BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Di Depan Pusara


__ADS_3

Hari selanjutnya, aku duduk bersimpuh di depan pusara putraku. Beberapa orang sudah beranjak dari pusara. Tinggal aku, mas Bastian, kedua orang tuaku, beserta ayah dan ibunya mas Bastian.


"Tidurlah dengan tenang, Nak," ucap mas Bastian sembari mengusap air matanya.


Setelah puas mendoakan putranya, Mas Bastian pun bangkit. Ia beranjak dari pusara dengan langkah tertatih. Perasaannya sama denganku, hancur.


"Tinggalkan aku sendiri," ucapku kepada keempat orang yang masih berdiri di sisiku.


Ibu membungkuk dan menyentuh pundakku. "Tapi, Ima, kau juga harus pulang. Istirahatlah dulu. Sejak semalam, kau belum mengistirahatkan tubuh dan pikiran." Ibu menasihatiku.


"Iya, Ima." Bu Ahmad pun turut duduk di sampingku. Ia mencoba membujukku untuk pulang. "Ini pasti sulit. Aku juga sangat kehilangan Arka. Tapi ... bagaimanapun kita mengelak. Ini adalah suratan takdir."


"Pulanglah. Besok, kita ke sini lagi, ya?" bujuk ibuku lagi.


"Aku ingin berdua di sini. Kumohon ... tinggalkan aku. Beri aku waktu untuk bicara berdua dengan Arka."


Setelah kekeuh dengan keinginanku untuk tetap di sini. Akhirnya, mereka pun pergi dan menuruti kemauanku. Kini ... tinggallah aku berdua dengan Arka. Aku ingin bicara dengannya, mengapa harus pergi meninggalkanku.


Kusentuh batu tegak bertuliskan nama putraku. "Sayang ... aku tahu ... kau mendengarku saat ini."


"Sayang ... mengapa kau harus pergi meninggalkan mama? Mama sekarang tidak tahu lagi tujuan untuk hidup."


Kupeluk sesuatu bertuliskan nama Arka tersebut. "Kau adalah satu-satunya semangat mama untuk menjalani hidup. Kalau Arka pergi, mama tidak punya semangat lagi."


"Arka, kan, janji akan bersama dengan mama selamanya. Kau ingat, kau juga memesan sesuatu sama mama. Arka minta pesawat, kan?"


Kulepaskan tanganku dari batu bertuliskan nama itu. Aku merangkak mengambil mainan pesawat yang tergeletak di samping pusara, yang baru saja kubeli dari Bali. Kemudian duduk dan menghadapkan pesawat tersebut ke hadapan pusara Arka.


"Sayang ... ini pesawat terbang yang Arka minta. Mama sudah belikan untuk Arka. Sekarang... Arka bisa melihatnya, kan? Apa kau suka?"


Kuusap wajahku yang basah kuyup. Air mata terus berderai dari kedua mataku. "Arka Sayang ... mama harap, kau bisa memainkannya di surga-Nya Allah bersama para bidadari surga. Ambillah ini, Nak? Ambillah ...."


Kuletakkan pesawat tersebut di atas pusara. Dadaku terus sesak, terisak. "Sayang ... nanti ... kalau Arka kangen banget sama mama. Arka jenguk mama, ya? Mama tidak akan pernah lupa untuk selalu menjenguk Arka juga."


Kutatap pesawat terbang mainan tersebut.


"Mama, kalau pulang belikan Arka pesawat, ya, Ma. Arka ingin terbang, naik pesawat ke langit."


"Sekarang Arka sudah benar-benar terbang ke langit."


"Semoga ... Arka suka pesawatnya. Arka bisa bermain sendiri, kan, ya?"


Kuusap kembali embun mata yang menetes deras menuruni pipi. "Pergilah ... dan tidurlah dengan damai. Mama sayang ... banget sama Arka. Suatu saat ... kita akan bertemu lagi. Kita akan bersama lagi. Kita akan berkumpul lagi. Kita akan main pesawat bareng."


Aku merangkak kembali menuju pusara sembari terisak. Kupeluk erat-erat batu bertuliskan 'Kenan Arka Sebastian'.


"Sayang ... mama ikhlaskan Arka pergi, ya? Tunggu mama di surga, ya, Nak .…"


Kuciumi nisan tersebut sembari terisak. Tuhan ... sesungguhnya apa rencanamu? Engkau mengambil orang-orang yang kucintai satu per satu. Mengapa nasibku harus seperti ini? Jika memang, ini adalah jalan yang terbaik, aku ikhlas. Aku ikhlas ....


"Aku selalu ikhlas ...," ucapku sembari terisak.


Tiba-tiba ada tangan seseorang yang menyentuh pundakku. Aku pun menoleh ke belakang. Seseorang yang familiar di mata dan hati ini. Dia tengah berjongkok di belakangku. Dimas.


Dengan mata sembab dan bengkak, aku menatapnya nanar. Dia mengusap-usap pundakku lembut.

__ADS_1


"Arka pasti sangat bangga memiliki ibu sepertimu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kau adalah wanita yang sangat hebat. Itulah sebabnya, Tuhan terus mengujimu. Aku yakin ... kau bisa melewatinya dengan kuat."


"Sejak kapan kau di sini?" tanyaku lirih dengan suara serak akibat terlalu banyak menangis.


"Sejak keempat orang tuamu pergi tadi."


"Pergilah. Aku ingin sendiri di sini."


"Aku akan menemanimu."


Kusingkirkan tangannya dari pundakku. "Tidak perlu."


"Nia, aku mengerti perasaanmu. Tapi ... sebentar lagi akan hujan." Ia mendongak ke langit yang mulai menggelap. Kemudian menatapku kembali dengan rasa iba. "Pulanglah. Kau bisa kembali menjenguk Arka, besok."


"Apa kau tidak dengar? Aku ingin sendiri. Pergi!" teriakku dengan intonasi terhalang oleh suara serak.


Dia menatapku dengan penuh rasa iba. "Suatu saat ... Tuhan akan mengganti semua lelah dan kesengsaraanmu ini dengan kebahagiaan yang luar biasa. Percayalah ... Tuhan selalu bertindak adil. Dia tidak akan menyiksa perasaan dan hidup hamba-Nya terus menerus. Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti berharap. Arka akan sedih melihatmu terus menerus rapuh. Tunjukkan padanya, bahwa kau adalah ibu yang tegar. Jadi ... pulanglah dulu. Biarkan Arka beristirahat. Dan ... biarkan dirimu beristirahat."


Sejenak aku terdiam, hanya mendengar kalimat-kalimat yang terus mencoba menenangkanku.


"Pergilah ...." Kualihkan pandangan ke pusara Arka lagi. "Aku akan pulang setelah kau pergi dari sini."


"Izinkan aku mengantarkanmu, Nia."


"Dia akan pulang bersamaku." Rudi tiba-tiba muncul dan kami serentak menoleh ke arahnya.


Dimas pun berdiri. Ia menatap Rudi sesaat, lalu pergi meninggalkan kami. Rudi dengan kepala yang terbalut perban pun bersimpuh di depan pusara.


Setelah ia puas menangis dan menyalahkan dirinya, kami pun berdiri. Rudi meraih jemari tanganku, tetapi aku mengempasnya lembut.


"Aku ingin pulang sendiri." Aku pun beranjak dengan langkah lunglai. Bak kehilangan semangat untuk berdiri, kakiku seakan malas diajak berjalan lagi.


"Imania, aku tahu kau marah padaku. Aku tahu ini semua salahku. Aku tidak bisa menjaga Arka dan Fania dengan baik. Semua adalah kesalahanku," seru Rudi yang membuatku menghentikan langkah.


"Imania, aku sudah gagal membahagiakanmu!"


Aku menoleh ke arahnya dan berkata, "Pulanglah. Sebentar lagi hujan. Luka di kepalamu akan terasa lebih sakit bila terkena air hujan. Aku ingin pulang sendiri," ucapku kemudian beranjak lagi.


Aku berjalan kaki karena letak peristirahatan terakhir Arka tidak jauh dari rumah orang tuaku. Dan aku kembali ke rumah orang tua. Aku tidak sanggup kembali ke rumahku lagi. Rumah yang dipenuhi oleh kenangan-kenangan manis bersama putraku.


***


Pagi selanjutnya, aku bangun dengan suasana yang sangat berbeda. Hari-hariku tak indah seperti biasanya. Semangatku pun tak seperti biasanya. Aku bak seekor burung yang tengah kehilangan sayapnya. Atau seekor angsa yang baru saja kehilangan harapannya.


Mulai hari ini, aku benar-benar harus hidup tanpa putraku. Aku harus belajar menerima kenyataan yang begitu sulit. Kecelakaan yang terjadi pukul 20.00 WIB malam kemarin, telah merenggut nyawa pangeran kecilku.


Ibu bilang, saat Rudi tengah menyetir, sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju berlawanan arah. Truk tersebut mengalami rem blong. Sehingga dengan terkejut, Rudi membanting stir dan menabrak pohon besar. Begitu kronologi kejadiannya. Jadi ... sebenarnya ... ini murni kecelakaan. Bukan salah Rudi.


Rudi mengalami luka di bagian kepalanya, dan dia termasuk yang tidak parah, meskipun sempat tidak sadarkan diri. Sedangkan putraku ... putraku mengalami pendarahan di kepala, yang mengakibatkan pembuluh darah otaknya pecah dan terjadi pembengkakan.


Sekarang ... tinggal Fania yang sampai sekarang belum tersadar dari koma. Mengingat Fania, membuatku tergerak untuk menjenguknya. Aku sudah kehilangan putraku, semoga aku tidak kehilangan satu sosok yang juga sangat kusayangi. Sahabatku, Fania.


***

__ADS_1


Aku ke rumah sakit diantarkan ayah. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju ruang ICU. Kuintip dari lubang kaca kecil di pintu. Pak Wibowo berada di sana bersama seorang dokter.


Aku pun masuk dan menghampiri mereka.


Pak Wibowo tiba-tiba langsung memelukku sembari terisak. "Bagaimana kau bisa sanggup datang ke sini saat kau tengah terpuruk seperti sekarang ini, Nak?"


"Aku sudah mengikhlaskan yang terjadi pada putraku. Tuhan telah menggariskan takdirnya. Aku tidak bisa melawan takdir."


Pak Wibowo melepaskan pelukannya padaku. "Kau adalah wanita paling luar biasa yang kutemui, Nak. Aku tahu, kau pasti sangat terpukul. Matamu sudah cukup membengkak, Nak."


"Arka sudah tidur bersama bidadari di surga. Bahkan, dia akan lebih bahagia di sana. Suatu saat nanti, aku juga akan menyusulnya."


"Ya Tuhan ... berikan kebahagiaan dan keberuntungan untuk wanita ini," ucap pak Wibowo mendoakanku.


"Bagaimana keadaan Fania?" tanyaku masih dengan suara serak.


Pak Wibowo menggeleng, sembari menatapku sayu. Ia memegang selembar kertas di tangannya. Kulirik tulisan yang di kertas tersebut, 'Surat Identifikasi DNA'.


"Itu ...." Aku menunjuk ke arah secarik kertas tersebut.


"Fania ... dia adalah putriku," kata pak Wibowo.


"Apa?"


"Fania adalah putriku. Dia putri kandungku. Anak dari Arumi."


-- BERSAMBUNG --


______________________________________________


Readers Keceh?


Maafin Author Keceh yang udah bikin nangis masal semalam, ya?


Author juga sedih, loh, ini. Setiap baca episode semalam, berkali-kali Author Keceh juga ikut nangis. Hiks.


Tenang saja, Author Keceh sudah siapkan rencana terbaik, kok? Jadi ... kalian jangan marahin Author Keceh terus, nih. Sedih.


Bagi yang penasaran betapa mengejutkan alur novel ini, silakan tunggu sampai END.


Kalian tidak akan menyesal sudah mengikuti novel ini. Pokoknya Author Keceh jamin, kalian akan menyukai ENDING dengan berbagai kisah SWEET.


Untuk saat ini, silakan beli tissue sebanyak-banyaknya. Biar bisa menemani kalian baca beberapa part yang menguras air liur. Eh, air mata maksudku. He-he.


Novel ini sengaja dikemas dengan emosional tingkat dewa. Wuih! Lebay. Wkwk.


Ini sudah ciri khas karya-karya Author Keceh, loh, ya? Jadi, siap mental dan tissue kalau mau baca karya Author Keceh. Karena dijamin bapernya aigooo!


Karya-karya Author Keceh selalu HAPPY ENDING, kok? Jadi, tidak usah khawatir. Kalian akan sangat suka di beberapa part sebelum ENDING.


So, ikuti saja terus. Rencana yang dibuat Author Keceh indah banget, kok.


Author takut bikin sad ending. Takut digebukin kalian, wkwk.


Ya, udah. Tunggu Episode selanjutnya.

__ADS_1


Thank you ...!


__ADS_2