jawab Rudi merendah.


"Ternyata kau seorang pengusaha besar dan sukses!" Ibu manggut-manggut seraya menatap Rudi kagum.


"Kapan-kapan, mampir, ya? Gratis untuk kalian," tambah Rudi.


"Wah, Imania. Kau sangat beruntung mengenal Rudi. Sudah ganteng, ramah, mapan lagi!" puji ibu dengan senyuman lebar.


"Kamu sudah menikah?" tanya ibu.


"Belum, Bibi."


"Wah!"


"Ibu!" Aku langsung menyela perkataan ibu. "Sepertinya Rudi sibuk. Jadi, jangan bertanya begitu banyak. Rudi cuma mampir sebentar, Bu."


Ibu menatapku sedikit kesal. "Benarkah demikian, Nak Rudi?"


Rudi menatapku sesaat, lalu mengangguk. "I-iya, Bibi."


Syukurlah, Rudi memahami. Aku tidak mau ibu bersikap berlebihan padanya. Lagi pula, pacarku, kan, Dimas, bukan Rudi. Jadi, aku tidak ingin ibu menganggap Rudi secara berlebihan.


"Pengusaha sukses memang rata-rata sibuk," timpal ayah.


"Paman bisa saja."


Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja mobil hitam muncul dan berhenti di samping mobil Rudi. Seseorang turun dari mobil tersebut dan menghampiri rumah kami. Jantungku langsung berdetak kencang melihat seseorang yang datang dengan wajah penuh amarah. Itu terlihat jelas dari kepalan tangan yang mengikuti langkahnya.


"Assalamualaikum," ucapnya sedikit keras.


"Waalaikumsalam," jawab ayah dan ibu serentak.


Aku pun beranjak buru-buru menuju pintu dan membukanya dengan cemas.


"Kenapa kau pulang tanpa memberitahuku?" Dimas langsung menginterogasiku. "Kenapa kau harus pulang bersama si berengs*k itu?"


Dengan mata penuh emosi dan tangan yang terus mengepal, Dimas langsung masuk tanpa kupersilakan. Dia tampak sangat marah. Dia segera mencari seseorang yang ia incar.


"Rudi!" Mata elang itu langsung menatap Rudi yang sedang duduk di sofa dengan tatapan penuh amarah.


Dan betapa terkejutnya Dimas saat melihat ada ayah dan ibuku yang turut menatapnya heran. Dimas pun segera meredupkan emosinya di hadapan ayah dan ibuku.


"Eh, Paman, Bibi, apa kabar?" tanya Dimas dengan kikuk. Dimas pun segera menyalami ayah dan ibuku.


"Baik," jawab ayah datar seraya menjabat tangan Dimas.


"Nak, Dimas. Silakan duduk, sini!" Dengan semangat ibu berdiri dan meraih lengan Dimas untuk duduk di sebelahnya.


"Nak, Dimas mau minum apa? Biar Bibi yang buatkan, ya?"


"Apa saja, Bibi," jawab Dimas masih dengan ekspresi kikuk.


"Baiklah, sebentar, ya?"


Ibu pun bergegas pergi ke dapur. Dan aku pun kembali duduk di sebelah Rudi. Dimas menatapku tajam. Dia sepertinya tidak suka aku duduk di sebelah Rudi. Dimas pun berdiri dan menghampiriku.


"Hei, Brother! Sudah lama di sini?" tanya Dimas pada Rudi dengan wajah dibuat senang. "Boleh aku duduk di sebelah Rudi, Nia?"


Aku pun berdiri dan berganti duduk di sofa yang sebelumnya diduduki Dimas.


"Brother! Sudah lama di sini?" tanya Dimas dengan ekspresi gembira.


Akan tetapi, ekspresi Rudi berbeda. Dia seperti menahan sesuatu. "Lumayan lama!" jawab Rudi seraya meringis kesakitan.


Aku penasaran, kualihkan pandangan ke bawah. Kulihat kaki Dimas menginjak kaki Rudi.


"Senang bertemu denganmu, Brother!" ucap Dimas seraya merangkul Rudi.


Lagi-lagi Rudi meringis kesakitan. Aku merasa kasihan pada Rudi. Dimas selalu saja punya akal untuk membalas dendam, padahal dalam situasi seperti ini.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2