
"Nia, kau membuatku gelisah. Ini hukuman untukmu."
"Dimas!"
Dimas dengan cepat langsung menempelkan bibirnya pada bibirku. Dia menelusuri tiap sudut bibirku dengan lembut dan penuh amarah. Membuatku tak bisa menahan serangannya.
Sesaat ia menarik bibirnya dan berkata, "Jangan mencuekanku. Itu membuatku sangat rindu."
Dia kembali menelusup bibir ini dengan lembut, membuat napas kami beradu.
Lalu melepaskannya lagi. "Nia, jangan menjauhiku. Aku bisa lebih dari ini, jika sampai kau berusaha menghindar. Apalagi meninggalkanku."
Kembali ia menekan bibir itu pada bibirku. Pandanganku sayu, jiwaku berusaha menolak, tapi hatiku tidak. Dimas melayangkan ciuman demi ciuman dengan penuh gairah. Dan aku pun terpejam, tak berkutik.
Setelah puas, ia melepaskan bibirnya perlahan, melepaskan tanganku, dan menatapku. "Aku mencintaimu."
"Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?"
Aku dan Dimas serentak menoleh ke sumber suara. Fania sudah berada di tangga. Menyilangkan kedua tangan ke dadanya. Dan memandang kami seraya cemberut.
"Fania, sejak kapan kau berada di situ?" tanyaku terkejut sembari melangkah menuju tangga.
"Aku mau minum. Apa di dapur ada air minum?"
"Tidak ada. Biar aku memasak air dulu."
Sepertinya, Fania tidak melihat kami tadi. Oh, syukurlah. Aku mengurungkan niat untuk naik tangga. Dan berbelok menuju dapur. Dimas mengikutiku ke dapur. Sedangkan Fania kembali naik.
Di dapur, pertama yang kulakukan adalah mengelap kompor dan wastafel. Walaupun belum pernah dipakai, tapi jika tidak terawat, keadaan pasti berdebu. Aku pun segera mengambil panci untuk memasak air.
"Apa aku perlu mencarikanmu pembantu?" tanya Dimas yang berdiri di dekatku.
"Tidak perlu."
"Apa perabotannya masih kurang lengkap?"
"Semua sudah lengkap," jawabku sembari terus membersihkan debu yang menempel pada kompor.
"Apa yang kurang dari rumah ini?"
Aku menoleh Dimas dan berkata, "Menurutmu?"
Dimas mengangkat alisnya, lalu mengerutkan dahinya. "Kurang luas?"
"Ini sudah cukup luas. Lagi pula, kami cuma tinggal bertiga."
"Bertiga? Siapa saja."
"Aku, Fania dan Arka."
"Hm ... Fania seharusnya tidak di sini."
"Apa maksudmu? Bukankah ini rumahku? Aku berhak mengajak Fania untuk tinggal bersamaku di sini."
Dimas mendekatkan wajahnya seraya tersenyum. "Asal tidak mengganggu kita."
__ADS_1
"Dimas! Jangan berbuat macam-macam. Kita belum menikah."
Dimas hanya tertawa mendengar perkataanku. Dan saat aku sedang mencuci perabotan yang kurasa kotor, tiba-tiba Dimas memelukku dari belakang. Tangannya melingkari pinggangku.
"Dimas! Jangan menggangguku! Pergilah ke atas!"
"Teruslah mencuci. Ini hangat, Nia," bisiknya di telingaku.
"Jangan berbuat macam-macam!"
"Aku selalu tertarik untuk berbuat macam-macam denganmu, Nia," bisiknya lagi.
"Ish!" Kugeleng-gelengkan kepala karena tingkah Dimas.
Dimas semakin mengeratkan pelukannya. "Tidakkah kau merasa ada sesuatu yang mengganjal di tubuhmu?" bisiknya.
Sontak itu membuatku terkejut. Aku langsung berontak dan mendorongnya dengan tangan dipenuhi busa. Aku menatapnya dengan emosi. "Kau mesum!!"
Dimas hanya tertawa mendapati mimik wajahku yang kesal. Segera kucuci tanganku dan berlari ke menuju tangga.
"Apa kau takut?" seru Dimas yang masih berdiri terpaku melihatku berlari.
Saat aku hendak naik tangga, bel rumahku berbunyi. Aku pun segera menuju pintu dan membuka pintu tersebut.
"Pesanan—" Laki-laki yang berdiri di depan rumahku menatapku terkejut. "Imania! Kau ... kau tinggal di sini?"
"Rudi, kau mengantarkan pesanan sendiri?" Kami saling memandang terkejut. Hingga kami saling bertanya tanpa menjawab.
"Ini rumahmu?" tanya Rudi dengan membawa pesanan kami.
Aku mengangguk sembari tersenyum. "Silakan masuk dulu."
"Oh, baiklah."
Aku meraih beberapa kantong plastik berisi menu-menu makanan yang sekertaris Ve pesan.
"Nia, siapa?"
Dimas berjalan menghampiri kami. Dan langsung menatap Rudi dengan tatapan tidak senang. "Berapa totalnya?" tanya Dimas sembari mengambil dompetnya dari saku celana.
"Semua ini gratis. Untuk Imania," ucap Rudi tiba-tiba.
"Rudi, apa maksudmu?" Aku cukup terkejut mendengar pernyataan Rudi mengatakan ini gratis.
"Imania, tawaranmu untuk mempersilakan aku masuk, kuterima," ucap Rudi sembari tersenyum.
"Tidak bisa!" Dimas langsung mendekati Rudi. Dan menyodorkan beberapa lembar uang kepada Rudi. "Pergilah!"
"Dimas, kau tidak dengar, ya? Itu gratis!" ucap Rudi sembari tersenyum sinis.
"Aku tidak suka makan gratisan. Membuatnya jadi tidak enak. Ini, ambillah! Jangan sungkan-sungkan, Rudi. Restoranmu bisa bangkrut, bila kau berpura-pura royal pada pelanggan."
Rudi mendorong kembali uang yang masih berada di tangan Dimas. "Jika untuk Imania, aku tidak akan bangkrut. Justru akan membuat rejekiku semakin berkah."
"Rudi!" Dimas mulai emosi.
__ADS_1
Aku langsung melerai perdebatan mereka berdua. "Sudahlah! Ayo kita makan bersama. Ayo, Rudi, silakan masuk."
"Tidak boleh!"
"Dimas, ini rumahku. Aku berhak menerima tamu. Siapapun itu."
Akhirnya, dengan terpaksa, Dimas membiarkan Rudi masuk. Mereka pun duduk di sofa. Sedangkan aku membawa makanan itu ke meja makan. Kuambil beberapa piring, sendok, dan gelas. Setelah semuanya siap, aku naik ke lantai atas, memanggil sekertaris Ve, Arka dan Fania.
Mereka pun turun menuju meja makan. Sedangkan aku memanggil Dimas dan Rudi untuk makan bersama.
Di meja makan, Fania sepertinya terkejut dengan kedatangan Rudi. Kami pun segera mengambil duduk di kursi masing-masing.
"Kau, ngapain ke sini?" tanya Fania heran.
"Yang jelas bukan untuk menemuimu," jawab Rudi.
"Haish! Mengganggu nafsu makan kita saja!"
"Fania, jangan begitu. Semua makanan ini gratis dari Rudi," ucapku.
"Benarkah?" Sekertaris Ve ikut terkejut. "Ini gratis?" tanyanya pada Rudi.
"Iya," jawab Rudi seraya tersenyum.
Kami pun segera mengambil piring untuk mengisinya dengan menu-menu makanan lezat dari restoran Rudi. Dan saat kami akan menyantapnya, tiba-tiba sekertaris Ve berdiri.
"Tunggu!"
Kami pun meletakkan kembali sendok ke atas piring. Mengalihkan perhatian ke sekertaris Ve.
"Apa kalian tidak ingin memberikan ucapan selamat kepada Imania? Sekarang dia adalah manager di bank kami," tutur sekertaris Ve.
"Serius? Kau diangkat sebagai manager?" Fania terkejut mendengarnya.
"Imania, kau hebat sekali!" puji Rudi.
"Mari kita rayakan berita menggembirakan ini!" ucap sekertaris Ve lagi.
Mereka pun mengucapkan selamat padaku. Setelah itu, kami melanjutkan untuk makan.
"Dimas," panggil Rudi saat Dimas sedang menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Apa makanan gratis itu enak?" goda Rudi pada Dimas.
Dimas langsung melepeh makanan yang baru masuk ke dalam mulutnya. "Ini sama sekali tidak enak! Aku tidak jadi makan!" ucap Dimas kesal.
Dimas pun beranjak meninggalkan kami yang menatapnya heran. Sedangkan Rudi tertawa melihat kekesalan Dimas.
Aku pun berdiri, beranjak dari meja makan.
"Imania, kau juga tidak mau makan?" tanya Fania.
Dimas yang mendengar itu pun langsung menahan langkahnya dan berbalik menolehku. "Kita memang sehati, Nia," ucap Dimas sembari tersenyum padaku.
"Siapa bilang? Aku hanya ... mau mematikan kompor," tukasku.
__ADS_1
Dimas menatapku dengan semakin kesal. Kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan ruang makan. Sedangkan Rudi tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Dimas.
-- BERSAMBUNG --