BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Tulus Atau Modus


__ADS_3

Dimas dan aku sama-sama terkejut dengan kemunculan Nessa. Nessa berjalan mendekat. Ia melempar senyum manis padaku.


"Dimas, tempatmu bukan di sini," ucap Nessa pada Dimas.


Dimas pun beranjak dari ranjangku. "Aku ... hanya ... mengeceknya sebentar." Dimas mencoba beralasan.


Nessa tertawa. "Dia sakit biasa, Sayang. Bukan sakit karena penyakit dalam."


"Ya, aku tahu."


"Dokter Reyhan akan ke sini. Jadi, kau kembalilah pada pekerjaanmu."


"Dokter Reyhan?"


"Ya, kenapa?"


"Tidak apa-apa. Ya, sudah, aku permisi," ucap Dimas buru-buru. Sampai di depan pintu ia membalikkan badannya. "Nia, kau harus makan dulu, ya?"


Aku hanya mengangguk. Ingin kuucapkan terima kasih padanya, tapi Nessa terus menatapku. Jadi, kuurungkan niatku untuk berterima kasih pada Dimas. Biar nanti saja.


Dimas pun keluar dari ruangan ini. Hanya ada Nessa dan aku sekarang.


"Imania ...." Nessa duduk di kursi samping ranjangku.


"Ya, Ness."


.


Nessa meraih tanganku. Menggenggam tanganku erat. "Sebenarnya, apa yang terjadi padamu?"


"Bukan hal serius, Ness. Hanya sakit kepala biasa."


"Bukan itu pertanyaanku." Nessa menatapku lebih serius. "Apa yang terjadi antara kau dan Bastian?"


"Bagaimana kau tahu tentang itu?" Aku balik bertanya.


"Aku mendengar kabar tentang perkelahian Dimas dan suamimu."


"Kau tahu tentang itu?"

__ADS_1


Nessa mengangguk. "Aku juga tidak tahu persis masalahnya. Hanya ... sedikit."


"Imania ...." Nessa menggenggam tanganku lebih erat lagi. "Apapun masalahmu dengan Bastian. Kuharap, kalian bisa membicarakannya dengan baik-baik. Kalian sudah berjalan jauh. Sudah menempuh bahtera rumah tangga cukup lama. Jadi ... kuharap kau dan Bastian tidak sampai berpisah."


Berpisah? Bahkan, aku belum memikirkan tentang perpisahan dengan mas Bastian. Mengapa Nessa berbicara seperti ini?


"Imania ... aku tahu ini pasti sulit. Tetapi, kau juga harus ingat. Ada Arka yang membutuhkan sosok seorang ayah. Lagi pula, dia masih terlalu kecil. Terlalu dini untuk mengalami hal-hal rumit dalam kehidupan orang tuanya."


Nessa menghela napas dalam. "Kau harus bertahan. Demi Arka! Kau tidak boleh egois dalam memutuskan segala sesuatunya. Tidak hanya kau yang membutuhkan kebahagiaan. Tetapi juga Jagoan Kecilmu, Arka!" ucap Nessa dengan wajah penuh simpati.


"Nessa, aku belum bisa memikirkan tentang perpisahan. Aku sama sekali belum berpikir sampai ke situ."


Nessa terbelalak mendengar pernyataanku. "Jadi ... kau dan Bastian tidak akan bercerai?"


Sesungguhnya aku tidak mengerti dengan pernyataan Nessa tentang perpisahan. Mas Bastian saat itu dalam pengaruh alkohol. Dia memang mengatakan untuk bercerai. Tetapi tidak tahu nanti. Bahkan, aku saja belum meminta kejelasan darinya.


"Imania ... soal wanita yang bersama Bastian di cafe itu, kuharap kau bisa bersabar. Aku tahu perasaanmu. Itu pasti sakit sekali. Tapi ...."


Wanita yang di cafe? Bersama mas Bastian? Siapa yang Nessa maksudkan? Apa itu ... Fania!


"Imania ... turunkan egomu. Kau bisa selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Bicarakan dengan Bastian. Tentang wanita--"


Nessa kembali menghela napas dalam. "Tentang wanita yang dihamili Bastian itu ...."


Duer! Seluruh tubuhku seakan remuk redam. Jantungku seakan berhenti berdetak. Hatiku hancur lebur. Air mata kembali meluncur deras. Mas Bastian menghamili wanita? Ya, Tuhan .... Separah itukah mas Bastian berselingkuh. Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Mulutku seakan terkunci rapat. Aku hanya dapat mengungkapkannya lewat air mata, yang terus membanjiri seluruh tubuhku.


"Imania, tenanglah!" Nessa berusaha menenangkanku. Ia memeluk tubuhku erat.


Krek! Pintu tersebut terbuka. Tampak seorang dokter wanita menghampiri kami. Di belakangnya ada seorang suster, yang tak lain adalah suster Lia.


"Dokter Vanessa, ada apa dengannya?" tanya wanita tersebut.


"Dia mengalami depresi, Dok!"


"Biar aku periksa!"


Nessa pun bediri. Sedangkan Dokter itu meraih stetoskopnya dan meletakkannya ke dadaku. Kemudian ia mengecek tensi darahku. Ia mengecek infus yang terhubung dengan tanganku.


"Dokter Mega, bukankah ini tugasnya dokter Reyhan?" tanya Nessa pada dokter yang tengah memeriksaku tersebut.

__ADS_1


"Dokter Reyhan sedang sibuk memeriksa pasien yang lain," jawabnya sambil terus mengecekku.


"Siapa yang bilang?" tanya Nessa lagi.


"Dokter Dimas yang bilang padaku tadi."


Seketika Nessa terdiam. Bukan hanya Nessa, aku pun terhenyak mendengarnya. Apa karena dokter Reyhan itu laki-laki, jadi Dimas meminta dokter Mega yang memeriksaku.


Dokter Mega yang kuperkirakan usianya sekitar 40-an tahun itu pun meminta suster Lia untuk mencatat perihal kondisiku. Setelah itu, dokter Mega menasehatiku agar bisa mengendalikan emosi. Dia menyarankan agar aku menetralkan pikiran. Dokter Mega menasehatiku bak seorang psikolog. Aku pun bisa menangkap setiap nasehatnya. Tetapi tidak tahu, apakah aku mampu melakukannya.


Setelah selesai, dokter Mega pun keluar. Suster Lia tampak gugup saat melihat Nessa. Dia seperti ketakutan setiap Nessa menatapnya.


"A-aku permisi ...," ucap suster Lia, lalu keluar dari ruangan ini.


"Imania ...." Nessa kembali mendekat. Ia mengusap air mata yang masih meluncur pelan membasahi pipiku.


"Ness ... kenapa kau baik sekali padaku?" kataku seraya menatap wajah cantiknya.


"Aku sudah menganggapmu sahabat. Apa gunanya persahabatan jika tak saling menguatkan?"


Aku tidak tahu apakah Nessa benar-benar tulus atas kebaikan hatinya padaku. Namun, aku tetap menilainya positif.


Nessa duduk kembali seraya meraih tanganku. "Imania .... Kamu masih ingat janjimu padaku, kan? Waktu di puncak itu?"


Aku kembali mengingat janji itu, di puncak Bogor (Episode 39).


.


"Aku sudah berkeluarga. Aku tidak akan menerima laki-laki lain. Dimas hanya masa laluku. Dia sudah kubuang jauh-jauh sebelum aku memutuskan untuk menikah. Jadi, kau tak usah khawatir. Aku sudah tidak mencintainya."


"Kumohon ... jangan biarkan Dimas meninggalkanku. Aku tidak tahu berapa kali Dimas akan menggodamu agar kembali padanya. Akan tetapi, aku percaya sepenuhnya padamu. Tolaklah Dimas! Dia takdirku! Dia jodohku! Kami terlahir untuk bersama selamanya. Jangan pernah kembali pada Dimas. Jangan pernah berkhianat padaku. Berjanjilah, untuk tidak kembali ke masa lalumu! Atau aku benar-benar akan membencimu! Berjanjilah! Kumohon, Imania ...."


"Kau masih ingat, kan?" Nessa membuyarkan lamunanku.


Aku mengangguk pelan.


"Kumohon ... jangan pernah kembali pada Dimas. Dimas adalah jodohku. Dia adalah takdirku. Aku tak bisa hidup tanpanya, Imania."


-- BERSAMBUNG --

__ADS_1



__ADS_2