BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Seseorang yang sangat kukenal keluar dari mobil tersebut. Seseorang yang pernah mengisi dan selalu ingin kuempas. Ya, siapa lagi?


"Arka kenapa?" tanyanya seraya mendekat.


"Arka demam," jawabku.


Ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Arka. "Iya, suhu badannya cukup tinggi. Ayo kita ke rumah sakit. Aku juga bekerja di sana, jadi ... mari kita bawa Arka ke rumah sakit," ajaknya.


Aku bingung, antara menerima bantuannya atau tidak. Akan tetapi, Arka sangat membutuhkan pertolongan segera.


"Cepatlah naik!"


Aku pun masuk ke dalam mobil hitam tersebut bersama Arka. Aku duduk di samping dokter elang itu sambil memangku Arka.


"Nia."


Aku menoleh padanya, sesaat mata kita saling bertemu, tapi cepat-cepat kupalingkan wajah.


"Nia," panggilnya lagi.


Mengapa dia terus memanggilku? Apa yang akan dia katakan atau tanyakan? Dalam rasa panik seperti ini, aku juga merasakan gugup gara-gara dia.


"Nia ...," pangginya dengan intonasi lembut.


"Hm ...."


"Tidak bisakah kau bersikap sedikit ramah padaku?"


"Aku sedang mengkhawatirkan Arka. Jadi, jangan tanyakan apapun!" balasku ketus.

__ADS_1


"Seharusnya kau bertanya padaku, tentang jaket yang Arka kenakan."


"Ada apa dengan jaket Arka?" Kini aku bertanya dengan tatapan serius.


Dia tersenyum. "Lepaskan jaketnya."


"Hah?"


"Lepaskan jaket yang Arka kenakan."


"Kenapa?" Aku bertanya bingung. Arka kedinginan dan masih menggigil, bagaimana bisa dilepas.


"Suhu badan Arka tinggi. Jika kau memakaikan jaket padanya, itu akan menambah tinggi demamnya. Bahkan, dapat mengakibatkan kejang."


"Kejang?"


Langsung kulepaskan jaket yang Arka kenakan. Dia benar, bagaimana bisa aku lupa? Jika anak demam, maka tidak boleh mengenakan pakaian yang tebal.


"Kurasa semalam belum. Mungkin sejak pagi tadi."


"Apa Arka habis jajan sembarangan?"


"Kurasa tidak."


"Mungkin kelelahan atau masuk angin."


"Kemarin, Arka memang pergi berenang. Dan itu pertama kalinya Arka kuajak berenang."


Dokter elang itu tak menyahut lagi. Ia fokus melajukan mobilnya dengan cepat. Tak lama kami pun sampai di rumah sakit. Ia turun dan membukakan pintu mobilnya untukku.

__ADS_1


"Sini, Arka biar aku yang menggendong."


Arka pun digendong oleh dokter elang tersebut. Aku menatapnya terenyuh. Dokter ini, selalu saja membuatku semakin merasa dilema. Meskipun kadang-kadang terkesan nakal dan mesum. Akan tetapi, perhatian yang ia berikan selalu terasa manis.


Dokter elang tersebut berjalan agak cepat. Aku yang mengekor di belakangnya pun bertanya, "Kita mau ke mana?"


"Poli Anak," jawabnya.


"Tidak mengantri dulu?"


"Tidak usah," jawabnya sembari terus berjalan cepat.


Pada umumnya, peraturannya adalah kita harus mendaftar terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang poli. Kemudian kita akan mengambil nomor antrian, dan menunggu sampai nomor tersebut dipanggil. Akan tetapi, kali ini kami tidak mengikuti prosedur yang diterapkan. Ya, dia kan dokter yang bekerja di sini. Jadi aku menurut saja. Lagi pula lebih cepat lebih baik.


Kami pun langsung masuk ke ruang Poli Anak. Padahal di depan poli masih ada banyak orang yang mengantri. Namun, dokter tersebut tetap membawa Arka masuk.


"Dokter Dimas! Siapa yang kau bawa itu?" tanya seseorang wanita yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Tolong, periksa anak ini dulu, Dokter Susan! Dia demam dan terus merintih," pinta Dimas seraya membaringkan Arka di ranjang pasien.


"Baiklah, tunggu sebentar," kata wanita yang kuperkirakan usianya sekitar 40 tahun itu.


Dokter anak tersebut pun segera mengecek keadaan Arka. Aku yang masih berdiri di samping Dimas tiba-tiba terhuyung dan hampir jatuh. Tetapi Dimas langsung menangkap pundakku.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Dimas padaku.


"Tidak. Aku tidak apa-apa."


"Jika kau terlalu panik. Nanti kau bisa jatuh, bahkan ke dalam pelukanku lagi," bisiknya lirih di telingaku.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --



__ADS_2