BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Semakin Hari Semakin Aneh


__ADS_3

Aku terus berjalan meninggalkan Fania yang masih berdiri sendirian di tepi jalanan malam. Aku sendiri heran, mengapa mesti mengkhawatirkannya? Bukankah dia hanya seorang wanita penggoda? Akan tetapi, hatiku bertolak belakang dengan pikiranku terhadap Fania. Entah mengapa, dari lubuk hati yang terdalam. Aku mempercayainya.


Aku pun kembali di rumah. Kuhampiri mas Bastian yang masih tak sadarkan diri. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Mengapa dia dipukuli? Apa salahnya? Perlahan kuelus rambut mas Bastian. Pikiranku teringat percakapan tadi siang bersama dokter elang itu.


Apa ... semua ini adalah ulahnya? Jika benar ini adalah ulah dokter gila itu, aku takkan segan membalasnya! Berani sekali berlaku semena-mena terhadap kami!


***


Pagi-pagi sekali aku bangun. Segera ku-cek keadaan Arka. Syukurlah, sudah tidak demam lagi. Aku pun tersenyum lega. Kubiarkan bocah berusia dua tahun setengah itu terjaga. Kemudian aku beranjak menuju sofa ruang keluarga. Mas Bastian juga masih terlelap.


Luka dan lebam di wajahnya belum hilang. Lukanya sudah mengering, tetapi wajahnya masih tampak begitu lebam. Karena tidak ingin mengganggunya, aku pun bergegas mengambil wudhu, dan mengerjakan sholat subuh seperti biasa. Lalu mengerjakan pekerjaan rumah.


Saat sedang asyik memasak, terdengar suara mas Bastian memanggilku.


"Imania? Istriku?"


Kumatikan kompor, lalu menghampiri suamiku.


"Iya, Mas. Kau sudah bangun?" Aku menatap mas Bastian yang sudah duduk di sofa.


"Ambilkan aku air," perintahnya.


"Ya, Mas." Aku pun bergegas mengambil air dari dapur, lalu memberikannya pada mas Bastian.


"Ini, Mas."


Mas Bastian segera meminum segelas air tersebut seperti orang yang sangat kehausan. Setelah itu ia memberikan gelasnya kembali padaku. Kuletakkan di atas meja. Dan aku pun duduk di sebelahnya.


"Mas."

__ADS_1


"Hm ...."


"Apa yang terjadi padamu tadi malam?"


Mas Bastian menatapku, dan balik bertanya, "Siapa yang mengantarkanku pulang?"


"Fania," jawabku.


"Fania? Dia yang mengantarkanku pulang?"


Aku mengangguk. "Kenapa memangnya?"


"Oh, tidak apa-apa," jawabnya.


"Mengapa kalian bisa bersama?"


Mas Bastian diam, tak menjawab. Aku mengamatinya. Suamiku semakin hari semakin aneh. Banyak sekali perubahan dalam dirinya. Kadang-kadang dia sangat perhatian, kadang juga dia memusingkan, penuh teka-teki.


Mas Bastian diam lagi. Lagi-lagi ia hanya diam.


"Mas! Kenapa hanya diam? Aku harus tahu siapa yang telah berani menghajarmu!"


"Jika aku memberitahumu orang yang telah menghajarku, lantas apa yang akan kau lakukan? Apa kau juga akan membalasnya?" Dia menatapku dengan tatapan menyala.


"Mas, aku hanya ingin tahu kejadian tadi malam yang telah menimpamu," kataku seraya menunduk.


"Kalau begitu, tidak usah! Tidak penting bagimu untuk tahu!" kata mas Bastian dengan nada meninggi.


Aku terdiam sesaat, lalu kembali ke dapur. Kembali memasak. Pikiranku saat ini tertuju pada suamiku. Mas Bastian kenapa marah-marah? Apa yang salah denganku? Aku hanya ingin tahu saja. Apa itu salah?

__ADS_1


Selesai memasak, kuletakkan sayur sop, ayam goreng, tahu dan tempe, serta sambal dan lalapan di atas meja makan. Saat aku sedang menata sendok dan piring di atas meja, tiba-tiba tubuhku di peluk dari belakang.


"Maafkan aku, Sayang," katanya seraya memelukku.


Sebenarnya aku sedikit kesal padanya, tetapi aku memakluminya. Mungkin, mas Bastian bersikap seperti tadi karena terbawa suasana hatinya.


Mas Bastian membalikkan tubuhku. Kini kami saling berhadapan. Mas Bastian tiba-tiba meraih wajahku, mengecup bibirku lembut.


"Mas!" Aku langsung melepaskan bibir ini dari bibirnya.


"Ada apa?" Mas Bastian menatapku bingung.


"Kamu bau alkohol!" kataku dengan ekspresi wajah kesal.


Mas Bastian pun akhirnya menyadari bahwa mulutnya bau alkohol. Ia pun segera pergi ke kamar mandi. Mas Bastian akhir-akhir ini memang bertingkah aneh. Tiba-tiba saja dia marah, setelah itu dia meminta maaf. Apa dia begitu karena stress akibat pekerjaan?


Suara Arka membangunkan lamunanku. Aku pun beranjak menuju kamar. Mengajak Arka untuk mencuci muka. Karena dia baru saja sembuh dari sakit. Jadi, aku hanya menyeka tubuhnya dengan air hangat. Lalu mengajaknya makan.


Kami bertiga pun sarapan pagi bersama. Karena tak ingin merusak suasana, aku mengurungkan niat menanyakan kejadian semalam pada suamiku. Aku harus bersabar, menunggunya tenang, baru aku akan meminta penjelasan darinya.


Usai sarapan, mas Bastian pamit untuk berangkat menuju kantornya. Dengan wajah masih babak belur, ia tetap bekerja. Sebenarnya aku sudah memintanya untuk cuti terlebih dahulu. Namun, mas Bastian kekeuh untuk tetap masuk bekerja.


***


Siangnya, aku dan Arka bermain di teras rumah. Aku sangat senang, akhirnya Arka bisa ceria lagi. Saat aku sedang menemani Arka yang asyik menyusun puzzle, tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman rumahku. Aku sangat asing dengan mobil tersebut.


Seorang wanita yang kukenali keluar dari mobil tersebut. Wanita berpakaian seksi, bertubuh langsing, berambut pirang. Ia berjalan seraya melempar senyum ke arahku, yang masih memandanginya dengan heran. Dia lagi, untuk apa dia ke sini?


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1



__ADS_2