BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Diary Fania


__ADS_3

Sudah lima hari Fania koma. Hari ini, aku mengunjunginya lagi ke rumah sakit. Kemarin, dokter mengatakan, bahwa benturan di kepala Fania cukup keras. Yang dikhawatirkan adalah ... jika sampai Fania mengalami gegar otak.


Saat aku sudah berada di depan ruang ICU, tiba-tiba terdengar suara sedikit gaduh dari dalam. Aku mencoba melihat apa yang tengah terjadi di ruang ICU, tempat Fania berada. Lewat kaca kecil di pintu, aku dapat melihat mamanya Dimas sedang marah-marah di depan pak Wibowo.


"Yah, selamanya, aku tidak akan pernah bisa menerima anak harammu itu!"


"Hera, bagaimanapun, Fania adalah putriku. Dia sudah cukup menderita gara-gara aku."


"Itu bukan urusanku! Pokoknya, aku tidak akan pernah mengakui anak harammu itu! Jika sampai kau bermain-main denganku. Kau lebih baik melihatku mati saja!"


Tidak lama kemudian, mamanya Dimas keluar dari ruang ICU dengan wajah yang basah. Dia tampak terkejut melihatku yang berdiri di depan pintu. Kugeser tubuh, kemudian ia berlalu melewatiku.


Aku masuk ke ruang ICU dan menghampiri pak Wibowo yang tengah duduk di samping Fania yang masih koma. Pak Wibowo tampak letih. Ia menunduk sembari memegangi tangan putri kandungnya tersebut.


Kusentuh punggung pak Wibowo, hingga ia menoleh, menatapku. "Kau tampak sangat lelah."


Dia menyunggingkan senyum tipis padaku. Senyum pertama yang ia berikan khusus untukku. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan nada lesu.


"Sama seperti perasaanmu," jawabku.


Pak Wibowo mengalihkan pandangan pada Fania yang tergeletak tak berdaya. Peralatan medis lengkap selalu menemani tidur sahabatku itu. Mata itu terkatup rapat. Rambut pirangnya sudah cukup kumal.


"Seharusnya ... momen diketahuinya Fania adalah putriku, menjadi momen mengharukan. Pada kenyataannya, ini sangat menyedihkan," katanya dengan nada sedih.


"Bangunlah, Nak? Tidakkah kau ingin tahu seperti apa ayah yang tidak bertanggung jawab ini? Tapi, mulai sekarang ... aku bersumpah untuk bertanggung jawab."


Aku mengamati pak Wibowo dengan iba. Dia pasti tidak makan teratur. Pipinya tampak lebih kurus. Matanya sayu dan bengkak. Tentu dia sangat menginginkan kesembuhan Fania. Sayangnya ... apa Fania akan menerima pak Wibowo begitu saja?


"Aku merasa Tuhan tidak berlaku adil padaku. Dia menurunkan aku ke bumi, tetapi mengangkat ibuku ke langit. Bahkan, aku belum sempat merasakan kasih sayangnya. Terlebih lagi, aku dilahirkan tanpa seorang ayah. Orang-orang menyebutku anak haram. Sejak lahir, aku sudah terhina."

__ADS_1


"Bagaimana jika ayahku ternyata sudah meninggal?"


"Aku ingin memukulinya seratus kali. Aku ingin menanyakan alasannya meninggalkan ibuku. Aku ingin tahu kenapa dia tega melakukan ini padaku dan pada ibuku. Aku ... aku ingin meminta penjelasan darinya tentang segalanya yang telah terjadi. Aku sangat membencinya! Aku ... aku benar-benar ingin memukulinya!"


"Wajar aku marah padanya. Dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia ... dia adalah penjahat. Dia ayah yang kejam! Bahkan ... sejujurnya ... aku berharap agar dia sudah mati saja."


"Jika memang dia masih hidup, bawa dia padaku. Aku benar-benar ingin memukulinya seratus kali!"


Kasihan pak Wibowo. Dia pasti sangat sedih. Dia memang pernah melakukan kesalahan. Bahkan, itu adalah kesalahan yang besar. Aku tahu, pak Wibowo sudah sangat menyesali segala kesalahannya. Dia ingin menebus kesalahannya itu. Dan ... kalaupun Fania sadar, aku tidak yakin ia bisa memaafkan kesalahannya.


"Pak, aku punya sesuatu."


Kuambil sebuah diary milik Fania dari dalam tas. Yang kuambil dari kamar Fania. Kuserahkan diary tersebut kepada pak Wibowo.


"Apa ini?" tanyanya.


"Itu adalah buku diary Fania."


Ibu ... aku dilahirkan ke dunia ini dengan warna abu-abu. Warna yang kelam. Karena aku pun tidak mengerti, apakah kelahiranku ke dunia ini adalah sebuah anugerah atau malapetaka. Karena saat aku turun ke dunia, justru kau malah pergi meninggalkanku. Kau pergi begitu jauh, usai mengeluarkan aku dari rahimmu. Apa kau membenciku, ibu .... Sehingga kau memilih pergi saat diriku berusaha hadir ke duniamu? Ibu ... apa kau tidak ingin membesarkanku? Mengapa kau pergi meninggalkanku?


Dan lebih menyedihkan lagi, aku terlahir di dunia ini tanpa sosok seorang ayah. Itu kata tetanggaku. Semua orang menganggapku sebagai anak haram. Mereka juga bilang, bahwa aku adalah anak dari hasil perzinahan. Aku dianggap sebagai anak yang hina.


Lucunya, saat kutanya siapa ayahku, pada paman dan bibi yang merawatku. Mereka hanya bilang bahwa ayahku sudah meninggal dunia. Tetapi aku merasa bahwa paman dan bibiku berbohong. Aku masih merasa bahwa ayahku masih hidup. Bertahun-tahun aku mencari sosok ayah kandungku. Namun tidak kutemukan.


Aku menyusuri jalanan yang terik, sendirian. Tak peduli panasnya matahari. Tak peduli dinginnya angin malam. Aku terus berjalan sendirian, demi menemukan sosok ayah. Hanya dia yang masih kuharapkan untuk hadir, meski sekadar menjelaskan cerita tentang ibuku. Bahwa aku bukanlah anak dari hasil perzinahan. Bahwa aku terlahir atas dasar cinta dan kasih sayang.


Aku malu pada teman-temanku. Sejak kecil aku terhina. Mereka terus menyebutku anak haram. Ayah ... ibu ... aku sangat menderita sejak kecil. Terlebih, paman dan bibiku sangat kasar padaku. Dia sering memukuli tubuhku. Bahkan untuk kesalahan yang tidak pernah kulakukan.


Sejak lahir, aku sudah dibenci. Tidak ada yang menginginkanku hidup. Semua menghinaku, semua menyiksaku. Jadi, untuk apa aku terlahir ke dunia ini? Ibu ... bawa aku kembali bersamamu. Aku juga ingin menanyakan sesuatu, tentang apa maksud aku dilahirkan.

__ADS_1


Sampai sekarang ... aku masih berharap akan sosok ayah kandungku. Aku ingin bertanya padanya, mengapa aku dicampakkannya begitu saja. Mengapa dia membiarkanku menderita. Dan ... mengapa mesti ada aku di dunia ini.


Aku sudah lelah mencari. Aku memutuskan untuk menimbun segala sesuatu tentangku. Aku tidak suka ada yang membahas apa-apa tentang kelahiranku. Karena aku benci dilahirkan. Bahkan, yang turut andil dalam penciptaan diriku pun pergi meninggalkanku. Semua orang membenciku.


Jika suatu saat nanti aku dapat menemukan sosok ayahku. Aku ingin memukulinya berkali-kali. Aku ingin memintanya penjelasan. Untuk apa aku diciptakan. Jika untuk ditinggalkan. Seandainya bisa memilih ... aku lebih baik tidak terlahir. Atau pergi sesegera mungkin dari dunia ini. Tuhan ... aku sudah sangat lelah .... (Tulisan ini ada di episode 127)


Pak Wibowo membaca buku tersebut dengan berurai air mata. Berkali-kali ia memegangi dadanya. Mungkin, rasa sedih, sesak, dan pilu sedang bergabung menjadi satu.


Ia kembali membaca tulisan di halaman paling akhir yang berisi tulisan.


Ayahku pasti adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Ia telah menelantarkanku dan ibuku. Jika ayahku masih hidup. Aku ingin memukulinya seratus kali!!


Pak Wibowo menutup diary tersebut, kemudian merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia tertunduk sembari menangis. Sedangkan aku menggenggam lembut jemari Fania.


Fania ... kini ayahmu telah berada di sampingmu. Ia sedang menyesali segala perbuatannya terhadapmu dan ibumu. Fania ... bangunlah. Aku merindukanmu.


Fania ... aku sudah kehilangan malaikat kecilku, Arka. Aku tidak ingin kehilanganmu juga. Jadi ... kumohon ... bangunlah. Ayahmu ada di sini. Dia telah menemukan putri kandungnya yang selama ini ia cari. Dan itu adalah kau. Bukalah matamu, Fania.


Pak Wibowo meletakkan buku tersebut di samping kepala Fania. Ia mendekatkan posisi duduknya, lalu menggenggam jemari tangan Fania lembut.


"Nak, sadarlah. Ayah menunggumu di sini. Ayah sudah mencarimu selama ini. Ayah ... ayah ingin menebus segala dosa-dosa ayah terhadapmu. Ayah ingin meminta maaf padamu."


Pemandangan yang sangat mengharukan. Seorang lelaki super dingin dan terkenal galak, tengah menangis dan terisak di samping putrinya. Dia tengah meratap dan berharap, meminta kemurahan Tuhan, agar memberikan putrinya sebuah keajaiban.


"Putriku ... kalau kau ingin memukuli ayah seratus kali, ayah sudah siap. Kumohon ... bangun dan pukullah ayah seratus kali. Itu lebih baik daripada melihatmu seperti ini. Ayah tidak tega melihatmu semakin menderita."


Pak Wibowo menciumi tangan putri kandungnya itu sembari terisak. "Nak, bangunlah. Apapun yang terjadi ... ayah akan selalu menerima kenyataan. Bahkan, jikalau kau membenci ayah. Ayah akan terima seluruh kebencianmu itu."


"Nak, cepat bangun. Ayah menunggu pukulanmu seratus kali. Ayah sangat merindukanmu. Izinkan ayah menyayangimu."

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2