
"Kau!" seruku setelah lepas dari tautan bibir itu.
"Kau lagi! Bagaimana bisa kau masuk rumahku!" lanjutku dengan penuh emosi.
"Apa kau lupa? Selalu ada pintu belakang, bila pintu depannya dikunci."
Pintu belakang? Bukankah itu terkunci?
"Kau tahu peribahasa, 'sedia payung sebelum hujan'? Aku pun sama. Sedia akal sebelum bergerak," ucapnya menyeringai.
"Apa maksudmu!"
"Aku sudah membuka kunci pintu belakang rumahmu sebelumnya."
"Kau!"
"Stt?" Dia menempelkan telunjuknya pada bibirku. "Pelankan suaramu. Nanti Arka terbangun."
Kudorong tubuhnya agar menjauh. "Kau sangat keterlaluan! Kau hampir membuat jantungku copot!"
Dokter elang itu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Aku segera bangkit dan keluar dari kamar. Dokter itu mengikuti langkahku.
"Kau marah?" tanyanya seraya menahan lenganku.
"Aku sangat membencimu!" Kuempas tangannya. Pergi menuju ruang tamu. Niat hati ingin mengeluarkan hantu sialan ini. Namun, dia malah menarik tubuhku untuk duduk di sofa.
"Duduklah aku ingin bicara. Jika kau teriak atau melawan. Aku akan lebih nekad!" ancamnya.
Dengan ekspresi kesal, terpaksa kududukkan tubuh di sofa. Dimas menggeser tubuhnya mendekat, tapi aku langsung menjauh. Lalu ia mendekat lagi, dan aku menjauh lagi. Begitu seterusnya hingga terpaksa aku diam, duduk di sebelahnya.
"Tenanglah! Aku tidak akan berbuat macam-macam." Seraya melingkarkan lengannya ke pinggangku, tentu saja langsung kuempas.
"Jangan kurang ajar, Di!"
"Tadi, kau sangat menikmati, bukan?" tanyanya menatapku seraya memainkan alisnya.
"Menikmati apa?"
"Ciumanku."
Kugosok-gosok bibir ini kasar, dengan muka masam. "Menjijikkan!"
"Ayolah, jujur saja! Buktinya kau sama sekali tak melawan seperti kemarin."
"Kau gila!" umpatku seraya bangkit dari sofa, tapi dia malah menarikku.
"Duduklah! Aku hanya ingin bicara."
Aku pun duduk kembali dengan terpaksa.
"Nia. Soal pagi tadi, saat kau dimarahi Bastian, gara-gara handphone-nya. Apa kau tak sedikitpun menaruh curiga?"
"Itu bukan urusanmu! Tak ada yang perlu dicurigai. Suamiku setia, tak sepertimu!"
Dimas tertawa. "Kau sangat polos. Hingga tak tahu apa yang dilakukan Bastian di belakangmu. Aku yang baru melihat kejadian itu saja merasa curiga. Bagaimana bisa, kau yang sudah lama menikah dengannya, tak tahu apa yang dilakukan oleh Bastian di belakangmu?"
Aku menatapnya sinis. "Apa perlu kau menghasut seperti ini?"
"Aku bukan menghasut. Akan tetapi, ada sesuatu yang mencurigakan dari Bastian."
__ADS_1
"Apa kau punya bukti?"
"Belum. Kuharap aku bisa membuktikannya segera. Agar kalian segera bercerai."
"Heh! Dengar! Suamiku tidak akan pernah mengkhianatiku! Dan kau harus tahu bahwa, aku mempercayai sepenuhnya!"
"Jika sampai Bastian ada main di belakangmu, aku akan menghabisinya!"
"Bukankah itu yang kau harapkan?"
"Apa sekejam itu, aku di matamu, Nia?" Dia meraih telapak tanganku. "Meskipun aku cemburu pada Bastian. Meski aku sangat ingin memilikimu kembali. Kau harus tahu! Tak pernah sedikitpun aku mendoakanmu buruk! Akan tetapi, jika sampai Bastian mengkhianatimu, akan kuhabisi dia!"
Ada keseriusan dari setiap ucapannya. Ya, aku memang sempat menaruh curiga pada mas Bastian. Namun, bagaimanapun aku masih sangat mempercayainya. Lagi pula tidak ada bukti apapun.
"Hentikan omong kosongmu itu, Di! Tidak usah repot-repot mengurusi hidupku! Uruslah hidupmu sendiri!" Aku menarik tangan dari genggamannya. Kemudian berdiri, melangkah ke arah jendela.
"Aku sudah bilang, percuma menghasut! Aku lebih mempercayai mas Bastian daripada kamu!" Aku berbalik memandangnya yang masih duduk di sofa. "Bahkan, Mas Bastian jauh lebih berhati nurani daripada kamu!"
Dia beranjak dari sofa menghampiriku. "Tidak ada yang tidak mungkin, Nia. Bastian memang terlihat kalem, lembut, tetapi tidak tahu aslinya."
"Hentikan! Cukup!" Kuarahkan telapak tanganku ke depan. "Sekarang pergi! Hanya itu yang ingin kau sampaikan? Percuma! Bagiku kau hanya lelaki licik! Jadi, pergilah!"
Dia tertawa seperti orang konyol. "Kau mengusir hantu yang sangat tampan ini?"
"Aku sudah muak dengan permainanmu! Aku peringatkan!" Kini kuarahkan telunjukku di depan wajahnya. "Jangan ganggu hidupku lagi! Dan jangan muncul di hadapanku lagi!"
Kubuka pintu yang terkunci. "Pergi!" usirku.
Dia menutup pintu tersebut. Memojokkanku ke pintu, berusaha mendekatkan wajahnya lagi.
Plak!
"Aku sangat mencintaimu, Nia! Bahkan, lebih dari cinta Bastian kepadamu! Apa hatimu sudah buta?"
"Hatimulah yang buta! Kau menyakiti dua orang sekaligus! Pertama Nessa, kedua suamiku, yang merupakan sahabatmu sendiri! Di mana letak nuranimu?"
"Kembalilah padaku, Nia! Aku akan menerimamu apa adanya. Ceraikan Bastian!"
Plak!
Satu tamparan lagi untuknya. Aku terpaku melihatnya memegangi pipi, yang memerah akibat tamparanku. Itu pasti sangat sakit. Aku meremas tangan sendiri. Menyesali apa yang telah kulakukan.
"Jadi, kau memilih Bastian daripada aku? Kau akan kecewa!" Sesaat ia tertawa lalu pergi.
Kututup pintu itu rapat. Serapat hatiku untuk menerima cintanya lagi. Kusandarkan tubuhku ke pintu. Tak kuasa berdiri lagi, air mata yang sedari tadi tertahan pun pecah.
Hati ini dilanda resah. Hatiku tak rela menyakitinya. Akan tetapi dia bukan siapa-siapa lagi. Sudah berapa kali tangan ini menamparnya. Aku tak tahu. Penyesalan selalu mendera jiwa ini, tatkala aku menyakitinya. Entah siapa yang bodoh, dia atau aku.
Tuhan ... kuharap dia tak datang lagi. Jangan membuatku semakin berkutat dalam kenikmatan dosa. Bersentuhan dengan laki-laki lain. Membiarkan tubuh ini menerima dosa secara terpaksa. Tuhan ... begini rasanya dilema. Mengapa harus dipertemukan kembali, bila perpisahan itu adalah yang terbaik.
Aku telah menyakiti hati dan jiwa seseorang yang pernah sangat kuimpikan. Maaf ... apa aku harus mengucapkannya?
***
Sebulan berlalu. Sejak kejadian waktu itu. Dimas tak pernah menggangguku lagi. Seharusnya aku lega. Hidupku tenang tanpanya. Seharusnya aku senang, tak ada lagi hantu pengganggu rumah tanggaku.
Akan tetapi, ada sedikit penyesalan di benak. Mengapa harus sampai menamparnya. Apa diriku terlalu kejam? Dan mengapa justru ada kesedihan di hati, karena tak sempat meminta maaf. Namun, bukankah itu tak lagi perlu? Aku seorang wanita yang menjaga diri dari godaan hantu rumah tangga. Tetap saja, aku tidaklah bersalah. Justru dia yang salah jalan bila terus diladeni.
"Ma, nanti kita jadi pergi kan?" tanya mas Bastian yang sedang bermain dengan Arka di halaman. Membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Pa!"
"Jika kau tak datang, Nessa akan kecewa."
"Katakan padanya, bahwa aku sedang tidak enak badan," kataku tak bersemangat.
"Kenapa?"
"Aku sedang tak ingin bepergian."
Mas Bastian memandangku yang sedang duduk di teras. "Ayolah?"
"Tidak!"
Mas Bastian mengembus napas kasar. Sejak kemarin, dia memang sudah membujukku, tapi selalu kutolak. Aku tahu dia ingin sekali menghadiri pesta ulang tahun Nessa. Akan tetapi, jika aku ikut, pasti ada Dimas di sana, itu sudah tentu. Dimas kan tunangan Nessa. Sudah sebulan tidak terlihat batang hidungnya. Aku tak mau melihatnya lagi.
Dering handphone-ku berbunyi. Kutekan tombol jawab. Aku beranjak ke dalam rumah untuk berbincang. Sebuah panggilan masuk dari seseorang yang membuat keputusanku berubah. Usai menjawab telepon, aku keluar menuju halaman. Menyusul mas Bastian dan Arka yang sedang bermain.
"Mas!"
"Hm ...."
"Aku akan ikut!"
Mas Bastian menatapku bingung. "Ikut apa?"
"Menghadiri pesta ulang tahun Nessa."
Senyum mas Bastian mengembang mendengar jawabanku. "Kok, tiba-tiba berubah pikiran?"
"Nessa meneleponku tadi. Memintaku untuk datang."
"Baguslah, ayo pergi!"
"Sekarang? Bukankah nanti malam acaranya?"
Mas Bastian terkekeh. "Acaranya nanti malam. Sekarang, kita pergi membeli kado untuk Nessa. Sekalian beli baju untuk dipakai nanti malam."
Kami pun bersiap-siap untuk berbelanja. Kemudian pergi mengendarai mobil baru kami. Mas Bastian orang yang sangat memperhatikan penampilan. Termasuk penampilan istri. Dia juga selalu membawaku ke acara teman-temannya. Jadi, tak ada yang perlu dicurigai dari seorang lelaki penuh tanggung jawab seperti mas Bastian.
***
Malamnya kami pergi ke rumah Nessa. Aku tak lagi kaget melihat rumah megah seperti ini. Pada umumnya, rumah teman-teman mas Bastian memang mewah-mewah. Aku sudah terbiasa mengunjungi rumah semegah ini, jadi tak perlu terlalu terkejut. Mereka dari kalangan orang kaya, wajar segala sesuatunya tak lepas dari aroma kemewahan.
Tamu yang hadir sudah ramai. Aku dan mas Bastian turun dari mobil. Arka, seperti biasa, kami tinggal di rumah mertua. Mungkin lain kali kami akan mengajaknya. Mataku menerawang keramaian, mencari sesosok yang kuharap tak ada di acara ini. Bukankah itu mustahil?
Benar saja, sosok orang yang kucari ada di sana. Sedang berbincang dengan beberapa orang berpakaian jas. Sepertinya dia belum menyadari ada aku di sini. Eh, bukankah itu bagus? Kenapa aku jadi plin-plan begini? Aku yang memintanya menjauh, bukan? Ya, Tuhan, apa yang tengah kupikirkan.
Acara pun dimulai. Nessa terlihat sangat cantik. Bak bidadari turun dari kayangan. Dress putih yang ia kenakan, menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi, dan bentuk dadanya yang indah. Rambutnya ditata dengan model sanggul modern yang sangat menawan. Riasan make up tampak sempurna di wajahnya yang ayu. High heels kaca melekat anggun di kaki jenjangnya. Nessa benar-benar bidadari yang sangat cantik. Semua mata tertuju padanya.
Dimas sepertinya benar-benar menjauhiku. Tak sedikit pun ia melirikku. Ia berdiri di sebelah Nessa. Dimas tampak sangat tampan. Ia memakai jas warna krem dipadu dengan setelan warna putih. Tatanan rambut pompadour, membuatnya terlihat keren dan cool. Menambah aura ketampanannya. Mereka sungguh pasangan yang sangat serasi.
Setelah sebuah kue terpotong. Nessa memberikan kue pertama untuk ayahnya. Seorang lelaki paruh baya, bertubuh besar, berkacamata minus, dan berambut putih. Nessa menyuapinya. Usai menyuapi ayahnya, matanya tampak menerawang seluruh tamu. Sejenak ia terdiam. Sorot mata indahnya berubah nanar. Namun, segera ia tutupi dengan segurat senyum lebar. Itu yang tertangkap di mataku.
Dimas sepertinya mengerti. Ia menggenggam tangan Nessa, seakan mengatakan 'aku ada di sini bersamamu!'. Ayahnya pun mengelus pundak Nessa, seolah mengatakan 'kuatkan hatimu!'. Sungguh, pemandangan di luar dugaan. Siapa yang ditunggu oleh Nessa?
Kue kedua ia berikan kepada Dimas. Dimas mengecup kening Nessa lembut. Nessa pun menyuapi Dimas dengan senyuman yang masih mengembang. Pemandangan yang cukup romantis. Mereka ibarat pasangan Cinderella dan Pangeran. Seharusnya aku turut bahagia. Akan tetapi, ada sebersit rasa perih menggores dada. Apa yang terjadi? Dimas telah memenuhi permintaanku, untuk menjauh dari kehidupanku. Dan itu kemauanku setelah menamparnya berkali-kali. Seharusnya aku tenang sekarang.
Tepuk tangan riuh menggema. Menyuarakan kebahagiaan untuk Nessa. Ada seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari pintu. Membuat seluruh mata memandang ke arahnya. Sesaat suasana hening, hanya tertuju pada sosok wanita yang datang itu.
__ADS_1
-- BERSAMBUNG --