BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Arwah Arumi


__ADS_3

Hai, para Readers Keceh nan Membahana!


Khusus chapter ini mengandung unsur mistis. Harap tetap tenang! Ha-ha.


Jangan banyak protes ini itu, ya? Skenario sudah diatur Author Keceh dengan rapi. Kalian tinggal menikmatinya saja. Jadilah pembaca yang santun dan baik hati. WKWK.


Jangan lupa bantu BINTANG LIMA. Author Keceh butuh banget kecupan manis BINTANG LIMA dari kalian. Dan jangan lupa untuk VOTE!!


Happy reading, gaes!


_____________________________________________


"Pak Wibowo. Eh, Ayah." Aku berdiri menyambut kedatangannya dengan senyuman. "Lihatlah mereka, Ayah. Bukankah itu adalah pemandangan yang manis?"


Pak Wibowo memandang ke arah Dimas dan Fania yang tengah berkejar-kejaran. "Sejak kapan Dimas menerima Fania dengan baik?"


"Aku lupa kapan. Tetapi setahuku, Dimas memang selalu menerima Fania dengan baik. Waktu itu, mungkin ia hanya shock dan memerlukan waktu untuk berpikir."


"Hari ini, Fania akan memaafkan aku ataupun tidak. Aku akan ikhlas dan menerima kenyataan," ujar pak Wibowo dengan sesungging senyum melintas di wajahnya.


Fania mengejar Dimas yang terus berlari ke arah kami. Dimas segera sembunyi di belakang tubuhku. Hingga Fania sadar, ada seseorang yang tengah berdiri di sampingku. Fania bergeming sesaat, kedua bola mata indahnya menatap pak Wibowo lekat. Setelah itu, Fania memalingkan wajahnya dan berbalik.


"Tunggu, Fania," sergah pak Wibowo sembari menahan lengan Fania.


Fania diam, tak melangkah, tapi ia empaskan tangan pak Wibowo.


"Aku tahu, kau tentu membenciku. Kau boleh membenciku, itu wajar. Tapi ... aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesali perbuatanku padamu dan ibumu," tutur pak Wibowo.


Dimas menarik lenganku, sedikit menjauh dari mereka. Membiarkan mereka bicara berdua. Kami pun mengambil duduk berteduh di bawah payung yang bertengger warna-warni di pinggir pantai. Jarak kami dari mereka sekitar lima meter. Jadi, kami masih bisa mendengar jelas pembicaraan mereka.


"Setelah apa yang kulakukan pada ibumu, itu adalah perbuatan dosa besar. Izinkan aku menebus segala kesalahan dan dosa-dosaku, Fania."


Fania akhirnya berbalik. Menatap pak Wibowo dengan tajam dan berkata, "Menebus? Apa kau pikir setelah kau menelantarkan ibuku, itu dapat kau tebus? Tidak! Durjana sepertimu tidak akan mendapatkan maaf dari ibuku dan juga Tuhan."


"Bagaimana denganmu? Apa kau mau memaafkanku, Nak?" tanya pak Wibowo dengan wajah memelas.


"Aku juga tidak bisa memaafkanmu. Pergilah. Percuma saja bicara denganku."

__ADS_1


Pak Wibowo bersimpuh di hadapan Fania sembari terus memohon. "Nak, aku tidak bisa hidup tenang tanpa maaf darimu."


"Kau bilang tidak bisa hidup tenang? Lalu apa kabar hidupmu selama ibuku mengandungku?"


Fania mulai terlihat emosional. Kedua matanya mulai berembun.


"Mengapa kau tidak mencari keberadaan ibuku?"


"Aku mencari ibumu, Fania."


"Bohong!!"


Pak Wibowo menyentuh kaki Fania sembari terisak. "Sungguh ... aku mengerahkan anak buahku juga untuk mencari keberadaan Arumi—ibumu—waktu itu."


"Lalu untuk apa kau mencarinya?" tanya Fania dengan nada sinis, tetapi wajahnya dipenuhi semburat kepedihan.


"Aku ... ingin memfasilitasinya dengan hartaku. Agar ibumu tidak kekurangan. Agar Arumi tidak sengsara. Agar bisa mencukupi segala kebutuhan hidup kalian."


Tiba-tiba Fania memegangi kepalanya. Ia seperti tengah merasakan pusing. Kemudian Fania terkekeh panjang di depan pak Wibowo, tetapi kedua matanya berderai oleh embun. Entah mengapa ... tiba-tiba bulu kudukku merinding mendengar tawa Fania. Tawanya itu ... seperti ... bukan dirinya.


Pak Wibowo mendongak. Kedua matanya terbelalak. Sama terkejutnya denganku. Apa yang terjadi pada Fania?


"Hei, Adi, dengar! Uang memang bisa membeli segalanya, tapi kau harus ingat! Uang tidak akan pernah bisa menebus segala kesalahan."


Pak Wibowo melepaskan tangannya dari kaki Fania. Ia terus menatap Fania terkejut, lalu berdiri berhadapan dengan Fania.


Dimas memahami kecemasanku. Ia menggenggam jemari tanganku erat. "Tenanglah. Fania tidak apa-apa. Biarkan dia bicara dengan ayahku."


"Tapi ... itu ... sepertinya ...."


"Ya, itu bukan Fania. Tapi ibunya Fania."


Aku menatap Dimas terkejut. Bagaimana dia bisa mengatakan seyakin itu? Apa benar ada yang tidak beres terjadi? Apa mungkin itu ibunya Fania? Akan tetapi ... bagaimana mungkin?


Pak Wibowo dan Fania saling menatap. Kedua mata Fania tampak berbeda dari biasanya. Itu terlihat seperti ... ada sebuah pantulan cahaya yang bersinar dari kedua bola matanya yang basah. Entah hanya menurutku saja.


"Arumi ... itu kau ...." Pak Wibowo mulai berucap dengan nada bergetar.

__ADS_1


Fania tersenyum sinis. "Apa kau terkejut Adi?"


Tidak hanya bibirnya. Tampak sangat jelas tubuh pak Wibowo sedikit bergetar. Ia menatap Fania dengan tidak percaya atas apa yang terjadi.


"Apa kabarmu Adi? Kau semakin sukses setelah menikahi wanita itu. Apa kau bahagia?" tanya Fania dengan nada suara yang terdengar berbeda. Aneh.


"A ... ru ... mi ...." Bibir pak Wibowo terus bergetar.


"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Adi." Fania meletakkan kedua tangannya di pipi pak Wibowo. "Apa kau merindukanku?"


"Ba-bagaimana bisa ...." Pak Wibowo tampak gemetaran sekali. Tangannya meremas celananya sendiri.


"Apa kau takut? Tidak ingin menyentuhku lagi seperti dulu? Tubuh ini milikmu Adi. Aku milikmu," bisik Fania dengan nada suara yang sangat lembut menggoda tetapi membuatku merinding.


Keringat dingin mulai mengucur di kening pak Wibowo. Wajahnya seperti ketakutan disertai gugup. Aku tidak tahu apa yang tengah pak Wibowo rasakan.


"Kenapa diam saja, Adi. Aku merindukanmu. Ayo, kita lakukan sekali lagi. Atau berkali-kali. Ikutlah bersamaku. Maka aku akan memaafkanmu, Sayang ...." Fania membelai pipi pak Wibowo dengan lembut.


"Arumi ... ampuni aku ...," ucap pak Wibowo terus gemetaran.


"Ikutlah denganku, Adi. Aku merindukanmu ...."


"Arumi ...."


"Aku tahu kau masih sangat mencintaiku. Jadi ... ikutlah bersamaku. Kita akan bebas melakukan apapun. Aku mencintaimu, Adi." Fania menyemburatkan senyuman yang membuatku semakin merinding.


Pak Wibowo tiba-tiba terisak. Kedua bola mata elang itu mulai mengucurkan air mata. "Maafkan aku, Arumi. Maafkan atas segala kesalahanku. Aku ... aku tidak berdaya waktu itu. Sehingga kau harus menderita gara-gara aku. Sungguh ... ampuni aku."


Tiba-tiba wajah Fania berubah sendu. Ia ikut terisak-isak sembari berkata, "Kau jahat! Kau kejam! Kau pecundang! Kau pengkhianat!" Fania menjeda perkataannya. "Tapi aku mencintaimu ...." Fania mengalungkan kedua tangannya ke leher pak Wibowo. Ia menjinjitkan kaki sedikit, berusaha mencium bibir pak Wibowo.


Akan tetapi, saat bibir Fania hampir menyentuh bibir pak Wibowo, seketika itu Fania jatuh dan pingsan di atas pasir pantai. Aku dan Dimas segera berlari menghampiri mereka.


"Arumi!" Pak Wibowo segera mengangkat tubuh Fania ke pangkuan, lalu menggoyang-goyang tubuh Fania sembari memeluknya. "Maafkan aku, Arumi ...."


Kadang-kadang ... ada sesuatu hal ataupun kejadian di muka bumi ini, yang sulit dinalar dan diakal dalam logika. Akan tetapi ... hal-hal semacam itu memang benar-benar ada dan terasa nyata. Bahkan, sangat nyata apabila jiwa dengan lembut mampu memahaminya. Antara mistis dan logika, realistis dan magis, nyata dan tak kasat mata, semua itu berkesinambungan di dalam alam. Wallohu a'lam bishowab.


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1


__ADS_2