
Acara pertunangan kami pun selesai. Pak Wibowo beserta keluarganya berpamit untuk pulang. Sesaat sebelum pulang, pak Wibowo menatap Fania, tapi tidak berkata apa-apa. Aku memahami apa yang pak Wibowo rasakan. Ia ingin meminta maaf, hanya saja waktu dan tempat tidak tepat.
Semua orang sudah masuk ke mobil, kecuali Dimas. Dia masih berdiri untuk berpamit padaku.
"Nia, kau sangat cantik."
"Kau sudah mengatakan itu tadi."
"Aku pulang dulu, ya."
"Ya, hati-hati di jalan."
Sebelum pergi, ia berbisik di telingaku. "Kau seksi sekali dengan balutan gaun seperti ini. Mamaku tidak salah memilih gaun. Andai saat ini kita hanya berdua, mungkin—"
"Eghem!" Suara Fania menghentikan bisikan Dimas.
"Bisa tolong bersabar?" cibir Fania sembari memutar bola matanya.
Dimas menoleh ke arah Fania yang masih duduk di sofa. "Aih! Kakak si*lan! Dasar pengganggu!"
Dimas meraih tanganku dan mencium lembut punggung tanganku. "Selamat malam dan selamat tidur Putri Angsa."
Aku tersenyum memandangnya. "Sama-sama Pangeran Elangku," balasku.
"Ah, lebay!" cibir Fania lagi.
"Bilang saja kau iri. Rudi masih menggantung hubungan kalian, bukan? Sungguh, kasihan. Ck!" Dimas mengejek Fania.
"Awas saja kau! Rudi akan lebih romantis daripada kau, berengsek!" Fania berdiri dan melepaskan sebelah high heels-nya. Ia mengangkat high heels itu ke arah Dimas. "Ayo, katakan sekali lagi."
"Jangan-jangan ... Rudi menolakmu," ledek Dimas sembari tertawa, lalu ia beranjak pergi dan masuk ke mobilnya.
"Ah, adik rese!!"
***
Hari selanjutnya adalah hari Minggu. Aku mendengar kabar tadi pagi lewat pesan WhatsApp dari mas Bastian, bahwa Bella sudah melahirkan. Mendengar kabar itu, aku turut berbahagia. Kebetulan Bella melahirkan di Rumah Sakit Cahya Nugraha, jadi, aku mengajak Dimas untuk mengunjungi mereka kesana.
Aku sudah rapi, sudah siap dijemput oleh Dimas. Sedangkan Fania sedang asyik duduk di teras sembari menyantap nasi goreng buatan ibuku.
Tiba-tiba ibu dan ayahku keluar dalam keadaan rapi sekali. Mereka pun menghampiri kami yang tengah duduk di teras.
"Nak, ibu mau pergi ke acara resepsi pernikahan anaknya sahabat ibu. Tolong jaga rumah, ya?" pamit ibu kepada Fania.
"Sip, Bibi," jawab Fania sembari melayangkan jempolnya.
"Ima, Dimas belum menjemputmu?" tanya ibu.
"Mungkin sebentar lagi, Bu."
"Ya, sudah. Ibu buru-buru ini, karena acaranya dimulai pukul delapan. Ibu pergi dulu, ya, Nak?"
Kami pun menyalami ibu dan ayah.
"Hati-hati, Bu, Yah," seruku.
"Imania, kau serius mau mengunjungi Anabel?" tanya Fania.
"Bella, bukan Anabel."
"Anabel, bukan Bella."
"Terserah kau," balasku.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak sudi mengunjunginya."
"Kenapa?" tanyaku.
"Ya, karena dia pelakor."
"Bukankah, berkat dia juga aku bisa bersama kembali dengan Dimas?" kataku setengah bercanda.
"Iya juga, sih. Tetapi tetap saja, si Anabel itu pelakor. Jadi, jangan terlalu baik padanya. Ingat! Dia sudah pernah membuatmu menangis dan sengsara. Jangan terlalu baik padanya."
"Akan kupertimbangkan nasihatmu itu."
__ADS_1
Tidak lama setelah ayah dan ibuku pergi, mobil hitam milik Dimas masuk ke halaman. Aku pun segera menghampiri dan masuk ke mobil tersebut.
"Fania, aku pergi, ya?" seruku dari dalam mobil.
"Hm ...." Fania hanya memandangku sembari mengunyah makanan di mulutnya.
Kami pun meluncur menuju mal terlebih dahulu. Aku ingin membeli beberapa helai pakaian bayi. Mas Bastian mengatakan bahwa bayinya perempuan, jadi aku memilih beberapa helai pakaian untuk bayi perempuan, lengkap dengan tas bayi dan sepatu bayi.
***
Sesampainya di rumah sakit, Dimas langsung menuntunku ke tempat khusus para ibu dan bayi.
"Dimas, aku bisa jalan sendiri." Aku melepaskan tangan dari genggaman Dimas, karena malu dilihat orang.
Akan tetapi, Dimas meraih tanganku kembali. Dan membawaku berjalan menuju tempat khusus para bayi.
"Dimas."
"Kenapa malu? Tenanglah."
Akhirnya aku pasrah digandengnya seperti anak kecil. Dimas tidak peduli pandangan orang-orang.
Kami pun sampai di tempatnya para bayi. Suara tangisan para bayi terdengar ramai di telinga. Itu membuatku teringat pada Arka. Aku menahan langkah sejenak.
"Ada apa?" tanya Dimas menatapku heran.
"Aku rindu Arka."
Dimas memahami perasaanku. Ia membelai lembut pipiku dan berkata, "Arka sudah tenang dan damai di surga. Jangan membuat Arka sedih."
Dimas menyadari air yang tergenang di mataku. Kemudian ia berbisik, "Aku janji, akan membuat anak yang banyak bersamamu nanti. Agar rumah kita ramai dan kau tidak akan kesepian, Sayang. Kita akan buat anak yang banyak."
Air mata meluncur bersamaan dengan tawa kecilku, karena mendengar kalimat menggelitik itu. Kucubit pinggangnya. Dimas hanya tertawa, lalu menggandeng tanganku lagi. Mengajakku masuk ke ruang rawat Bella dan bayinya.
Kuketuk pintunya, lalu kami pun masuk. Mas Bastian tengah duduk di samping istrinya yang berbaring. Mereka menatap ke arah kami dengan mata terkejut. Segera kulempar senyum manis kepada Bella dan meletakkan bingkisan berisi pakaian bayi di atas meja.
"Bagaimana keadaanmu, Bell?" tanyaku sembari mendekat.
"Tidak enak. Rasanya masih sangat sakit," jawabnya dengan wajah tidak bahagia.
"Ya, iyalah. Yang enak, kan, bikinnya," sahut Dimas sembari tertawa.
"Nanti juga akan segera pulih, Bell," ucapku. "Eh, itu bayimu?" Aku menoleh ranjang berisi bayi mungil di sebelah ranjang Bella.
Aku menghampirinya dan menatap bayi mungil yang masih kemerahan itu. "Ah, lucunya ...."
Dimas menghampiriku dan ikut melihat bayi perempuan itu. "Kita akan segera bikin yang lucu-lucu seperti itu. Pasti enak, ha-ha."
"Dimas." Aku kembali mencubitnya.
"Aww! Sakit, Sayang ...."
"Makanya jangan seperti itu."
"Imania, kau dulu melahirkan dengan cara normal atau sesar?"
"Sesar, Bell," jawabku.
"Ah, itu pasti tidak sesakit ini."
"Rasanya sama saja, kok. Memangnya kau melahirkan secara normal?"
Bella mengangguk. "Rencananya sesar, tapi bayinya keburu keluar."
"Wah, sungguh bayi yang tidak sabaran. Sama seperti Papanya, yang tidak sabaran bikinnya." Lagi-lagi Dimas menyahut sembari tertawa.
Aku hampir saja ikut tertawa karena candaan Dimas, tapi aku segera menahannya. Kualihkan pandangan ke arah mas Bastian yang masih saja diam. Mas Bastian dan Bella tampak seperti dalam suasana tidak berbahagia, padahal seharusnya sebaliknya. Mereka baru saja dikaruniai seorang putri yang sangat lucu.
Bella menceritakan bahwa sebenarnya mereka sudah berencana untuk sesar, tetapi karena mas Bastian juga sibuk, mereka melupakan hari yang seharusnya adalah waktu yang tepat untuk berangkat melakukan sesar.
Jadi, ceritanya pagi-pagi saat Bella sedang asyik membaca majalah fashion, tiba-tiba terjadi kontraksi. Pantas mas Bastian tidak masuk kerja kemarin. Ternyata dia mengantarkan istrinya yang akan bersalin.
Saat aku asyik berbincang dengan Bella, tiba-tiba saja bayinya menangis. Mas Bastian langsung beranjak menuju bayinya. Ia dengan sigap segera menggendong bayi cantik itu menuju sang ibu.
"Abel, sepertinya dia ingin menyusu," ucap mas Bastian kepada Bella yang tampak acuh.
__ADS_1
"Dia, kan, baru saja menyusu. Masak nyusu lagi. Malas, ah."
"Abel, kasihan dia. Susui lagi sebentar, ya?" Mas Bastian terus memohon sembari menenangkan putri kecilnya yang terus menerus menangis.
"Kau, kan, bisa meimangnya agar tertidur. Jangan maunya enak sendiri, terus aku yang kerepotan dan susah!"
"Ya Tuhan. Abel, ini anakmu sendiri, loh," ucap mas Bastian dengan sabar.
"Mas ... kamu ngerti enggak, sih. Aku masih sakit, tapi kamu terus memaksaku untuk menyusui. Aku ingin istirahat, Mas ...."
Aku memperhatikan mas Bastian dan bayinya dengan iba. Lalu aku pun meminta untuk menggendong bayi tersebut.
"Sini, biar aku mencoba untuk menimangnya."
Mas Bastian memberikan bayi itu padaku. Kutimang-timang bayi mungil itu. Meski awalnya terus menangis, lama-lama bayi itu pun tidur kembali. Kasihan sekali bayi ini, dia pasti sangat haus.
Bella memiringkan tubuhnya membelakangi kami, lalu tidur. Dimas tidak hentinya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Bella. Sedangkan mas Bastian menghampiriku yang tengah menggendong putri kecilnya.
"Imania, aku sudah berkali-kali meminta Abel untuk menyusui bayinya, tetapi dia tidak mau."
"Sabar, Mas. Mungkin Bella sedang ingin istirahat."
"Apa ... lebih baik kuberi susu formula saja?"
"Jangan. Itu tidak bagus untuk bayi. Akan lebih baik ASI saja dulu."
"Tapi, Abel malas untuk menyusui anaknya," keluh mas Bastian dengan wajah sedih.
"Biar konsultasikan ini dengan dokter saja, Mas. Nanti biar dokter yang menasihati istrimu."
Mas Bastian menatapku dalam dan berkata, "Kau sangat keibuan dan juga ... tampak lebih muda sekarang."
Aku tertegun mendengarnya. Akan tetapi, Dimas langsung mendorong mas Bastian.
"Jangan menatap calon istriku seperti itu. Tataplah istrimu yang sedang tidur itu. Ingat, dulu kau begitu memujanya, sampai menyakiti Imania bertubi-tubi. Jadi ... janganlah menyesal, Bas. Nikmati saja."
Mas Bastian menatap Dimas dengan tetap sabar. "Kau memang sangat beruntung."
"Tentu saja. Rejeki anak soleh," ucap Dimas sembari tersenyum bangga.
***
Usai menidurkan bayi mungil itu dan meletakkannya kembali di ranjang bayi, aku dan Dimas pamit untuk pulang. Di dalam mobil aku terus menegur Dimas.
"Seharusnya kau jangan bercanda seperti tadi."
"Nia, kau lihat ekspresi Bastian? Tadi itu wajahnya sangat lucu. Dia ingin marah padaku, tapi dia menahannya," katanya sembari tertawa.
"Itu tidak lucu. Aku jadi menyesal telah mengajakmu."
"Itu karma untuk Bastian. Lihat kelakuan istrinya tadi. Ah, aku menjadi sangat beruntung dan sangat bersyukur karena mendapatkanmu," ucapnya sembari mencubit pipiku gemas.
"Mungkin, Bella sedang terkena baby blues."
"Apa itu baby blues?" tanya Dimas penasaran.
"Sindrom yang dialami oleh ibu yang baru saja melahirkan. Kukira kau tahu. Kau, kan, dokter."
"Aku dokter spesialis jantung, bukan dokter kandungan, Sayang. Tapi kalau kau hamil nanti, aku siap untuk menjadi dokter spesialis kandungan untukmu," katanya kemudian menyalakan mobilnya.
-- BERSAMBUNG --
______________________________________________
Readers Keceh?
Pasti ada yang menunggu kisah malam pertama mereka, ya?
Aduhai, untuk episode-episode ninu-ninu itu dikhususkan untuk para Readers Keceh yang udah dewasa aja, ya? Wkwk! 21+ khusus!
Ingat! Para unyu-unyu yang masih di bawah umur, disarankan untuk tidak membaca Chapter itu, ya?
Masih kejutan! Pokoknya doakan saja semoga sistem meloloskan adegan ninu-ninunya, ya?
Bonus buat para Keceh Setia Novel BP ini!
__ADS_1
Ingat! VOTE DAN KASIH BINTANG LIMANYA, YA?
THANK YOU ...!