BUKAN PELAKOR

BUKAN PELAKOR
Masa Lalu Suamiku


__ADS_3

Aku dan Fania pun berlomba untuk sampai finish terlebih dahulu. Fania berenang dengan lincah. Bahkan, dapat dibilang sangat cepat. Aku pun tertinggal sekitar satu meter darinya. Sudah lama sekali aku tidak berenang. Jadi, wajar saja jika gerakanku tak selincah dulu.


Saat Fania telah menyentuh dinding kolam, lalu berbalik lagi menuju finish, aku masih tertinggal darinya. Kuakui, Fania memang perenang yang tidak diragukan. Atau mungkin, gerakanku yang tidak sama selincah dulu.


Bagi Fania, memenangkan pertandingan ini adalah untuk menjaga harga dirinya sebagai mantan atlet berbakat. Namun bagiku, memenangkan ini hanya semata-mata ingin tampak lebih hebat di mata mas Bastian. Di samping itu adalah untuk mengalahkan Fania yang angkuh. Aku ingin menunjukkan bahwa diriku lebih memukau di mata mas Bastian.


Aku sadar, gerakanku sedikit kaku. Di tengah lintasan berjarak 50 meter ini, aku masih tertinggal beberapa meter dari Fania. Aku mencoba tetap tenang, kustabilkan emosiku, kupercepat gerakan renang gaya kupu-kupuku. Kuatur napas seraya terus mengejar ketertinggalanku.


Kecepatan renang gaya kupu-kupu didapat dari ayunan kedua belah tangan secara bersamaan, dikombinasi dengan dorongan kaki bersamaan. Ketepatan irama sangat penting dalam akselerasi gerakan ini. Oleh sebab itu, selain kelincahan dan kecepatan, aku pun harus memperhatikan akselerasi gerakan.


Sekitar sepuluh meter menuju finish, gerakanku semakin cepat. Aku dapat mengejar ketertinggalanku dengan Fania. Kini, posisi kami sejajar. Sorak sorai mas Bastian dan Arka mulai terdengar. Suara dua orang manusia tersebut semakin memacu semangatku. Kuayunkan lengan dan kaki membentuk gerakan lumba-lumba liar. Lumba-lumba yang berenang sangat cepat. Lima meter menuju finish posisiku berada di depan Fania. Dan ... hap!


"Aku memang!" seruku gembira, dengan dada yang masih naik turun akibat deru napas yang tegang. Padahal ini hanya lomba biasa, tapi aku sangat berambisi memenangkannya.


Fania yang hanya selisih satu detik dariku pun menatapku tidak percaya. Bahwa aku telah berhasil mengalahkannya. Aku pun naik menghampiri Arka dan mas Bastian yang masih berdiri di tepi kolam.


"Wow! Kau ... keren sekali!" ucap mas Bastian yang masih menatapku tidak percaya.


Fania pun naik, dan menghampiri kami. Dengan wajah kesal, ia berkata, "Aku terlalu meremehkanmu. Jadi, aku tidak menggunakan kemampuanku secara menyeluruh. Kau hanya beruntung."


Aku mengulum senyum masam padanya. "Tidak perlu dianggap serius! Ini hanya bermain air, bukan?"


"Fania! Istriku mengalahkanmu!" ujar mas Bastian bangga, kemudian tertawa.


Fania tak menjawab. Ia masih memasang raut wajah kesal. Mungkin harga dirinya merasa tersakiti akibat kemenanganku. Syukurlah, dia tidak tahu, bahwa aku juga pernah menjadi atlet renang. Bahkan, mas Bastian pun tidak tahu kalau aku juga mantan atlet renang.


"Papa? Ayo berenang?" Arka merajuk.


"Baiklah, ayo!"


Mereka pun pergi menuju kolam renang anak. Sedangkan aku dan Fania masih berdiri berhadapan.


"Bisa kita berbincang?" tanya Fania sambil melangkah menuju tempat duduk yang tersedia di tepi kolam.


Aku mengekor di belakangnya. Kami pun duduk berdua, berhadapan. Sejenak, Fania terdiam. Matanya memandang jauh ke arah Arka dan mas Bastian yang sedang bermain perosotan air.


"Dulu kami berteman," ucapnya.

__ADS_1


Sudah kuduga.


"Aku menyukainya," katanya jujur.


Deg! Sebenarnya tidak begitu mengejutkan. Aku juga mengamati Fania. Fania menyukai suamiku. Yang membuatku kaget adalah kejujurannya, mengakui hal tersebut di hadapanku.


"Namun itu dulu."


Aku mengucap syukur dalam hati. Hanya dulu, kan?


"Dan ... sekarang, masih."


What? Aku hampir tidak percaya Fania berkata sejujur itu padaku. Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Wanita ini!


Dia tertawa melihat ekspresi wajah kurang senangku. "Namun, kau tenang saja. Aku bukanlah pelakor, kok? Aku hanya suka menggoda. Dan aku tidak tertarik untuk merebut milik orang lain," katanya.


"Jika tidak berniat merebut, untuk apa menggoda?" tanyaku heran.


"Bukankah sudah kubilang, bahwa aku suka menggoda?"


Dia menaikan satu sudut bibirnya. "Jelas beda! Menggoda adalah hobiku, sedangkan pelakor bukanlah bakatku. Bakatku berenang, tapi kau mengalahkanku. Kuakui kau sangat cepat. Aku terlalu meremehkanmu."


Aku masih sedia mendengarkan Fania bicara. Sambil sesekali melihat ke arah mas Bastian dan Arka yang masih asyik bermain air.


Fania mengambil napas panjang, mengembuskannya pelan. "Jangan berlebihan menilaiku."


Aku hanya diam. Mencoba memahami perkataannya. Penggoda dan pelakor, bukankah kelakuannya sama, yaitu mencuri hati orang?


"Dulu, Bastian adalah kakak kelasku. Aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Aku suka senyumnya. Aku suka caranya memperlakukan wanita dengan lembut. Dan aku suka gayanya."


"Kalian pernah berhubungan kalau begitu?"


"Iya." Seraya melempar senyum padaku. "Hanya ... sebatas adik-kakak."


"Tidak berpacaran?" Aku semakin penasaran terhadap wanita berbikini ungu ini.


"Tidak," jawabnya lirih.

__ADS_1


Aku menangkap perasaan sedih di mata Fania. Entah mengapa, wajah sinis itu berubah menjadi wajah yang manis di mataku. Aku hanya sekadar menghargai atas kejujuran Fania.


"Dulu aku adalah adik kelasnya di SMA. Aku pernah menembaknya. Bahkan, bisa dibilang beberapa kali menembaknya. Tapi Bastian selalu menolakku."


"Mas Bastian menolakmu?" ulangku tak percaya.


Dia mengangguk seraya tersenyum. "Cintanya bukanlah aku. Meski aku sangat menyukainya. Bahkan aku pernah menghalalkan segala cara demi mendapatkannya."


"Apa mas Bastian begitu keren di mata wanita?" tanyaku penasaran.


"Dia bukan hanya keren. Dulu, di SMA, dia termasuk cowok paling populer. Gadis-gadis sangat mengidolakannya."


"Apa yang menyebabkan mereka mengidolakan mas Bastian?"


Dia tersenyum. "Dia playboy."


"Playboy?" Aku terbelalak mendengarnya. Mana mungkin! Mas Bastian sangat kalem dan lembut. Tidak menyadari bahwa dia dulunya playboy.


Fania tertawa melihat ekspresi wajahku yang terkejut. "Bahkan kau tidak tahu apapun tentang masa lalunya?"


Aku tidak menyahut. Aku masih menganggap Fania hanya bercanda. Bukankah sejak datang, dia memang berusaha memanasiku? Mungkin saja Fania hanya mengarang cerita.


"Kau pasti tidak mempercayaiku, ya? Tenang saja, meskipun terlihat menyebalkan, aku bukan pembohong!" katanya seraya menggenggam tanganku. "Imania."


Aku menatapnya dengan serius.


"Aku masih tidak menyangka bahwa Bastian menikah denganmu," katanya.


"Kenapa? Apa kamu belum bisa merelakannya untukku?"


"Bukan! Bukan aku! Tapi Bella."


"Bella?" ulangku. Siapa Bella? Aku sepertinya pernah mendengar namanya. Tapi kapan?


-- BERSAMBUNG --


__ADS_1


__ADS_2