BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Arti Persahabatan


__ADS_3

"Imania, tadi 'pak tua' itu siapa, sih? Aku pernah melihatnya waktu itu. Pas kamu diantar pulang olehnya," tanya Fania di perjalanan pulang.


"Dia bosku. Pak Wibowo namanya. Pemilik sekaligus direktur bank swasta terbesar di Indonesia."


"Terus, itu yang perempuan, itu istrinya?"


"Iya."


"Menyebalkan sekali! Dia bilang akan menggunduli rambutku kalau sampai bertemu lagi. Ish! Lagian siapa yang mau bertemu dengan singa betina sepertinya!" celoteh Fania kesal.


"Dan asal kau tahu, mereka adalah orang tuanya Dimas."


"What!!"


Fania tampak terkejut mendengar bahwa mereka adalah ayah dan ibunya Dimas.


"Dia ibunya Dimas?" tanya Fania masih terkejut.


"Hm .... " Aku mengangguk.


"Untung aku tidak jadi naksir sama Dimas."


"Apa?" Aku terkejut mendengar pernyataan Fania.


"Mana bisa aku hidup dengan mertua sepertinya. Bisa-bisa di malam pertama, aku lebih tertarik meracuninya, ketimbang melakukan honey moon. Ha-ha."


"Kau ... naksir dengan Dimas?" tanyaku masih tak percaya.


Fania tertawa melihat ekspresiku. "Apa kau cemburu?"


"Tidak."


"Tapi wajahmu itu tidak bisa menyembunyikan bahwa kau masih menginginkannya."


"Tidak, Fania. Aku sudah move on."


"Kalau begitu, Dimasnya buat aku saja, ya?"


"Ambil saja. Aku sudah tidak peduli." Aku memasang ekspresi kecut.


Fania tertawa sembari memperhatikanku.


"Dulu ... saat Dimas menyelamatkan aku dari Reza di mall. Kau ingat?"


Aku mengangguk. Aku ingat peristiwa itu. Perkelahian sengit antara Dimas dan Reza.


"Aku sempat menyukainya. Dimas di mataku begitu sweet, gentleman, macho, penuh perhatian, dan mampu melindungi wanita. Pokoknya, dia itu sempurna di mataku. Sudah ganteng, baik, pandai berkelahi juga." Fania bercerita sembari menyetir mobilnya.


"Dia rela terluka gara-gara menolongku. Jujur saja, aku sempat naksir padanya. Aku menyukainya. Aku merasa aman berada di dekatnya," lanjutnya.


Ternyata benar feeling-ku waktu itu. Fania menyukai Dimas.


Aku selalu merasa berlebihan, ketika mencemburui sahabatku sendiri. Dan kuharap, sahabatku tidak memiliki perasaan yang berlebihan terhadap kekasihku. (Episode 96)


"Tapi ... ketika melihatmu dan melihat betapa cinta Dimas padamu. Aku merasa ... bahwa aku bodoh sekali. Tidak mungkin aku mencintai pacar sahabatku sendiri, bukan?"


Aku menatap Fania yang terus bercerita tentang isi hatinya.


"Lagi pula, Dimas tidak tertarik padaku. Dan lucunya lagi, aku pernah mencopetnya, ha-ha."

__ADS_1


"Sekarang kami sudah putus. Kau boleh menyukainya," ucapku.


"Sayangnya, aku sudah tidak menginginkan Dimas. Sejujurnya, aku tidak mencintainya. Aku hanya kagum padanya. Dan aku mencintai orang lain," tuturnya.


"Siapa?"


"Dia sudah menjadi milik orang lain," jawabnya.


"Benarkah?"


"Hm .... " Fania memasang ekspresi lesu.


"Bisa kau katakan, siapa orang yang kau cintai itu?"


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena dia sudah menjadi milik seseorang dan dia tidak tertarik padaku," jawabnya sembari tersenyum pilu.


"Dia sudah menikah?" tanyaku masih penasaran.


"Belum. Hanya ... masih berpacaran."


"Apa aku pernah melihat orangnya?"


Fania menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang, lalu menolehku. "Sering."


Aku berpikir sejenak. Siapa laki-laki yang dicintai Fania? Katanya aku sering melihat orangnya.


"Kau selalu saja seperti wartawan. Cepat buka gerbangnya!"


Aku menatap Fania sesaat, kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu gerbang rumahku.


Keesokan harinya, aku sedang memasak di dapur. Menyiapkan sarapan pagi untuk kami—aku, Fania, dan Arka. Usai memasak, kubuka kulkas untuk mengambil kue buatan Fania. Meskipun rasanya sama sekali tidak enak, tetapi aku tetap memakannya.


"Di mana kuenya? Kemarin masih separuh di sini," gumamku.


Kututup kembali kulkas tersebut, lalu beranjak menuju kamar Fania. Mungkin Fania tahu tentang kue itu. Sesampainya di kamar Fania yang tidak dikunci, aku langsung membangunkannya.


"Fania."


Kugoyang-goyangkan tubuhnya agar bangun.


"Fania, bangun!"


"Hmph .... " Fania hanya memiringkan tubuhnya.


Kutarik selimut dari tubuhnya. "Fania!"


Setelah berjuang keras untuk membangunkannya, akhirnya Fania bangun juga. Ia pun mendudukkan tubuhnya dengan mata yang masih enggan terbuka.


"Ada apa, sih? Aku masih mengantuk," katanya sembari mengucek kedua matanya.


"Apa kau tahu, di mana kue ulang tahunku?"


"Sudah kubuang."


"Kau membuangnya?" Aku sangat terkejut mendengarnya. Bukankah itu kue untukku darinya. Mengapa dia sendiri malah membuangnya?

__ADS_1


Fania membuka kedua kelopak matanya, menatapku dengan tatapan tajam. "Kenapa harus berbohong?"


"Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.


"Kau bilang kuenya enak. Padahal tidak enak sama sekali."


"Kau mencicipinya?" tanyaku terkejut.


"Semalam, saat aku hendak mengambil minuman dari kulkas, aku melihat kue tersebut. Aku penasaran dengan rasa kue yang kau puji enak itu. Sejujurnya, aku sedikit ragu dengan pujianmu itu. Jadi ... aku mencicipinya," katanya dengan ekspresi lesu.


"Imania, harusnya kau tidak berbohong. Apa kau sudah memakan setengah dari kue itu?"


"Ya."


"Mengapa tidak dibuang saja? Itu sama sekali tidak enak, Imania."


"Karena itu darimu. Dari sahabat kesayanganku," jawabku.


Fania menghela napas kasar. "Bagaimana cara kau memakannya? Bahkan, aku sendiri saja tak mampu menelannya."


"Aku membayangkan kebersamaan kita dan kasih sayang di antara kita. Kuenya menjadi terasa enak. Bahkan enak sekali."


Tiba-tiba saja kedua mata Fania mengeluarkan bulir-bulir bening yang langsung diusapnya.


"Imania, kau membuatku terharu. Kuenya sama sekali tidak enak dan kau memakannya hingga separuh dari bulatan itu. Jika kubiarkan, mungkin kau akan memakannya sampai habis," katanya sembari terisak.


Kududukkan tubuhku di sampingnya. Kupeluk erat sahabatku itu. "Bahkan, jika rasanya lebih parah dari itu, aku akan tetap memakannya."


"Kau bodoh sekali!" ucapnya sembari memelukku.


Kulepaskan pelukan, lalu menghapus air mata yang terus turun ke pipinya. "Fania, persahabatan itu tidak seperti cokelat, yang harus terasa manis. Tidak seperti keju yang terasa asin dan gurih. Persahabatan juga tidak seperti es krim, yang terasa dingin dan segar. Persahabatan itu mencampurkan berbagai macam rasa. Perpaduan antara manis, asam, pedas, asin, bahkan pahit. Dalam kondisi panas ataupun dingin. Itu semua akan terasa enak dan hangat, jika kita mendasarinya dengan rasa ketulusan dan kasih sayang."


"Seperti kue buatanmu itu. Aku merasakan ketulusan dan kasih sayang, yang kau torehkan pada kue itu lebih besar ketimbang rasa kue itu sendiri. Jadi, saat memakannya, itu lebih dominan rasa kasih sayangmu ketimbang rasa kuenya," lanjutku.


"Maafkan aku, Imania. Apa kau tidak sakit perut gara-gara memakannya?"


"Aku merasa kenyang setelah memakannya," jawabku seraya tersenyum.


"Aku berjanji, suatu saat nanti, aku akan membuatkan kue yang paling enak dan lezat untukmu, Imania."


Fania mengacungkan jari kelingkingnya padaku. Aku pun tersenyum dan langsung mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya.


"Janji, ya?"


"Ya, aku janji!" ucap Fania yakin.


Kami pun berpelukan lagi dengan erat. Aku benar-benar terharu akan persahabatan kami. Kuharap, selamanya akan seperti ini.


"Kita jalani hidup dengan penuh rasa ini bersama-sama, Fania. Aku menyayangimu."


"Aku juga menyayangimu, Imania."


"Persahabatan itu tidak seperti cokelat, yang harus terasa manis. Tidak seperti keju yang terasa asin dan gurih. Persahabatan juga tidak seperti es krim, yang terasa dingin dan segar. Persahabatan itu mencampurkan berbagai macam rasa. Perpaduan antara manis, asam, pedas, asin, bahkan pahit. Dalam kondisi panas ataupun dingin. Itu semua akan terasa enak dan hangat, jika kita mendasarinya dengan rasa ketulusan dan kasih sayang."


-- BERSAMBUNG --


_____________________________________________


Readers Keceh?

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu LIKE, COMENT, VOTE, DAN BERI RATING BINTANG LIMA, ya?


Thank you ...!


__ADS_2