BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Wanita Penggoda


__ADS_3

Usai melakukan peregangan, mereka pun ancang-ancang untuk masuk ke dalam air.


"Apa kau siap?" Fania bertanya.


"Tentu!"


Mereka pun berdiri di tepi kolam, ancang-ancang untuk masuk ke dalam air.


"Aku yang hitung, ya?" ucap Fania lagi. "Satu ... dua ... tiga!"


Byur!


Kedua tubuh itu pun jatuh ke dalam air. Mereka saling berlomba untuk lebih dulu mencapai finish. Keduanya berenang dengan gaya kupu-kupu. Fania tampak berenang dengan sangat lincah, gerakannya cepat. Aku yakin, kali ini Fania yang akan menang.


Arka sangat senang melihat papanya. Dia cukup antusias memperhatikannya.


"Papa! Ayo, Papa!" teriaknya menyemangati seraya menepuk kedua tangan.


Fania lebih dulu menyentuh dinding kolam. Ia pun berbalik arah. Dilihat dari teknik pengambilan napasnya yang sempurna, dan teknik gerakannya yang sangat lincah nan indah. Aku yakin, Fania bukan hanya pandai berenang, tetapi juga sering mengikuti perlombaan renang. Dan benar saja, dengan cepat, akhirnya Fanialah yang menang. Mereka pun segera menepi. Kemudian duduk bersebelahan di tepi kolam.


"Kau masih sama seperti dulu rupanya," ucap Fania lalu menertawai mas Bastian.


"Aku hanya sedikit mengalah saja padamu." balas mas Bastian.


"Dasar lamban!" ejek Fania. "Sudahlah, akui saja kalau kau memang tak pernah menang dariku!"


"Iya, kau selalu menang," ucap mas Bastian seraya mentoel hidung Fania.


Mas Bastian sangat egois. Mengapa di mataku, mereka terlihat mesra. Fania juga, sesekali ia mencubit-cubit pinggang mas Bastian. Sepertinya, dia memang sengaja ingin membuatku cemburu.


"Hanya satu yang tidak pernah bisa kumenangkan." Fania berkata sembari menatap mata mas Bastian serius. Sesaat mereka saling menatap.


"Hatimu," kata Fania lalu tertawa.


Duer! Seperti ada yang meledak di dalam hatiku. Apa ini? Apa yang tengah kusaksikan? Mengapa Fania berkata seperti itu? Baru saja berbaikan dengan mas Bastian. Dia sudah mengecewakan aku lagi. Rasanya hati ini lebih dari sekedar nyeri. Aku sedang berpikir, apa jangan-jangan ... Fania memang wanita selingkuhan mas Bastian?

__ADS_1


Aku semakin geram memperhatikan keasyikan mereka berdua. Dan aku masih diam saja. Mengapa mas Bastian melupakan keberadaanku di sini? Aku benar-benar tidak suka melihat kedekatan mereka berdua. Aku pun menghampiri mereka.


"Ayo, Arka! Kita ikut Papa!" ajakku seraya menggandeng tangannya.


"Mas!"


Mas Bastian menoleh. "Ayo, Sayang. Duduk sini!"


Fania tampak menaikan satu sudut bibirnya. Membuatku semakin tidak menyukainya.


"Fania!" panggilku.


Dia menoleh dengan mimik muka tengilnya. "Ya, kenapa?"


"Ayo kita bertanding!"


Mas Bastian terbelalak menatapku. "Kau ingin bertanding melawan Fania?"


"Iya!"


Fania pun tertawa mendengar tantanganku.


"Hanya mantan atlet, kan?" cibirku kesal.


Fania pun berdiri menghadapku. "Jangan mempermalukan diri sendiri, ya?"


"Harusnya kalimat tersebut untuk dirimu sendiri," balasku.


Mas Bastian sedikit terkejut dengan sikapku. Mungkin dia pikir aku akan diam saja melihat kelakuan mereka. Mungkin juga dia mengira aku tidak berani menghadapi penggoda seperti Fania. Aku bukan Imania yang dulu. Kadang-kadang, kita perlu bersikap tegas untuk menghadapi wanita penggoda seperti Fania. Jangan sampai kalah dengannya!


Mas Bastian pun bangkit seraya tertawa. "Sayang, sudahlah! Dia bukan tandinganmu."


"Kenapa kau khawatir? Kau hanya perlu menyaksikan!" ucapku kesal pada mas Bastian.


"Sudahlah, Bas! Dia hanya ingin bermain-main air sejenak denganku," ucap Fania dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


"Ayo kita mulai!" tantangku tidak sabar lagi ingin mengalahkannya.


"Baiklah." Mas Bastian pun siap menjadi wasit.


Sebenarnya aku heran, mas Bastian ada di pihak siapa. Mengapa dia meremehkanku? Sikapnya membuatku semakin ingin mempermalukan Fania. Atlet renang yang selalu juara sejak SMA, 'katanya'.


Aku dan Fania berdiri sejajar. Aku pun segera melakukan peregangan sebelum masuk ke dalam air, untuk menghindari cidera saat berenang. Begitupun Fania, ia melakukan peregangan dengan gerak yang dibuat-buat. Mungkin agar terlihat sangat seksi dan menggoda. Tubuhnya yang hanya tertutup bikini warna ungu itu memang sangat seksi. Bahkan, aku menangkap basah mas Bastian yang sesekali memperhatikan setiap inci tubuh seksi Fania.


Aku sadar, Fania memang sangat cantik nan seksi. Lelaki mana yang tidak tergiur melihatnya. Badannya bak gitar spanyol. Melihat tubuh mulus yang terbuka seperti itu, tentu membuat banyak laki-laki menelan ludah. Bahkan suamiku pun sampai hati padaku, meliriknya. Tidak seharusnya mas Bastian memperhatikan Fania sebegitunya. Mas Bastian memang menjengkelkan. Ini tidak bisa dibiarkan. Pokoknya aku harus menang!


Fania kembali melakukan peregangan. Ia mengangkat kakinya ke depan, lalu ke belakang. Meliukkan tubuhnya ke samping kiri dan kanan. Lalu menjatuhkan tubuhnya, membuat peregangan dengan gerakan-gerakan yang menggoda. Fania membuat gerakan yang berbeda dari peregangan pada umumnya. Justru gerakan-gerakan Fania malah tampak erotis di mataku. Bahkan, mas Bastian tak berkedip memperhatikannya.


Tidak mau kalah. Aku pun ikut membuat peregangan yang mirip dengan yang Fania lakukan. Apa boleh buat, suamiku sendiri begitu menikmati keindahan gerakan Fania. Apa salahnya, jika aku pun melakukan hal yang sama. Aku juga bisa terlihat seksi!


"Sayang, apa yang kau lakukan?"


Aku tak menyahuti perkataannya. Kugerakan tubuhku persis seperti yang dilakukan oleh Fania. Meliuk ke kiri, ke kanan. Menjatuhkan diri dengan gerakan-gerakan yang sama. Atau lebih tepatnya hampir sama.


"Sayang, kau baik-baik saja, kan?"


Kali ini aku berdiri. "Menurutmu!"


Mas Bastian tidak menjawab. Ekspresi wajahnya sungguh berbeda dengan yang tadi kulihat. Dia begitu terpesona dengan gerakan erotis Fania. Lalu kenapa saat aku melakukannya, justru dia menatapku aneh? Apa dia tidak bisa peka dengan sikapku? Aku cemburu.


Aku pun usai melakukan peregangan. Kini saatnya kami bertanding. Kesejajarkan tubuh di samping Fania. Sesaat kami saling bertatapan.


"Kalian siap?" Mas Bastian mulai memberikan aba-aba.


Aku dan Fania pun bersiap-siap untuk terjun ke dalam air.


"Mama ... Mama harus menang!" ucap Arka menyemangatiku.


Aku pun tersenyum dan mengangguk padanya. Mengisyaratkan sebuah kalimat, 'aku pasti bisa!'.


"Satu ... dua ... tiga!"

__ADS_1


Byur!


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2