
Aku menatap sekertaris Ve dengan mata melebar. Kuulangi kembali untuk membaca surat tersebut. Dan hasilnya sama.
"Kak Ve? Apa ini? Apa maksudnya ini?" tanyaku dengan hati yang berdebar-debar.
Sekertaris Ve menghela napas panjang. "Harus berapa kali kubilang? Ini rumahmu! I-ni ru-mah-mu!"
Tanganku mendadak bergetar memegang surat yang baru saja kutanda tangani. Kupikir, itu hanyalah dokumen atau berkas-berkas di kantor yang belum sempat kutanda tangani. Tidak menyangka bahwa ini adalah Surat Kepemilikan Rumah.
"Imania? Sebenarnya Dimas ingin memberikan ini sendiri. Tapi ... dia khawatir kau akan menolaknya. Jadi, dia memintaku untuk memberikannya padamu."
"Kak Ve? Seharusnya ini tidak perlu." Entah mengapa air mataku jatuh tetes per tetes. Aku tidak tahu apa aku bahagia menerima semua ini. Atau justru aku merasa sedih. Karena kami belum menikah, tetapi sudah berlebihan seperti ini.
Sekertaris Ve memelukku. "Rumah ini tidak ada harganya dibandingkan cinta Dimas terhadapmu, Ima."
Setelah selesai menangis dan berbincang dengan sekertaris Ve. Aku pun diantarnya pulang. Dan sesampainya di rumah orang tuaku, aku langsung mengucapkan terima kasih padanya.
Sesaat sebelum turun, sekertaris Ve menahanku. Ia memberikan kunci rumah beserta surat keterangan kepemilikan itu padaku.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Kakak? Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Tapi ... soal rumah tadi ... sebenarnya ... aku masih mempertimbangkannya."
"Imania? Jika kau menolak, itu hakmu. Tetapi ... Dimas akan sangat sedih. Sekarang, simpanlah ini! Dan ... kuharap rumah tersebut segera ditempati. Dimas akan sangat senang bila kau bisa menerimanya dengan bahagia."
Aku pun menerima surat dan kunci rumah tersebut.
"Terima kasih, Kak Ve ...," ucapku lalu turun dari mobil.
"Ini seragammu!" Sekertaris Ve mengulurkan seragam yang katanya selusin itu padaku.
Setelah itu, sekertaris Ve, pergi meninggalkan halaman rumah orang tuaku.
Aku memandang ke langit yang sebentar lagi menghitam. Aku pun masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum?" ucapku sembari mengamati Fania yang sedang duduk di sofa keluarga.
"Waalaikumsalam ... kau sudah pulang rupanya. Dari mana saja?" tanya Fania langsung.
Aku tidak menjawabnya dulu. Niatnya, aku ingin bercerita nanti malam. Setelah aku selesai mandi dan makan.
"Ibu? Arka di mana?" tanyaku pada ibu yang sedang menyetrika.
__ADS_1
"Arka dijemput Bastian tadi."
"Tadi?"
"Iya, barusan. Katanya kangen."
"Oh ...."
Aku pun langsung mandi. Setelah memakai pakaian, aku langsung menuju meja makan bersama Fania.
***
Malamnya, aku menceritakan tentang semuanya kepada Fania. Tentang rumah baruku itu. Fania pun ikut terkejut. Ia terdengar begitu gembira.
"Yey! Rumah baru! Rumah baru! Horey!" Fania berjingkrak-jingkrak di kasur bak anak kecil yang baru dibelikan mainan baru.
"Fania ... aku bingung harus bagaimana."
"Ya, ampun, Ima? Jika aku jadi kau, aku tidak akan ambil pusing. Aku akan langsung menempatinya. Dan langsung mengucapkan terima kasih banyak kepada Dimas!"
Benar. Orang yang harus kuhubungi adalah Dimas. Aku pun segera mengirim pesan WhatsApp pada Dimas.
Lama sekali. Aku masih menunggu balasan darinya.
Ting!
[Untuk?]
Dia pura-pura tidak tahu rupanya.
Saat aku akan membalas lagi. Tiba-tiba handphone-ku berdering.
"Halo?"
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam?" balasku.
"Sedang apa?"
__ADS_1
"Sedang berpikir," jawabku.
"Apa kau sedang memikirkan aku?"
"Iya," jawabku lagi.
"Terima kasih sudah memikirkan aku, Sayang ...."
"Di! Kenapa kamu harus membelikanku rumah segala?" tanyaku to the points.
"Siapa yang membelikan rumah?"
Dimas berpura-pura tidak tahu.
"Harusnya kau simpan saja uangmu. Kau bisa menabungnya untuk masa depan."
"Aku juga sudah menabung rumah tersebut untuk masa depanku," jawabnya.
"Kau terlalu berlebihan."
"Nia, rumah itu tiada apa-apa. Dibandingkan dengan cintamu. Jadi, jangan sungkan. Itu rumah yang sengaja kubelikan untukmu. Tetapi cintamu itu, tidak dapat kubeli."
"Terima kasih ...."
"Sama-sama, Sayang ...."
Dimas dan aku pun mengobrol banyak. Hingga Fania yang berbaring di sampingku pun merasa semakin iri.
Sebenarnya ... aku tidak membutuhkan rumah mewah untuk hidup lebih indah. Justru yang kubutuhkan adalah bahu ternyaman, untuk membawaku hidup lebih indah.
Setelah cukup lama berbincang, akhirnya telepon diakhiri dengan romantis.
-- BERSAMBUNG --
___________________________________________
Sebenarnya ... aku tidak membutuhkan rumah mewah untuk hidup lebih indah. Justru yang kubutuhkan adalah bahu ternyaman, untuk membawaku hidup lebih indah.
– Kak Thamie–
__ADS_1