BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Membela Harga Diri


__ADS_3

Aku keluar dari ruangan sekertaris Ve. Ada perasaan bersalahku terhadap sekertaris Ve. Fania benar-benar membuatku pusing. Bagaimana bisa, dia bersikap seperti itu di depan atasanku.


Aku kembali duduk di meja kerjaku. Kuletakkan sebuah dokumen di atas meja. Lalu kunyalakan komputer.


"Imania," panggil mas Bastian.


Aku menoleh. "Ya, Mas."


"Tadi kudengar sekertaris Ve marah-marah. Apa Fania membuat onar?"


"Ya, begitulah."


"Dasar Fania! Dia memang wanita aneh!" gumam mas Bastian. "Apa kau tidak merasa repot, harus tinggal bersamanya? Fania itu berbeda dengan wanita pada umumnya!"


Aku menanggapi komentar mas Bastian dengan tersenyum. "Kau hanya belum memahaminya."


Aku kembali teringat akan Fania. Apa dia pulang? Kuambil handphone dan kuhubungi nomornya. Tersambung.


"Halo."


"Fania, kau di mana?"


"Aku pulang. Wanita itu rese sekali. Kepo banget denganku. Aku malas menanggapinya!"


"Apa dia berlebihan? Dia hanya menanyakan tentang tempat tinggalmu!"


"Ah, sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya. Dah?"


Fania menutup teleponnya. Aku hanya menghela napas, karena Fania selalu sensitif bila ditanya soal seluk beluknya. Itulah mengapa, aku tidak menanyainya lagi soal itu. Fania tidak suka ditanya tentang asal usulnya.


Dia hanya mengatakan padaku, bahwa ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Sedangkan ayahnya, ia pun tidak tahu siapa. Dia tinggal bersama paman dan bibinya. Dan mereka tidak memberitahu tentang ayah kandung Fania. Kata Fania, paman dan bibinya itu jahat sekali. Itulah sebabnya, Fania tidak mau pulang ke rumah paman dan bibinya tersebut.


Sesungguhnya, aku juga sangat penasaran dengan asal usul Fania. Bagaimanapun, dia sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Meski sedikit aneh, tapi Fania memiliki kisah yang masih menjadi misteri bagiku. Mungkin aku perlu mendekatinya pelan-pelan, agar dia mau bercerita tentang segalanya, tentangnya, dan kehidupannya sebelum mengenalku.


Aku kembali menatap layar komputer. Kubuka dokumen tersebut. Kemudian mengisikan data-data yang ada di dalam dokumen tersebut ke dalam dokumen yang baru.


Setelah satu jam mengerjakan, aku pun selesai. Segera ku-print dan setelah itu aku menuju ruangan pak Wibowo. Sesampainya di depan ruangan itu, kuketuk pintu tiga kali. Aku masih berharap bahwa ruangan itu kosong. Aku berharap pak Wibowo sedang pergi. Namun, sayang ... sepertinya harapanku salah, pak Wibowo ada di ruangannya.


"Masuk!"


Aku pun membuka pintu tersebut hati-hati. Terlihat pak Wibowo sedang duduk di meja kerjanya, sembari menatap layar laptopnya. Kuletakkan sebuah dokumen yang baru selesai kucetak. Pak Wibowo pun menatapku sesaat, aku mengulum senyum manis padanya. Akan tetapi, pak Wibowo tidak menanggapi. Ia tetap bersikap dingin terhadapku.


Ia pun mengecek dokumen tersebut. Satu per satu lembar dokumen ia koreksi dengan jeli. Kemudian ia tanda tangani setelahnya. Dan pak Wibowo tak mempersilakanku duduk. Ia kembali menatap layar laptop di hadapannya. Karena aku merasa ini sudah selesai, aku pun segera keluar.


"Jika sudah, aku permisi." Kuanggukkan kepala sekali, lalu berbalik dan beranjak menuju pintu.

__ADS_1


"Siapa yang mengizinkanmu keluar?"


Suara itu membuat langkahku terhenti. Aku pun kembali berbalik.


"Duduklah!"


Dan aku hanya menuruti perintahnya. Aku duduk di hadapannya.


"Siapa namamu!"


Entah mengapa, suara itu terdengar keras di telingaku.


"Aku ... namaku ... Imania Saraswati."


Pak Wibowo menutup laptopnya. Kemudian menatapku dengan tatapan tajam. Mata yang persis dimiliki putranya. Untuk beberapa detik ia diam, hanya menatapku. Dan aku hanya menatapnya dan sesekali menunduk.


"Sekarang aku ingat!" Dia kembali bicara. "Aku ingat siapa kau!"


Dia sudah mengingatku? Ya, Tuhan ... apa yang akan dia katakan? Apa dia akan memarahiku seperti dulu? Atau mengancamku lagi?


"Apa tujuanmu bekerja di sini?"


"Aku ... aku ... aku harus bekerja untuk menghidupi diriku sendiri dan putraku." Aku tidak tahu apakah jawaban itu cocok. Aku sangat gugup.


"Dengar-dengar kau adalah janda, ya?"


"Dan aku tahu kau masih berdekatan dengan putraku."


Sontak itu membuatku menatapnya. Dadaku mulai berdetak kencang.


"Mengapa terkejut? Kau ini lucu. Apa kau tidak bisa mencari laki-laki lain? Bahkan, kau harus bercerai dengan suamimu hanya demi mendekati putraku lagi?"


"Itu tidak benar, Pak." Aku mulai memberanikan diri untuk bersuara.


"Apanya yang tidak benar? Coba jelaskan!"


Pak Wibowo menatapku bak seorang polisi yang sedang menginterogasi pencuri. Tatapannya tajam, menakutkan.


"Aku ... aku berpisah dengan suamiku, itu tidak ada sangkut pautnya dengan putramu. Ini adalah masalah pribadi."


"Oh, ya? Lalu kenapa kau kembali pada putraku? Bukankah sudah kujelaskan sejak dulu? Putraku sudah kujodohkan. Mereka saling mencintai. Dan kau! Kau menjadi benalu atas hubungan mereka!" cecar pak Wibowo seraya menunjuk padaku.


Sakit yang pernah kurasakan kembali menyerang dadaku. Dan itu ... disebabkan oleh orang yang sama.


"Aku tidak tahu mentalmu terbuat dari apa. Kau menjalin hubungan dengan putraku. Jelas-jelas aku membencimu. Dan sekarang, kau bekerja di kantorku. Sebenarnya ... dalam pemikiranku, kau adalah wanita yang tidak tahu malu!"

__ADS_1


Bulir-bulir bening sudah mulai memenuhi pelupuk mataku. Aku masih berusaha menahannya. Entah hinaan apalagi yang akan keluar dari mulut itu.


Pak Wibowo berdiri sembari bercerita, "Malam itu ... Dimas pulang dari bekerja. Dia menemuiku. Tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa dia ingin membatalkan pertunangan dengan Vanessa."


Pak Wibowo berjalan menuju jendela. Ia terus bercerita. "Tentu saja aku curiga. Dan ternyata benar. Ada parasit dalam hubungan mereka, yaitu kau!"


"Pak—" Baru saja aku ingin membela diri. Pak Wibowo sudah berkata lagi.


"Dimas dan Vanessa sangatlah serasi, bukan? Mereka sangat cocok, dibandingkan denganmu. Putraku tidak pantas menikahi seorang janda. Itu sangat memalukan! Bahkan, kau hanyalah wanita miskin! Apa ada dasar yang bagus untuk masuk ke dalam keluarga Wibowo? Cita-citamu itu sungguh menyedihkan!"


Tak tertahankan lagi. Air mata turun satu persatu dengan cepat, meluncur deras di pipiku.


"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi istri dari putraku!" Dia berjalan menghampiriku. Hingga berdiri di sampingku. Menatapku dengan tatapan merendahkan. Dan aku hanya tertunduk dalam. Mencerna setiap makna ucapannya itu.


"Segera putuskan hubunganmu dengan putraku! Jangan mengusik kebahagiaan mereka. Pergilah menjauh dari putraku! Kau hanyalah wanita rendahan. Apa orang tuamu juga bermimpi untuk menjadi orang kaya?! Percuma. Aku tidak akan pernah membiarkan putraku menikah dengan wanita sepertimu!!"


Aku berdiri, mengusap wajahku yang basah. Kemudian memberanikan diri menatapnya. Kini, kami benar-benar berhadapan. "Cukup! Jangan membawa-bawa orang tuaku. Mereka tidak pernah mengajariku untuk bermimpi menjadi orang kaya. Bahkan, mereka adalah orang yang lebih berhati nurani daripada Anda!"


"Orang tuaku tidak pernah memandang status seseorang dari sisi materi, harta. Kami bahagia hidup sederhana. Meski tidak sekaya Anda. Namun, hati orang tuaku lebih kaya daripada Anda!"


Aku menatap mata itu. Mata yang diselimuti kemarahan. Yang sebentar lagi, mungkin akan memakanku hidup-hidup. Tapi aku tidak takut. Ini resiko. Tidak sepantasnya dia terus merendahkanku seperti itu.


"Pak, apakah Anda benar-benar mencintai istri Anda? Atau Anda menikahi istri Anda atas dasar persamaan strata? Lalu tahukah Anda seperti apa rasanya dijodohkan? Apa seegois itu Anda terhadap putramu? Kami saling mencintai. Ya, kami saling mencintai! Meskipun aku bukan orang yang pantas untuk putramu. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pantas di matamu. Jika itu mungkin!"


Pak Wibowo masih diam. Amarah di matanya seperti meredup. Aku tidak tahu mengapa. Seharusnya dia akan semakin marah padaku. Akan tetapi dia bergeming.


"Pak ... tidakkah Anda pernah mencintai seseorang. Seperti apa rasanya? Lalu hubungan Anda dikekang sepertiku. Apa Anda tahu bagaimana rasanya? Seandainya Anda tahu, mungkin Anda tidak akan menyakitiku seperti ini. Pak, seberarti apakah sebuah hubungan tanpa berlandaskan cinta? Apakah harta bisa menutup itu semua?"


"Cukup!!"


"Tidak! Aku bahkan belum cukup bicara pada Anda! Aku sangat menghormati Anda. Bahkan, saat Anda mengancamku. Memintaku memutuskan hubungan dengan putramu waktu itu, aku menurutinya. Namun, sekarang ... tidak! Sudah cukup Anda mengekang kami. Aku akan terus memperjuangkan cintaku. Hingga Anda mengerti, apakah aku pantas untuk bersanding dengan putramu!"


Aku memperhatikan mimik pak Wibowo. Aneh! Dia tidak marah, tapi ia terlihat menahan amarah. Seakan ikut mencerna perkataanku satu per satu. Dia berhenti menatapku tajam.


"Aku minta maaf ... aku tidak bisa menuruti kemauan Anda. Aku akan tetap mencintai putramu. Dan aku permisi!"


Aku pun beranjak meninggalkan pak Wibowo di ruangannya. Kututup kembali pintu itu. Kuusap kembali wajahku yang basah. Aku tidak menyangka pak Wibowo tidak berbalik mencecarku. Aku juga tidak menyangka, bisa bicara padanya selantang itu. Apa boleh buat, ini pembelaan. Bagaimanapun, aku harus membela harga diriku dan harga diri orang tuaku.


Saat marah, yang akan muncul adalah amarah dan emosi. Aku masih bisa menahan diri dari kemarahan dan emosi. Sedangkan saat dihina dan direndahkan, yang akan muncul adalah kesedihan yang diikuti dengan pembelaan harga diri. Aku bisa diam, menahan cela dan cerca. Namun aku tidak bisa diam, mendengar kedua orang tuaku dicela dan dicerca.


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Readers Keceh ...!

__ADS_1


Sambung nanti malam, ya?


Thank You ...!


__ADS_2