BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Nge-Gym


__ADS_3

Setelah Parmin keluar dari kamar kami, Dimas berjalan menuju ranjang, menghampiriku. Ia ikut berbaring di sampingku. Segera kuubah posisi membelakanginya. Aku masih kesal dengannya.


"Masih marah?"


Aku tidak menjawab. Lalu Dimas memelukku dari belakang dan berbisik, "Jangan ngambek terus, dong, Sayang."


"Aku mau tidur."


"Ya, sudah, tidurlah. Aku akan menemanimu."


Akhirnya, kami pun tidur bersama.


***


Aku bangun pukul satu siang dan sudah tidak mendapati ada Dimas di sisiku. Pasti dia sudah bangun. Aku pun beranjak untuk mencuci muka, lalu turun menuju lantai paling dasar.


Saat sampai dapur dan melihat bi Surti sedang memasak. Aku pun menghampirinya. "Bi Sur, lagi masak apa?"


Bi Surti menoleh. "Eh, Mbak Imania. Ini lagi masak ikan."


"Sini biar aku saja."


"Tidak usah, Mbak. Ini, kan, tugas saya."


"Tidak apa-apa, Bi. Aku bosan tidak ngapa-ngapain."


Akhirnya bi Surti membiarkanku memasak. Sedangkan dia yang memotong sayuran untuk dimasak.


"Bi Surti, lihat mas Dimas enggak?" tanyaku.


"Biasanya kalau tidak ngapa-ngapain, dia suka nge-gym, Mbak."


"Oh, gitu. Di mana tempat gym-nya?"


"Mbak Ima mau ke sana? Biar bi Sur antarkan. Ada di lantai dua, Mbak."


"Eh, tidak usah, Bi. Biar nanti aku sendiri yang cari ruangannya."


"Baik, Mbak."


Aku dan bi Surti memasak bersama. Bi Surti yang memotong bahan-bahan, sedangkan aku yang memasaknya. Setelah selesai, aku naik ke lantai dua, untuk mengecek apakah Dimas ada di sana.


Setelah mencari-cari ruangan gym tersebut, akhirnya ... ketemu. Dimas sedang berolahraga di sana ditemani Parmin yang sedang ngobrol dengannya. Aku pun berhenti di samping pintu.


"Bagaimana, nih, Mas Dimas. Dia minta video call."


"Ya, tinggal video call saja, kok, repot."


"Nanti aku ditolak lagi."


"Lah, kan, sudah biasa ditolak."


"Iya, sih, Mas. Tapi, ya, setidaknya, kan, bisa pacaran selama sebulan, lah."


"Ya, sudah. Jangan video call dulu. Bilang saja kalau kamu sibuk."


"Dia agresif banget, Mas. Masak, nih, lihat chat-nya." Parmin menunjukkan handphone-nya ke depan wajah Dimas.


Dimas hanya tertawa melihat isi chat tersebut. Membuatku penasaran, sebenarnya siapa yang tengah mereka bicarakan?


"Ya, sudah, Mas. Parmin mau ke bawah."


Parmin pun beranjak keluar dari ruangan tersebut. Aku yang tadinya mau masuk pun mengurungkan niat, lebih memilih untuk menginterogasi Parmin dulu. Lelaki berbadan kerempeng itu terkejut melihatku yang berdiri di depan pintu.


"Eh—"


"Sst?" Aku meminta agar Parmin tidak bersuara. Lalu mengajak Parmin menjauh dari ruangan tersebut.


"Ada apa, Mbak?"


"Pak Parmin, sejak tadi pagi membicarakan siapa, sih, sama Mas Dimas?"


"Oh, itu. Cewek, Mbak."


"Cewek?" Aku terkejut.


"Mas Dimas, mah, gitu. Selalu melemparkan nomor Parmin ke gadis yang meminta nomornya mas Dimas."


"Hah, maksudnya gimana?"

__ADS_1


"Begini, Mbak. Mas Dimas itu, kan, ganteng. Nah, kalau ada cewek yang suka sama Mas Dimas, terus kan tuh cewek minta nomornya mas Dimas. Yang dikasihkan itu nomor saya, Mbak?"


"Oh ... gitu." Aku manggut-manggut mengerti.


"Itu sudah sejak saya bekerja di sini, Mbak. Sudah bertahun-tahun. Mulai saat itu, handphone Parmin jadi sering ada nomor-nomor cewek cakep yang masuk. Dan otomatis saya dikira mas Dimas," jelas pak Parmin.


"Terus bagaimana kalau ketahuan bahwa sebenarnya kamu bukan Dimas?" tanyaku penasaran.


"Ya, kitanya putus lah Mbak. Sudah biasa mah setelah video call atau ketemuan kitanya putus. Mana sering ditampar lagi sama ceweknya," keluh Parmin sembari memegangi pipinya.


Aku tertawa geli mendengar cerita Parmin. "Berarti tadi pagi itu juga cewek baru, dong?"


"Iya, Mbak. Mau lihat chat-nya?"


"Boleh."


Parmin memberikan handphone-nya padaku. Aku langsung terkejut melihat foto profilnya adalah Ratna. Oh ... jadi ... yang diberikan oleh Dimas itu nomor Parmin. Ah, aku sudah salah sangka karena mencemburuinya.


[Hai, aku Ratna.]


[Hai, Ratna.]


[Save nomorku, ya?]


[Iya, Ratna.]


[Kamu lagi ngapain?]


[Lagi duduk sambil memandangi foto profilmu yang aduhai.]


[Kamu suka?]


[Banget.]


[Aku bisa lebih seksi dari itu, loh?]


[Oh, ya. Wah, mau dong lihat.]


[Ayo kita VC. Nana lagi gerah body, nih?]


[Wah, jangan sekarang. Saya lagi sibuk.]


[Jangan deh. Takut dosa.]


[Enggak apa-apa, kan, Nana ikhlas. Apa, sih, yang enggak, buat cowok seganteng kamu.]


[Saya enggak ganteng, mah. Saya jelek.]


[Jangan merendah gitu, dong? Kamu tuh cowok terganteng yang pernah Nana lihat. You're so sexy, Babe.]


[Wah, makasih.]


[Kok, foto profilmu kucing, sih?]


[Memangnya kenapa? Nana tidak suka?]


[Bukan begitu. Nana jadi tambah gemes, deh, sama kamu. Pengen dicakar-cakar kamu.]


[Nana suka kucing?]


[Suka banget. Apalagi kalau kucingnya itu kamu.]


[Wah, kamu lucu banget, deh. Jadi pengen cakar sekarang.]


[Ayo VC, Nana lagi enggak pakai baju, nih? Nanti kita cakar-cakaran.]


[Ah, kamu bisa aja, deh, Nana.]


[Ayo VC!]


Chat-nya sampai di situ. Aku tersenyum geli melihat isi chat Parmin dan Ratna. Sekaligus jijik dengan ceweknya, bisa-bisanya seagresif itu? Apa dia tidak punya harga diri sebagai seorang wanita? Kuberikan handphone itu kembali kepada Parmin.


"Ini, Pak. Makasih."


Betapa senangnya hatiku, ternyata Dimas benar-benar setia. Ya Tuhan ... terima kasih sudah menganugerahi suami seperti Dimas padaku. Saat aku hendak beranjak untuk menemui Dimas di ruangan gym-nya, Parmin tiba-tiba memanggilku.


"Mbak Ima."


"Ya." Aku berbalik.

__ADS_1


"Mbak Ima sangat beruntung karena mas Dimas bukan laki-laki yang mudah menyukai wanita. Selama ini, sudah ratusan nomor cewek cantik yang masuk ke handphone Parmin. Itu artinya, mas Dimas hanya mencintai Mbak Ima seorang. Hanya Mbak Ima yang berhasil masuk ke hati mas Dimas," tutur Parmin.


"Terima kasih, Pak Parmin."


"Sama-sama, Mbak."


Aku langsung menuju ruangan gym dengan hati yang berbunga-bunga. Bak tanaman yang sempat layu kepanasan, lalu tersirami kembali. Rasanya begitu segar, aku bahagia sekali. Ingin rasanya kupeluk suamiku segera. Aku berjalan cepat sembari tersenyum sepanjang langkah. Dan saat baru akan masuk ke ruangan tersebut, bersamaan dengan itu Dimas juga akan keluar.


Kami berhadapan. Kulihat dadanya yang telanjang, dipenuhi keringat yang bercucuran. Rambutnya yang basah karena keringat, membuat wajah tampannya tampak semakin keren. Perut sixpack, lengan berotot, Dimas benar-benar pria bertubuh atletis sempurna.


Dia masih diam, memperhatikanku yang senyum-senyum sendiri. Dan dengan beberapa langkah, kupeluk tubuhnya yang basah oleh keringat. Aku tidak peduli keringat itu membuat tubuh dan pakaianku ikut basah. Aku senang sekali hari ini. Aku sangat bahagia mendapatkan suamiku.


"Hei, ada apa? Kau terlihat sangat senang."


Kupererat pelukan, sehingga Dimas semakin bingung.


"Tubuhku basah dan kotor. Bau lagi."


"Tidak apa-apa. Aku menyayangimu."


"Apa kau baik-baik saja?"


"Aku mencintaimu."


Dimas membalas pelukanku erat. Lalu, dengan tiba-tiba ia menggendong tubuhku, membawaku ke menaiki tangga.


"Hei, kau mau membawaku ke mana?"


"Kenapa? Kau membuatku gemas. Mari kita lakukan sesuatu."


"Tapi ... kau belum mandi."


"Kita akan mandi bersama."


*ADEGAN DISENSOR*


Silakan bayangkan saja sendiri, ha-ha.


***


Setelah berninu-ninu di kamar mandi, kami pun membersihkan diri, kemudian turun ke lantai bawah untuk makan. Usai makan, kami duduk bersantai di sofa. Kami tengah bermanja-manja. Dimas berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Sebuah panggilan video dari Fania.


"Hai, sahabatku tersayang. Aku kangen banget sama kamu. Apa kabar?" Wanita berambut pirang itu tersenyum lebar menyapaku.


"Kabarku baik sekali, Fania. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik-baik saja. Bagaimana honeymoon kalian? Pasti menyenangkan, ya? Hm ... aku pengen ...."


"Semuanya lancar. Kami baru pulang dari Bali tadi pagi."


"Kalian sudah pulang?" Fania tampak terkejut.


"Iya." Kuperluas jangkauan kamera untuk memperlihatkan Dimas yang berbaring di pangkuanku.


"Hai, Kakak pencopet," sapa Dimas sembari melambaikan tangan.


"Ih, kalian so sweet banget, sih? Aku iri!"


"Makanya cepat menikah!" kata Dimas.


"Bagaimana rasanya ninu-ninunya, Adik durhaka?"


"Mantep banget!" jawab Dimas sembari melayangkan jempolnya.


"Fania, bagaimana hubunganmu dengan Rudi?" tanyaku segera mengalihkan pembicaraan mereka agar tidak semakin ngawur.


"Rudi bilang, setelah ibunya merestui, kita akan menikah. Aku takut ketemu ibunya Rudi. Apa dia akan menyukaiku?"


"Kuharap beliau menyukaimu."


"Hari ini Rudi mau mengajakku ke rumahnya untuk menemui ibunya."


"Wah, bagus itu."


"Masalahnya aku khawatir. Aku harus bagaimana di depan calon mertua?"


"Kamu harus menjaga sikap. Menghormati orang tua dan ramah. Selalu menjaga wajahmu agar tersenyum manis di depannya."


Akhirnya aku dan Fania pun mengobrol tentang bagaimana untuk bisa menghadapi calon mertua dengan baik. Sampai-sampai aku tidak sadar kalau Dimas sudah tertidur pulas di pangkuanku. Pasti dia lelah sekali, karena habis nge-gym kita nge-gym lagi, ha-ha.

__ADS_1


-- BERSAMBUNG --


__ADS_2